Garry Yusuf, Pemuda 18 Tahun yang Raih Omzet Besar dari Bisnis Martabak

Garry Yusuf, Pemuda 18 Tahun yang Raih Omzet Besar dari Bisnis Martabak
info gambar utama

Sejak Maret 2020, Covid-19 resmi terindikasi masuk Indonesia dan mengubah beberapa tatanan hidup masyarakat Indonesia. Protokol kesehatan dengan tindakan minimal berupa 3 M (mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak) kini menjadi kebiasaan baru dalam beradaptasi menghadapi Covid-19 yang berstatus pandemi ini.

Dalam upaya mencegah dan meminimalisir penularan Covid-19, keluarlah kebijakan dari pemerintah berupa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berorientasi pada meminimalisir intensitas kerumunan di suatu tempat.

Hadirnya pandemi Covid-19 tidak hanya melahirkan kebijakan-kebijakan baru, namun juga melahirkan rasa dilematis di setiap benak masyarakat. Banyak orang kehilangan pekerjaan selama pandemi karena pengurangan jumlah tenaga kerja di perusahaan, penjualan produk menurun karena minimnya mobilitas masyarakat, hingga kebutuhan yang harus terus dipenuhi tanpa sumber pemasukan.

LITERATALKS 3.0: Tingkatkan Daya Literasi Anak Muda Kala Pandemi

Dirintis sejak awal pandemi

Salah satu varian Martabak Sultan | Foto : Instagram @martabaksultan53
info gambar

Meski rasa dilematis masih menghantui, masih banyak orang yang terus berjuang dan memanfaatkan celah di tengah pandemi. Garry Yusuf adalah salah satunya. Pemuda yang berdomisili di Kota Denpasar, Bali ini mulai merintis usaha sejak awal pandemi.

Garry merupakan pendiri dan pemilik usaha kuliner dengan merek “Martabak Sultan” yang menjual berbagai macam varian produk martabak. Melalui wawancara yang dilakukan oleh tim GNFI, Jumat (22/10/2021), Garry menjelaskan bahwa awal mula tercetusnya ide kehadiran Martabak Sultan adalah karena sang adik yang begitu menyukai martabak.

“Jadi, awal mulanya itu adik saya minta beli martabak, setiap hari. Nah, saya pikir, daripada saya beli, mending saya bikin sendiri. Adik saya suka martabak hasil buatan saya, setelah itu saya coba jual martabak ke teman-teman, terus dari mulut ke mulut akhirnya ramai dan saya memutuskan untuk menekuni bisnis kuliner ini. Saya memasarkannya melalui ojek online dan promo di Instagram,” papar Garry.

Bermula dari kecintaan sang adik pada martabak, usahanya kemudian berkembang dari yang awalnya hanya 1 cabang, kini mampu membuka 6 cabang dengan mempekerjakan 13 orang. Menariknya, perkembangan usaha tersebut terjadi di tengah situasi pandemi.

Adapun keenam lokasi store Martabak Sultan tersebar di beberapa wilayah Pulau Bali, tepatnya di Jalan Mudutaki Dalung, Jalan Imam Bonjol, Jalan Mekar 1 Pemogan, Jalan Tukad Badung Renon, Jalan Gatot Subroto 1, dan Jalan Raya Batubulan.

Semangat Dewi, Dorong Anak Muda Mengabdi untuk Negeri di Tengah Pandemi

Sektor kuliner yang tidak ada matinya

Antrean pembeli di salah satu store Martabak Sultan. | Foto : Garry Yusuf/Dokumentasi pribadi
info gambar

Bali merupakan wilayah yang mengunggulkan sektor pariwisata, baik pariwisata alam maupun pariwisata budaya. Namun, hadirnya Covid-19 membuat sektor pariwisata di Pulau Dewata ini lesu. Meski demikian, hal tersebut tidak mempengaruhi pemuda 18 tahun ini dalam menekuni bisnis Martabak Sultan-nya.

Garry memiliki anggapan bahwa meskipun pandemi, sektor kuliner tetap menggeliat. Hal tersebut dikarenakan bagaimanapun keadaannya, makanan menjadi hal pokok yang tidak bisa lepas dari kehidupan meskipun sekadar makan camilan berupa martabak.

“Di Bali ini sejak pandemi memang pariwisata nge-drop, tapi menurut saya sektor kuliner itu gak ada matinya. Setiap orang butuh makan, apapun keadaannya baik itu pandemi maupun gak pandemi, orang sakit dan sehat juga butuh makanan. Jadi, menurut saya sektor kuliner akan tetap dibutuhkan apapun keadaannya,” lanjut Garry.

Memiliki keyakinan akan urgensi bisnis di bidang kuliner, Garry yang kini sudah memiliki 6 store Martabak Sultan ini mengungkapkan metode pemasaran Martabak Sultan hingga beromzet puluhan juta.

“Dengan testimoni yang masuk, menurut saya, percuma punya barang (produk) bagus tapi gak dipasarkan dengan baik, jadi saya sebisa mungkin memasarkan Martabak Sultan secara maksimal. Instagram Ads jadi yang paling berperan dalam marketting Martabak Sultan, selain itu promo-promo di aplikasi GrabFood dan Gojek juga cukup menarik bagi konsumen,” bebernya.

Semangat Dewi untuk Indonesia, Dorong Anak Muda Mengabdi Bagi Negeri di Tengah Pandemi

Rating Martabak Sultan yang sempat turun

Berbicara mengenai awal berbisnis, ternyata Garry juga pernah mengalami masa-masa kurang menyenangkan dengan Martabak Sultan-nya.

Rating Martabak Sultan pernah turun dan menjadi yang terendah di aplikasi online. Hal itu terjadi lantaran adonan martabak yang dibuat salah dan tidak sesuai resep, sehingga berpengaruh terhadap kualitas rasa.

“Pernah di suatu waktu, salah campuran adonan yang akhirnya bikin Martabak Sultan rasanya gak sesuai, beda lah. Kita dapat rating rendah di aplikasi GrabFood, bahkan paling rendah di sana dan itu mempengaruhi banget. Akhirnya kita cari cara buat naikin lagi ratingnya dengan cara memberikan kompensasi berupa penggantian produk ke konsumen, dan promo-promo lainnya hingga rating kita naik lagi,” kenang Garry.

Martabak Sultan lebih dikenal melalui instagram di alamat @martabaksultan53 dan aplikasi layanan pemesanan makanan secara online dengan nama Martabak dan Terang Bulan Sultan.

Hasil Indeks Optimisme Anak Muda Indonesia di Tahun 2021

Inspirasi nama dan omzet yang besar

Nama Martabak Sultan merupakan inspirasi yang hadir dari garis keturunan keluarga Garry yang masih memiliki hubungan dengan salah satu kesultanan di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Yogyakarta. Garis keturunan sultan berasal dari sang ayah.

Selain itu, Garry juga menjelaskan bahwa kata “sultan” menjadi salah satu pembeda dari martabaknya dengan martabak lain. Kata “sultan” menjadi ciri kekinian dari konsep yang diusung Garry. Hal tersebut dibuktikan dengan varian produk Martabak Sultan yang dikombinasikan dengan rasa yang tidak biasa.

“Jadi, produk kita itu beda, martabak kekinian. Meskipun martabak, namun topping-nya bervariasi, ada Red Velvet, Pandan, Oreo Cheese Cream, Keju Mozarella, dan banyak lagi."

Martabak kekinian di bawah pimpinan Garry kini sudah meraup omzet 50 hingga 100 juta rupiah setiap bulannya. Garry bersyukur dapat beradaptasi dan memulai bisnisnya di tengah pandemi dan mampu membantu membuka lapangan pekerjaan untuk beberapa orang dengan bisnisnya.

Selain 13 karyawan yang kini membantu Garry dalam Martabak Sultan, para driver GrabFood dan GoFood juga turut mendapat peluang usaha. Mendaftarkan dan memasarkan Martabak Sultan melalui aplikasi pemesanan makanan secara online dapat membantu para driver tersebut tetap dapat beroperasi di tengah pandemi.

Budaya Jadi Harapan Besar Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia

Berkembang dan bermanfaat jadi harapan terbesar Garry

Ke depan, Garry berharap Martabak Sultan besutannya bisa semakin berkembang tidak hanya dari segi keuntungan, namun berkembang dari segi manfaat. Manfaat yang dimaksud adalah usahanya mampu menopang perekonomian keluarga serta mampu membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat.

Lebh lanjut, Garry juga berharap suatu saat bisa mendirikan store atau membuka cabang Martabak Sultan di berbagai daerah Indonesia, bahkan di luar negeri.

“Selain bermanfaat bagi banyak orang, saya juga berharap usaha makin berkembang dan dapat membuka cabang di kota-kota atau daerah lain, luar pulau Bali, luar negeri bahkan luar dunia kalau bisa,” canda Garry.

Muda, adaptif, dan inovatif jadi 3 kata yang dapat mewakili Garry. Berani memulai bisnis di usia muda dan mampu mengambil celah di tengah pandemi hingga akhirnya inovasi-inovasi produk Martabak Sultan hadir dan dapat menemani konsumennya di tengah pandemi.

Arul Ismail, Pemuda Asal Ciamis yang Sukses Rintis Usaha Miniatur Pesawat

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak anak muda yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, serta lingkungannya, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Maju Terus Anak Muda Indonesia. Kalian adalah pemantik asa yang perkasa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Widhi Luthfi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Widhi Luthfi.

WL
IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini