Sulit Berkata Tidak? Ikuti 7 Langkah Efektif Berhenti jadi 'Yes Man'

Sulit Berkata Tidak? Ikuti 7 Langkah Efektif Berhenti jadi 'Yes Man'
info gambar utama

Penulis: Faqihah Muharroroh Itsnaini

Apakah Kawan merupakan tipe orang yang selalu mengiyakan perkataan orang lain? Atau terlalu sering menyanggupi permintaan orang lain sampai membebani diri sendiri? Jika iya, mungkin tandanya Kawan termasuk sebagai yes man.

Secara sederhana, yes man disebut juga sebagai people pleaser.Yes man merupakan suatu istilah bagi seseorang yang sulit menolak segala hal sampai ia merasa kesulitan sendiri.

Mungkin bagi sebagian orang, menjadi yes man tidak masalah. Namun, sebenarnya hal ini sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi mental, fisik, dan hubungan sosial. Padahal, sebagai seorang manusia yang merdeka, kita semua berhak mengatakan 'tidak' saat orang lain meminta sesuatu yang kurang pas atau tidak dapat dipenuhi.

Melansir dari Psychologytoday, seseorang yang selalu mengatakan 'iya' biasanya selalu berusaha memenuhi keinginan setiap orang karena beralasan takut dihakimi, dikritik, atau tidak disukai. Selain itu, karena takut dianggap sebagai orang egois yang lebih memprioritaskan diri sendiri.

Untuk mengatasi hal ini, kita harus bisa menanamkan mindset di dalam hati. Yakinkan diri kita bahwa mengatakan 'tidak' pada orang lain bukan berarti kita adalah orang yang jahat, kasar, atau seenaknya sendiri.

Berani berkata 'tidak' saat memang memiliki prioritas yang lebih utama atau karena permintaan orang lain tidak terlalu penting untuk dipenuhi, bukan merupakan hal yang salah. Jangan sampai Kawan menyiksa diri sendiri dengan berusaha memenuhi ekspektasi semua orang, ya. Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mulai berkata 'tidak'? Simak beberapa langkah efektifnya berikut ini.

Personal Boundaries, Membangun Jarak Antara Diri Sendiri dan Orang Lain

1. Berpikir sebelum menjawab

Ilustrasi orang sedang berpikir | Foto: Unsplash/Wes Hicks
info gambar

Pertama, biasakan untuk tidak langsung mengiyakan apapun yang orang lain minta. Saat orang lain memberikan penawaran atau membutuhkan bantuan, pikirkan matang-matang. Lihat kondisi dan kemampuan Kawan saat itu, apakah benar-benar sanggup atau tidak?

Pikirkan juga, apakah Kawan memiliki cukup waktu untuk mengerjakannya? Atau apakah hal itu tidak mengganggu jadwal yang sudah ada?

2. Pahami perasaan sendiri

Lalu, cobalah berusaha untuk lebih memahami diri sendiri. Saat mendengar orang lain meminta bantuan atau menawarkan sesuatu, bagaimana reaksi Kawan ketika mendengarnya? Apakah merasa senang hati atau malah langsung berpikiran negatif?

Apakah langsung ingin membantu atau masih ragu-ragu dan tidak sanggup? Jika memang jawabannya mengarah kepada 'tidak', berusaha untuk terima perasaan itu.

Hakikat Seni Mendengarkan dengan Teknik Compassionate Listening

3. Kenali lawan bicara

Sebelum melihat tawaran orang lain, kenali pasti siapa orangnya, dan ketahui dampak yang akan muncul bila Kawan menolak atau menerimanya. Pahami dengan baik bagaimana hubungan di antara kalian.

Misalnya, dengan kenalan yang tidak terlalu dekat, sudah terlalu sering meminta bantuan padahal sebenarnya bisa diselesaikan sendiri. Mungkin Kawan harus membuat batasan tertentu. Ketahui juga motivasi saat orang lain meminta bantuan dan bagaimana reaksi Kawan akan berpengaruh dalam hubungan kalian.

4. Cek jadwal kegiatan

Sebelum langsung mengiyakan atau menolak permintaan orang lain, coba cek lagi jadwal kegiatan yang Kawan miliki. Jika sudah memiliki janji atau catatan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih urgent, ikhlaskan diri Kawan untuk membuat penolakan.

Cobalah untuk lebih fokus dan disiplin pada sesuatu yang Kawan inginkan atau kewajiban yang harus dipenuhi. Jangan sampai meninggalkan kewajiban yang seharusnya Kawan dahulukan demi menyenangkan orang lain.

5. Sampaikan dengan jujur

Ilustrasi | Foto: Unsplash/Mark Duffel
info gambar

Jika Kawan sudah memastikan bahwa benar-benar tidak sanggup menerima tawaran orang lain, cobalah untuk berani berkata 'tidak'. Ucapkan dengan tegas dan tidak perlu bertele-tele. Sampaikan alasan kenapa Kawan tidak bisa menerima permintaan orang lain dengan jujur, tanpa dibuat-buat atau berlebih-lebihan. Dengan menyampaikan alasan yang jujur dan meyakinkan, orang lain tentu akan lebih menghargai.

6. Tolak dengan sopan

Tak hanya jujur, Kawan juga harus memastikan bahwa penolakan disampaikan dengan gaya bahasa dan tutur kata yang sopan. Tentu saja, hal ini harus Kawan lakukan untuk menjaga perasaan orang lain dan membuat diri sendiri lebih nyaman. Contohnya, Kawan bisa mengatakan,

“Maaf, saat ini aku belum bisa bantu. Terima kasih untuk tawarannya, mungkin lain kali.”

Ya, sebaiknya Kawan juga menunjukkan apresiasi dengan berkata “Terima kasih” pada orang yang menawarkan sesuatu atau meminta bantuan. Sebisa mungkin, Kawan harus tetap menjaga citra baik agar tetap dipercaya orang lain.

Waspad Diabetes jadi Penyakit Mematikan Nomor 3 di Indonesia

7. Tetap tegas dan tidak plin-plan

Terakhir, tidak kalah penting. Jika setelah menolak permintaan orang lain, Kawan merasakan perasaan bersalah, cobalah untuk tetap teguh pendirian. Kuatkan hati dan pikiran untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.

Selain itu, bila orang ini terus mengejar-ngejar atau memaksa, Kawan bisa tetap berkata 'tidak' dengan tegas. Bila benar-benar tidak bisa, sampaikan dengan jujur dan jangan plin-plan. Orang lain pasti mengerti bila Kawan tetap teguh pendirian.

Ingat, kita tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain. Jika mereka merasa kecewa atau kesal, itu adalah hal yang wajar. Namun, jangan lupa bahwa menolak harus dilakukan dengan sikap yang baik dan sopan.

Ingat perkataan dari Paulo Coelho, “Saying ‘No’ does not always show a lack of generosity and that saying ‘yes’ is not always a virtue”.*

Referensi:addicted2success | psychologytoday | puckermob

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini