Riwayat Radio Pemberontakan, Media Bung Tomo Gelorakan Semangat Arek Suroboyo

Riwayat Radio Pemberontakan, Media Bung Tomo Gelorakan Semangat Arek Suroboyo
info gambar utama

Melalui pekik "Merdeka atau Mati!", Suara Sutomo atau kerap disapa Bung Tomo menggelegar melalui radio. Melalui radio inilah, pria kelahiran Surabaya ini memompa semangat para laskar untuk melawan Sekutu pada 10 November 1945.

Surabaya, memang sedang diliputi suasana revolusi pasca kemerdekaan 17 Agustus 1945. Salah satunya peristiwa penyobekan warna biru pada bendera Belanda hingga menyisakan warna merah putih di Hotel Oranje, 19 September 1945.

Ditulis oleh jurnalis Martinus Danang, pada awal Oktober 1945, Bung Tomo kemudian datang ke Jakarta untuk menemui Presiden Soekarno. Di Jakarta, Bung Tomo juga meminta izin untuk membuat radio yang akan disiarkan ke seluruh Indonesia.

Namun, Menteri Penerangan, Amir Syarifuddin menolaknya dan menyuruhnya mendirikan stasiun radio Voice of the Indonesia Revolt yang akan menyiarkan kemerdekaan Indonesia ke luar negeri. Begitu kecewanya Bung Tomo atas keputusan pemerintah pusat tersebut.

Di perjalanan, kekecewaan Arek Suroboyo ini tambah memuncak setelah melihat jejeran bendera Belanda masih bebas berkibar di Jakarta. Dirinya pun memutuskan kembali ke Surabaya.

Makna Dibalik Gagahnya Surabaya Membara dan Mengenal Sosok Cak Roes

Bung Tomo lalu membentuk Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Barisan ini terkenal dengan sikapnya yang memberontak dan tidak mau mengikuti instruksi pemerintah pusat.

Pada 16 Oktober 1945, Bung Tomo kemudian mendirikan Radio Pemberontakan, sebagai corong membakar semangat melawan penjajah. Di Radio Pemberontakan ini dirinya bertindak menjadi penyiar.

Suaranya yang lantang dan tegas seperti halnya Bung Karno menjadikannya ditunggu-tunggu oleh Arek Surabaya. Dari sinilah nama, Bung Tomo kemudian muncul sebagai julukanya.

"Terbukti lewat suaranya di Radio Pemberontakan mampu membawa pengaruh besar dalam menggerakan pertempuran 10 November 1945," tulisnya dalam artikel berjudul Radio Pemberontakan: Suara Propaganda Pertempuran Surabaya yang dikabarkan Kompas, Selasa (9/11/2021).

Jejak awal Radio Pemberontakan

Historia mengabarkan, lokasi Radio Pemberontakan bertempat di rumah sederhana yang berada di Jalan Mawar Surabaya. Pilar-pilar dari Bambu menjadi penyangga atapnya.

Sebelum jadi markas Bung Tomo dan kawan-kawan, rumah ini menjadi asrama dari Nederland Indische Landbouws Maaschapij (NILM), sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan.

Modal pertama Bung Tomo untuk membuat radio berasal dari pemancar radio kecil milik Hasan Basri. Dia merupakan teman kecil Bung Tomo yang memiliki bakat teknik, sehingga radio ini mampu mengudara di wilayah Surabaya.

Ada Radio di Antara Pahlawan Kemerdekaan. Siapa Saja?

Pada waktu selanjutnya Menteri Pertahanan drg. Moestopo juga memberikan bantuan pesawat pemancar bergelombang pendek bekas Jepang yang pernah dimiliki Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Oleh para anggota BPRI dan teknisi radio, pesawat pemancar ini lalu dikembangkan.

Siaran pidato Bung Tomo dari Radio Pemberontakan kemudian tidak hanya menyebar di sekitar wilayah Surabaya. Tetapi juga menyebar ke berbagai daerah seperti, Malang, Solo, Yogyakarta, dan beragam daerah lain.

Peran Radio Pemberontakan dalam 10 November

Bung Tomo (Wikipedia)

Setiap hari Rabu dan Minggu Malam, Radio Pemberontakan mengudara. Siarannya tidak hanya dengan bahasa Indonesia tetapi juga dengan bahasa daerah, bahkan bahasa Inggris.

Saat itu memang Radio Pemberontakan meminta kepada orang-orang asing di Surabaya yang memiliki jiwa revolusi Indonesia agar mau membantu penyiaran dalam bahasa Inggris.

“Target utama dari siaran berbahasa Inggris adalah pendengar di luar negeri untuk mengumpulkan dukungan luar negeri terhadap kasus yang menimpa Indonesia,” tulis Timothy Lindsey dalam The Romance of K’Tut Tantri and Indonesia.

Gayung bersambut setelah munculnya K'tut Tantri, seorang perempuan Amerika Skotlandia yang secara sukarela menjadi penyiar.

Melalui radio ini pula, K'tut Tantri turut memperkenalkan dan mencari dukungan dari dunia international untuk perjuangan rakyat Indonesia. Tidak lupa kecaman yang dirinya keluarkan atas aksi pasukan Sekutu.

Pada 10 November, Radio Pemberontakan juga memainkan peranan penting. Misalnya Bung Tomo menganjurkan semua pemuda, di mana pun mereka berada untuk kembali ke Surabaya.

Dari sini pula Resolusi Jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Ashari di Kampung Paneleh, Surabaya diadaptasi oleh Bung Tomo dalam pidato-pidatonya di Radio Pemberontakan. Bung Tomo juga mengajak para santri untuk jihad turun ke medan perang.

Dari Surabaya Kita Belajar, Bangsa ini Adalah Bangsa Para Pemberani

Muhammad Jasin yang saat itu berada di markas BPRI pun menyaksikan salah satu pidato Bung Tomo, saat menggelorakan semangat untuk warga Bandung.

"Hai pemuda-pemuda Sunda, Jawa Barat, jangan engkau bersemangat peuyeum (tape asal Jawa Barat), tapi mari bersama arek-arek Suroboyo berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan tekad merdeka atau mati.”

Dampaknya sangat luar biasa ungkap Jasin. Sebagai ajakan itu, terjadilah peristiwa Bandung Lautan Api yang ditulisnya dalam Memoar Jasin Seorang Jenderal Polisi.

Tidak heran Radio Pemberontakan kemudian menjadi sasaran amukan pasukan Sekutu melalui serangan dari udara. Hal ini membuat Bung Tomo harus memindahkan siaran radionya ke Bangil, lalu berakhir di Kedung Kandang, di Malang.

Ketika proses perjanjian Linggarjati, pemerintah melarang Bung Tomo menyiarkan pidato di Radio Pemberontakan. Hal ini karena radio ini dianggap bisa membahayakan proses perjanjian.

Sejak 17 Desember 1947, Radio Pemberontakan berhenti mengudara. Aturan ini kemudian dicabut pada 27 Januari 1948 dan akhirnya pemancar itu digunakan sebagai pemancar perhubungan oleh Pusat Kepolisian Republik Indonesia.

Jejak Radio Pemberontakan yang hilang

Selamat dari bombardir pasukan Sekutu, nasib Radio Pemberontak malah luluh lantah oleh bangsanya sendiri. Pada 2016 bangunan bersejarah itu digusur menjadi lahan parkir sebuah plaza.

Padahal, bangunan ini telah diterapkan sebagai cagar budaya bedasarkan Surat Keputusan Walikota Surabaya pada 1998. Saksi bisu peristiwa heroik kini telah hilang, Surabaya kehilangan salah satu jejak sejarah Arek-Areknya.

Ditulis Kompas, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya saat itu mengabulkan permohonan PT Jayanata yang merupakan pemilik lahan dan bangunan rumah, pasca pencabutan status sebagai cagar budaya.

Ketua PTUN Surabaya, Liliek Eko Poerwanto menyatakan ada tiga alasan pengadilan mengabulkan permintaan ini. Pertama, adanya keterangan saksi dari dinas yang menangani cagar budaya menyebutkan bangunan itu telah hancur tanpa bekas.

Kedua, adanya syarat yang menyebut status cagar budaya akan terhapus bila bangunan dimaksud sudah hancur. Ketiga, Jayanata telah mengajukan permohonan ke Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tetapi tidak ada respons selama 10 hari kerja.

"Permohonan pencabutan SK tidak direspons selama 10 hari kerja sehingga permohonan dianggap dikabulkan," ujarnya.

Dikutip dari JPNN, pada 7 Mei 2016, masyarakat Surabaya menggelar tabur bunga di puing reruntuhan bangunan itu. Sebuah bangunan yang berkaitan dengan perjuangan leluhur mereka namun kini telah rata dengan tanah.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini