Jadi Pusat Belanja Sejak Ratusan Tahun Lalu, Ini Tiga Pasar Tertua di Indonesia

Jadi Pusat Belanja Sejak Ratusan Tahun Lalu, Ini Tiga Pasar Tertua di Indonesia
info gambar utama

Pasar merupakan tempat di mana para penjual menawarkan barang atau jasa kepada pembeli. Di Indonesia, pasar tempat menjual kebutuhan sehari-hari dikenal dengan dua jenis, yaitu pasar tradisional dan pasar modern.

Di pasar tradisional, pembeli bisa langsung berinteraksi dan bertransaksi dengan penjual, ada proses tawar-menawar pula. Bangunan pasar tradisional umumnya terdiri dari kios atau gerai-gerai terbuka. Adapun barang yang dijual meliputi makanan, pakaian, elektronik, dan aneka kebutuhan rumah tangga. Lokasi pasar pun biasanya berada di dekat kawasan pemukiman.

Sebenarnya apa yang dijual di pasar modern kurang lebih sama saja, tetapi di sana pembeli dan penjual tidak bertansaksi secara langsung, pun tidak bisa tawar-menawar karena harga sudah tertera di label, dan pembayaran pun lebih canggih karena bisa menggunakan non-tunai. Contoh pasar modern yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain swalayan, minimarket, dan hypermart.

Pasar memiliki peran penting bagi perekonomian negara karena berkaitan dengan penggerak roda perekonomian, penyerapan tenaga kerja, menjadi tempat menyalurkan barang yang diproduksi produsen, dan tentunya membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mudah.

Selain menjual kebutuhan harian, banyak pula pasar di Indonesia yang memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi wisatawan, misalnya memiliki bangunan unik, menjual oleh-oleh khas daerah, hingga memiliki jajanan-jajanan pasar tradisional yang tidak ditemukan di tempat lain.

Melansir Katadata.co.id, dari Laporan Direktori Pasar dan Pusat Perdagangan 2020, terdapat 16.235 pasar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari sekian banyak pasar yang tersebar di penjuru Tanah Air, ada beberapa yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan menjadi pasar-pasar tertua di Indonesia. Berikut daftarnya:

Menjelajahi Situs Danau Matano Melalui Tur Virtual Bawah Air Pertama di Indonesia

Pasar Tanah Abang

Pasar Tanah Abang | @GeorginaCaptures Shutterstock
info gambar

Pasar Tanah Abang di Jakarta Pusat merupakan salah satu pasar legendaris di Indonesia. Pasar yang juga merupakan pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara ini selalu ramai dikunjungi pembeli dari berbagai daerah, bahkan sampai ke negara tetangga seperti Malaysia.

Pasar Tanah Abang telah ada sejak 30 Agustus 1735 yang dibangun oleh Yustinus Vinck atas izin dari Gubernur Jenderal Abraham Patramini. Awalnya memiliki nama Pasar Sabtu dan memang hanya buka pada Sabtu, khusus menjual tekstil dan barang kelontong.

Zaenuddin HM, dalam bukunya “212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe” mengatakan bahwa Tanah Abang dulunya adalah tempat berjualan kambing. Kemudian dipugar total menjadi bangunan modern.

“Kawasan Tanah Abang yang dahulu memiliki terminal bus dan selalu dipadati kendaraan itu memang mempunyai sejarah yang panjang, usianya sudah ratusan tahun,” tulis Zaenuddin, seperti dikutip Merdeka.com.

Seiring berjalannya waktu, kawasan Pasar Tanah Abang tumbuh semakin pesat. Ribuan pedagang mulai memenuhi kawasan pasar dan waktu operasionalnya pun berubah dari hanya Sabtu menjadi setiap hari, mulai pagi hingga sore hari.

Bangunan pasar pun jadi lebih mewah dan bertingkat tinggi. Kini, kawasan pasar tersebut terbagi tiga gedung yang biasa disebut Tanah Abang Lama, Tanah Abang Metro, dan Tanah Abang AURI. Tanah Abang Lama memiliki beberapa blok seperti A, B, dan F, yang masing-masing terdiri dari kios-kios.

Bila ditotalkan, Pasar Tanah Abang secara keseluruhan memiliki lebih dari 10 ribu kios. Di sana, pengunjung bisa menemukan pakaian, aksesori, makanan, kebutuhan rumah, buku, kosmetik, hingga oleh-oleh khas Haji atau Umrah seperti kurma dan air zamzam.

Di pasar ini ada beberapa tempat yang menjual barang grosiran dengan harga lebih murah. Namun, ada pula yang menjual eceran. Pasar Tanah Abang merupakan salah satu pusat belanja di Jakarta yang selalu ramai pengunjung, terutama jelang lebaran.

Asinan, Kudapan Segar Hasil Akulturasi Budaya Betawi dan China

Pasar Terapung Muara Kuin

Tak hanya sebagai pusat jual-beli, Pasar Terapung Muara Kuin di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga menarik perhatian wisatawan karena keunikannya. Para penjual di pasar ini menjajakan dagangannya di atas perahu yang disebut jukung.

Pasar Terapung Muara Kuin berada di atas muara Sungai Kuin dan sudah ada sejak 400 tahun lalu serta menjadi pasar terapung tertua di Indonesia. Pasar ini menjadi saksi bisu dari sistem pembayaran barter pada zaman dahulu.

Pasar ini buka selepas subuh hingga sekitar pukul tujuh pagi. Para pedagangnya kebanyakan wanita dan barang dagangannya berupa sayur-mayur, buah-buahan, ikan, hingga kue tradisional.

Keberadaan Pasar Terapung Muara Kuin tak lepasa dari sejarah berdirinya Kerajaan Banjar. Pada pertengahan abad ke-16, Sultan Suriansyah mendirikan kerajaan di tepi Sungai Kuuin dan Barito, dan ini menjadi cikal-bakal Kota Banjarmasin. Saat itu, perdagangan di tepi sungai pun tumbuh pesat karena posisinya berada di pertemuan beberapa anak sungai.

Pasar terapung ini sempat ‘mati suri’ tetapi mulai kembali hidup pada awal tahun 2020. Mengutip laman Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemerintah Kota Banjarmasin, lokasi pasar kini pindah ke siring depan Makam Sultan Suriansyah agar lebih mudah dijangkau. Kini, namanya pun diubah menjadi Pasar Terapung Kuin Alalak karena lokasinya berada di antara daerah Kuin dan Alalak.

Pulau Bawah, Resor Mewah dengan Akses Ekslusif di Kepulauan Anambas

Pasar Beringharjo

 Pasar Beringharjo | @ Pepsco Studio Shutterstock
info gambar

Selain Kawasan Malioboro, Pasar Beringharjo juga merupakan tempat yang ikonik di Yogyakarta. Pasar Beringharjo berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani nomor 16 dan menjual beraneka jenis barang, mulai dari batik, uang kuno, makanan, oleh-oleh Yogyakarta, barang antik, jamu, pakaian, dan rempah-rempah.

Pasar Beringharjo merupakan pasar tertua yang tidak lepas kaitannya dengan Keraton Yogyakarta. Kawasan ini dulunya adalah hutan beringin dan tak lama setelah berdirinya keraton pada tahun 1758, wilayah tersebut menjadi tempat transaksi ekonomi warga Yogyakarta.

Nama Pasar Beringharjo pun baru diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada 24 Maret 1929 karena saat itu beliau meminta semua instansi di bawah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menggunakan bahasa Jawa. Dari segi arsitektur bangunan, Pasar Beringharjo memiliki perpaduan antara arsitektur kolonial dan tradisional Jawa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini