Budaya Jadi Harapan Besar Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia

Budaya Jadi Harapan Besar Generasi Muda untuk Masa Depan Indonesia
info gambar utama

Seberapa besar rasa optimisme yang anda miliki ketika diminta untuk memproyeksikan masa depan Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentu tidaklah sederhana, diperlukan pertimbangan, evaluasi, dan penilaian sendiri, dengan melihat kondisi berbagai sektor yang ada di tanah air sebagai tolak ukur akan menjadi apa Indonesia di waktu yang akan datang.

Faktanya, penilaian bahkan penentu masa depan Indonesia ada di tangan masyarakat sendiri, khususnya bagi para generasi muda. Kawula muda di tanah air sejatinya bisa menakar dan memahami sektor apa yang paling unggul di Indonesia, memahami potensi yang dimiliki, sehingga berujung pada optimisme akan masa depan Indonesia.

Masih berdasarkan survei indeks optimisme yang dilakukan oleh GNFI, yang bekerja sama dengan lembaga survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), kita bersama-sama dapat menakar sejauh mana rasa optimisme yang dimiliki oleh generasi muda, dan sektor mana yang diyakini dapat menjadi kunci dari masa depan bangsa.

Survei Indeks Optimisme 2021
info gambar

Dari beberapa sektor yang ada, budaya adalah pemenangnya. Ya, pendidikan dan kebudayaan berhasil menempati peringkat pertama sebagai sektor yang berhasil memupuk rasa optimisme paling tinggi sebagai kunci dari masa depan Indonesia.

Di antara lima sektor yang ada, pendidikan dan kebudayaan memiliki indeks optimisme sebesar 83,9 persen. Jika ditelisik secara lebih detail, sub-sektor yang dimiliki bahkan didominasi oleh kebudayaan dengan angka indeks optimisme yang terbilang tinggi, salah satunya bahkan mencapai lebih dari 70 persen.

Secara detail, ada empat sub-sektor budaya yang memiliki indeks optimisme paling tinggi dan diyakini generasi muda sebagai kunci dari masa depan bangsa Indonesia lewat eksistensinya yang sudah diakui di mata dunia, yaitu budaya kerajinan tangan dengan capaian net index sebesar 71 persen, budaya musik sebesar 69,5 persen, budaya fesyen sebesar 69,1 persen, dan terakhir budaya film sebesar 68,8 persen.

Lantas, sudah sejauh mana keberhasilan aspek budaya yang oleh generasi muda Indonesia diyakini sebagai kunci dari masa depan bangsa?

Industri perfilman Indonesia yang mulai diperhitungkan dunia

ilustrasi film
info gambar

Industri perfilman di tanah air harus diakui memang mengalami pertumbuhan yang pesat terutama dalam 10 tahun terakhir. Tidak hanya dari segi produksi yang sukses menghasilkan jajaran karya berkualitas, atensi sekaligus apresiasi masyarakat Indonesia tak dimungkiri menjadi tolak ukur keberhasilan suatu karya yang dibuat, sebelum mendapat atensi serupa dari cakupan yang lebih luas, dalam hal ini kancah internasional.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Filmindonesia.or.id, perkembangan pesat dari segi antusias penikmat film meningkat selama hampir satu dekade dalam rentang tahun 2010-2018. Pada rentang waktu tersebut, industri perfilman Indonesia berhasil menggaet sebanyak 6,5 juta penonton dari peringkat 15 besar film lokal garapan sutradara tanah air.

Peningkatan besar terjadi di tahun 2019, dengan hanya mengacu pada peringkat 5 besar film lokal garapan sutradara tanah air, nyatanya ada sebanyak 14,8 juta penonton yang berhasil diperoleh, angka tersebut dua kali lipat lebih besar dari capaian penonton yang diperoleh pada 8 tahun sebelumnya.

Pencapaian tersebut tentu belum cukup untuk dijadikan tolak ukur, eksistensi akan industri perfilman tanah air juga terbukti lewat antusiasme yang didapat industri perfilman Indonesia dari masyarakat dunia.

Sampai saat ini, tercatat sudah cukup banyak deretan film tanah air garapan sutradara lokal yang kental akan budaya, dan berhasil mendapatkan atensi bahkan apresiasi dari industri perfilman dunia. Sebut saja film fenomenal garapan Joko Anwar bertajuk Perempuan Tanah Jahanam, Kucumbu Tubuh Indahku garapan Garin Nugroho, hingga Laskar Pelangi garapan Riri Riza.

Tentu, tiga film di atas hanya sebagian kecil dari deretan film lokal lainnya yang sukses mendapatkan perhatian dunia. Karena itu, tak heran jika generasi muda saat ini memiliki harapan dan optimisme yang cukup tinggi bahkan mencapai 68,8 persen, akan masa depan Indonesia lewat budaya di industri perfilman.

Budaya Indonesia yang berhasil menembus negara kiblat fesyen dunia

fasyen indonesia
info gambar

Fesyen atau mode nyatanya menjadi salah satu sub-sektor yang berhasil memupuk rasa optimisme generasi muda akan masa depan Indonesia dengan cukup tinggi. Bukan tanpa alasan, hal tersebut bisa terjadi dikarenakan keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia dari segi mode nyatanya mampu menembus industri fesyen dunia, bahkan sampai ke negara yang didaulat sebagai kiblat fesyen yaitu Perancis.

Pada tahun 2020 lalu, jenama kenamaan dunia asal Paris yaitu Dior, bahkan diketahui melakukan pemesanan secara besar-besaran terhadap salah satu kain tradisional khas Indonesia, yaitu kain Endek Bali.

Achmad Nur Hasim, produsen kain Bali diketahui mengirimkan sebanyak 6.080 meter kain Endek Bali yang pada akhirnya digunakan oleh jenama fesyen dunia yang sudah berdiri sejak tahun 1946 tersebut, sebagai bahan untuk peragaan koleksi Spring/Summer 2021 Dior, yang dipamerkan lewat gelaran Paris Fashion Week.

Di lain sisi, optimisme generasi muda Indonesia akan fesyen yang kental akan budaya Indonesia nyatanya terbentuk tidak hanya berdasarkan penggunaan material budaya lokal yang diolah oleh negara lain.

Indonesia nyatanya memiliki deretan desainer yang pada setiap karyanya selalu mengangkat kebudayaan tanah air, lewat kepiawaian dalam merancang busana yang mendapat penghargaan dari masyarakat dunia.

Sebut saja Entin Gartini, perancang mode Indonesia yang berhasil mendapatkan anugerah 'The Best Designer' pada 'Ottawa Award 2021' lewat karyanya yang memadukan batik motif ombak dengan motif truntum. Upaya melestarikan budaya Entin lakukan dengan berkolaborasi bersama pengrajin batik asal Yogyakarta.

Kerajinan tangan Indonesia yang mendapat apresiasi tinggi di dunia

kerajinan tangan indonesia
info gambar

Dari sederet sub-sektor pendidikan dan kebudayaan yang menjadi sumber optimisme terbesar generasi muda akan masa depan Indonesia, ada satu hal yang tidak kita sadari mungkin terlihat sederhana, namun nyatanya justru memiliki andil paling besar dalam menentukan posisi dan masa depan bangsa khususnya di mata dunia, yaitu kerajinan tangan.

Perumpamaan secara sederhana, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa satu buah tampah sederhana yang selama ini menjadi barang tak terlalu bernilai dalam kehidupan sehari-hari, nyatanya dapat berubah menjadi barang bahkan komoditas yang memiliki nilai tinggi di pasar internasional, dan memberikan potensi besar bagi perekonomian Indonesia.

Hal tersebut tentu hanya contoh kecil dari salah satu kerajinan yang dihasilkan oleh tangan-tangan kreatif pekerja seni di tanah air. Nyatanya, dalam cakupan kerajinan tangan yang lebih besar, Indonesia menjadi salah satu pemain penting dalam industri karya seni murni atau terapan yang hasilnya mendapat apresiasi cukup besar di mata dunia.

Tak cukup sampai di situ, ragam kerajinan tangan yang mendapat apresiasi di mata dunia tersebut nyatanya baik secara langsung atau tidak langsung, dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia.

Sebagai contoh di tahun 2020, kerajinan tangan dalam bentuk karya seni rupa terapan berupa furnitur saja sudah menyumbang pemasukan ekspor sebesar 29,5 juta dolar AS untuk Indonesia. Karena itu, rasanya tak heran jika budaya berhasil menduduki peringkat pertama sebagai tolak ukur optimisme yang dimiliki oleh generasi muda di tanah air.

Hal tersebut nyatanya sejalan dengan ungkapan yang disampaikan oleh salah satu generasi muda di tanah air, mengenai pandangannya akan masa depan Indonesia jika melihat pada aspek budaya.

“Budaya terutama dalam hal seni di mata saya itu ibarat emas dan hasil tambang bernilai lainnya, objek berkilau yang kalau bisa dimanfaatkan dengan baik dan maksimal oleh masyarakat kita sendiri, bisa bikin nama Indonesia diperhitungkan bukan main di mata dunia.” ucap Wahyu Alikarman.

“…belum lagi, kebudayaan yang kita punya itu bisa jadi sumber kearifan lokal dari semua sektor yang bisa mendatangkan keuntungan besar buat negara. Faktanya, negara luar harus kita akui sangat menghargai seni dan budaya, dan hal itu yang sebenarnya membuat Indonesia punya kesempatan dan potensi buat menjadi bangsa yang besar dengan memanfaatkan budaya yang dimiliki…” tutupnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini