Berkenalan dengan 11 Sosok Anak Muda Perkasa yang Menginspirasi

Berkenalan dengan 11 Sosok Anak Muda Perkasa yang Menginspirasi
info gambar utama

Indonesia diberkahi dengan keberadaan anak-anak muda yang membanggakan dari masa ke masa. Setiap generasi memiliki perjuangannya masing-masing. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan anak muda sebagai generasi penerus bangsa memang tak lagi berperang melawan penjajah, tetapi berjuang untuk mengharumkan nama bangsa, memberikan kebanggaan kepada negara, dan bermanfaat bagi sesama.

Banyak sosok anak muda Indonesia yang inspiratif dan bisa jadi contoh yang baik. Mereka adalah orang-orang yang peka terhadap lingkungan sekitar, memaksimalkan potensi diri, memanfaatkan apa yang ada di sekitar, serta membantu dan memberdayakan masyarakat.

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, Good News From Indonesia mengumpulkan sosok-sosok “Yang Muda Yang Perkasa” terdiri dari anak muda yang inspiratif, memiliki keinginan kuat untuk maju, peduli terhadap sesama, dan bermanfaat bagi sekitar melalui bidangnya masing-masing.

Berikut rangkumannya:

Kontribusi anak muda dalam dunia bisnis

Usia muda bukan jadi penghalang untuk menjalankan bisnis. Salah satu contoh anak muda yang bergelut di dunia bisnis adalah Muhammad Firman Faiki. Pemuda asal Pemalang, Jawa Tengah, berusia 20 tahun tersebut mendirikan usaha alas kaki bernama Alope.

Meski baru didirikan pada Agustus 2020, Alope terbukti bisa berkembang dan mendapatkan omzet besar dengan rata-rata Rp200-300 juta per bulan. Bahkan, menyentuh angka Rp2 miliar saat ada acara-acara besar.

Sempat terkena dampak pandemi, Firman mampu membangkitkan usahanya dan membantu masyarakat di desanya dengan menyediakan lapangan pekerjaan. Bahkan, ia mengaku mengambil tenaga kerja yang ada di desanya tanpa syarat jurusan dan kualifikasi tertentu.

Berkat Alope, Firman pun berkontribusi dalam memberdayakan ekonomi desa dengan merangkul orang-orang yang kurang dari segi ekonomi, tidak bisa lanjut pendidikan, dan gagal masuk seleksi perusahaan.

Bisnis Alas Kaki ala Anak Muda, Firman Faiki: Tidak Masalah Produk Kami Ditiru

Selain Firman, ada pula Isya Yusril yang masih berusia 24 tahun. Meski usianya masih muda, perjalanan Isya dalam berbisnis sudah cukup panjang. Ia pernah mencoba berbagai usaha seperti berjualan sate-sate Jepang, keripik, hingga food truck bernama Zelo.

Kini, ia tengah fokus pada bisnis properti dengan nama Sinergi Development yang entitasnya sudah dalam bentuk PT Sinergi Properti Asia.

Di bisnis ini, ia membangun cluster kost eksklusif di Malang dengan nama The Houston. Kemudian, ada pula PT Sinergi Saki Digdaya yang menaungi berbagai bisnis di bidang retail, seperti suplai sayur dan sejenisnya, serta PT Digital Solusi Group yang berkolaborasi dengan mitra di bidang cyber security consultant.

Adapun beberapa usaha lain yang dijalankan, meski belum berbentuk berbadan usaha PT, seperti Sinergi Investama (platform edukasi dan advisor di bidang finansial terutama investasi), Sinerginative (production house), serta usaha car wash dan car detailing di Bandung. Ke depannya, Isya akan mengembangkan berbagai lini bisnis sehingga menjadi semacam holding company.

Rintis Holding Company yang Digawangi Anak Muda, Isya Yusril: Harus Ada Kemauan

Pemberdayaan masyarakat

Di bidang pemberdayaan masyarakat, ada nama Dwi Sulistia yang memiliki jasa dalam memajukan kesejahteraan sebagian masyarakat Indonesia secara nyata. Dwi bertekad untuk membuat masyarakat di daerah tempat tinggalnya yaitu Desa Cijayanti, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Tiga tahun belakangan ini, ia berperan dalam memajukan masyarakat di desa tersebut agar dapat lebih berkembang dari segala aspek, termasuk pendidikan, sumber daya manusia (SDM), dan perekonomian melalui pemberdayaan UMKM.

Berawal dari tahun 2018 ia merintis usaha kuliner Polubi Snacks, yaitu camilan keripik singkong dan pisang, ia memanfaatkan bahan baku dari petani setempat. Kemudian, ia bergabung dalam pendirian Taman Bacaan Masyarakat Bale Baca Cijayanti (TBM BBC), fasilitas untuk meningkatkan minat literasi, khususnya pada anak, remaja, dan ibu-ibu buta aksara.

Ia pun berfokus pada menyelesaikan Permasalahan utama di desa tempat tinggalnya tersebut, seperti mengenai kualitas dan ketersediaan SDM. Melalui TBM BBC, Dwi memiliki tiga program seperti mencetak sumber daya manusia, membantu ekonomi kreatif lewat pemberdayaan UMKM, dan mengembangkan potensi pertanian melalui program petani milenial.

Komitmen Dwi Sulistia, Dedikasikan Hidup untuk Bangun Pemberdayaan Masyarakat

Ada pula nama Maya Stolastika, petani milenial yang bertekad membantu petani sekitar. Berawal dari tahun 2008 ketika ia masih berkuliah, ia menyewa lahan setengah hektare agar dapat terjun di industri pertanian organik.

Meski sempat berhasil panen perdana, tetapi karena kurangnya pengetahuan tentang distribusi hasil produksi, maka hasil panen pun tidak mendatangkan keuntungan.

Sempat vakum dari dunia pertanian, Maya merantau ke Bali untuk bekerja di sebuah perusahaan biro perjalanan dan pariwisata. Namun, baru enam bulan bekerja, Maya tetap memikirkan dunia pertanian dan kembali mengejar mimpinya.

Tahun 2012, ia pun kembali menyewa lahan 3.000 meter persegi dan mendirikan badan usaha Twelve’s Organic. Ia pun merambah supermarket dan hotel untuk memasok hasil tani seperti sayur, buah, dan bumbu organik.

Dengan memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, ia pun berharap dapat memutus rantai distribusi hasil panen yang tidak adil. Selama ini Maya melihat salah satu masalah di bidang pertanian ialah ketergantungan petani pada tengkulak atau pedagang perantara.

Kelompok tani yang bergabung dalam Twelve’s Organic pun memiliki kebebasan dalam memilih tanaman yang akan ditanam tanpa terbebani permintaan tengkulak.

Kiprah Maya Stolastika Menyebarkan Semangat Bertani Organik kepada Pemuda

Kiprah anak muda dalam industri kuliner

Chef Tiarbah merupakan salah satu anak muda yang memulai bisnis di masa pandemi. Ia adalah sosok di balik Nasi Goreng Tiarbah yang ramai dibicarakan warganet di media sosial.

Menurut penuturan pria bernama Bahtiar Sigar ini, ide awal Nasi Goreng Tiarbah adalah gerakan sosial yang bertujuan agar orang-orang masih bisa berpenghasilan dengan menjadikan menu nasi goreng dendeng lemak sebagai menu utamanya.

Ia pun mengatakan bahwa Nasi Goreng Tiarbah ini telah memiliki 55 mitra kerja yang tersebar di seluruh Indonesia dan belum ingin dijadikan sebagai bisnis yang profit oriented. Usaha kuliner tersebut kini membawa dampak pada berbagai pihak, termasuk para mitra, pekerja di bagian produksi, dan pengemudi ojek online yang mengalami kebanjiran pesanan.

Diawali Sebagai Gerakan Sosial, Chef Muda Tiarbah Lebarkan Sayap Melalui Nasi Goreng

Serupa dengan Chef Tiarbah, sosok Garry Yusuf, pun turut memulai usaha kulinernya sejak awal pandemi. Pemuda yang berdomisili di Denpasar, Bali ini merintis usaha Martabak Sultan karena sang adik begitu menyukai kudapan tersebut.

Berawal dari jualan ke lingkungan pertemanan, akhirnya Martabak Sultan dipasarkan melalui ojek online dan kini sudah memiliki 6 cabang serta mempekerjakan 13 orang karyawan.

Meski pandemi, Garry melihat bahwa sektor kuliner tak ada matinya. Sederhananya karena setiap orang butuh makanan. Kini omzet Martabak Sultan telah mencapai puluhan juta dan Garry berharap usahanya bisa terus berkembang, menopang perekonomian keluarga, dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Garry Yusuf, Pemuda 18 Tahun yang Raih Omzet Besar dari Bisnis Martabak

Masih soal kiprah anak muda dalam dunia kuliner, mari berkenalan dengan Afan Syahdana. Pemuda berusia 20 tahun ini awalnya terpaksa kembali ke Tanah Air karena pandemi melanda.

Ia yang masih berkuliah di Singapura ini tak ingin menjadi pengangguran di Indonesia dan langsung terjun ke usaha kuliner. Ia menjual roti dengan merek dagang Roti Gembong Gedhe.

Saat ini, Roti Gembong Gedhe telah memiliki 100 cabang dan mempekerjakan 1.100 karyawan. Omzetnya pun tak main-main, dalam satu hari setiap outlet bisa menjual sekitar 300-400 roti.

Pesan Afan untuk anak muda yang ingin memulai usaha adalah tidak menjadikan modal sebagai alasan, karena menurutnya yang paling penting adalah modal nekat, berani, punya mental kuat, dan pastinya jangan takut memulai.

Sukses Jual Roti Hingga Buka 100 Cabang, Afan Syahdana: Tuhan Bersama Anak Muda yang Nekat

Berkreasi dengan produk kriya

Seperti yang kita ketahui bahwa usaha kriya termasuk salah satu subsektor ekonomi kreatif yang memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Ini menjadi bukti bahwa kreativitas anak muda Tanah Air memang patut diacungi jempol dan terbukti bisa dijadikan bisnis yang menjanjikan.

Salah satu anak muda yang berkecimpung di dunia kriya adalah Satria Conayio, 34 Tahun asal Depok, Jawa Barat. Ia memiliki usaha pembuatan katapel dengan merek dagang Little Margo Catapult.

Berangkat dari hobi bermain katapel, ia pun akhirnya tertarik untuk membuat mainan tersebut dengan desain unik. Tak sampai di situ, material yang digunakan dalam pembuatan katapel sebagian besar berasal dari limbah, seperti papan skateboard, furnitur, dan sampah plastik.

Dijual dengan harga mulai dari Rp150 ribu sampai Rp4 jutaan, produk katapel buatannya kini sudah menembus pasar internasional. Katapel buatannya sudah terjual sampai ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika.

Soal pemasaran dan promosi, Satria mengaku hanya memanfaatkan media sosial dan marketplace, cara ini berhasil membuatnya mendapatkan omzet mencapai puluhan juta rupiah.

Little Margo Catapult, Bisnis Katapel Anak Muda yang Tembus Pasar Internasional

Dari usaha kriya, ada pula sosok pemuda inspiratif lain bernama Arul Ismail. Pemuda asal Ciamis ini memutuskan untuk berhenti kuliah saat pandemi karena dirasa kurang kondusif dan memanfaatkan waktu luangnya untuk berkreasi.

Ia pun berkreasi dengan membuat miniatur pesawat bermodalkan menonton berbagai tayangan tutorial di Youtube.

Anak muda berusia 21 tahun tersebut pun kini mampu menghasilkan pundi-pundi rupiah dari kreasinya. Soal modal, ia memanfaatkan dana bantuan dari pemerintah untuk UMKM terdampak Covid-19 sebesar Rp2,4 juta untuk membeli peralatan yang dibutuhkan. Kini, produk kriya buatan Arul dipasarkan melalui media sosial Instagram Aero Creative Miniature.

Saat ini, karya Arul sudah dipasarkan lintas pulau dan rencananya akan memperluas pasar ke negara tetangga. Pesan Arul, anak muda yang ingin menjalankan usaha harus lebih berani mengambil risiko, terutama dalam menghadapi kegagalan karena semuanya adalah bagian dari proses dalam berbisnis.

Arul Ismail, Pemuda Asal Ciamis yang Sukses Rintis Usaha Miniatur Pesawat

Menginspirasi lewat konten dan dongeng

Eklin Amtor de Fretes merupakan pemuda dari Maluku yang bertekad ingin menyatukan kembali saudara-saudaranya. Perlu diketahui bahwa Maluku pernah mengalami konflik sosial pada 1992-2002 yang menyebabkan perpecahan masyarakat.

Cara yang dilakukan Eklin pun terbilang unik karena ia menyebarkan pesan toleransi dan perdamaian lewat dongeng.

Sebelumnya, Eklin mengikuti kegiatan pelatihan Living Value Education (LVE) tahun 2016 di mana kurikulumnya mencakup beberapa aktivitas dengan muatan nilai damai, menghargai, kasih sayang, kerja sama, kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, kesederhanaan, toleransi, kebebasan dan persatuan.

Berbekal ilmu dari LVE, Eklin pun membentuk Youth Interfaith Peace Camp (YIPC) pada 2017, sebuah gerakan untuk menyebarkan pesan dama kepada teman-teman lintas agama, suku, dan bahasa.

Meski awalnya tak pandai mendongeng, Eklin belajar dari media sosial dan membeli boneka yang ia beri nama Dodi untuk menarik perhatian saat menceritakan dongeng. Karena masyarakat antusias, ia pun membuat Rumah Dongeng Damai pada tahun 2019 yang berisi kumpulan buku cerita, boneka, sekaligus tempat belajar bahasa dan kesenian.

Upaya Eklin de Fretes Membawa Pesan Damai dan Toleransi Melalui Dongeng

Kisah inspiratif lain datang dari Windi Wijaya, pemuda yang membuat gerakan Sayap Hati. Windi sendiri awalnya membuat akun Instagram dengan nama Raja Galau yang unggahannya lebih ke arah konten-konten sedih, galau, dan murung.

Berkat perbincangannya dengan seorang mentor dari gereja, ia pun mengubah akun tersebut menjadi lebih positif dan menginspirasi. Raja Galau pun kemudian berubah menjadi Sayap Hati.

Di Sayap Hati, Windi rutin mengunggah konten motivasi, inspirasi, dan bersyukur. Lama-kelamaan, Sayap Hati pun kerap menyalurkan bantuan pada mereka yang membutuhkan dan menerima donasi dari para pengikut akun Instagram tersebut. Saat ini, para pengikut Sayap Hati seringkali memintanya untuk membuka donasi bagi yang membutuhkan.

Demi menjaga kepercayaan dari orang-orang yang telah menyalurkan donasi, Windi pun selalu bertanggung jawab terhadap donasi yang ia buka, termasuk soal transparansi uang yang terkumpul dan rincian orang-orang yang dibantu. Tak lupa ia pun mensurvei orang-orang yang menerima bantuan agar tepat sasaran.

Pemuda dan Semangat Berbagi, Windi Sayap Hati: Energi Indonesia Itu di Kebersamaan

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak anak muda yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, serta lingkungannya, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Maju Terus Anak Muda Indonesia. Kalian adalah pemantik asa yang perkasa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini