Imutnya Owa Jawa, Kera Endemik Pulau Jawa

Imutnya Owa Jawa, Kera Endemik Pulau Jawa
info gambar utama

Owa jawa atau dengan nama latin hylobates moloch merupakan kera kecil yang memiliki ciri tidak berekor dan relatif berlengan panjang. Warna tubuhnya didominasi keabu-abuan dengan sisi atas kepala lebih gelap dan wajah berwarna hitam. Makanan favoritnya buah-buahan, tapi tak dipungkiri kalau mereka juga memakan pucuk daun, bunga, maupun serangga.

Primata ini termasuk ke dalam hewan diurnal dan arboreal. Artinya, ia beraktivitas di pagi hari dan selalu menghabiskan waktunya di atas pohon yang tinggi. Makanya, lengan owa jawa sangat panjang karena membantunya berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Ia berpindah dengan cara berayun atau biasa disebut dengan brakiasi.

Kera imut ini pun umumnya hidup dalam sebuah keluarga atau kelompok kecil yang terdiri dari jantan, betina, serta satu atau dua anak yang masih kecil. Ketika owa betina memasuki masa berbiak, ia membutuhkan waktu tujuh bulan untuk mengandung.

Lalu, bayi owa akan disusui oleh induknya sampai berusia 18 bulan. Saat umur 8 tahun, ia akan memisahkan diri untuk mencari pasangan. Hal ini akan berulang setiap tiga tahun sekali.

Perjalanan Du Anyam, Hampir Tujuh Tahun jadi Wadah Kehidupan Perempuan NTT

Owa Jawa yang terancam punah

Informasi tentang owa jawa
info gambar

Kelompok owa jawa akan selalu mempertahankan daerah jelajahnya. Ia tidak akan berpindah tempat pada cakupan yang luas. Melansir indonesia.go.id, pada pagi dan siang hari, owa betina akan mengeluarkan suaranya untuk menandakan wilayah jelajahnya.

Namun pada beberapa kawasan, hal tersebut tidak berlaku. Masih perlu dikaji lebih lanjut terkait pengaruh suhu dan ketinggian terhadap suara owa jawa.

Kebiasaan primata ini pun juga cukup berbeda dengan primata lainnya, yaitu setia atau biasa disebut dengan monogami. Banyak informasi yang beredar dan dipahami oleh masyarakat umum. Bila pasangan owa mati, ia tidak akan mencari pasangan lainnya dan akan hidup menyendiri sampai akhir hayatnya. Temuan yang teramati, diketahui bahwa bisa saja owa tersebut akan kawin lagi dengan owa lainnya ketika pasangannya mati.

Selain kita mengenal rupa dan kebiasaannya, perlu diketahui juga bahwa owa jawa merupakan satwa endemik yang hanya dapat di temui di Pulau Jawa. Ia juga termasuk ke dalam jenis yang paling langka di dunia.

Populasinya saat ini hanya terdapat seribu hingga dua ribu ekor saja. Makanya, jarang yang sekali lihat langsung dapat berjumpa kera tersebut.

Hewan ini telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi sejak tahun 1931 melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266, lalu diperkuat dengan Undang-Undang No. 5 tahun 1990, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991, dan yang terbaru dari Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Status keterancamannya pun sudah endangered atau terancam punah pada IUCN (International Union for Conservation of Nature) atau lembaga internasional untuk konservasi alam, dan di-CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) atau konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam, termasuk ke dalam kategori appendiks I.

Moonrat, Spesies Tikus yang Punya Hubungan Keluarga dengan Landak Mini

Artinya, semua jenis yang terancam punah dan berdampak apabila diperdagangkan. Namun, perdagangan hewan tersebut masih marak sekali, di mana induk owa jawa dibunuh hanya untuk mengambil dan menjual bayinya.

Salah satu upaya untuk meningkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian owa di habitatnya, ditetapkanlah setiap 24 Oktober sebagai Hari Owa Internasional. Harapannya, mulai berkurangnya perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan owa bahkan sampai tidak ada lagi yang melakukan hal-hal tersebut.

Selain itu, supaya lebih mengenal lagi dengan jenis-jenis owa yang ada di dunia. Jumlah owa diseluruh dunia, setidaknya terdapat 20 jenis dan 9 jenisnya terdapat di Indonesia. Di Indonesia pun, owa tersebut tersebar ditiga pulau besar, yaitu Pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Teruntuk di Pulau Jawa sendiri, hanya terdapat satu jenis owa yang dapat dijumpai, yaitu owa jawa. Iya, owa jawa si kera imut yang telah dibahas sebelumnya. Nah, sekarang kita cari tahu, yuk, lokasi mana saja yang terdapat owa jawanya. Ternyata kita dapat berjumpa dengannya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, loh!

Mencari Owa Jawa di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Potret Owa Jawa | Foto: Viva.co.id
info gambar

Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan salah satu taman nasional di kawasan Jawa Barat yang menyimpan keanekaragaman hayati yang berlimpah. Kawasan tersebut memiliki beberapa destinasi yang dapat dikunjungi, yaitu Curug Nangka, Sukamantri, Loji, Kawah Ratu, dan Cikaniki. Kalian dapat ke sana menggunakan kendaraan pribadi, sewa angkutan, maupun transportasi umum.

Jika menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa, Kawan bisa langsung menuju titik lokasi berdasarkan google maps dan perlu dibantu dengan bertanya pada warga sekitar. Sebab pernah kejadian, bila terus mengikuti arahan google maps, Kawan akan ke jalan yang memutar atau terlampau kecil. Maka dari itu, sangat perlu bertanya pada warga sekitar.

Kemudian, bila menggunakan transportasi umum, kalian bisa menggunakan kereta jarak jauh maupun angkutan umum yang tersedia. Namun, perlu berkali-kali berganti transportasi umum dan agak sulit untuk mencapai titik lokasi, jika baru pertama kali mau berkunjung.

Cikaniki merupakan salah satu wisata Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang sering dijadikan sebagai lokasi penelitian. Biaya untuk memasuki kawasan tersebut ± sebesar Rp15.000 saja. Fasilitas yang ditawarkan berupa kamar tidur, aula, gazebo, dapur, dan kamar kecil.

Jumpai Kerben, Berry Asli Indonesia yang Tumbuh di Alam Liar

Bila Kawan ingin menginap di Desa Citalahabnya juga bisa, di sana tersedia camping ground maupun homestay. Pastinya, Kawan bisa melakukan pengamatan satwa liar, seperti elang, macan tutul, musang, babi hutan, maupun owa jawa.

Berdasarkan pengalaman penulis, satwa liar yang ditemui, yaitu burung, seperti elang ular bido, layang-layang loreng, kadalan, cucak kutilang, bondol peking, walet linchi, dan wiwik kelabu. Selain itu, kalian juga dapat bertemu dengan tupai, ular, capung, kupu-kupu, maupun lutung jawa. Sayang sekali penulis belum dapat bertemu dengan owa jawa si kera imut yang menggemaskan.

Tidak perlu berkecil hati ketika tidak dapat bertemu dengan kera imut tersebut, karena Kawan tetap dapat melihat berbagai macam tanaman yang menjadi pakannya, loh! Pohon pakannya pun sangat beragam, mulai dari ficus, bambu, sampai liana.

Eits, tanaman yang ada di Kawasan Cikanini bukan hanya sekedar untuk pakan saja, ya, tapi bisa juga dijadikan tempat istirahat mereka. Standar pohon tidurnya pun harus memiliki dahan yang kuat, agar dapat menjaga mereka tetap di atas pohon dan bila hujan lebat, mereka pun tetap aman.

Selamat hari owa internasional. Mari, kita rawat habitat owa jawa untuk menjaga kelestariannya. Gaungkan nyanyian owa kepada dunia!*

Referensi:IUCN | Indonesia.go.id | Halimunsalak | Pristiani Nurantika Notosoediro, Adi Winarto, Ligaya Innocentia Theresia Antoinetta Tumbelaka. 2019. Perkembangan Histologis Ovarium Bayi dan Anak Owa Jawa (Hylobates moloch). Vol. 20 No. 4 : 452-459

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini