Kupas Tuntas Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia dari Sisi Pemerintah dan Pelaku Usaha

Kupas Tuntas Perkembangan Ekonomi Kreatif Indonesia dari Sisi Pemerintah dan Pelaku Usaha
info gambar utama

Tak dapat dimungkiri bila industri kreatif terus berkembang pesat saat ini. Di Indonesia, industri kreatif pun punya peranan penting untuk menopang pertumbuhan perkonomian. Dalam cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015, ekonomi kreatif didefinisikan sebagai era baru ekonomi, setelah ekonomi pertanian, industri, dan informasi.

Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep di bidang perekonomian era baru yang mengutamakan informasi, kreativitas, dan ide dari sumber daya manusia sebagai aset penting.

Istilah ekonomi kreatif pertama kali diperkenalkan oleh John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money from Ideas. Sosok yang dikenal sebagai bapak ekonomi kreatif dunia ini menjelaskan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang menghasilkan sebagian besar waktunya untuk menghasilkan ide, tak hanya melakukan hal-hal rutin dan berulang.

Untuk lebih memahami perkembangan industri ekonomi kreatif di Indonesia secara lebih mendalam, Good News From Indonesia (GNFI) telah menyelenggarakan acara virtual Festival Negeri Kolaborasi bertajuk ''Kolaborasi untuk Majukan Ekonomi Kreatif Indonesia'' pada Jumat (1/10/2021).

Pada kesempatan tersebut, Akhyari Hananto, Founder sekaligus Editor in Chief GNFI memaparkan bahwa gelombang revolusi industri 5.0 yang kita hadapi saat ini telah membawa perubahan fundamental. Hal tersebut ditandai dengan semakin berkembangkan kreativitas dan inovasi dengan pemanfaatan tekonologi.

“Era revolusi 5.0 kali ini menjadikan ekonomi kreatif menjadi salah satu isu utama atau strategis yang layak mendapatkan pengaruh keutamaan sebagai pilihan strategi untuk memenangkan persaingan ekonomi global di bidang ekonomi, ditandai dengan terus dilakukannya inovasi dan kreatifitas guna meningkatkan nilai tambah melalui kapitalisasi bidang ekonomi kreatif,” ujar Akhyari.

“Indonesia merupakan sebuah bangsa yang dikaruniai begitu banyak berkah di era ini. Kita kaya akan budaya, kesenian, ide, dan kreasi-kreasi yang terbukti dari berabad abad yang lalu. Hal ini tidak sampai di situ dikombinasikan dengan populasi indonesia yang muda dan orang-orang yang haus akan teknologi baru, memanfaatkan teknologi baru,''

''...maka benar-benar menurut pandangan kami ekonomi kreatif itu jika dikapitalisasi dengan benar yang terdegrasi maka kedapan akan menjadi bukan hanya ekonomi kreatif tapi everybody’s economy dan inilah era kita,” bebernya.

Ilsutrasi animasi | @LightField Studios Shutterstock
info gambar
Menilik Upaya Indonesia Hadapi Permasalahan Iklim Lewat Pajak Karbon di Tahun 2022

Geliat ekonomi kreatif di masa pandemi

Selain masalah kesehatan yang melanda, pandemi Covid-19 ini juga berdampak besar pada perekonomian. Namun, di sisi lain, mereka yang jeli melihat peluang malah bisa menciptakan sesuatu sesuai kondisi saat ini.

Sebagai contoh di sektor fesyen, masa pandemi ini melahirkan tren baru berupa baju rumah yang nyaman tapi tetap fashionable dan masker kain dengan berbagai kreasi. Di bidang kuliner, sedang tren makanan sehat hingga berbagai jamu untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Berdasarkan data Focus Economy Outlook 2020, diketahui ekonomi kreatif menyumbang sekitar Rp1.100 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang tahun. Bisa dikatakan, ekonomi kreatif merupakan salah satu bidang ekonomi yang bertahan di masa pandemi.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, mengatakan bahwa ada tiga tiga subsektor penyumbang PDB terbesar, antara lain kuliner, fashion, dan kriya. Kuliner menduduki peringkat pertama dengan menyumbang 41 persen, fashion 17 persen, dan kriya 14,9 persen.

Bahkan, Indonesia didaulat sebagai negara terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan jika dilihat pada kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB. Jelas Indonesia punya potensi untuk terus meningkatkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap perekonomian.

Perlu diketahui bahwa di Indonesia, terdapat 17 subsektor ekonomi kreatif, berikut daftarnya:

  1. Aplikasi,
  2. Arsitektur,
  3. Desain interior,
  4. Desain komunikasi visual (DKV),
  5. Desain produk,
  6. Fashion,
  7. Film animasi dan video,
  8. Fotografi,
  9. Kerajinan tangan (kriya),
  10. Kuliner,
  11. Musik,
  12. Penerbitan,
  13. Pengembangan permainan,
  14. Periklanan,
  15. Seni pertunjukkan,
  16. Seni rupa, dan
  17. TV dan radio.
Mengenal Jenis UMKM di Indonesia Beserta Perkembangannya

Tantangan dan upaya yang dilakukan dalam pengembangan gim lokal

Ilustrasi pengembang gim | @Daniel Krason Shutterstock
info gambar

Arief Widhiyasa, selaku CEO Agate International, perusahaan pengembangan permainan video Indonesia, mengatakan jika industri gim bisa dibilang sebagai pandemic winner.

Gim merupakan salah satu industri yang diuntungkan selama pandemi, mengingat banyak orang mulai lebih banyak di rumah dan membutuhkan hiburan yang tentunya bisa diakses dari rumah. Infrastruktur internet selama pandemi dipaksa untuk jadi lebih cepat, bisa diakses semua orang, dan orang jadi memaksakan diri untuk bisa mengakses internet jadi membantu di industri gim.

Ia menceritakan bahwa di gim itu ada skala produk, termasuk berapa banyak uang yang akan diinvestasikan dalam membuat produk. Ada skala produk di bawah Rp10 miliar, Rp50 miliar, Rp100 miliar, hingga skala triliun.

“Masalah terbesar di dunia gim sekarang dalah masyarakat kita memang sudah terbiasa main gim yang skala produknya triliun. Contoh misalnya Mobile Legend dan Free Fire, itu skala produknya sudah di atas Rp500 miliar. Sedangkan produk yang kita bikin di Indonesia itu skala produknya nggak sampe Rp10 miliar,”

“Jadi buat konsumen juga nggak ada alasan untuk main gim Indonesia. Padahal gim luar dengan bujet tinggi pun menghasilkan kualitas tinggi dan gratis. Jadi tentu saya orang Indonesia mau dipaksa bagaimanapun tidak ada alasan main gim lokal. Memang ini PR kita harus meningkatkan kualitas untuk bisa bersaing dengan gim luar.”

Menilik Sejarah Hari UMKM Nasional, Penggerak Utama Perekonomian Indonesia

Industri dan ekosistem gim lokal memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam ekonomi kreatif Tanah Air. Pada tahun 2020, pertumbuhan industri gim di Indonesia tumbuh menjadi 30-40 persen. Jika dibandingkan Vietnam, investasi di gim per tahun itu 40-50 juta dolar AS atau sekitar Rp600 miliar. Sedangkan di Indonesia hanya Rp50 miliar per tahun.

Salah satu upaya yang dilakukan Arief untuk meningkatkan geliat industri gim adalah dengan mengajak teman-teman gamers menjadi lebih jago dalam membuat gim. Ia pun membuat akademi dan portal incubator, serta mengadakan kompetisi, hingga program untuk konsultasi soal pendanaan untuk para penggiat gim Tanah Air dan membesarkan ekosistem yang ada.

Pria yang pernah dinobatkan sebagai penerima Forbes Asia 30 Under 30 di tahun 2016 ini membuat sebuah akademi untuk teman-teman yang ingin bergabung di dunia gim. Bahkan, bagi yang ingin belajar di sana gratis dan sudah didukung dengan pemateri berkualitas.

“Kalau zaman dulu saya masuk ke industri gim sudah harus pakai modal sendiri. Kalau gagal, ya hilang. Kalau sekarang itu sudah mulai banyak funding dan inkubator. Bahkan, funding sendiri bisa sampai Rp2,7 miliar. Setelahnya, bisa di up hingga Rp500 miliar,” jelasnya.

Arief mengingatkan untuk tidak melupakan bahwa konsumen global itu mau konsumsi konten yang keren, bukan hanya konten lokal. Misalnya gasing, di Indonesia dan Jepang itu bentuknya hampir sama, dari kayu yang diikat dan diputar-putar. "Cuma bedanya gasing kita masih kayak gitu dan gasing Jepang udah bisa diputar dan keluar naga dan ada animenya.”

Komoditas dan Produk Indonesia yang Paling Banyak di Ekspor Sepanjang 2020

Ekonomi kreatif di subsektor kriya

Thomas Balducci dari Kakak Adik Konsep mengatakan bahwa perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia saat ini sudah cukup baik. Kakak Adik Konsep merupakan suatu bidang usaha yang bergerak di bidang recycle interior dari barang bekas lalu diolah kembali jadi barang berguna.

Kakak Adik Konsep ini dibangun dari transisi Emil Gift. Jadi dulu kita punya usaha bergerak di bidang barang-barang unik impor, rata-rata dari China. Kemudian hari ini bergeser ke Kakak Adik Konsep dengan mengusung recycle sejak tahun 2015.

“Dari kementerian pun support dengan menampilkan produk-produk dan tentu anak muda Indonesia sangat kreatif. Hanya saja, saat ini kita masih kekurangan wadah, masih kekurangan apresiasi dari pemerintah. Bukan berarti tidak diapresiasi, tapi di momen tertentu kita masih suka kebingungan, ini produk kita, produk kreatif kita mau dipasarkan kemana dan mau dijual kemana,” ujar Thomas, saat dihubingi GNFI, Senin (11/10/2021).

Sementara itu Thomas menyebut, dari sisi pelaku industri tantangan paling besar adalah inovasi untuk mengikuti keinginan pelanggan dan masyarakat. Ia dituntut untuk bisa menampilan karya baru dan karya yang menarik dengan mengikuti perkembangan zaman.

Untuk menyikapi tantangan tersebut, ia pun terus belajar, berkolaborasi, dan mencari informasi, misalnya dari media sosial yang menampilkan produk-produk kreatif dan komunitas yang aktif dengan kegiatannya untuk bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini.

Ditanya soal pasar Indonesia, Thomas mengatakan masyarakat Indonesia saat ini cukup bagus dalam menikmati hasil karya. Akan tetapi, ia merasa masih kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat.

“Kita juga belum ketemu satu pola yang efektif untuk memproduksi dan menjual. Jadi kenapa kadang harga jualnya dianggap mahal karena memang biaya produksi tinggi. Kita juga masih menganalisa kembali bagaimana memproduksi satu produksi kreatif dengan cost rendah dan bisa dijual tidak mahal.”

Sebagai pelaku usaha di subsektor kriya, Thomas mengatakan bahwa upaya untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Kakak Adik Konsep adalah dengan berkolaborasi. Belum lama ini, mereka berkolaborasi dengan Mall of Indonesia mengadakan pameran seni. Saat ini pun tengah berlangsung kolaborasi dengan Gandaria City untuk memamerkan karya-karya mereka.

Bahkan, ada beberapa produk Kakak Adik Konsep yang telah dikirim ke Jepang dan Korea untuk mengikuti pameran. “Dalam waktu dekat, kita akan kirim salah satu barang ke New York. Di sana, ada rekanan kita yang membuat kedai kopi dengan tema Indonesia. Kita juga nanti akan support perlengkapan kopi yang kita produksi sendiri,” jelas Thomas.

Warung Pangan, eCommerce Indonesia untuk Pasarkan Produk Pertanian dan UMKM

Pendampingan UMKM dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia

Ilustrasi fesyen | @Marharyta Gangalo Shutterstock
info gambar

Arief Budiman selaku Sekretaris Umum Indonesia Creative Cities Network (ICCN), menyatakan pandangannya di tahun 2030 adalah titik di mana Indonesia akan jadi the next Korea Selatan.

"Bangsa ini secara manajemen tidak lebih baik dari Singapura, tapi keunikan-keunikan dan diferensiasi ini yang akan membuat kita stand out.”

Menurut pemaparan Arief, pada konteks industri kreatif itu ada big player yang berperan dan harus dihadapi dengan kekuatan besar. Misalnya, pelaku UMKM diminta membuat produk yang bagus, kemampuannya hanya 10 item per minggu, kemudian mendapat pesanan 3.000 item per bulan. Dengan adanya keterbatasan modal dan tenaga kerja, hal tersebut akan sulit dilakukan.

Upaya pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia juga dilakukan oleh ICCN, sebuah simpul organisasi yang berkomitmen untuk mewujudkan 10 Prinsip Kota Kreatif. Saat ini, 211 inisiatif kota/kabupaten telah bergabung dengan ICCN. ICCN diketahui menawarkan program pendampingan untuk UMKM dengan durasi tiga hingga enam bulan.

Komitmen dari organisasi ini ialah memajukan kota-kota kreatif di Indonesia. Mereka melakukan riset dan pengembangan untuk menumbuhkan pembangunan ekonomi dengan mesin penggerak kreativitas, yang berupa ide atau gagasan kreatif dan inovatif, serta ditopang oleh kelengkapan infrastruktur kelembagaan dalam keterlibatan unsur pentahelix (birokrasi, akademisi, bisnis, komunitas, dan media), dan pastinya dukungan infrastruktur digital yang berkualitas dan modern.

“Kunci dari kolaborasi ini sebenarnya memang menaruh posisi kepentingan kita ini di paling belakang. Saya tidak punya strategi yang lain, artinya kalo mau kolaborasi, berbicara mendahulukan kepentingan umum kan susah, umum itu kan banyak. Jadi gini, membangun ekosistem itu kan memang tidak bisa cepat ya, makanya kita juga mulai membawa program-program yang KPI-nya jelas dan tidak bisa dikejar dalam satu atau dua hari,” tuturnya.

Komoditas dan Produk Indonesia yang Paling Banyak di Ekspor Sepanjang 2020

Upaya pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia

Ilustrasi produk kuliner | @Joko P Shutterstock
info gambar

Untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia, tentu tak terlepas dari dukungan serta upaya yang dilakukan pemerintah. Dalam hal ini Kemenparekraf sebagai pemangku kebijakan, dan memiliki program-program, aturan, dan kewenangan terkait penyelenggaraan tugas dan sebagai institusi pemerintah.

Nia menerangkan jika bicara soal ekonomi kreatif itu salah satunya wisatawan dengan berbagai aktivitasnya, seperti makan dan belanja, keduanya merupakan produk subsektor ekonomi kreatif.

Kata Nia, sebenarnya yang sekarang dihadapi oleh Indonesia atau dunia adalah bagaimana menghadapi semuanya di masa pandemi saat ini. Ia pun menjelaskan bahwa pihaknya memiliki alat untuk mengukur sentimen negatif dan melihat bagaimana persepsi kita di masa wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

“Kita ini sekarang sedang membangun persepsi bahwa kita pasti bisa mengatasi Covid, karena Covid akan hidup bersama kita. Alat ini akan meng-capture segala persepsi dan omongan orang dari semua media sosial, di news portal, dan inilah nanti yang akan membangun persepsi bagaimana Indonesia,”

“Sebagai contoh persepsi di bidang pariwisata, sebenarnya untuk persepsi market di bidang pariwisata ini bagus, tapi ketika berbicara mengenai penanganan Covid itu buruk, merah semua, ini terjadi beberapa waktu yang lalu.”

Soal mengembangkan ekonomi kreatif, di Kemenparekraf ada beberapa deputi yang meliputi ekonomi kreatif. Programnya adalah hibah desain untuk mengajarkan dan melatih bagaimana mengemas sebuah produk, kemudian ada hibah kuliner untuk memberi bantuan kepada para pelaku ekonomi kreatif tersebut dengan beberapa persyaratan.

Kemenparekraf juga memiliki program di bagian pemasaran, seperti program beli kreatif lokal yang menjadi bagian dari kampanye ''Bangga Buatan Indonesia'' dengan tujuan agar masyarakat bisa bangga membeli dan memakai produk asli Indonesia.

Nia memaparkan bahwa dari 17 subsektor ekonomi kreatif, yang paling kuat ada tiga besar, yaitu fesyen, kriya, dan kuliner. Kemudian disusul oleh film animasi dan gim. Menyoal target, dalam RPJM tidak ada target spesifik.

“Intinya apapun program itu pasti membutuhkan biaya dan kami juga harus realistis ketika tahun lalu dengan anggaran sekian kami menghasilkan sekian. Maka tahun ini kami akan adjust itulah yang kami lakukan dan tentunya kami sadar tidak bisa sendiri,''

''...memang harus berkolaborasi sebagaimana selalu ditanamkan oleh Pak Menteri (Sandiaga Uno) bahwa harus gercep, geber, dan, gas pol. Jadi kalibrasi, inovasi, adaptasi, dan kolaborasi itu adalah penting dan menjadi kunci utama.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini