Hatta Mundur sebagai Wapres, Ketika Dwitunggal Tanggal di Awal Desember

Hatta Mundur sebagai Wapres, Ketika Dwitunggal Tanggal di Awal Desember
info gambar utama

Pada suatu hari kabar menyengat Mohammad Hatta dan membuatnya marah besar. Soekarno memutuskan untuk menikahi Hartini, Hatta tidak bisa menerima sikap dari sahabatnya itu.

Bung Hatta tidak bisa melihat posisi Fatmawati yang diduakan dalam posisi "digantung tidak bertali". Apalagi pria kelahiran Bukittinggi pada 12 Agustus 1902 ini begitu menghormati Fatmawati, bukan hanya karena istri Soekarno tetapi juga sebagai ibu negara.

Dipaparkan dalam buku Tempo, Seri Bapak Bangsa: Hatta, dua tokoh yang dikenal sebagai dwitunggal ini telah berbeda dari setiap aspek. Pada soal perempuan saja berbeda, Soekarno merupakan Cassanova sedangkan Hatta adalah seorang puritan.

Selain itu mereka juga tidak pernah sejalur dalam pandangan politik dan cara perjuangan. Bedasarkan pandangan sejarawan Ong Hok Ham, perbedaan ini terjadi karena keduanya dibentuk dan dibesarkan secara berbeda.

Soekarno tumbuh dan beraksi sendiri, tidak pernah tinggal lama di luar negeri, dan tak pernah dikelilingi orang setara. Sedangkan Hatta lama tinggal di negeri Belanda, mendalami struktur kepartaian dengan kawan seperjuangan yang sama intelektualnya.

Mavis Rose dalam bukunya Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta menyebut perbedaan itu telah tampak pada periode 1920-an. Soekarno lebih senang dengan cara-cara penggalangan massa, berbeda dengan Hatta yang lebih percaya pendidikan dan kaderisasi yang diutamakan.

Kisah Teladan Bung Hatta sebagai Ayah dalam Kenangan Anak-anaknya

Dalam memandang persatuan, Hatta juga lebih yakin partai nasionalis akan lebih kuat bila ada persaingan ide dan program. Dirinya tidak setuju dengan gagasan Soekarno yang berkeinginan menyingkirkan semua pertengkaran partai politik.

"Apa yang dikatakan persatuan sebenarnya tak lain adalah per-sate-an. Daging kerbau, daging sapi, daging kambing di sate jadi satu. Persatuan segala golongan ini sama artinya dengan mengorbankan asas masing-masing," catat Hatta dalam tulisannya berjudul Persatuan Ditjari, Per-sate-an Jang Ada yang dimuat dalam harian Daulat Ra'jat tahun 1932.

Setelah proklamasi, tonggak politik Hatta adalah perannya dalam mengubah Demokrasi Presidensial ke Demokrasi Parlementer. Melalui Maklumat X tanggal 16 Oktober 1945, Hatta menekan pergantian itu.

Pakar politik, Lambert Giebels dalam Biografi Soekarno menceritakan hanya karena secarik kertas dan goresan pena yang mengubah sistem presidensial dalam UUD 1945, membuat Soekarno harus menenangkan diri ke Pelabuhanratu.

Ketika dwitunggal menjadi dwitanggal

Patung Proklamasi (Dok: Piqsels)
info gambar

Pada tahun 1950, ketika perkelahian antar partai mulai menjengkelkan publik, dijadikan momen oleh Soekarno untuk memunculkan lagi idenya membatasi jumlah partai agar bisa dikendalikan.

Bung Karno mulai berani menyerang Bung Hatta secara terbuka. Puncaknya pada 1956, ketika Soekarno mendorong Demokrasi Terpimpin dan mengumandangkan untuk mengubur semua partai politik.

Bung Hatta yang kecewa lalu menyerang balik, pada tulisannya yang berjudul Demokrasi Kita, dia mengecam konsepsi Soekarno yang dianggap tak lain sebagai kediktatoran. Perpecahan pun tidak bisa dielakkan, dwitunggal akhirnya menjadi dwitanggal, ucap wartawan Mochtar Lubis.

Pada Pemilu 1955 yang memilih Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Konstituante menjadi momentum Hatta untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden (wapres). Pada 20 Juli 1956, Hatta melayangkan surat Pengunduran diri, tetapi tidak ditanggapi oleh DPR.

Dia pun kembali melayangkan surat kepada DPR pada 23 November 1956, bahwa dirinya akan mengundurkan diri sebagai wapres pada 1 Desember 1956.

"Setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktu saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden," tulis Hatta dalam surat pengunduran dirinya.

Melihat Rumah Masa Kecil Bung Hatta, Pembentuk Karakter Sederhana dan Keislaman

Menurut Harry Poeze, keputusan Hatta untuk mengundurkan diri sebagai wapres pada tahun 1956 karena merasa dalam UUD 1945, tugas wapres hanyalah serimonial. Hal yang mengakibatkan awal pemusatan orang Jawa di lingkar kekuasaan.

"Semua kudeta lokal Sulawesi dan Sumatra melawan pemerintah pusat itu terinspirasi dari mundurnya Hatta," tutur Poeze dalam buku Tempo.

Banyak pakar politik dan sejarah yang menyayangkan keputusan Hatta untuk mundur sebagai wapres. Pasalnya dengan mundurnya Hatta malah membuka jalan lebar bagi lahirnya Demokrasi Terpimpin.

Memang secara ide, Hatta tidak cocok dengan gaya Demokrasi Terpimpin yang dikonsepsikan oleh Soekarno. Dalam buku berjudul Free: a Political Biography of Mohammad Hatta, Mavis Rose menyatakan pemikiran Hatta tentang demokrasi adalah kekuasaan yang dibagi secara luas.

Hatta juga bermimpi untuk membentuk negara federalisme, tetapi dirinya sadar konsep ini belum begitu populer di Jawa. Karena itu dirinya tidak ngotot untuk memperjuangkanya, walau masih tetap bergelora dan disimpan diam-diam dalam diri.

Kritik kepada sahabat abadi

Tidak lagi beredar dalam pusat pemerintahan, tidak menyurutkan Hatta untuk mengkritik Soekarno. Dirinya terus menggugat sahabatnya itu karena melihat ada yang tidak beres dalam pengelolaan negara.

Bung Hatta menulis kritiknya dan dimuat dalam koran-koran, beberapa bahkan bernada begitu keras. "Dalam jangka waktu lama, Indonesia hidup dalam bayangan feodalisme. Tetapi neofeodalisme Soekarno lebih jahat dan lebih ganas," tulis Hatta.

Soekarno ternyata tidak tak tahan dikecam, dirinya begitu berang. Pada 1960, sejumlah surat kabar dibredel, Pikiran Rakyat koran yang konsisten memuat tulisan Hatta
dilarang lagi memuat.

Sementara Majalah Islam Pandji Islam, yang pertama kali mempublikasi Demokrasi Kita, dilarang lagi untuk terbit, redaksinya bahkan dibui.

Khawatir kritiknya di muka umum menyusahkan orang lain, Bung Hatta lalu mencari jalan lain yaitu menyampaikan kritik melalui surat pribadi. Dalam catatan Mochtar Lubis, dengan kata-kata yang lugas, Hatta melontarkan kritiknya dalam surat-suratnya.

Ini dilakukan pada kurun tahun 1957-1965, ketika Soekarno sedang memusatkan kekuasaan di tangannya sendiri sebagai presiden seumur hidup: Pemimpin Besar Revolusi Indonesia.

Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara yang Jadi Glodok Plaza

Misalnya terlihat dari surat yang ditulis Hatta pada 12 September 1957 dengan tegas dirinya mengingatkan Soekarno akan niatnya menggunakan tangan besi mengatasi pergolakan di daerah.

"Bung Karno...seterusnya terpikir oleh saya, apakah Saudara ingin mengadakan diktaktor militer...dan yakinkah Saudara bahwa diktaktor semacam itu dapat meliputi seluruh Indonesia yang terbagi-bagi atas sekian banyak pulau?"

"Berhubungan dengan itu saya sebagai seorang saudara memperingatkan bahwa Saudara dengan cita-cita semacam itu berada di jalan yang berbahaya yang akhirnya merugikan Saudara itu sendiri," tulis Hatta.

Soekarno tentu menyimpan segan terhadap Hatta. Setiap balasan suratnya, Bung Karno tidak pernah membantah, paling banter dirinya mengucapkan rasa terima kasih atau sesekali menanyakan kapan mereka bisa bertemu untuk membahasnya.

Hatta menilai Soekarno sebagai sosok yang berbanding terbalik dengan Mephistopheles, tokoh rekaan Goethe dalam drama Faust. Sementara Mephistopheles adalah sosok yang berkeinginan jahat tetapi menghasilkan hal yang baik.

Soekarno, tulis Hatta, merupakan pribadi yang baik tetapi langkah-langkah yang diambilnya sering membawanya menjauh dari tujuan-tujuan itu.

Walau selalu mengkritik dan berbeda pendapat, kedua orang ini selayaknya sahabat yang tidak terpisahkan. Pada 1970, Bung Karno pernah meminta Hatta untuk menjadi wali pernikahan anaknya, Guntur dan bapak koperasi ini pun menyetujuinya.

Persahabatan itu terjaga hingga akhir hayat, pada Juni 1970, Bung Karno diopname di rumah sakit tentara, Bung Hatta meminta izin untuk membesuk. Pertemuan kedua sahabat yang telah jatuh bangun memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini begitu mengharukan.

Tidak banyak yang diucapkan, Hatta hanya menggenggam tangan Soekarno yang sudah begitu lelah. Sementara Soekarno hanya meneteskan air mata, seperti mengucapkan permintaan maaf. Setelah pertemuan itu, dua hari kemudian Bung Karno meninggal.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini