Kisah Teladan Bung Hatta sebagai Ayah dalam Kenangan Anak-anaknya

Kisah Teladan Bung Hatta sebagai Ayah dalam Kenangan Anak-anaknya
info gambar utama

Sosok Mohammad Hatta tidak hanya bisa diteladani saat melihat jejak perjuangannya. Banyak sisi Bung Hatta yang merupakan contoh panutan untuk generasi penerus bangsa.

Salah satu kisah menarik dari pria kelahiran Bukittinggi ini adalah sosoknya sebagai ayah. Bagi ketiga anaknya, Meutia, Gemala, dan Halida Hatta sosok ayahnya merupakan teladan terbaik.

Bedasarkan paparan dari Seri Buku TEMPO: Bapak Bangsa Hatta, sosok teladan ayahanda masih teringat dengan jelas bagi ketiga perempuan ini. Ketiganya mengingat Hatta sebagai seorang ayah yang memberikan alam pikiran modern dan menyerahkan pilihan hidup kepada mereka.

Memang selalu ada satu titik persamaan saat membicarakan pria yang lahir pada 12 Agustus 1902 ini, seperti sosok yang mencintai keluarga, cita-cita yang keras akan sebuah bangsa merdeka, serta rasa hormat yang tinggi pada ilmu pengetahuan.

"Keluarga dan orang-orang disekitarnya menyaksikan dari dekat bagaimana Hatta hidup dengan sederhana dan dispilin yang mencenangkan," tulis dalam buku tersebut.

Halida, anak nomor tiga Hatta misalnya masih mengingat bagaimana ayahnya begitu menghormati waktu. Selama puluhan tahun, ayahnya selalu bangun tidur tepat waktu pada pukul 04.30 WIB, lalu bersembahyang subuh dan olahraga satu jam.

Melihat Rumah Masa Kecil Bung Hatta, Pembentuk Karakter Sederhana dan Keislaman

Lalu setelah mandi dan berpakaian, pukul 06.30 Hatta akan sarapan sembari mendengarkan radio. Lalu tepat pukul 07.30 pagi, pria berkacamata itu akan memasuki ruang kerjanya.

Setengah jam setelahnya, Wangsa Widjaja, sekretaris pribadi Hatta kemudian akan masuk ke ruang kerja itu, dan membacakan agenda dari wakil presiden (wapres) pertama Indonesia tersebut.

Pelayan Bung Hatta, Andono juga mengingat bagaimana majikannya selalu datang tepat waktu ke meja makan. Selama 20 tahun melayani Hatta, dirinya begitu hafal kebiasaan dari pria lulusan Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda ini.

"Jadi, 15 menit sebelumnya, saya sudah menyiapkan menu sarapan roti tawar, telur, teh manis, dan air jeruk," kenang Andono yang disampaikannya kepada Tempo.

Ada juga seorang kerabat dekat yang telat datang 10 menit dalam sebuah pertemuan, harus memperlambat jarum jamnya, karena takut berhadapan dengan sosok Hatta.

Dispilin Hatta kepada waktu juga ditanamkan kepada putri-putrinya. Gemala, anak kedua Hatta masih mengingat pesan ayahnya saat dirinya menimba ilmu medical records di Sydney, Australia.

"Karier Gemala harus bermula jika Gemala berusia 25 tahun. Jangan terlalu banyak membuang waktu di Sydney," tulis Bung Hatta dalam salah satu suratnya.

"Demikian nasihat dan pendapat Ayah tentang pelajaran Gemala di Sydney. Pendek kata, cukup tiga tahun sebagai dasar. Sesudah itu, bangunlah karier di Indonesia sendiri, karena ini akan lebih bermamfaat," tulis Hatta pada bagian lain suratnya.

Memberikan kemerdekaan kepada putri-putrinya

Seperti teringat oleh putrinya, Hatta merupakan sosok yang sangat menghormati pendapat, walau itu dari anaknya. Sudah terpatri dalam ingatan ketiga putrinya itu adalah pendirian ayahnya yang memberikan mereka kemerdekaan memilih jalan hidup.

"Jauh dari dugaan banyak orang, ayahku memerdekakan anak-anaknya untuk berpendapat atau menentukan arahnya, terutama yang berkaitan dengan cita-cita," kenang Halida yang disampaikan dalam buku tersebut.

Hatta bahkan sering memberikan referensi buku-buku yang diperlukan untuk studi mereka. Seperti memberikan dua jilid The History of Java karangan Thomas Stamford Raffles untuk studi antropologi putri sulungnya, Meutia.

Memang sejak kecil, Hatta telah mencintai buku, hal ini disaksikan oleh Nyonya Lembaq Tuah, adik kandungnya. Setiap lembar kertas dari buku, selalu Hatta buka dengan hati-hati dan dibacanya dengan cermat.

Melalui buku, Hatta pun memberikan dukungan kepada putri-putrinya agar bisa meraih cita-cita. Misal kisah yang diceritakan oleh Halida, yang pada tahun 1975 perlu membuat karangan ilmiah pertamanya.

Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara yang Jadi Glodok Plaza

Dirinya saat itu merupakan mahasiswa tingkat dua Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Indonesia -- sekarang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) --. Saat itu Bung Hatta merekomendasikan agar Halida membuat perbandingan pelaksanaan trias politica di Amerika Serikat, Belanda, Indonesia.

Halida kemudian pulang ke rumah, ketika sampai dirinya melihat ayahnya sudah siap dengan tiga kertas berisi kerangka pemikiran trias politica.

"Halida, mulailah menulis bedasarkan kerangka ini dan baca juga buku-buku ini," ujar Hatta kepada putrinya.

Halida mengaku sering mendapatkan tambahan ekstra kuliah dari ayahnya setiap rabu petang, mulai pukul 16.30 WIB sampai 17.30 WIB tentang sejarah dan ilmu politik. Tentunya diakui Halida beberapa yang diajarkan oleh ayahnya belum sama sekali dirinya pelajari.

Sosok ayah pendiam tetapi perhatian

Hatta dengan istri (Commons Wikimedia)

Sosok Bung Hatta terkenal sebagai seorang yang pendiam, dalam beberapa hal bahkan terlihat kikuk. Tetapi diingat oleh putrinya, perlakuan ayahnya kepada ibunya, Rahmi Hatta sangatlah perhatian.

"Tetapi setiap kali mereka berpergian bersama dengan mobil, ayahnya akan memperhatikan arah matahari, lalu berkata: 'Yuke (nama kecil Rahmi) duduk di sebelah sini saja," tutur Meutia yang disampaikan dalam buku tersebut.

Perbedaan usia hampir 24 tahun tidak membuat Rahmi canggung dengan Hatta. Bahkan, bisa jadi Rahmi adalah sosok yang sangat pas menemani pria yang terkenal di Jepang sebagai Gandhi dari Jawa ini.

Bagaimana tidak, selama menjalani hidup, keluarga kecil ini jauh dari kata kemewahan. Padahal Hatta saat itu merupakan tokoh nasional, mantan perdana menteri, bahkan wapres, tetapi tetap saja mereka hidup sederhana.

3 Tokoh Bangsa, Lulus di Luar Negeri Pulang Demi Kemerdekaan

Kisah kesederhanaan Hatta terlukis dari cerita Gemala yang menyebut ayahnya adalah seorang penabung ulung. Tetapi tetap saja, dengan uang pensiunan wapres, keluarga ini nyaris tidak punya uang.

Gemala pernah dilanda kesedihan ketika harus meminta uang untuk belajar di Australia, saat mendapat beasiswa Colombo Plan. Saat itu ayahnya dengan begitu sangat perhatian, menenangkan hati putrinya.

"Bilamana Gemala perlu tambahan biaya, kabarilah Ayah, nanti Ayah akan mengusahakan kekurangannya," tulis Gemala dalam catatan kenangan untuk ayahandanya, Dispilin yang Ditanamkan dalam Rumah Tangga.

Wajar memang Gemala kalut, dirinya paham betul bagaimana ekonomi keluarganya tidaklah berkecukupan. Ayahnya juga perlu memikirkan bayaran listrik untuk rumah mereka di Jalan Diponegoro 57, yang terletak di Jalan Menteng, Jakarta Pusat.

Ayah sederhana itu telah pergi

Halida saat itu sudah berusia 24 tahun, ketika mengantar ayahnya ke peristirahatan terakhirnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Walau terbentang usia yang cukup jauh, hubungan Halida dengan Hatta begitu dekat.

Dirinya mengisahkan ayahnya bisa menjadi seorang sahabat hingga menjadi kawan diskusi. Ayahnya, kenang Halida bisa mengajarkan banyak hal: seperti memotong daging dengan posisi siku yang benar di atas meja makan, memadu-padankan warna dasi dan kemeja, sampai memahami pemikir besar.

Karena itulah, ketika Hatta menghembuskan napas terakhir, pada 14 Maret 1980. Halida menangis, bukan hanya karena kehilangan sosok ayah tetapi manusia yang telah meletakkan dasar kokoh mengenai makna kehidupan.

Obsesi Bung Hatta: Perekonomian Indonesia Harus Dikelola dengan Jiwa Tolong Menolong

"...Seakan diatur oleh tangan yang lebih kuasa, masa hidupnya bagaikan satu kali putaran matahari, ayah dilahirkan menjelang fajar menyingsing di kala panggilan sembahyang subuh sedang berkumandang di surau-surau Bukittinggi, dan wafat setelah tenggelamnya matahari, menjelang waktu magrib," tulis Halida yang dalam sebuah buku Bung Hatta, Pribadinya dalam Kenangan.

Memang Hatta, hingga akhir usianya (78 tahun) sempat menyaksikan putri-putrinya menjalani hidup dengan cara yang dia ajarkan. Sebuah hidup yang akan penuh arti bila menghormati manusia, buku, dan ilmu pengetahuan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini