Lukisan Megamendung Raden Saleh, Saksi Keindahan Alam yang Laku Rp36 Miliar

Lukisan Megamendung Raden Saleh, Saksi Keindahan Alam yang Laku Rp36 Miliar
info gambar utama

Lukisan bertajuk A View of Mount Megamendung karya pelukis legendaris Raden Saleh terjual dengan harga 2,2 juta euro atau sekitar Rp36 miliar dalam lelang yang dilakukan di Drout Paris, Prancis

Merujuk Detik, Senin (6/12/2021) pelelangan lukisan langka Saleh ini dilakukan pada 2 Desember oleh rumah lelang Daguerre bekerja sama dengan Jack-Phillipe Ruellan, serta melibatkan pakar seni lukis kuno, Cabinet Turquin.

Delphine Kahl yang menjadi perwakilan rumah lelang jack-Phillipe Ruellan menyebut harga lukisan ini menjadi yang termahal kedua untuk nama pionir seni modern Indonesia ini. Dirinya mengaku sangat senang lukisan ini terjual kepada pembeli premium.

"Spesialis karya-karya Raden Saleh (Marie-Odette Scalliet) tahu sebagian besar pada penawar juga sangat senang dengan harganya. Dia melihat itu sebagai harga terbaik yang dicapai A View of Mount Megamendung," kata Kahl.

Lukisan ini menampilkan pemandangan alam di wilayah Megamendung, Puncak, Bogor. A View of Mount Megamendung mengambarkan sebuah pemandangan yang dituangkan dalam kanvas berukuran 134 x 165,5 cm.

Lukisan ini begitu bernilai karena menjadi tonggak sejarah karya-karya seni dari pria kelahiran Semarang ini. Diketahui A View of Mount Megamendung adalah yang pertama dari seri Megamendung karya Saleh.

Khal menyatakan A View of Mount Megamendung ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki lukisan lain dengan seri sama. Hal yang menarik adalah lukisan ini tidak pernah meninggalkan keluarga Cassalette, kolektor sekaligus pemilik lukisan sebelum lelang.

Diketahui lukisan ini diboyong ke Eropa oleh Nikolaus Josef Eduard Cassalette sejak 1865. Lukisan ini juga telah dinyatakan asli karya Saleh oleh Scalliet dan rumah lelang Jack-Phillipe Ruellan.

Telaah Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, Cara Raden Saleh Membalas dengan Karya

Hal ini dibuktikan dengan adanya tanda tangan pelukis bernama asli Raden Syarif Bastaman Saleh. Juga terdapat tulisan Rade Saleh F/ Java 1861 berwarna merah di kanan bawah lukisan.

Kahl mengaku selama proses pelelangan sudah banyak penawar yang hadir. Salah satunya berasal dari Museum Pasifika Bali.

"Museum Pasifika Bali menjadi salah satu penawarnya. Untuk mengingatkan kembali, Museum Pasifika juga menjadi salah satu penawar pada lukisan Benteng Hunt di tahun 2018 dan juga penawar terakhir atau pembeli untuk lukisan potret Pushkin di 2019," katanya.

Sebelum acara ini berlangsung, Ruellan telah bertemu secara langsung dengan berbagai kolektor seni yang berasal dari Asia di Singapura. Selain itu bertemu dengan pemilik museum untuk mempresentasikan lukisan Saleh.

Sebelum lukisan ini, karya bertajuk Mail Station at the Bottom of Mount Megamendung juga laku Rp31 miliar di rumah lelang Christie, Hong Kong pada 2018.

Sedangkan Self Portrait (1835) dan Javanese Mail Station (1879) menjadi koleksi filantropi Haryanto Adikoesoemo dan berada di Museum MACAN Jakarta. Satu lukisan lagi berada di Kastil Ehrenburg, Coburg, Jerman.

Melihat pemandangan alam dari sudut mata Raden Saleh

Pemandangan yang tergambar dalam kuas-kuas Saleh merupakan hal nyata, misalnya gambar sela Pegunungan Megamendung di Jawa Barat (Jabar) menjelang puncaknya.

Megamendung merupakan puncak tertinggi di Hindia Belanda yang bisa dilalui oleh kereta kuda, sebagai bagian dari Jalan Raya Pos, tempat ini bisa menghubungkan daerah-daerah penting di Jawa sejak abad ke 19 Masehi.

Salah satu lukisan karyanya yang menggambarkan suasana Megamendung saat itu bertajuk Een Gezigt op de Megamendong in de Preanger atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan A View of Mount Megamendung.

Merujuk tulisan Warner Kraus dalam buku Raden Saleh: Kehidupan dan Karyanya, lukisan ini pernah dipamerkan di sanggar Saleh, di Batavia.

Salah satu yang mengunjunginya adalah Eduard Julius Kerkhoven muda yang datang dari Preanger (Priangan) ke Batavia. Dia mengenal keadaan daerah setempat sehingga dapat menetapkan batas geografi dari lukisan tersebut secara tepat.

Pada akhir Minggu saya melihat sebuah pameran lukisan karya Raden Saleh. Semuanya menampilkan pemandangan tentang jalan raya di Buitenzorg menuju Cianjur-yang dinamakan Puncak, titik tertinggi Megamendung-yang merupakan bagian dari Gunung Gede. Di sana juga terdapat sebuah lukisan yang menunjukkan banjir di Banyumas.

Lukisan itu menggambarkan jalan yang menanjak tajam melalui Megamendung untuk menuju tanah pegunungan di wilayah Jabar yang disebut daerah Preanger atau Priangan.

Makna Dari Lukisan Raden Saleh 'Mail Station at the Bottom of Mount Megamendung'

Kraus menjelaskan bila ingin melalui jalan itu tidak bisa menggunakan kendaraan kereta pos ringan, tetapi harus kendaraan standar milik jawatan pos Hindia Belanda.

"Kendaraan itu dapat membawa enam orang penumpang," papar Kraus.

kusir dan pendorong kereta dapat dilihat dalam lukisan Saleh. Selain itu keterkaitan dengan Megamendung bisa dilihat dari pakaian putih yang dikenakan pendorong kereta dan warna merah yang dikenakan sosok lain.

"Karena itulah warna-warna untuk pendorong kereta di jalur Preanger yang merupakan bagian Jalan Raya Pos," ucap Kraus.

Selain dilihat dari aspek teknik, pemandangan itu sendiri yang memungkinkan terciptanya susunan indah pada lukisan itu. Gunung kokoh yang ditampilkan pada lukisan diagonal menggambarkan bentuk khas Gunung Gede dan Pangrango.

"Raden Saleh yang pada 1820 an pernah hidup di dataran Tinggi Preanger, mengenal sangat baik jalan menuju wilayah perkebunan kopi dan teh yang penting itu," jelas Kraus.

Dicatat oleh Kraus, Saleh pada tahun 1850 an juga kerap melintasi jalan Megandung. Pada lukisan potret Herman Willem Daendels (1838), dia menggambarkan puncak Megamendung terlihat menjulang pada sebelah kiri latar belakang.

Pelukis aliran romantisme ini juga memuat tiga lukisan berikutnya yang menampilkan bagian bawah Megamendung, yaitu stasiun pos dengan kerbau yang diikat pada bagian depan kereta yakni tahun 1871, 1876, dan 1879.

Manusia dan alam dalam lukisan Raden Saleh

Selama hidupnya suami dari Raden Ayu Danudirja ini telah berkeliling Eropa, menjelajahi berbagai negara seperti Belanda, Jerman, Prancis, bahkan dia sempat menetap di Italia dan Inggris. Dalam perjalanan ini, dirinya kerap mengalami berbagai perubahan dalam gaya melukis.

Dipaparkan dari National Geographic, Kraus menyebut saat Saleh tinggal di Jawa, dirinya sering melukis tentang potret dan pemandangan. Sementara di Eropa, dia beralih melukis tentang perburuan binatang.

Tetapi Kraus menyebut semua lukisan Saleh mengenai harimau, singa, dan perkelahian hewan yang pernah dibuatnya, bukan karakter pria keturunan Arab-Jawa ini sesungguhnya. Lukisan ini menyesuaikan masyarakat Eropa yang menyukai aksi dan drama.

Ketika Saleh kembali ke Indonesia pada 1852, dirinya memutuskan berhenti melukis tentang perburuan. Dia kembali melukis tentang potret dan pemandangan.

Berbeda dengan lukisan pemandangan lain yang hanya menampilkan keindahan alam, Saleh juga memasukan unsur manusia dalam bagian kecil lukisannya. Misalnya lukisan Merapi Eruption by Day dan Merapi Eruption by Night yang dia buat pada tahun 1865.

Lukisan Raden Saleh Akan Dilelang di Lelang Musim Gugur Hong Kong 2018

"Tangan-tangan kecil merangkak di atas permukaan bumi selama beberapa tahun, yang kemudian semua itu akan musnah dan hanya tersisa merapi itu sendiri," tutur Kraus menggambarkan lukisan pria yang dikuburkan di Bogor ini.

Lukisan karya Saleh berjudul Mail Station at the Bottom of Mount Megamendung menurut Kraus juga menampilkan kritik halus mengenai suasana kolonial pada masa itu. Hal ini dapat dilihat dari orang-orang pribumi yang berjalan membawa barang-barang, sedangkan orang-orang Belanda mengendarai kuda ataupun duduk di gerbong.

Kraus juga menilai Saleh telah "meramalkan" datangnya kehancuran alam oleh tangan manusia dalam lukisannya. Dirinya telah mengekspresikannya melalui lukisan 150 tahun lalu, sesuatu hal yang sesuai dengan dirinya.

"Menurut hemat saya, ini adalah Raden Saleh yang sesungguhnya. Ini adalah Raden Saleh dari Jawa, yang sangat mencintai kampung halamannya, sangat mencintai alam Indonesia, dan dia menunjukkannya melalui lukisan-lukisannya." ucap Kraus mengakhiri penjelasannya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini