Takut Alami Penolakan? Pahami 3 Jurus Jitu Atasi Fear of Rejection

Takut Alami Penolakan? Pahami 3 Jurus Jitu Atasi Fear of Rejection
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Gabung ke Telegram Kawan GNFI, follow Instagram @kawangnfi dan Twitter @kawangnfi untuk dapat update terbaru seputar Kawan GNFI.

Siapa pun ingin diterima oleh banyak orang. Memiliki banyak teman, tidak dihakimi, dirangkul tatkala sedang nestapa, bahkan berjuang bersama dalam menggapai cita-cita. Terlebih dengan orang-orang tersayang, ingin sekali diterima sepenuhnya tanpa syarat.

Nahas, angan-angan ini pupus tatkala sudah berjumpa dengan realitanya. Alih-alih mendekap dengan erat, orang-orang tersayang malah menolak penuh keberadaan Kawan, baik secara lisan maupun tersirat.

Rasanya sangat tidak menyenangkan dan ini pun membuat diri Kawan hancur. Tidak sekadar sakit hati, perasaan ditolak ini akan mengaktifkan daerah otak merasakan sakit fisik. Sehingga, Kawan pun bisa merasakan penderitaan yang menjadi-jadi.

Jika Kawan merasakan hal itu, tandanya Kawan mengalami fear of rejection. Suatu kejadian penolakan berpotensi besar menimbulkan fear of rejection atau ketakutan akan penolakan pada diri. Dengan adanya rasa seperti ini, Kawan akan menahan diri untuk meraih tujuan besar.

Waspada! Ini Ciri FOBO Ketika Sulit Mengambil Keputusan dan Komitmen

Konsekuensi dari fear of rejection

Ilustrasi | Foto: Envato Tuts+
info gambar

Mengutip laman di verywellmind, fear of rejection akan mengantarkan diri Kawan pada kekhawatiran dan ketakutan dalam bersosialisasi dengan orang lain. Selama percakapan, misalnya.

Kawan akan merasa tidak dapat mengobrol dengan teman atau orang asing dengan baik. Sehingga, bisa saja Kawan akan menahan diri untuk bertemu orang-orang baru atau keluar dari rumah.

Tidak hanya itu saja, fear of rejection juga berdampak negatif terhadap kehidupan kerja Kawan. Misal, Kawan hendak menemui HRD (Human Resources Development) dalam rangka interview lamaran kerja.

Dengan adanya fear of rejection, Kawan bisa mengalami sesak napas, detak jantung meningkat, dan kesulitan berbicara. Di mata HRD, tindakan Kawan ini dinilai kurang profesional dan tergesa-gesa. Meskipun pada kenyataannya Kawan tidak seperti itu.

Meditasi Kunci Atasi Stres dan Cemas di Masa Pandemi

Cara mengatasi fear of rejection

Demikian, fear of rejection memberikan dampak-dampak yang merugikan untuk pelakunya, yang bahkan bisa menutup peluang emas di masa depan. Tentunya, Kawan tidak menginginkan hal seperti ini, bukan? Oleh karena itu, berikut beberapa tips mengatasi fear of rejection.

1. Sadari kalau penolakan itu hal yang lumrah

Ditinggalkan oleh teman, dijauhi lingkungan sekitar, dan kegagalan sosial lainnya tentu tidak mengenakkan buat diri Kawan. Terlebih, jika yang menolak Kawan adalah orang-orang tersayang.

Kalau dipikir-dipikir, ini adalah hal yang lumrah saja, lantaran tidak mungkin semua orang mau menerima diri Kawan apa adanya. Jadi, kalau Kawan ditolak dan merasa marah, itu sebenarnya sah-sah saja dan valid. Luapkan saja kekesalan Kawan sampai diri merasa puas.

Kenali bagaimana langkah-langkah konkret Kawan dalam menghadapi penolakan. Tumpahkan segala kesedihan Kawan kepada orang-orang terdekat atau profesional yang tidak mengkritik dan menghakimi.

2. Cari sisi positif pada diri Kawan

Ilustrasi | Foto: Fluent in 3 Months
info gambar

Barangkali cara ini terdengar toxic positivity. Namun, cobalah Kawan cari sisi positif dari pengalaman fear of rejection diri Kawan. Lakukan secara mandiri biar Kawan bisa menemukan sendiri keunikan dari kisah Kawan dan apa saja hikmah yang bisa Kawan petik. Dengan melakukan langkah ini, Kawan pun akan terhindar dari rasa dihakimi oleh lawan bicara Kawan.

Tak Selalu Buruk, Ini Manfaat Melamun dari Penelitian

3. Bangun growth-mindset

Penolakan yang berbuah kegagalan memang menyakitkan. Terlebih, jika penolakan itu terjadi secara terus-menerus. Seolah-olah kompetensi diri Kawan sangat diragukan dan tidak dihargai, meskipun Kawan sudah berjuang keras untuk menggapai ambisi itu. Rasanya, dunia seperti mau kiamat saja.

Akan tetapi, setelah Kawan melewati badai tak berujung, akan ada suatu momen di mana Kawan merasa sudah terbiasa dengan rasa ini. Nah, momen ini dapat menjadi kesempatan terbaik buat Kawan, apakah mau memilih untuk merasa sakit hati atau beranjak ke luar dari lubang kegelapan menuju cahaya.

Apabila Kawan memilih opsi kedua, Kawan akan sadar kalau penolakan atau kegagalan itu disebabkan oleh berbagai faktor. Bisa saja, Kawan ditolak lantaran diri Kawan belum mengenal baik diri sendiri, mengulang pola kegagalan yang sama, atau melakukan hal-hal lainnya.

Banyaknya frekuensi penolakan di masa sulit berpotensi pula membuat diri Kawan menjadi pribadi sukses di masa depan. Di mana Kawan bisa lebih sukses di suatu bidang ketimbang teman-teman Kawan.*

Referensi:Entrepreneur | verywellmind

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini