Sedang Persiapkan Interview? Ini Langkah untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri

Sedang Persiapkan Interview? Ini Langkah untuk Tingkatkan Kepercayaan Diri
info gambar utama

Penulis: Nur Annisa Kusumawardani

Sebagai seorang jobseeker, interview atau wawancara adalah makanan sehari-hari yang perlu dihadapi untuk mendapatkan karier impian. Berbagai tips dan trik menghadapi wawancara juga telah beredar di berbagai sudut internet, bahkan menjadi salah satu materi penting dalam webinar dan mentoring.

Namun, persiapan interview saja tidaklah cukup. Jika Kawan ingin meyakinkan recruiter untuk memilih Kawan sebagai kandidat terpilih, Kawan perlu memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk memaksimalkan proses interview sehingga interviewer mengetahui potensi yang Kawan miliki. Berikut langkah yang bisa Kawan ikuti agar lebih percaya diri.

Pastikan siap interview dan berlatih dengan cukup

Mempersiapkan Interview | additudemag.com
info gambar

Catchy Lovell, student services manager pada Open University menekankan pentingnya berlatih menghadapi interview dengan cara melakukan latihan tanya jawab bersama teman. Dengan berlatih dan mempersiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi akan diungkapkan oleh recruiter, tekanan yang Kawan rasakan akan jauh berkurang dan Kawan dapat merasa lebih percaya diri ketika interview.

Lovell juga menganjurkan para jobseeker untuk mencari kemampuan, pengalaman, dan kualitas personal apa saja yang dapat Kawan ceritakan selama interview. Hal ini dapat membantu Kawan untuk menjadi semakin yakin kepada diri sendiri dan menghindari perasaan gugup yang berlebihan.

Benarkah Sistem Mnemonik Bisa Tingkatkan Daya Ingat?

Berdamai dengan rasa gugup

Teknik Bernapas | shondaland.com/Kinsey Gross
info gambar

Rasa gugup maupun cemas adalah hal wajar yang dirasakan menjelang interview. Kebanyakan orang akan mengalami hal yang sama dalam situasi serupa. Sehingga, Kawan tidak perlu merasa kesal dengan diri sendiri ketika mulai merasa gugup.

Ketika kita merasa cemas, aliran darah menuju otak akan berkurang sehingga menimbulkan respon fight or flight. Selain itu, hal tersebut juga berpengaruh terhadap fungsi kognitif, menjadikan kita lebih mudah mengalami blank saat berusaha menjawab pertanyaan dari interviewer.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merasa lebih rileks sebelum wawancara dimulai adalah dengan mengaplikasikan teknik bernapas secara baik dan benar. Sembari menunggu giliran wawancara, sangat dianjurkan menggunakan waktu tersebut untuk mengatur napas. Mengapa? Karena bernapas merupakan kegiatan yang dapat Kawan kendalikan, hal ini berguna untuk mencapai kondisi pikiran yang lebih jernih dan rileks.

Caranya, Kawan dapat mengambil “napas besar” melalui hidung, lalu secara perlahan mengeluarkannya melalui mulut. Ulangi kegiatan ini beberapa kali sambil berkonsentrasi untuk menjaga pikiran agar tetap fokus dan tidak membayangkan skenario menakutkan.

Memahami dan Mendukung Lebih Jauh Istilah Neurodiversity

Jangan terburu-buru

Kadang, akan ada pertanyaan yang membuat Kawan merasa bersemangat untuk menjawab dengan panjang lebar. Namun, Kawan harus memperhatikan tempo bicara agar tidak terlalu cepat. Beri waktu interviewer untuk memahami dan mencerna jawaban Kawan.

Berusahalah berbicara secara pelan dan rileks. Hindari berbicara terlalu cepat dan panjang. Usahakan untuk menyampaikan poin-poin penting yang relevan sekaligus menjawab pertanyaan.

Kawan juga tidak harus langsung menjawab begitu interviewer selesai membacakan pertanyaan. Kawan dapat mengambil jarak waktu untuk berpikir. Bahkan, Kawan juga diperbolehkan untuk meminta izin ke recruiter untuk memikirkan jawaban selama beberapa detik, maupun menanyakan maksud pertanyaan apabila Kawan belum sepenuhnya paham.

Belajar Hal Baru Lewat 4 Penyedia Kursus Online Gratis

Kontak mata dan mempertahankan posisi tubuh

Salah satu trik agar Kawan dapat memberikan kesan percaya diri adalah dengan menjalin kontak mata dan menjaga postur tubuh agar tetap tegap namun santai. Ketika Kawan menjalin kontak mata dengan interviewer, Kawan juga dapat dengan mudah berpartisipasi dengan pembicaraan dua arah dan menjadikannya lebih interaktif sekaligus humanis.

Postur tubuh yang baik bukan hanya mengesankan interviewer. Namun, bisa juga membantu Kawan untuk merasa rileks dan mengatur pernapasan. Sehingga, Kawan dapat membawa diri secara maksimal.

Pada akhirnya, interview merupakan momen yang tetap harus dinikmati. Sehingga apapun yang Kawan rasakan, entah cemas, gugup, maupun perasaan bersemangat yang meluap-luap. Jangan sampai membuat lupa bahwa Kawan adalah seorang manusia yang wajar untuk berbuat salah. Tetap semangat dan semoga berhasil, Kawan GNFI!*

Referensi: Indeed | The Guardian | The Muse

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini