Misteri Istana Emas Tambora, Kenangan Kisah Kejayaan yang Terkubur Letusan Gunung

Misteri Istana Emas Tambora, Kenangan Kisah Kejayaan yang Terkubur Letusan Gunung
info gambar utama

Pada 10 April 1815, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) meletus dengan dahsyat. Letusannya bahkan jauh lebih dahsyat dibandingkan letusan Gunung Krakatau tahun 1883.

Efek Tambora juga memengaruhi pertanian di seluruh dunia. Setahun pasca letusan, negara-negara di belahan utara mengalami anomali cuaca hebat, yakni sebuah tahun tanpa musim panas.

Dikutip dari Kompas, Selasa (30/11/2021) saat itu Tambora memang memuntahkan abu sebesar 150 km kubik dan aerosol yang dikeluarkan pun mencapai 60 megaton.

Setelah 2 Abad Meletus, Seperti Apa Tambora Sekarang?

Letusan ini menimbulkan kaldera terdalam di seluruh dunia dengan diameter 7 km dan sedalam 1,1 km. Bahkan akibat dari letusan ini, diperkirakan ada lebih dari 92.000 nyawa melayang, selain itu menimbulkan kemelaratan, kelaparan, dan penyakit tak bisa tertolong.

Tidak heran letusan Tambora masuk dalam letusan terdahsyat yang terekam di zaman modern pasalnya mencapai skala 7 berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI).

Akibat dari letusan ini juga menghancurkan peradaban yang ada di sekitar Tambora. Tiga kerajaan, yang berada di wilayah gunung berapi tersebut, yaitu Tambora, Pekat, dan Sanggar, habis tertutup dengan awan panas dari letusan.

Legenda Istana Emas Tambora

Pada tahun 1980, salah satu perusahaan perhutanan tidak sengaja menemukan sisa-sisa Kerajaan Tambora yang hilang di lereng barat gunung itu. Terdapat di dalam lapisan humus dari hutan yang baru tumbuh yang diendapkan oleh erupsi 1815.

Para penebang pohon ketika menggali secara tidak sengaja menemukan simpanan keping-keping gerabah bercorak China dan serpih-serpih tulang manusia yang gosong.

Tidak lama, para penduduk lokal berdatangan membawa mangkuk-mangkuk kuningan, perhiasan dan koin Belanda abad 18 yang menurut mereka berasal dari situs itu.

Ditulis Gillen D'Arcy Wood dalam buku Tambora 1815: Letusan Raksasa dari Indonesia menyebut masyarakat Tambora masih takut kepada gunung mereka, dan memberi tahu kepada pengunjung bahwa gunung itu akan segera meletus kembali.

"Karena alasan itu mereka menghuni desa-desa yang cukup jauh dari Tambora sebagai tanda hormat dan memelihara legendanya dengan cerita-cerita," tulis Gillen.

Salah satu legenda yang ditemukan oleh Gillen adalah cerita kekayaan berlimpah Pulau Sumbawa sebelum zaman hujan au (zaman hujan abu), ketika seorang raja kaya memerintah gunung itu dari sebuah istana emas.

Letusan Tambora dan Munculnya Keanekaragaman Hayati Baru nan Cantik

Dikisahkan hantu Raja Tambora masih menempati hutan-hutan gunung itu, tempat hartanya terkubur. Raja ini dikenal sebagai sosok yang cerdik, ketus, dan ketagihan mantra.

Menurut penduduk Sumbawa, bila memang harus ke Tambora harus hati-hati dengan raja ini. Tidak boleh berbicara kasar, atau mengejek orang lain. Kalau membawa kekasih ke Tambora, juga tidak boleh memadu cinta di hutan-hutannya.

Bila ketahuan melanggar, raja yang mendendam ini akan bangkit lalu memperlihatkan kerajaan yang hilang dengan istana emas kepada mata yang terkagum-kagum. Awalnya layaknya sebuah mimpi yang indah, kemudian tidak ada lagi jalan keluar.

Di luar hutan, pohon-pohon dengan serat buah yang lezat akan menampilkan warna-warni memukau, menjanjikan kenikmatan. Lalu sebagai pelengkap pohon ini, raja akan mengirimkan putrinya dari letusan 1815.

Dengan senyum dan tawanya yang merdu, terus membujuk kita untuk makin jauh masuk ke dalam hutan, sampai kita tidak bisa lagi menemukan jalan pulang.

"Banyak pemuda Sumbawa yang hilang seperti ini, kata mereka," catat ilmuwan dan budayawan Amerika Serikat ini.

Mengenang kisah kejayaan sebelum letusan Tambora

Dipaparkan oleh Historia, sebelum musnah, kerajaan-kerajaan di wilayah Semenanjung Sanggar sedang mengalami masa kejayaan.

Ini juga disampaikan oleh I Made Geria, kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) setelah penelitian arkeologi yang memunculkan dugaan kerajaan-kerajaan ini telah membangun peradaban yang tinggi.

"Peristiwa itu bisa dibayangkan sebagai sebuah peristiwa kiamat di wilayah Tambora sendiri dan penelitian juga sudah membuktikan bahwa wilayah Tambora luluh lantak," tulis Geria dalam buku Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora.

Geria menyatakan ketiga kerajaan, Tambora, Pekat, dan Sanggar memiliki wilayah geografis yang strategis karena dekat dengan Gunung Tambora yang relatif subur dan memberikan kekayaan agraria, juga tidak terlalu jauh dari wilayah laut Flores.

Posisi ini sangat menguntungkan dengan didukung sumber daya alam, baik gunung maupun lautan, karena itu ketiga kerajaan ini dikaitkan dengan istilah jaya giri dan jaya bahari.

Misalnya saja wilayah Kesultanan Tambora memiliki samudra yang dilalui lalu lintas perdagangan seperti Labuan Kenanga dan Teluk Saleh yang pada masa itu dipakai sebagai jalur lintasan ke pelabuhan-pelabuhan besar di Bima.

"Posisi strategis inilah yang membuat Kesultanan Tambora memiliki peran sentral dalam dunia perdagangan pada masa itu," sebut Geria.

3 Letusan Gunung Indonesia Yang Mengguncang Dunia

Sejak zaman Kompeni, Bima telah dianggap sebagai salah satu kota perdagangan penting di wilayah timur, sekitar abad ke 17 Masehi. Misalnya saja tercatat adanya hubungan antara Kerajaan Tambora yang berdagang langsung dengan Kerajaan Makassar.

Potensi Tambora yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) dan signifikan dalam perdagangan tidak luput dari perhatian pengusa bangsa Belanda, pada awal abad ke 17 Masehi sampai awal abad 19 Masehi.

Belanda mencoba menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil sehingga potensi alam penyangga perdagangan Bima akan lebih mudah dikuasai. Tetapi, Tambora dan kerajaan-kerajaan lain ternyata tidak mudah ditaklukan.

Digunakanlah politik adu domba dengan Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Isinya salah satunya dilarangnya Kerajaan Gowa untuk mengirim bantuan ke Bima dan menangkap raja-raja di kerajaan kecil, walau perintah itu tidak dilaksanakan.

Tetapi alam berkehendak lain, Tambora dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya mendapat pukulan dahsyat dengan letusan Gunung Tambora. Dalam catatan residen Tobias, setelah letusan dahsyat itu, 30.000 jiwa lebih penduduk tewas.

Sumbawa yang tidak sama lagi

Bila dilihat dari citra satelit, Kawah Tambora tampak seperti bekas bisul tua yang menganga di ujung semenanjung Sanggar. Lukanya begitu aktif dengan asap solfatara sebagai penanda dapur magma bekerja dan masih mungkin memberi luka baru.

Bo’ Sangaji Kai sebuah catatan Kerajaan Bima merekam jelas bagaimana Gunung Tambora meraung keras bagaikan monster tua yang mau keluar dari dasar bumi. Raungannya terus menyambung, hingga akhirnya memuntahkan amarahnya hingga enam malam kemudian.

‘’Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, kemudian berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah kerisk batu dan debu seperti dituang lamanya tiga hari tiga malam."

Letusan ini bahkan terdengar sampai ke Jawa, Thomas Stamford Raffles yang baru empat tahun menjadi Letnan Gubernur Hindia Belanda tak kurang terkejutnya. Dirinya menyangka ini adalah suara meriam musuh, walau akhirnya menyadari ini lebih menyeramkan daripada bayangannya.

Saksi Tua Kesultanan Sumbawa

Saat itu hujan menghitam dan tsunami tumpah ke daratan. Sementara di lautan sisa-sisa pohon, bangkai hewan dan manusia mengambang luas di Samudra.

Letnan Owen Phillips yang diminta Raffles untuk mengunjungi Pulau Sumbawa selepas bencana itu melihat kesengsaraan besar-besaran melanda penduduk. Desa-desa hampir sepenuhnya ditinggalkan dan rumah-rumah rubuh. Penduduk yang selamat kesulitan mencari makanan.

Derita ini belum selesai, 60 tahun pasca letusan ini kehidupan masyarakat di Semenanjung Sanggar masih tetap mengharukan. seorang ilmuan Belgia, Albert Colfs mengisahkan kondisi Kerajaan Sanggar yang sangat miskin pada periode itu.

‘’Dia (Raja Sanggar) harus mencocok ladangnya sendiri dan dia pula yang memotong dan memikul kayu bakarnya; Saya merasa kasihan sekali,’’ ujarnya dalam buku hariannya bertarikh 1888.

Dua abad setelahnya, pada Maret 2011, Gillen menapaki jalan-jalan yang nyaris tidak bisa dilewati, kota-kota kecil tanpa sanitasi dan air bersih. Dirinya melihat Sumbawa masih hidup dalam bayang-bayang Tambora.

Dalam perjalanan pulang yang panjang dan terlonjak-lonjak dari Tambora ke Bima. Pemandu lokalnya, tidak henti-henti melontarkan lelucon tentang keterbelakangan dan kemiskinan warga lokal, Pulau Sumbawa memang sudah tidak sama lagi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini