Perjalanan Du Anyam, Hampir Tujuh Tahun Menjadi Wadah Kehidupan Para Wanita di NTT

Perjalanan Du Anyam, Hampir Tujuh Tahun Menjadi Wadah Kehidupan Para Wanita di NTT
info gambar utama

Sejak 25 September 2015, para pemimpin dunia secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan pembangunan global. SDGs ini berlaku bagi seluruh negara (universal) sehingga seluruh negara, tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Du Anyam menjadi salah satu kewirausahaan yang tak menjadikan uang sebagai motivasi utama, melainkan bagaimana mereka dapat menjadi agen perubahan atau beberapa tahun terakhir ini kita akrab kenal dengan social enterprise.

Dalam bahasa Flores, Du’a berarti ibu, Du Anyam bermakna ibu yang menganyam. Didirikan pada tahun 2014 oleh tiga wanita pendiri—Azalea Ayuningtyas, Melia Winata, dan Hanna Keraf—Du Anyam pertama kali memulai proyek anyaman mereka di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur—salah satu provinsi termiskin dengan salah satu tingkat kematian kelahiran tertinggi di Indonesia.

Awal mula Du Anyam

Foto: Website Resmi Du Anyam
info gambar

Dikutip dari salah satu wawancara dengan Tabloid Bintang di tahun 2018, ketiga wanita muda itu bercerita mengenai awal mula bisnis ini terbentuk. Tantangan terbesar selama mengembangkan bisnis ini ialah menyajikan ide menjual anyaman kepada para ibu di sana.

Mereka enggan bekerja sama dengan Du Anyam jika hanya berbekal mimpi dapat uang banyak tanpa bukti nyata. Sebagai langkah awal, Azalea dan kawan-kawan membeli produk anyaman para ibu sambil mencari konsumen. Setelah melihat keseriusan ketiga nya, mereka mau menganyam lagi dan lagi. Pada 2014, Du Anyam menggandeng 10 ibu dari Desa Dun Tana.

Dalam wawancara tersebut, Azalea berkata dari 10 ibu di satu desa, kini mereka merangkul 500 penganyam dari 30 desa di kabupaten Lembata NTT, Kabupaten Nabire Papua, dan Berau, Kalimantan Timur. Pada 2014, mereka hanya menjual 300 produk per bulan. Kini mereka dapat menjual 24 ribu produk dalam setahun.

Indonesia Nomor Wahid dalam Upaya Pemulihan Terumbu Karang di Bumi

Bermula hanya dari para penganyam di Flores, kini Du Anyam melebarkan sayap ke berbagai daerah lainnya, seperti Papua dan Kalimantan Selatan. Produk anyaman dari Flores dibuat dari daun lontar, bagian dari kearifan lokal yang tumbuh di sekitar tempat tinggal para mama penganyam. Diolah menjadi kerajinan anyaman yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Flores selama ratusan tahun.

Lalu, ada anyaman Noken dari Papua, yang dibuat dari kulit pohon waru yang melambangkan kedamaian, kesuburan, kewanitaan, dan kehidupan yang lebih baik. Noken ini hanya boleh dibuat oleh penduduk asli Papua, loh!

Lain halnya dengan anyaman asal Kalimantan Selatan yang terbuat dari purun, tumbuh secara liar di lahan gambut dan berperan penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem lahan gambut dan memelihara bumi.

Du Anyam bukan sekadar bisnis

Dengan misi pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kesehatan bagi perempuan di pedesaan seluruh Indonesia. Du Anyam dibangun di atas nilai-nilai para pendirinya yang diwujudkan dalam tiga pilar, yaitu memberdayakan perempuan, mempromosikan budaya, dan meningkatkan kesejahteraan.

Berbekal semangat tinggi untuk mengambil bagian dalam pemberdayaan perempuan melalui kerajinan di Indonesia, Du Anyam memberi kesempatan bagi ibu penganyam untuk mengatur pendapatan keluarganya. Langkah ini pada akhirnya dapat membantu mereka untuk keluar dari rantai kemiskinan.

Berkat kerja keras berbagai pihak, Du Anyam berhasil meningkatkan pendapatan wanita penganyam hingga 40 persen dan tentunya memajukan kesejahteraan mereka. Beasiswa bagi lebih dari 205 siswa juga diberikan oleh Du Anyam kepada anak dan cucu dari para ibu penganyam yang berbakat ini.

Selain pelatihan menganyam, banyak kegiatan pelatihan non-teknis lainnya yang ibu-ibu penganyam dapatkan. Salah satunya literasi keuangan mengenai tabungan pendidikan anak dan rencana keuangan rumah tangga sehari-hari. Ibu-ibu Du Anyam belajar mengenai pentingnya menabung serta perbedaan antara kebutuhan dan keinginan.

Berdayakan UMKM, Ratu Belanda Puji Gojek di KTT G20 Roma

Du Anyam dan filosofi dalam setiap produknya

Bagi masyarakat Flores, kerajinan anyaman lebih dari sekadar barang penghias ruang. Setiap anyaman memiliki kisah tersendiri. Salah satunya anyaman sobe. Keranjang sobe telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Flores baik sebagai keranjang tempat bahan pangan, tempat hasil tangkapan melaut, hingga penyimpan peralatan dapur.

Keranjang sobe Du Anyam terdiri dari 6 jenis ukiran dengan filosofi masing-masing. Filosofi yang tersirat ini merupakan simbol dari kehidupan sehari-hari, juga melambangkan cara hidup berkelanjutan ala masyarakat Flores.

Ukiran Kemerekrara yang terdiri dari kata kemaren yang artinya ‘semut hitam’, dan rara yang artinya ‘jalan’. Kemerekrara merupakan barisan semut hitam berjalan yang melambangkan gotong royong. Ukiran enake, berasal dari kata enake yang berarti ‘sisik ikan’. Ukiran ini melambangkan hasil laut yang berlimpah.

Ukiran ue meta, berbentuk segitiga sama kaki yang memenuhi seluruh badan Sobe. Ue artinya ‘ubi’ dan meta artinya ‘kumpulan’. Rangkaian segitiga sama kaki diumpamakan sebagai kumpulan ubi-ubi yang dikukus dengan kelapa.

Ukiran ue malar juga menggambarkan ubi, seperti ue meta, namun pola ukiran ini lebih seperti belah ketupat yang menyerupai potongan-potongan ubi yang dijemur kering. Ue artinya ‘ubi’, dan malar artinya ‘belahan’.

Ukiran blego merupakan simbol dari topografi perbukitan, yang diadaptasi dari motif tenun Kecamatan Titehena. Yang terakhir, ukiran eco henge, melambangkan bentuk dari batu karang. Eco henge dibentuk dari perpaduan ukiran ue malar dan blego.

Berkenalan dengan 11 Sosok Anak Muda Indonesia Perkasa yang Menginspirasi

Kualitas lokal dengan harga terbaik

Du Anyam telah berhasil mendapatkan berbagai penghargaan karena desain nya yang unik dan merupakan bahan ramah lingkungan. Salah satunya penghargaan Anugerah Bangga Buatan Indonesia (BBI) 2020, penghargaan tertinggi di bidang lingkungan di Indonesia dalam KEHATI Award 2020, serta penghargaan Good Design Award Japan tahun 2020 dengan produk Kombu Tray.

Du Anyam juga menjadi satu-satunya produk anyaman Indonesia yang terpilih sebagai official merchandise untuk Asian Games 2018. Produk Du Anyam juga banyak digunakan oleh berbagai perusahaan ternama sebagai bagian dari Corporate Social Responsibility/CSR.

Meski telah diakui secara nasional dan internasional, bisnis sosial yang bulan November 2021 ini akan berulang tahun ketujuh tidak menjadikan produk-produknya sulit terjangkau atau mahal. Dalam website resminya, masih ada banyak sekali produk Du Anyam dengan harga kurang dari Rp50.000 loh. Mulai dari slippers, card slot, clutch, Topi Pandan, notepad, hingga tas anyam punya harga terjangkau.*

Referensi:Sustainable Development Goals | Artikel Du Anyam | Instagram @duanyam | Du Anyam

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini