Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara yang Jadi Glodok Plaza

Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara yang Jadi Glodok Plaza
info gambar utama

Oktober 1740, boeh jadi tahun yang buram penuh darah bagi masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda. Serdadu-serdadu Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) membunuhi orang-orang Tionghoa dan kemudian terjadi pemberontakan di utara Jawa.

Pada peristiwa yang dikenal dengan nama 'Geger pecinan' ini diperkirakan lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. Peristiwa ini tidak hanya terjadi di Batavia, tapi juga meluas ke Semarang, Demak, Jepara, Rembang, dan Surabaya.

Tidak ingin terulang kejadian yang sama, Belanda mengumpulkan orang-orang Tionghoa di satu tempat. Tempat yang dipilih adalah Glodok, di Jakarta Barat. Sejak itu, kawasan Glodok dan sekitar akhirnya menjadi daerah Pecinan (Chinatown) di Batavia dan menjadi sentra perdagangan selama lebih dari dua ratus tahun.

Alasan etnis Tionghoa dikumpulkan di sana agar tidak memberontak dan mudah diawasi. Mereka yang sebelumnya tinggal di dalam benteng kota Batavia disingkirkan ke Glodok. Di Glodok itulah lalu dibangun penjara, tempat untuk menahan orang-orang Tionghoa.

5 Kawasan Chinatown Populer dan Bersejarah di Indonesia

Penjara kolonial ini bernama Strafinrichting Glodok, yang dibangun pada 1743. Penjara itu sempat digunakan untuk menahan orang-orang Tionghoa saja. Maklum, pada eranya etnis Tionghoa adalah bagian dari warga Batavia yang ditakuti Belanda, bukan hanya karena pengaruh dan kekuatan ekonomi mereka, melainkan juga keberanian mereka memberontak melakukan kerusuhan.

Penjara Glodok juga dipakai untuk memenjarakan mereka yang dijatuhi hukuman mati dan tempat penitipan narapidana yang akan dipindah ke penjara lain di Jawa dan luar Jawa. Belakangan, beberapa tokoh pergerakan komunis juga mendekam di penjara ini karena pemberontakan PKI pada 1926.

Pada 12 November 1926, penjara Glodok diserbu pemberontak yang jumlahnya sekitar 200 orang. Mereka bergerak dari daerah Karet (Tanah Abang). Sementara itu, rombongan lainnya dari Mangga Dua, Jakarta Kota.

"Organisasi tersebut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan melakukan aksi-aksi pemogokan di berbagai tempat. Para pemuda Sarekat Islam (SI) terutama dari kelompok kiri membentuk sebuah Komite Aksi Pemberontakan," Jelas sejarawan Betawi, Alwi Shahab, menukil Republika.

Dalam penyerbuan ke penjara Glodok, mereka bersenjatakan golok, pisau, belati, dan sebagainya. Bahkan, ada yang membawa pistol. Mereka menyerang di malam hari waktu Bioskop Orion--letaknya berdampingan penjara--bubar. Mereka berusaha merusak dan membuka pintu penjara untuk membebaskan para narapidana.

Pertempuran kemudian meluas dan terjadi di Meester Cornelis (Jatinegara). Berdasarkan catatan 4 November 1926, pemberontak yang ditawan pasukan Belanda berjumlah 300 orang. Banyak di antara mereka yang di-'Digul'-kan.

Kejadian yang mewarnai sejarah kepenjaraan di tanah air ini mendorong didirikannya menara penjagaan untuk mengantisipasi terjadinya penyerangan. Inilah sejarah didirikannya menara penjagaan.

Tempat menakutkan penyekapan Hatta dan Koes Plus

Sepanjang berdiri, akhirnya banyak tokoh bersejarah pernah ditahan dalam penjara Glodok ini. Mulai dari masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, sampai abad kemerdekaan Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno.

"Di masa itu, penjara Glodok merupakan tempat menakutkan. Menurut keterangan, Bung Hatta pernah ditahan di sana. Ia dituduh menghasut rakyat untuk melawan Belanda pada 1930-an saat berpidato di Hotel Des Indes (kini pertokoan)," cerita Alwi.

Memang, pada Februari sampai Desember 1934, Mohammad Hatta pernah dipenjarakan di kawasan tersebut oleh pemerintah kolonial Belanda. Inilah yang menjadi awal kehidupan Hatta di penjara. Sesudah penjara Glodok, Hatta diasingkan di Boven Digul, dan sesudah itu, dia dipindahkan ke Pulau Banda Neira.

Penggambaran menyeramkannya Penjara Glodok bisa dilihat dari tulisan pejuang Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Urip Santoso. Urip saat itu dijebloskan ke penjara setelah diciduk dari kereta api khusus pada Juli 1947.

Di penjara Glodok ini, Urip dicampur dengan berbagai macam tahanan, baik maling hingga pejuang kemerdekaan. Tapi yang dirinya tahu, semua pakaian para tahanan sudah kumal.

"Kondisi sel itu juga seram. Kakusnya ada di dalam. Namun, sumur untuk mandi berada di luar. Di belakang dekat sel itu, tempat menembak (mengeksekusi) orang. Kalau ada orang dihukum mati, dari sel itu kedengeran rentetan letusan senjatanya, mengerikan. Pokoknya amat menyeramkan," tutur Urip.

Menengok Tempat Pengasingan Tersuram di Surabaya, Penjara Kalisosok

Nutrisi penjara yang buruk menyebabkan angka kematian tinggi, terutama karena kebersihan yang buruk dan perawatan medis yang tidak memadai. Tahanan pribumi banyak menderita kelaparan, disentri, dan lain-lain. Dokter penjara yang mengirim pasien ke rumah sakit Cipinang bahkan sering terlambat. Sekitar lima orang meninggal di penjara, dan 70 tahanan lainnya dirawat di rumah sakit.

Dalam pendudukan Jepang, banyak orang Belanda dipenjarakan dan penjara Glodok. Salah satu orang yang pernah dipenjarakan di sini adalah Hermance van den Wall Bake, kakek mantan Wakil Perdana Menteri negara Inggris, Nick Clegg.

Setelah kemerdekaan, penjara Glodok juga menjadi terkenal karena grup musik Koes Bersaudara. Grup Koes Bersaudara dipenjarakan oleh pemerintah Soekarno karena memainkan lagu-lagu rock-n-roll yang disebutnya musik 'ngak-ngik-ngok'.

Tapi saat itu, Penjara Glodok sudah difungsikan sebagai lembaga pemasyarakatan biasa. Hingga di awal dekade 1970-an, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjual lahan Lembaga Pemasyarakatan Khusus (LPK) Glodok ke Multi Plaza Properties, pengembang Glodok Plaza.

Hal ini diambil karena Pemprov memutuskan ingin membangun penjara baru di pinggiran kota. LPK Glodok pun digusur pada bulan Oktober 1972.

Penjara Glodok yang kini menjadi kompleks pertokoan

Rumah tahanan yang menyeramkan itu saat ini sudah berubah rupa menjadi kompleks pertokoan elektronik terbesar di Jakarta, Glodok Plaza. Tidak ada sepotong pun bangunan penjara itu yang tersisa.

"Sampai 1960-an, tepat di sebelah penjara Glodok, terdapat Markas Polisi Seksi II, yang kini juga bagian dari pusat perdagangan Harco. Di pelataran Harco, terdapat para pedagang VCD dan DVD," ucap Alwi.

Memang ketika perkembangan kota kian ramai, pemerintah merasa penjara Glodok tak layak lagi dipakai sebagai lembaga pemasyarakatan (LP). Tanah penjara seluas 4 hektare itu dijual kepada swasta seharga Rp560 juta.

Penghuninya yang sekitar 500 orang dipindah ke LP Cipinang. Sebagai pengganti Penjara Glodok, pemerintah membangun LP di Tangerang, dengan areal sedikit lebih luas, yakni 5 hektare.

Glodok Plaza, seperti diketahui identik dengan pusat perdagangan elektronik dan tekstil yang berlokasi di dalam kawasan Pecinan terbesar di Indonesia. Gedung tersebut memiliki 8 lantai dengan 1 basement, yang dikembangkan oleh PT Multi Plaza Properties sejak 1977.

Mengenal Uniknya Nama-Nama Daerah di Indonesia pada Zaman Belanda

Pada era 1980 hingga 1990-an, Glodok Plaza berjaya. Setiap hari masyarakat dari Jakarta atau kota-kota lain datang untuk berbelanja kebutuhan elektronik dan mekanik, karena dari segi harga terbilang lebih murah ketimbang tempat lain.

Glodok sekarang bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik, bahkan lebih dari apa yang masyarakat opinikan tentang keberadaan kawasan ini. Wilayah ekonomi ini tak henti memompa denyut Ibu Kota, mulai dari pertokoan makanan, elektronik, hingga obat-obatan.

Beberapa bangunan masih terlihat ciri khasnya masing-masing seperti ada pagar besi setiap tokonya. Juga masih Kita dapati para sinshe dan importir obat-obat China, wihara, atau klenteng, yang selama ratusan tahun masih berdiri dengan megah

Namun, sekarang pertokoan itu tidak semua dimanfaatkan sebagai rumah melainkan hanya pertokoan biasa. "Warga Tionghoa yang sukses dalam bidang perdagangan, kecuali berdagang di sini, telah menjauhi Glodok sebagai tempat tinggal. Mereka memilih tinggal di kawasan elite, seperti Pluit, Ancol, Sunter, dan Pondok Indah," pungkas Alwi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini