Little Margo Catapult, Bisnis Katapel Anak Muda yang Tembus Pasar Internasional

Little Margo Catapult, Bisnis Katapel Anak Muda yang Tembus Pasar Internasional
info gambar utama

Selain modal dan ilmu pengetahuan, kreativitas juga merupakan hal penting dalam berbisnis. Kreativitas akan membantu pengusaha dalam mengembangkan bisnisnya, termasuk soal ide, inovasi, cara promosi, menjadi pembeda dari kompetitor, dan juga diperlukan untuk mempertahankan bisnis dengan segala tantangan dan persaingan yang dihadapi.

Dengan memiliki kreativitas, seorang pengusaha juga bisa lebih jeli melihat peluang dalam berbisnis. Tentunya, ide tak melulu harus sesuatu yang besar dan spektakuler. Terkadang, hal-hal kecil yang ada di sekitar kita dan sering luput dari perhatian, bisa jadi peluang dengan potensi menjanjikan.

Satria Conayio merupakan salah satu contoh anak muda yang menjalankan bisnis dengan modal kreativitas. Berawal dari hobinya bermain katapel, ia pun kini menjalankan usaha Little Margo Catapult yang fokusnya pada produk katapel dengan desain unik.

Seperti yang kita ketahui, katapel bukanlah sesuatu yang asing di Indonesia. Di beberapa daerah, namanya juga sering disebut sebagai pelinteng atau blandring. Katapel banyak dipakai untuk berburu hewan kecil seperti burung atau capung, tetapi juga berfungsi sebagai permainan tradisional.

Umumnya katapel yang ada di Indonesia terbuat dari bahan kayu dan karet. Untuk memainkan katapel, dibutuhkan peluru yang biasanya dari batu kecil atau bola-bola karet.

Pada Senin (25/10/2021), GNFI berkesempatan untuk berdialog dengan pemilik Little Margo Catapult untuk mengetahui lebih lanjut tentang produk kriya katapel yang dibuatnya.

Diawali Sebagai Gerakan Sosial, Chef Muda Tiarbah Lebarkan Sayap Melalui Nasi Goreng

Berkenalan dengan produk katapel Little Margo Catapult

Little Margo Catapult merupakan merek dagang dari satuan klub katapel di Margonda, Depok, Jawa Barat. Menurut penjelasan Satria, Little Margo Catapult didirikan sejak akhir tahun 2019 dan memiliki keunggulan produk yaitu satu-satunya produsen tempat peluru katapel yang dibuat dari kulit kangguru asli.

Tak hanya itu, ia pun membuat frame katapel dari limbah papan skateboard, limbah furnitur, dan limbah plastik. Adapun ciri khas katapel buatan Little Margo Catapult ialah desainnya yang unik dan modern, tanpa mengurangi fungsinya.

Untuk membuat sebuah katapel, Satria mengumpulkan aneka limbah berbentuk pipih atau berupa lembaran dengan ketebalan 1-50 mm. Limbah-limbah tersebut biasa ia dapatkan dari rekan-rekannya yang mengumpulkan barang bekas kemudian diolah menjadi katapel.

“Proses pembuatan katapelnya dimulai dari mendesain katapel, konsep tampilan, pencocokan material, pemilihan ukuran sesuai genggaman pemesan, kemudian lanjut ke tahap pembuatan, pembentukan, serta finishing,” jelas Satria.

Soal inspirasi dan referensi dalam pengembangan produk, Satria menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan ide dari konsep atau karakter yang sedang populer. “Misalnya warna dan bentuk superhero, hewan-hewan unik, kendaraan, pemandangan, tekstur material, dan lain-lain yang mana juga sedang populer di Eropa dan Amerika.”

Produk Little Margo Catapult © Dokumentasi pribadi Satria Conayio
info gambar
Sukses Jual Roti Hingga Buka 100 Cabang, Afan Syahdana: Tuhan Bersama Anak Muda yang Nekat

Berawal dari hobi menjadi bisnis menjanjikan

Diceritakan Satria, proses awal membuat bisnis Little Margo Catapult ini bermula dari hobinya bermain katapel. Sayangnya, kualitas katapel yang ia punya tergolong minim.

“Lalu saya sangat konsen pada katapel dan riset mengenai teknis sampai produk yang baik dan estetis.”

Sebelum fokus pada pembuatan katapel, pria berusia 34 tahun tersebut pernah terjun dalam bisnis kriya untuk pik gitar dan skateboard clothing. Ditanya soal modal usaha, ia memulainya dari tabungan sendiri ditambah dengan keahlian menciptakan dan membuat produknya secara independen.

Ia mengaku tertarik pada katapel karena merupakan suatu kesempatan yang yang belum banyak orang-orang lakukan dalam pengembangan produk, mutu produk, desain produk dan yang paling penting fund raising atau dapat dijalankan dengan CSR perusahaan. “Jadi sangat mungkin celah bisnis di sini cukup baik,” pungkasnya.

Saat ini, produk katapel buatannya bisa dibeli di marketplace, Instagram, Facebook atau langsung datang ke workshop Little Margo Catapult di JL. Sawo No. 33 Pondok Cina, Depok. Untuk harga jualnya beragam, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp4 jutaan.

Tak main-main, produk katapel tersebut telah terjual hingga ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika. “Cara untuk menembus pasar luar dengan jaringan sosial media seperti Facebook, Instagram, dan forum-forum katapel.”

Proses pembuatan katapel | Dokumentasi pribadi Satria Conayio
info gambar
Garry Yusuf, Pemuda 18 Tahun yang Raih Omzet Besar dari Bisnis Martabak

Strategi pemasaran dan tantangan usaha produk kriya

Setiap usaha tentu akan menemukan tantangannya tersendiri. Hal ini pun dirasakan Satria dalam mengembangkan usaha katapelnya.

Menurut penuturannya, tantangan yang ia hadapi saat ini adalah pangsa pasar, persaingan lokal yang meniru atau membuat produk yang sama, serta pemasaran produk, terutama karena katapel yang ia buat terbatas dan hanya berdasarkan pemesanan.

Belum lagi di Indonesia barang handmade sering sekali kurang digandrungi karena harganya terkesan mahal. “Padahal produk tersebut membutuhkan proses pengerjaan yang sama dengan produk masal dan mungkin kurangnya apresiasi dari masyarakat padahal mahal itu adalah impian dari pembuat produk handmade untuk menjadi berhasil.”

Namun, ia pun tak putus asa dan terus berupaya untuk meningkatkan bisnisnya. Salah satunya dengan menggandeng produsen-produsen untuk berkolaborasi dan mensponsori penembak-penembak terbaik pada klub-klub katapel di lokal maupun Internasional.

“Saya juga melakukan inovasi dengan mencari sesuatu yang berbeda yang tidak ada di kalangan lokal agar bisa mempunyai karakter tersendiri dan futuristik.”

Untuk urusan strategi pemasaran, selama ini ia mengandalkan platform digital seperti media sosial, marketplace, dan personal branding. Sedikit bocoran soal omzet, penjualan produk Little Margo Catapult kini telah mencapai puluhan juta rupiah.

Menutup perbincangan, Satria membagikan sedikit kiat untuk anak muda yang ingin memulai usaha. “Tipsnya adalah pikirkan sesuatu yang belum dipikirkan orang. Dari situ tingkat kreatif yang kita lakukan akan menjadi karakter dan ciri tersendiri yang dapat bersaing dengan bisnis-bisnis serupa,” tutupnya.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak anak muda yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, serta lingkungannya, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Maju Terus Anak Muda Indonesia. Kalian adalah pemantik asa yang perkasa.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini