Cerita Mulia Dokter Basri, Penjinak 'Raja Singa' di Lokalisasi Planet Senen

Cerita Mulia Dokter Basri, Penjinak 'Raja Singa' di Lokalisasi Planet Senen
info gambar utama

Hari Kesehatan Nasional (HKN), 12 November diperingati sebagai momen bangsa Indonesia menyadari pentingnya kesehatan untuk diri. Pada sejarahnya, peringatan HKN juga diperingati atas keberhasilan mengatasi malaria pada tahun 1960 an.

Sejak awal abad 20, peran para dokter Jawa memang sangat membantu mengatasi beberapa penyakit, seperti cacar, malaria dan kolera di Hindia Belanda.

Memang, sejak awal pemerintah kolonial memiliki keterbatasan dalam jumlah tenaga kesehatan. Hal inilah yang membuat pemerintah memutuskan untuk melatih dan memotivasi sejumlah orang pribumi yang terpandang dalam suatu daerah.

Pelatihan inilah yang kemudian menghasilkan apa yang dikenal dengan mantri cacar atau juru cacar (vaccinateur). Bahkan, para dokter Jawa lulusan Dokter Djawa School (Sekolah Dokter Djawa) di Weltevreden pada mulanya difungsikan sebagai dokter pembantu (hulp genesheer) dan bertugas sebagai mantri cacar.

Di Jawa, sampai tahun 1910 terdapat 166 mantri cacar dan 37 calon mantri cacar. Sejak tahun 1912, Dinas Kesehatan Sipil mengadakan pelatihan khusus mengenai vaksinasi yang bertujuan untuk melatih calon mantri cacar bertempat di Parc Vaccinogene. Pelatihan ini dilakukan selama 4 sampai 6 bulan.

Ternyata Obat Virus Corona Terinspirasi dari Indonesia

Kedekatan kultural juga membuat dokter Jawa akhirnya diberikan peran sebagai dokter pembantu. Hal ini juga menjadi transfer pengetahuan mengenai kesehatan kepada masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah pedesaan.

Metode inilah yang kemudian dipakai untuk menangani penyakit lain pada masa depan. Kebijakan dari pemerintah kolonial ini berdampak terhadap pelayanan kesehatan masyarakat Jawa.

Ketika terjadi epidemi penyakit kolera, pes, dan malaria, pemerintah kolonial kemudian merekrut orang pribumi untuk dilatih sebagai mantri yang namanya disesuaikan dengan jenis penyakit yang ditanganinya. Misalnya mantri malaria, mantri kolera, dsb.

Model penanganan ini sangat efektif dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat pribumi yang umumnya memiliki sistem pengobatan tradisional sendiri, sehingga setelah masa kemerdekaan pun banyak dokter yang berperan bahkan turun langsung mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat.

Becermin dari sosok dokter eksentrik di Jakarta

Airport Kemayoran (Wikimedia)

Pada tahun 1950, di Jakarta pernah ada seorang dokter yang begitu merakyat dan mengesankan warga Jakarta, namanya dr. Basri. Dikisahkan dokter ini memiliki pelanggan yang banyak, tetapi para pasien ini terdapat di daerah-daerah kumuh dan kaki lima.

Tetapi jangan dituduh dr Basri ini merupakan dokter gadungan, dirinya merupakan lulusan sekolah tinggi kedokteran atau Geneeskundige Hoge School (GHS) di Salemba yang kini menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Firman Lubis dalam bukunya Jakarta 1950-an, Kenangan Semasa Remaja menyebut dr Basri sebagai sosok yang eksentrik. Praktik kedokterannya sangat berbeda dengan dokter lain dan termasuk unik.

Misalnya saja dr Basri selalu berkeliling menggunakan mobil tuanya bermerek Austin. Dirinya berpindah-pindah mendatangi tempat keramaian, seperti Pasar Senen, Jatinegara, Gambir, Lapangan Banteng, dan Pasar Baru.

"Mobilnya mudah dikenali, karena di atasnya ada kincir kecil dengan badan mobil bergambar kotak-kotak," tulis Firman, mengutip Netralnews, Jumat (12/11/2021).

Ternyata mobil itu digunakannya sebagai klinik. Dirinya akan duduk di samping mobil menggunakan pakaian dokter dan pengukur tensi (stetoskop) di lehernya, lalu memeriksa pasien-pasiennya yang nongkrong di kaki lima.

Benedictus Andries, Dokter Muda yang Ingin Tuntaskan Malaria di Timika

Karena membuka praktik di kaki lima, pastilah membuat masyarakat kelas bawah berbondong-bondong datang menemui dr Basri. Banyak di antara mereka datang dari daerah seputar Senen, seperti Kwitang, Pal Putih, Tanah Tinggi, dan Galur.

"Tidak kurang banyaknya para ibu yang membawa anak-anak, termasuk bayi. Juga tukang becak masyarakat kecil lainnya. Untung ketika itu belum terjadi penggusuran, sehingga dr Basri dapat dengan leluasa berpraktek di kaki lima," catat Firman.

Banyak yang menyebut alasan dr Basri melakukan praktik mulia ini karena merasa bersalah pernah gagal menolong putranya. Sebagai bentuk penyesalan dan menebus kesalahan, dr Basri kemudian membuka praktik yang merakyat.

Tidak sedikit yang menyindir dr Basri telah merendahkan profesi kedokteran. Walau memang pada masa itu, belum ada peraturan mengenai bagaimana seorang dokter harus menjalankan tugasnya.

Tetapi para pasien yang termasuk masyarakat kecil sangat berterima kasih kepada dr. Basri. Apalagi seringkali dr Basri tidak meminta imbalan atas jasa kesehatannya, walau juga tetap menerima bila ada yang mau membayar.

Dirinya juga memberikan obat kepada pasiennya yang ditaruh di dalam mobilnya. Di antaranya penisilin, yang kala itu sangat manjur untuk penyakit kelamin, seperti sifilis, raja singa, atau pehyong--kata orang China.

Menjinakkan sifilis di Planet Senen

Planet Senen (Wikipedia)

Masih dari catatan Firman, dr Basri juga melalukan praktiknya hingga ke Planet Senen. Tempat itu sejak dahulu memang telah terkenal sebagai daerah Pekerja Seks Komersial (PSK), melalui dr Basri para PSK dan pria hidung belang mendapat obat anti-sifilis atau Raja Singa.

Sementara itu, Planet Senen merupakan kawasan hitam yang sangat terkenal sejak 1950-an sampai 1960-an. Saat itu orang banyak datang ke Planet Senen untuk mencari hiburan, sebab ini menjadi tempat pelacuran terbesar di Jakarta.

“Dan daerah paling hitam adalah daerah Senen yang dinamakan “planet”, yaitu daerah sarang pelacur dan tempat pelacuran. Penghuninya beribu-ribu orang. Di daerah ini bersarang juga segala macam bandit dan penjahat," tulis S. Puteradjaja dalam novelnya, yang dikutip dari Mpokiyah.

Sejarawan dan wartawan senior, Alwi Shahab, juga menceritakan pengalamannya tentang dunia remang-remang Jakarta. Dirinya juga pernah menjadi saksi saat dr Basri membuka praktik di Planet Senen.

Dalam tulisan Alwi berjudul dr Basri dan Bang Pi’ie, sepanjang jalan Kramat Raya--Bioskop Rivoli hingga Bioskop Grand di segitiga Senen (kini seberang Atrium)--berderet tukang becak yang mangkal, namun bila diperhatikan secara saksama terdapat perempuan di dalamnya.

Ternyata perempuan itu adalah PSK yang sedang menanti para pria hidung belang. Bila terjadi kecocokan harga, kupu-kupu malam dan pelanggannya itu akan diantar oleh tukang becak ke lokasi 'indehoi'.

Mahasiswa PhD Asal Indonesia, Temukan "Alat Baru" Diagnostik Malaria

"..Tempat pelacuran di Planet Senen terdiri dari rumah-rumah kardus yang dikenal dengan istilah ‘rumah liliput’. Ada juga yang ‘ngamar’ di gerbong-gerbong barang di Stasiun Senen," kenang Alwi.

Dalam catatan Alwi yang lainnya, di sinilah dr Basri dengan setia membuka jasa kesehatan bagi para PSK. Mereka biasa datang untuk mendapatkan penisilin yang dipercaya menjadi obat penakluk sifilis.

Ternyata para lelaki hidung belang juga sering mendatangi tempat praktik dr Basri. Memang hampir semua baik PSK maupun pria hidung belang saat itu takut terkena penyakit sifilis.

Saat itu sejatinya dr Basri telah memperkenalkan jenis kondom yang biasa disebut kapoces. Tetapi kesadaran akan kesehatan seksual tetap masih rendah. Sehingga, meningkatkan jumlah pengidap penyakit seksual.

Akhirnya lokalisasi Planet Senen sejak masa Gubernur Ali Sadikin di relokasi ke Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Namun Planet Senen sebagai tempat mesum masih tersemat dalam memori kolektif masyarakat Jakarta.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini