Bisnis Alas Kaki ala Anak Muda, Firman Faiki: Tidak Masalah Produk Kami Ditiru

Bisnis Alas Kaki ala Anak Muda, Firman Faiki: Tidak Masalah Produk Kami Ditiru
info gambar utama

"Tidak masalah bisnis dan produk kami ditiru, kami tidak mau membatasi gerak orang, yang penting kami maksimal. Kalau orang jadi kompetitor, minimal kami satu sampai dua langkah di depan mereka."

---

Belakangan ini sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu yang terdampak pandemi Covid-19. Hasil survei Bank Indonesia menunjukkan, 87,5 persen UMKM terdampak dan sebanyak 93,2 persen dari jumlah tersebut terdampak dalam penjualannya.

Sementara dalam penelitian yang dilakukan oleh Sekolah Bisnis Manajemen (SBM), Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2020 (fase awal covid-19), 98 persen UMKM di bidang industri kreatif terdampak pandemi.

Dari 425 UMKM yang diteliti, mayoritas UMKM yang terdampak didominasi oleh bidang fesyen dan kuliner. Sebanyak 70 persen mengalami penundaan proyek, 67 persen penurunan penjualan dan pemasukan, 59 persen pembatalan proyek, dan 21 persen kesulitan bahan baku.

Melihat kondisi di atas, mungkin sebagaian besar orang akan berpikir ulang jika ingin membuka usaha di bidang fesyen. Namun tidak bagi seorang pemuda asal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang justru dengan berani membuka usaha fesyen di tengah pandemi.

Ia adalah Muhammad Firman Faiki, pengusaha muda yang baru menginjak umur 20 tahun tersebut mendirikan Alope, sebuah usaha alas kaki sandal dan sepatu yang berdiri pada Agustus 2020.

Sempat terdampak pandemi, Alope mampu bangkit dan kini bisa berkembang dan meraih omset yang cukup besar. Dengan berdirinya Alope, Firman mengaku dapat membantu masyarakat di desanya dalam menyediakan lapangan pekerjaan.

Lalu bagaimana cerita terbentuknya Alope yang berdiri dan berkembang di tengah pandemi. Berikut bincang bersama Firman sang Owner yang dihubungi GNFI melalui sambungan video conference, Jumat (29/10/2021).

Berikut kutipan perbincangannya.

Kiprah Maya Stolastika Menyebarkan Semangat Bertani Organik kepada Pemuda

Dari sekian pilihan produk, mengapa memilih bisnis alas kaki?

Sebenarnya tidak ada riset khusus yang membawa saya terjun ke bisnis alas kaki. Saya tidak pernah membatasi produk mana yang akan saya produksi, saya hanya melihat peluang berdasarkan apa yang saya liat dan apa yang saya kuasai.

Pertama kali saya membuat bisnis berasal dari kenalan saya yang ada di dunia alas kaki. Saya kenal mulai dari pabriknya, bos pabrik, dan karyawan-karyawannya. Jadi dari relasi itulah akhirnya saya memustuskan untuk mengambil peruntungan di bisnis alas kaki.

Boleh dijelaskan bagaimana brand Alope ini terbentuk?

Ilustrasi produk Alope | Foto: Alope/Muhammad Firman Faiki
info gambar

Jadi ceritanya seperti ini, dulu kami punya model sendiri dan sempat dijual di salah satu marketplace di Indonesia. Laris banget dan jadi top product di kategori sepatu pria.

Tapi kemudian model kami ditiiru oleh kompetitor lain. Waktu itu kami jual dengan harga Rp75.000- Rp85.000. Tapi si peniru menjualnya dengan harga yang lebih murah dengan kisaran Rp35.000- Rp45.000, dari situ pasar kami hancur, penjualan pun ikut menurun.

Efek dari penjualan yang menurun, kami pun mencoba membuat model baru dan Alhamdulillah akhirnya laris lagi. Jadi ada dua model kami yang track record-nya bagus banget. Tapi model kedua pun ditiru juga, penjualan jadi tidak menentu.

Nah, dari situ kami memikirkan bagaimana caranya untuk keluar dari perang harga yang ada di marketplace. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat brand Alope. Secara kualitas, produk dari Alope ini di atas produk yang sebelumnya kami jual. Tujuannya, untuk menjangkau segmen pasar yang berbeda dari produk sebelumnya.

Apa arti dari nama Alope?

Nama Alope diambil dari nama seorang Dewa Yunani yang digambarkan sebagai pembawa kesuburan, dengan harapan brand kami dapat terus tumbuh subur dalam kesuksesan.

Sukses Jual Roti Hingga Buka 100 Cabang, Afan Syahdana: Tuhan Bersama Anak Muda yang Nekat

Apa ciri khas dan bahan yang digunakan produk Alope?

Ilustrasi produk Alope | Foto: Alope/Muhammad Firman Faiki
info gambar

Ciri khas produk Alope terletak di kualitas dan modelnya yang simpel dan elegan. Sepatu dan sandal Alope dikenal dengan kombinasi warna yang unik, yang membuat produknya selalu diburu pelanggan.

Dari segi bahan, produk Alope menggunakan bahan dasar canvas, kulit, dan sol Thermoplastic rubber (TPR). Dari beberapa jenis sol, TPR inilah yang kualitasnya paling bagus. Jenis sol ini mampu mengatasi slip di jalanan licin, juga empuk, dan nyaman dipakai.

Berapa harga produk Alope?

Beberapa bulan lalu kami kami jual dengan harga yang relatif murah, kenapa? Karena masih brand baru. Dan rasanya belum sekuat kompetitor, jadi kami lebih ke meraba pasar dulu. Untuk sandal kami pasang harga di bawah Rp70.000, sementara untuk sepatu di bawah Rp90.000.

Baru-baru ini, kami mulai berani menaikkan harga karena produk Alope sudah masuk mal-mal dan marketplace ternama di Indonesia. Sekarang harganya berada dikisaran Rp65.000–Rp75.000 untuk sandal, Sedangkan untuk sepatu berada di kisaran harga Rp85.000–Rp100.000. Walaupun harga naik, namun kualitasnya pun tetap kami jaga.

Ada berapa jumlah karyawan Alope dan berapa banyak produk yang diproduksi dalam 1 bulan?

Para srikandi pekerja Alope | Firman Faiki
info gambar

Sejauh ini kami memiliki 15 karyawan yang diplot sebagai admin, mulai dari admin gudang, packing, dan admin marketing. Lalu untuk perajin ada sekitar 20-30 orang dengan sistem produksi yang masih skala home industri (belum mengarah ke sistem pabrik).

Kami memiliki dua kantor yang tersebar di dua kabupaten yang berbeda, kantor di Kabupaten Mojokerto (Jawa Timur) diperuntukan untuk gudang, pabrik, dan pengiriman. Sedangkan kantor di Kabupaten Pemalang (Jawa Tengah) itu dikhususkan untuk tim marketing.

Untuk produksi sendiri, biasanya kami mampu buat 10.000 pasang sendal dan 5.000 pasang sepatu per bulan. Beda lagi kalau ada campign event seperti Ramadan Sale, 11.11, dan 12.12 itu sekitar 10.000 pasang sehari, pernah juga menyentuh 30.000 pasang dalam 2 hari. Produksi kami tingkatkan lantaran permintaannya juga ikut meningkat.

Berapa omzet dan jangkauan pasar Alope?

Ada dua pembagian omzet yaitu hari normal dan event besar. Jika di rata-rata, untuk hari normal omzet berada dikisaran Rp200–Rp300 juta per bulan. Kalau lagi rame, sempat juga menyentuh angka hingga Rp500 juta.

Sedangkan untuk event besar seperti seperti Ramadan Sale, 11.11, dan 12.121, omzet kita bisa naik sekitar 3-5 kali lipat dengan nilai Rp2 miliar.

Secara keseluruhan, produk kami pasarkan di seluruh Indonesia melalui marketplace. Kalau dalam bentuk fisik, masih terbatas di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan paling baru ada di Cirebon (Jawa Barat).

Rinting Holding Company yang Digawangi Anak Muda, Isra Yusril: Harus ada Kemauan

Bagaimana Alope mampu bertahan dan berkembang di tengah pandemi?

Pada saat awal terbentuk, Alope sempat terkena dampak pandemi dengan menurunnya penjualan. Saat itu, ada pemotongan gaji karyawan meski tidak ada yang dirumahkan.

Lalu bagaimana caranya kami keluar dari situasi ini? Setelah berdiskusi dengan tim, solusi kami dapatkan yaitu membuka dropshipper dan distributor secara gencar.

Dalam praktiknya, kami memberikan modal dan menyediakan stok barang kepada distributor yang sudah paham teknik marketing yang baik, jadi pihak distributor tinggal memasarkan produknya saja. Soal pembayaran, kami bicarakan setelah usahanya berjalan.

Untuk dropshipper, kami melakukan kerja sama dengan pihak ketiga. Mereka (pihak ketiga) fokus mencari dropshipper handal. Sedangkan kami sebagai supplier fokus untuk menyediakan sistem dan stok secara maksimal. Akhirnya kami mendapat lebih dari 100 dropshipper, semuanya sudah berjalan dan meraup pendapatan.

Cara itulah yang pada akhirnya membuat kamu mampu bertahan dan berkembang di tengah situasi pandemi.

Apa manfaat dan impact Alope bagi masyarakat sekitar?

Pada awalnya ada beberapa omongan tetangga (di desa) yang kurang enak di dengar, mengaitkannya dengan hal yang tidak wajar. Hal itu lantaran Alope mampu berkembang pesat di tengah situasi pandemi.

Namun karena pertumbuhan dan prospek usahanya yang jelas. Maka warga desa pun mulai menyadari adanya peluang pendapatan di usaha ini.

Berbicara mengenai manfaat dan impact bagi masyarakat sekitar, bisnis ini pada akhirnya mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat, khususnya di desa saya. Kami mengambil tenaga kerja yang ada di desa tanpa ada syarat jurusan dan kualifikasi tertentu.

Kami juga memberdayakan ekonomi desa dengan menggaet orang-orang yang kurang dari segi ekonomi, orang-orang yang tidak bisa lanjut pendidikan, dan orang-orang yang gagal masuk seleksi perusahaan (PT). Jika biasanya mereka pergi merantau, maka setelah adanya usaha yang saya rintis jumlah perantau berkurang karena lapangan kerja di desa sudah tersedia.

Apa harapan untuk ke depannya?

Ilustrasi produk Alope | Foto: Alope/Muhammad Firman Faiki
info gambar

Harapan saya tentunya ingin mengembangkan bisnis yang bisa membantu banyak orang dengan menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya. Selain menyediakan lapangan kerja, saya juga ingin setiap pekerja mendapatkan ilmu dari usaha yang saya rintis. Ada semacam hukum alam, bantulah orang lain maka alam akan membantumu, dan saya aplikasikan pernyataan itu di kehidupan saya.

Misalnya untuk ilmu marketing, kami sangat terbuka untuk semua orang. Walaupun ada beberapa materi yang tidak saya share sepenuhnya. Harapan saya ke depan, ingin tumbuh bersama dengan kemajuan masyarakat sekitar.

Membagikan ilmu bukankah bisa ditiru?

Tidak masalah, memang itu sudah kejadian juga. Kami tidak mau membatasi gerak orang, yang penting kami maksimal. Kalau orang jadi kompetitor, minimal kami satu sampai dua langkah sudah di depan mereka. Kalau mereka butuh bimbingan, dana, konsultasi, kami tetap rangkul.

Apa pesan untuk anak muda?

Mengutip beberapa kata dari Jack Ma saya ingin menyampaikan untuk anak muda, please jangan menunda dalam mengejar mimpi, kenapa? Karena saat ini kita sudah berada di waktu terbaik di abad ini. Di mana kemajuan teknologi dan informasi terlihat nyata dan bisa kita rasakan.

Jadi segera wujudkan impian itu, mulai take action dari langkah-langkah kecil, tidak usah berharap langsung besar karena semuanya butuh proses. Itu pesan saya untuk anak muda sekarang.

Garry Yusuf, Pemuda 18 Tahun yang Raih Omzet Besar dari Bisnis Martabak

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Mereka adalah segelintir dari banyak anak muda yang mampu membangkitkan asa, mendobrak pesimistis, dan bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, serta lingkungannya, di tengah situasi pandemi Covid-19 ini.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Maju Terus Anak Muda Indonesia. Kalian adalah pemantik asa yang perkasa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Iip M. Aditiya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Iip M. Aditiya.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini