Kiprah Maya Stolastika Menyebarkan Semangat Bertani Organik kepada Pemuda

Kiprah Maya Stolastika Menyebarkan Semangat Bertani Organik kepada Pemuda
info gambar utama

Maya Stolastika Boleng merupakan seorang petani milenial yang berkontribusi pada dunia argaria. Lahir di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), 11 Juni 1985 silam, Maya sebenarnya sarjana sastra Inggris. Namun langkah hidupnya berbeda dari bidang ilmunya.

Langkah hidupnya yang berbeda ini ternyata tidak datang semerta-merta. Maya mengaku mendapatkan begitu banyak pencerahan tentang dunia pertanian, saat berkunjung ke Pulau Dewata, Bali.

Maya, yang saat itu baru berusia 22 tahun, tidak menyangka malah menemukan panggilan di bidang yang sempat tidak dipandang olehnya. Hal ini berawal dari pertemuannya dengan seorang guru yoga yang memperkenalkannya tentang pertanian organik dan filosofi memberi.

Pada momen itu, Maya kemudian berpikir tentang makna kehadirannya dalam dunia ini, apa sudah memberikan dampak positif atau hal yang baik bagi lingkungan sekitar?

"Itulah momen yang membuat saya berpikir untuk melakukan pertanian organik, karena memang Bali terkenal dengan filosofi pertanian organik itu sendiri," cerita Maya saat dihubungi oleh GNFI, Sabtu (23/10/2021).

Berbekal tekad untuk membantu petani sekitar, di tahun 2008, Maya yang saat itu masih berstatus Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya kemudian menyewa sebuah lahan berukuran setengah hektare. Dirinya dibantu oleh empat temannya yang juga memutuskan untuk terjun di industri pertanian organik.

Refleksi Hari Tani Nasional, Degradasi Lahan dan Regenerasi Petani Indonesia

Mereka mengumpulkan uang hasil berjualan pulsa dan honor sebagai guru bimbingan belajar untuk menyewa lahan kosong di Desa Telaket, di Kec. Pacet, Kab. Mojokerto. Bersama petani sekitar, kelompok tani yang dirintis oleh Maya kemudian berhasil melakukan panen perdana.

Namun keberhasilan panen ini ternyata tidak diikuti dengan pengetahuan tentang distribusi hasil produksi. Alhasil panen yang mereka hasilkan pun tidak mendatangkan keuntungan bagi kelompok tani mereka.

"Tahun pertama itu benar-benar babak belur, tidak ada plus minus. Benar-benar rugi banget," ucap Maya.

Minimnya modal yang mereka miliki membuat Maya bersama tim petaninya memilih untuk rehat sejenak dari dunia pertanian. Dirinya kemudian memilih untuk merantau ke Bali dan bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan dan pariwisata.

Keputusan ini pun dilakukan untuk menenangkan keluarga Maya yang cukup kaget dengan pilihan anaknya. Apalagi menurutnya, keluarganya memang berharap anaknya tetap menekuni pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan.

"Butuh waktu untuk menyakinkan bahwa pilihan ini dari hati. Bukan kami memilih karena ada masalah, tetapi dari hati. Tetapi kan ini tidak mudah," jelas Maya.

Mendirikan Twelve’s Organic

Foto Maya Stolastika (Dok: Facebook)

Setelah bekerja selama 6 bulan di Bali, benaknya tak berhenti memikirkan agar bisa menjadi seorang petani. Untuk itu, dia memutuskan untuk berhenti bekerja dan kembali mengejar impiannya.

Berbekal kesalahan yang dirinya buat pada pertanian perdana, pada tahun 2012, Maya kemudian menyewa lahan tani seluas 3.000 meter persegi. Tahun itu dirinya kemudian mendirikan badan usaha bernama Twelve’s Organic.

Setahun, pertanian organik itu berkibar lagi. Tahun 2013, jika tadinya cuma merambah supermarket, mereka mulai memasok sayuran mayur, buah-buahan, dan bumbu dapur organik ke hotel-hotel.

Melalui kemajuan teknologi, Maya kemudian memanfaatkan sosial media untuk memasarkan hasil panen para petani bimbingannya. Dirinya ingin memutus rantai distribusi hasil panen yang tidak adil.

"Ada sekat antara hubungan hulu dan hilir, petani ketika menaman tidak mengetahui siapa konsumennya atau konsumen saat membeli tidak mengetahui siapa petaninya," ungkapnya.

Dirinya kemudian menyulap lahan pertaniannya menjadi seperti pasar swalayan. Di mana masyarakat bisa datang untuk melihat, membeli hingga menanam tanamannya secara langsung dari lahan pertanian tersebut.

Memahami Makna Hari Krida Pertanian yang Jatuh Setiap Tanggal 21 Juni

Twelve’s Organic juga sekaligus memberi pemahaman kepada para petani mengenai edukasi pertanian organik dengan kursus eksklusif, agar petani lebih mandiri dan bisa mempunyai pasar sendiri.

Kelompok tani yang bergabung di Twelve’s Organic memiliki kebebasan untuk memilih tanaman yang akan ditanam tanpa terbebani permintaan tengkulak.

Memang dirinya melihat salah satu masalah yang mendarah daging di bidang pertanian adalah masih adanya ketergantungan petani pada tengkulak, atau pedagang perantara.

"Kalau bicara soal sistem sudah terjadi bertahun-tahun, ya ini sudah menjadi fakta yang tidak bisa terbantahkan. Hampir satu desa itu minimal ada tiga tengkulak," katanya.

Karena itulah sebagai petani dari generasi milenial, Maya merasa memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan para petani bagaimana caranya untuk berdiri di atas kaki sendiri.

"Keterikatan petani pada tengkulak memang membutuhkan anak-anak muda untuk hadir dan mendobrak. Kalau tidak begitu ya tetap sama."

Kerja kerasanya selama lebih dari delapan tahun, melalui proses yang cukup menantang, kini bisnis bernama Twelve's Organic sudah menyewa lahan di tujuh titik lokasi Mojokerto, Jawa Timur.

Kini Twelve’s Organic sudah memiliki 25 petani sayur dan buah yang terbagi dalam dua kelompok tani, yaitu Kelompok Petani Madani yang fokus kepada sayuran, serta Kelompok Petani Swadaya yang lebih fokus menanam raspberry dan blueberry serta pembuatan pupuk organik.

Geliat pertanian organik Maya membuatnya meraih penghargaan Duta Petani Muda Pilihan Oxfam Indonesia pada tahun 2016. Dirinya juga meraih penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Indonesia Awards tahun 2019 di bidang lingkungan.

Keberhasilan ini tidak membuat Maya langsung jumawa, dirinya tetap membuka kelas khusus yang mengajarkan ilmu budi daya organik, penghitungan harga, sampai praktik menjual hasil panen bagi para petaninya.

"Kami tidak segan membawa petani kami untuk hadir di pasar komunitas organik, memperkenalkan mereka ke konsumen, dan mereka jualan sendiri."

Mendidik para petani muda

Makin meningkatnya jumlah permintaan akan kebutuhan hasil pertanian. Ternyata tidak diimbangi dengan meningkatnya jumlah petani, terutama yang tergolong masih muda.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah petani milenial di Indonesia, yang berusia 19-39 tahun terus menurun. Dari tahun 2017 ke 2018, misalnya, terjadi penurunan kurang lebih 415 ribu orang.

Hingga sekarang tercatat petani muda yang berusia 19-39 tahun hanya 8 persen atau setara dengan 2,7 juta orang. Sekitar 30,4 juta orang atau 91 persen berusia di atas 40 tahun.

Maya menilai kondisi ini terjadi karena masyarakat masih memandang sebelah mata profesi ini. Baginya banyak orang menilai profesi petani sebagai pekerjaan yang tidak menjanjikan.

"Seharusnya petani ditampilkan (dalam acara televisi atau film) dengan menggunakan pakaian necis, hal ini baik untuk mengenalkan bahwa petani bisa sukses."

Maya menyatakan hal ini bukan isapan jempol belaka, dirinya telah membuktikannya di Twelve’s Organic. Sekarang mereka bisa melakukan panen sayuran dua kali dalam sepekan.

Petani Indonesia Bertambah 8 Juta Orang Selama Pandemi

Dalam sekali panen rata-rata bisa mendapatkan 20 kg berbagai jenis sayuran. Apalagi harga sayuran yang dijual memang lebih mahal dibandingkan harga jual sayuran dengan pola tanam konvensional.

Semisal harga 1 kg sayuran organik seharga Rp30 ribu, untuk sayur dengan pola tanam konvensional hanya Rp10 ribu per kg. Hasil penjualan itu nantinya akan diberikan kepada petani penggarap sebulan sekali, nilainya berkisar antara Rp400 ribu sampai Rp1 juta per bulan per petani.

"Masing-masing petani penghasilannya berbeda-beda tergantung banyaknya hasil panen. Selain bisa menjualnya, petani juga tidak perlu membeli sayur untuk dikonsumsi di rumah," tandasnya.

Hal inilah yang membuat Maya yakin bahwa anak muda bisa lebih berprestasi saat bergelut dalam dunia pertanian. Salah satunya karena kemampuan komunikasi untuk memikat para pembeli untuk membeli sayurannya.

"Karena anak-anak muda hadir dengan pengetahuan-pengetahuan manajemen dan public speaking. Petani itu harus mampu berkomunikasi," kata Maya.

"Ketika dia tidak mampu, misalnya beli langsung ke dia, biasanya beli Rp10 ribu, bonusnya (atau keuntungan yang diambil tengkulak) bisa Rp20 ribu," tambahnya.

Misalnya saja saat pandemi Covid-19 kali ini, keuntungan bisnis pertanian Maya yang sebelumnya adalah Rp8 juta saat musim hujan, meningkat menjadi Rp9,8 juta. Salah satu alasannya karena banyak masyarakat yang beralih mengonsumsi produk-produk organik dan juga tidak keluar belanja.

Saking niatnya untuk berbagi pengetahuan tentang pertanian, Maya tak cuma mendampingi anak-anak muda di Pacet, tapi juga di Jombang. Di sana bahkan dia punya kelompok lebih banyak, yakni 25 orang, bahkan melibatkan puluhan ibu-ibu muda.

Walau dari lima kelompok, baru dua kelompok yang menunjukkan keinginan untuk serius bertani. Tetapi dirinya tetap serius untuk menjaga semangat mereka.

Hasilnya, petani-petani muda yang dia dorong itu kini malah meneruskan ilmunya lagi ke anak-anak muda lainnya. Terlepas dari itu, Maya senang saat ini banyak anak muda yang mau bergerak di dunia pertanian.

"Bertani itu tanggung jawab semua orang. Tetapi banyak orang menyangkalnya. Karena itu saya hadir, mengajarkan mereka untuk menjadi petani yang sukses," tegasnya

Mengkampanyekan petani perempuan

Maya setiap hari pergi ke kebun untuk mengurus tanaman dan mengajar para ibu petani. Baginya hal ini juga menjadi upayanya untuk mengangkat peran perempuan di sektor pertanian.

Memang bagi Maya, dunia agraria hingga sekarang dikuasai oleh laki-laki. Padahal, jelasnya, yang mempertahankan pertanian adalah perempuan karena biasanya para laki-laki itu pergi merantau.

"Padahal peran perempuan itu diakui lho di internasional, terutama di pertanian organik yang penggeraknya adalah seorang perempuan," tambah Maya.

Dalam menjalani profesi ini, Maya memang mengaku cukup kesulitan, terutama melihat dirinya sebagai perempuan. Banyak masyarakat sekitar yang memandangnya sebelah mata.

Apalagi saat itu dirinya masih tergolong muda dan bukan warga asli sekitar. Kondisi ini menantangnya untuk perlahan-lahan mampu mendekati masyarakat.

"Itu tantangan terberat sih, tetapi mindset-nya kita ingin mengajak orang khususnya perempuan untuk bertani organik," bebernya.

Karena itulah dirinya sering menampilkan bahwa perempuan bisa sukses dalam dunia pertanian. Terutama mengajak para kenalan, orang-orang sekitar agar datang ke kebun sehingga bisa menunjukkan hasil kerja kerasnya.

"Pesan saya untuk perempuan di Indonesia, jangan pernah merasa terkendala dengan gender! Apa pun yang ingin dilakukan, lakukan saja walau pun bagi orang lain mustahil. Buat gebrakan yang luar biasa dan stay on track," pungkas perempuan kelahiran Flores ini.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak anak muda yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, serta lingkungannya, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Maju Terus Anak Muda Indonesia. Kalian adalah pemantik asa yang perkasa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini