Mengenal Cara Kerja Beton dan Paving Block Berpori yang Diklaim Dapat Mencegah Banjir

Mengenal Cara Kerja Beton dan Paving Block Berpori yang Diklaim Dapat Mencegah Banjir
info gambar utama

Bicara mengenai upaya dalam melakukan pemeliharaan lingkungan, sebenarnya selama ini sudah banyak berbagai pihak yang melakukan sejumlah inovasi sebagai aksi yang memberikan dampak nyata.

Tidak hanya dari segi pelestarian atau perbaikan dari kerusakan lingkungan yang terjadi, inovasi tak kalah hebat juga datang dalam bentuk solusi alternatif sebagai bentuk pencegahan kerusakan lingkungan yang menuntun kepada berbagai bencana alam.

Salah satu inovasi yang dimaksud yaitu berupa pembuatan alternatif atau bentuk lain dari paving block, yang selama ini diketahui menjadi penghalang untuk resapan air ke dalam tanah saat terjadi hujan sehingga menimbulkan genangan atau banjir, yaitu pore block.

Jika biasanya upaya penjaga keseimbangan alam hadir dengan kehadiran paving block yang dibuat dari material plastik bekas sehingga mengurangi keberadaan sampah plastik, tujuan berbeda dalam bentuk pencegahan bencana ditawarkan oleh inovasi satu ini.

Dibuat sedemikian rupa, bahan yang biasanya banyak digunakan untuk melengkapi kontruksi pada bagian jalan, trotoar, halaman bangunan, dan berbagai kebutuhan kontruksi lainnya ini terbukti dapat menyerap air jauh lebih cepat ketimbang paving block biasa.

Bagaimana cara kerja pore block sebenarnya?

SD di Lombok Barat Jadi Sekolah Pertama yang Dibangun dari Bata Sampah Plastik

Inovasi sekelompok anak muda asal Bandung

Dihadapi dengan permasalahan banjir yang kerap terjadi di Indonesia dan pada dasarnya disebabkan oleh berkurangnya resapan air hujan, salah satu bencana alam tersebut juga didasari karena semakin banyak penggunaan material kontruksi yang hadir dengan klaim water resistant atau tahan air, sehingga menghalangi penyerapan air ke dalam tanah.

Berangkat dari hal tersebut, sekelompok pemuda asal Bandung yang tergabung dalam perusahaan rintisan di bidang inovasi teknologi guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan bernama Tech Prom Lab, akhirnya menciptakan pore block.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya dan sama seperti tampilan gambar di atas, pore block yang merupakan bentuk inovasi alternatif dari paving block memang terlihat sangat berbeda karena memiliki pori yang sangat kasat mata.

Dalam sebuah uji coba yang dilakukan, pore block bahkan terbukti mampu melakukan penyerapan air hanya dalam waktu singkat dan jauh lebih cepat sampai 100 kali lipat dibanding paving block biasa.

Mengutip Galeri Sipil, pore block diklaim mampu menyerap air hingga 1.000 milimeter kubik per hari, angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding beton atau paving block normal yang hanya memiliki kemampuan menyerap air dengan laju kurang dari 240 milimeter kubik per hari.

Melihat kemampuan dan bentuknya yang berpori, pertanyaan yang akan muncul adalah mengenai keraguan akan daya tahannya. Namun, pore block disebut memiliki kekuatan 225-350 kilogram per sentimeter persegi, dan diklaim mampu menahan beban hingga 8 ton.

Lain itu mengenai pembuatan, material satu ini dibuat dengan campuran kerikil, semen, air, dan bahan kimia. Di waktu yang akan datang, pihak pengembang pore block disebutkan sedang mengembangkan penggantian semen dengan memanfaatkan limbah batu bara.

Sementara itu minilik publikasi di laman resminya, pore block sudah banyak digunakan di berbagai daerah untuk wilayah pemukiman, fasilitas umum seperti beberapa rumah sakit, sekolah, kantor pemerintahan, dan masih banyak lagi.

Pemuda Mataram Selamatkan Lingkungan dengan Menyulap Limbah Tahu Tempe Menjadi Batako dan Paving

Beton Porous yang bisa diterapkan secara horizontal dan vertical

Beton berpori
info gambar

Sebelum pore block, inovasi serupa juga sudah dihadirkan dalam bentuk beton pori atau kerap dikenal juga sebagai beton porous yang memang diperuntukkan untuk daerah resapan. Lebih istimewa, karena tidak hanya dapat diterapkan pada konstruksi secara horizontal untuk kontruksi jalan dan sebagainya, beton porous juga dapat digunakan secara vertikal.

Bicara lebih detail mengenai ketahanan, melansir laman resmi pembuat material satu ini, beton porous memiliki celah mencapai 15-25 persen, kemampuan resapan air hingga 31-52 meter per jam, serta kemampuan menahan beban hingga 10 ton.

Meski belum terlalu umum dan belum banyak dikenal penggunaannya di Indonesia, di berbagai negara tetangga beton porous sudah banyak digunakan sebagai salah satu langkah untuk mengembangkan proses daur ulang air curah hujan ke dalam tanah.

Artinya, air curah hujan yang masuk ke dalam tanah bukan hanya semata-mata dialirkan kembali ke sungai atau laut, melainkan untuk mendukung proses drainase vertikal yang sudah banyak dikembangkan di berbagai negara.

Bukan berarti belum digunakan sama sekali di tanah air, pada beberapa wilayah penggunaan beton berpori ini banyak diaplikasikan pada area lapangan parkir, trotoar, taman, stabilisasi lereng, area kebun binatang, wilayah drainase, dan jalan dengan volume lalu lintas rendah.

Inovasi Paving dari Sampah Plastik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini