Pesona Wisata Kepahiang dan Asal-Usul Istilah Mabuk Kepayang

Pesona Wisata Kepahiang dan Asal-Usul Istilah Mabuk Kepayang
info gambar utama

Istilah mabuk kepayang tentu sudah tak asing lagi di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia untuk menggambarkan kondisi seperti mabuk berat. Namun, tahukah Anda bila kepayang dalam bahasa Rejang artinya adalah keluak, buah berwarna hitam yang biasa digunakan untuk memasak hidangan rawon.

Konon, jika seseorang mengonsumsi kepayang berlebihan atau digunakan secara tidak tepat maka akan menyebabkan mabuk berat yang kemudian dikenal dengan sebutan mabuk kepayang. Selain merupakan nama buah, ada pula sebuah kabupaten bernama Kepahiang di Bengkulu yang memang merupakan daerah penghasil kepayang.

Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu tempat wajib dikunjungi ketika sedang berlibur di Bengkulu karena memiliki berbagai objek wisata alam yang memesona seperti berikut ini:

Kawasan Gunung Bromo Segera Punya Jembatan Kaca Sepanjang 120 Meter

Curug Embun

Salah satu objek wisata alam yang bisa dikunjungi di Kepahiang adalah Curug Embun. Lokasi air terjun ini berada di Desa Tapak Gedung, Kecamatan Tebat Karai. Salah satu keunggulan air terjun ini adalah tingginya yang mencapai 100 meter dan membuat arusnya cukup deras dan percikan air berhamburan serta menimbulkan suara yang nyaring. Karena ketinggian air terjun ini pula, butiran-butiran air yang jatuh dari atas jatuh bagaikan tetesan embun.

Ditambah lagi kawasan ini seringkali dijumpai penampakan pelangi pada siang hari yang menambah keindahan di sekitar air terjun. Meski banyak pengunjung berburu pelangi di tempat ini, nyatanya kemunculan pelangi memang tidak setiap saat.

Di air terjun ini, pengunjung bisa menikmati suasana alam yang asri, bermain air, dan berenang sepuasnya. Waktu terbaik menyambangi Curug Embun sebenarnya pada musim kemarau karena debit air tak sebanyak musim hujan dan arus airnya pun tenang sehingga lebih aman untuk berenang. Sedangkan pada musim penghujan, debit air lebih banyak, deras, dan cuacanya pun lebih dingin. Namun, karena debit air lebih banyak, sebenarnya pemandangan air terjun akan tampak lebih indah, tetapi pengunjung harus lebih berhati-hati.

Bukit Kaba | @Tamaa_11 Shutterstock
info gambar
Benteng Van der Wijck, Objek Wisata Bersejarah Peninggalan Belanda

Taman Wisata Alam Bukit Kaba

Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba merupakan destinasi wisata alam berbasis fenomena vulkanis yang ada di Bengkulu. Selain menawarkan pemandangan berupa pegunungan yang memukau, kawasan ini juga didukung oleh kondisi ekosistem berupa hutan dan kehidupan tumbuhan serta satwa liar.

Secara administratif, TWA Bukit Kaba terletak di dua kabupaten, yaitu Kapahiang dan Rejang Lebong. Untuk meningkatkan daya tarik dan kunjungan wisatawan, pihak Balai KSDA Bengkulu pada tahun 2018 menambahkan sarana dan prasarana pendukung di kawasan wisata ini, termasuk tulisan besar Taman Wisata Alam Bukit Kaba, pondok wisata di puncak bukit, serta pusat informasi di pintu masuk.

Bukit Kaba merupakan sebuah gunung yang berada di ketinggian 1.939 mdpl dengan luas wilayah 13.940 hektare. Kondisi alamnya yang masih asri ditambah dengan pemandangan sekitar membuat tempat ini menjadi salah satu destinasi liburan favorit, pendakiannya pun bisa dilakukan dengan santai. Di puncak gunung, Anda bisa melihat pemandangan dua buah kawah berwarna hijau dan kecokelatan.

Sambil mendaki, pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan kebun sayur milik penduduk setempat, sungai dengan air yang masih jernih, dan suasana hutan. Jika beruntung, di tengah pendakian Anda mungkin akan bertemu dengan siamang di atas pohon. Di tempat ini pun terdapat area untuk berkemah bagi yang ingin bermalam sambil menikmati pemandangan taburan bintang di langit ditambah dengan kerlap-kerlip lampu kota, kemudian menyambut terbitnya matahari saat pagi hari.

Desa Bejijong, Kampung Peninggalan Kerajaan Majapahit di Mojokerto

Danau Suro

Ada kalanya kita ingin menikmati liburan dengan santai di tempat yang tenang. Di Kepahiang, Anda bisa mewujudkan keinginan tersebut di Danau Suro. Danau ini terletak di Desa Suro, Kecamatan Ujan Mas. Tak seperti danau lain yang umumnya terbentuk karena aktivitas vulkanik dan tektonik, pada dasarnya Danau Suro merupakan hasil karena dibendungnya Sungai Musi sebagai Pembangkit Tenaga Listrik (PLTA).

Selain menjadi tempat wisata, masyarakat sekitar juga memanfaatkan danau ini untuk budidaya ikan dan keramba. Tak heran bila di danau ini sering dikunjungi warga yang sedang memancing. Namun, pengunjung juga bisa ikut memancing dan menikmati hasil pancingan di tempat. Di sana pun terdapat rumah makan terapung bila ingin lebih praktis menikmati hidangan lezat tanpa harus memancing dan mengolah sendiri.

Bila sudah puas bersantai dan memancing, aktivitas lain yang bisa dilakukan di Danau Suro adalah berkeliling danau dengan menggunakan rakit motor.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini