Telaah Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Cara Raden Saleh Membalas dengan Karya

Telaah Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Cara Raden Saleh Membalas dengan Karya
info gambar utama

Perang Diponegoro berlangsung selama lima tahun, yakni 1825 hingga 1830. Perang Jawa ini melibatkan semua unsur baik kalangan priyayi hingga masyarakat kelas bawah.

Setelah perang yang begitu berdarah tercatat dalam buku M.C. Ricklefs dalam A History of Modern Indonesia Since 1300 menimbulkan korban 8.000 jiwa dari pihak Hindia Belanda, 7.000 orang pribumi, dan 200.000 warga sipil.

Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap oleh Jenderal De Kock saat ingin melakukan perundingan, lalu dibuang ke Manado kemudian dipindahkan ke Makassar. Masyarakat Jawa mengenang peristiwa ini sebagai siasat licik dan tidak bermoral dari pemerintah Belanda.

Sementara Belanda memaknai akhir perang ini dengan dua cara, kemenangan besar yang kelak berpengaruh terhadap daerah lain, tetapi di sisi lain mengakibatkan kebangkrutan dalam kas pemerintah kolonial.

Makna Dari Lukisan Raden Saleh 'Mail Station at the Bottom of Mount Megamendung'

Pemerintah Belanda kemudian mendokumentasikan peristiwa sejarah itu dalam sebuah karya seni, lukisan. Ditunjuk seorang seniman, Nicolaas Pieneman sebagai narasi bahwa Belanda berhasil menumpas perang rakyat Jawa.

Lukisan dengan judul De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal baron De Kock atau Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock, digambar oleh Pieneman antara tahun 1830 hingga 1835 Masehi.

Lukisan Pieneman menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro yang terlihat lesu dan pasrah saat peristiwa penangkapannya pada 1830. Digambar dengan cat minyak, sosok De Kock berdiri gagah sementara Diponegoro bersimpuh di hadapannya.

Tidak hanya itu, Pieneman memperlihatkan keangkuhan seorang De Kock yang bertolak pinggang, sembari menunjuk kereta yang akan membawa Pangeran Diponegoro ke penjara.

Benang merah Raden Saleh dengan Diponegoro

Raden Saleh (Dok: Wikipedia)
info gambar

Raden Saleh Sjarif Boestaman (1811-1880) merupakan pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang menjadi pionir seni modern Indonesia. Dirinya cukup lama tinggal di Eropa, bahkan sempat menjadi pelukis resmi Istana Kerajaan Belanda.

Lama tinggal di Eropa, Saleh ternyata masih mengikuti perkembangan yang terjadi di Hindia Belanda. Salah satunya penangkapan Pangeran Diponegoro oleh tentara kolonial.

Bedasarkan paparan Werner Kraus dalam buku Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya, Saleh mengetahui wafatnya Pangeran Diponegoro melalui sebuah artikel di harian Javasche Courant tanggal 3 Februari 1855.

Sesaat setelah itu, dia memutuskan untuk menulis penangkapan pejuang kemerdekaan Jawa itu. Dirinya lalu meminta pemerintah Belanda agar mengizinkannya melakukan perjalanan seni ke Jawa Tengah (Jateng).

Jawaban pemerintah Belanda sudah jelas, menolak, karena dikhawatirkan akan membangkitkan ingatan kembali tentang pemberontakan masyarakat Jawa. Walau sebenarnya pria kelahiran Semarang ini pernah mengunjungi Magelang pada 1852 sampai 1853 dan mengetahui gedung tempat penangkapan Diponegoro.

Kisah dan Makna di Balik 5 Lukisan Raden Saleh yang Mendunia

Kraus menulis bahwa Saleh memiliki keterikatan emosional dengan Diponegoro. Keluarga pelukis ini--Bustaman--merupakan bagian dari pasukan Diponegoro yang melawan pasukan Belanda selama 5 tahun.

Misalnya saja saudara sepupu Saleh, Raden Mas Sukur. Ada juga ayah Raden Mas Sukur sekaligus paman Saleh, Suroadimenggolo, dan putranya kedua, Raden Mas Saleh yang semuanya ditangkap tentara Belanda.

Peristiwa ini tidak hanya menghancurkan keluarga Bustaman. Tetapi telah menghilangkan jabatan bupati dan juga sebagian harta mereka.

"Jika diperhatikan, orang dapat mengerti betapa Raden Saleh merasakan hubungan yang begitu erat antara nasibnya sendiri dan nasib Diponegoro," ucap Kraus.

Raden Saleh membalas dengan karya

Lukisan Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock (Dok Wikipedia)
info gambar

Ketika Saleh tinggal di Belanda, Pieneman telah menyelesaikan lukisan Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock.

Pada lukisan tersebut Pieneman melukis Diponegoro dengan ekspresi telah menerima penaklukannya. Bahwa kebijakan De Kock baik untuk semua, masyarakat Belanda dan Jawa, karena tidak ada pilihan lain.

"Seperti seorang ayah yang baik (red: De Kock), dia harus memberikan pelajaran kepada seorang putranya yang salah asuh. Di sana tidak ada bantahan, tidak ada kehebohan, dan melalui sandiwara yang dangkal dan mengejek, berkibar bendera tiga warna Belanda," tutur Kraus.

Kraus menyebut Saleh telah melihat dan mengenal lukisan dari Pieneman, bahkan kemungkinan membawa salinannya ke Jawa. Pada 1856, dia membuat sketsa, rancangan untuk sebuah lukisan tetapi masih sama dengan gaya Pieneman.

Dia mencatat dalam sketsa itu masih terdapat dua penunggang kuda yang pada lukisan Pieneman terdapat di bagian kiri. Ada juga serdadu Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang dalam sketsa.

Tetapi pada hasil akhir, lukisan yang diberi judul Gevangenname van Prins Diponegoro atau Penangkapan Pangeran Diponegoro ini tampil dengan gaya yang berbeda. Tidak ada lagi nuansa pesta kemenangan pemerintah kolonial, namun ada pesan visual yang sama sekali lain tampil di hadapan kita.

Misalnya saja saat kita melihat gambar Pieneman yang memperlihatkan Diponegoro dengan raut muka tanpa emosi dan terpukul. Tetapi Saleh memperlihatkan Diponegoro dengan raut muka penuh amarah dan sikap menghina.

Lukisan Raden Saleh Akan Dilelang di Lelang Musim Gugur Hong Kong 2018

Lalu Diponegoro memandangnya dengan sikap menantang, sementara De Kock membalasnya dengan tatapan dingin dan hampa. Saleh juga menampilkan Diponegoro dan De Kock pada posisi setara, berbeda dengan lukisan Pieneman.

Hal yang menarik dari analisis Kraus adalah Saleh menempatkan Diponegoro dan De Kock dalam posisi yang berpasangan. Diponegoro berada pada posisi kanan sedangkan De Kock ada di sisi kiri yang dalam konteks Jawa digolongkan sebagai perempuan.

Menurutnya Saleh telah membuat sebuah hierarki yang jelas bagi pengamat lukisan, seorang Diponegoro adalah seorang aktif dan dinamis. Sedangkan De Kock adalah orang yang pasif, canggung, tak bertenaga, acuh tak acuh dan tidak punya visi.

Selain itu, puncak sarkastik dari lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro ialah gambar perwira Belanda yang memiliki kepala besar, seperti kepala para hantu-hantu jahat di Jawa. Kraus menyebut ini merupakan lukisan ejekan, sebuah kritikan atas kekuasaan pemerintah Belanda, salah satunya soal pengkhianatan.

Kraus mencatat Saleh, sangat terinspirasi dengan lukisan Pengunduran Diri Kaisar Charles V karya pelukis asal Belgia Louis Gallait. Lukisan ini dianggap sebagai inspirasi dari komposisi lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.

"Sebagaimana semangat kebangkitan nasional Belgia, Raden Saleh juga menggambarkan kemarahan terhadap pengkhianatan Belanda," sebut penulis kelahiran Jerman ini.

Pria bergelar dokter ini juga menyebut keberanian Saleh memberikan lukisan ini kepada pihak Belanda sebagai upaya pengungkapan sejarah. Lukisan ini merupakan kecaman sangat keras kepada pihak Belanda dan upaya mengangkat kembali martabat orang Jawa.

"Untuk itu, Raden Saleh melukis dirinya sendiri dalam lukisan: sebagai seorang saksi dalam sebuah perbuatan yang memalukan," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini