Program Plastic Exchange Membawa Made Janur Yasa Jadi Top 10 CNN Heroes 2021

Program Plastic Exchange Membawa Made Janur Yasa Jadi Top 10 CNN Heroes 2021
info gambar utama

Setiap tahunnya, CNN memberikan penghargaan pada individu yang memberikan kontribusi bagi kemanusiaan dan dianggap sebagai sosok yang mengubah dunia. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2007 dan mencetuskan lebih dari 350 pahlawan dari 50 negara bagian dan lebih dari 110 negara.

Sosok-sosok pahlawan ini memiliki misi yang beragam, tetapi punya satu tujuan yang sama yaitu membantu orang lain dan memberikan dampak nyata.

TOP 10 CNN Heroes masing-masing akan mendapatkan 10 ribu dolar AS. Sementara untuk penerima teratas yang terpilih sebagai CNN Hero of the Year akan menerima tambahan sebesar 100 ribu dolar AS.

Selama 15 tahun program ini telah memberikan dampak berupa membantu lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia, menyediakan makanan kepada mereka yang membutuhkan, membantu hewan dan pohon, menyediakan air bersih, hingga menyumbangkan lebih dari 13 juta popok.

Dari daftar TOP 10 CNN Heroes 2021 rupanya ada nama orang Indonesia yaitu Made Janur Yasa dengan program Plastic Exchange. Siapakah dia dan apa saja yang dilakukannya sampai menjadi namanya meraih penghargaan tersebut?

Lestarikan Lingkungan dan Pariwisata di Toba, Annette Horschmann: Impian Saya Jadi Nyata

Berkenalan dengan Made Janur Yasa

Made Janur Yasa adalah seorang aktivis lingkungan dan kemanusiaan asal Bali. Ialah sosok yang menginisiasi program Plastic Exchange di mana penduduk desa bisa menukar sampah plastik dengan beras.

Program tersebut ia jalankan sejak Mei 2020 di desa tempat kelahirannya, Banjar Jangkahan, Desa Batuaji, Tabahan. Konsep barter tersebut sukses dan menyebar dengan cepat ke desa-desa lain di Bali. Dalam setahun, ada 250 desa yang mengikuti program ini.

Setiap sebulan sekali, di desa-desa diadakan acara tukar sampah dengan beras. Sejauh ini, Plastic Exchange telah berhasil mengumpulkan hingga 300 ton sampah plastik untuk didaur ulang dan tentunya memberi makan ribuan keluarga.

Yasa juga merupakan seorang pemilik restoran vegan di Bali. Sebagai pengusaha dan seseorang yang tinggal di Pulau Dewata, ia tahu betul bagaimana pariwisata adalah penggerak ekonomi di sana. Lebih dari setengah pendapatan masyarakat Bali berasal dari pariwisata, baik dari sisi pelaku usaha hingga pekerja.

Namun, siapa yang sangka bila pandemi melanda dan Bali, yang selalu ramai dan penuh kegembiraan, mendadak sepi dan berbagai kegiatan perekonomian terkait pariwisata nyaris terhenti. Banyak orang kehilangan pekerjaan, mereka pun terancam kelaparan.

Selama pembatasan kegiatan masyarakat, Bali juga ditutup dari kunjungan wisatawan mancanegara. Ingar-bingar dan keriaan itu berubah menjadi kemurungan dan kesedihan mendalam. Kunjungan wisatawan berkurang drastis, toko-toko tutup, bahkan area-area yang biasanya padat tampak sepi. Dampaknya, banyak keluarga yang bahkan tidak mampu untuk membeli beras.

Dijelaskan Yasa bahwa saat pandemi melanda, ekonomi di Bali lumpuh karena banyak bisnis tutup, dari restoran, hotel, dan perusahaan perjalanan. Banyak orang tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan. Ia yakin betul bahwa hal pertama yang dibutuhkan adalah makanan.

"Saya melihat orang-orang di desa saya mulai khawatir tentang bagaimana mereka akan meletakkan makanan di atas meja," kata Yasa kepada CNN. "Ini membuatku khawatir."

Melihat hal itu, Yasa memikirkan cara untuk membantu orang-orang di lingkungannya selama pandemi, sambil juga mengatasi masalah polusi plastik yang ada di pantai-pantai Bali.

"Saya harus berpikir, di dalam tantangan ada peluang.”

Upaya Mengurangi Limbah Makanan di Indonesia, Marsel Tansil: Yumm.It Hadir Sebagai Solusi

Program Plastic Exchange, tukar plastik dengan makanan pokok

Dari situlah ia memulai program Plastic Exchange, di mana penduduk desa bisa menukar plastik dengan beras. Ia pun terus mendorong orang-orang di Bali untuk bergabung dan saling membantu memberdayakan mereka yang terkena dampak pandemi. Program ini juga menyatukan masyarakat untuk bersama-sama mengumpulkan plastik dari rumah, jalanan, sungai, dan pantai.

Untuk cara kerja program ini terbilang sederhana. Penduduk desa akan menerima beras sesuai dengan jenis plastik dan jumlah yang mereka bawa. Setiap kategori memiliki nilai yang berbeda. Untuk daur ulang plastik tersebut, ia bekerja sama dengan perusahaan yang mengumpulkan plastik kemudian mengirimkannya ke Pulau Jawa karena belum ada pabrik daur ulang di Bali.

Yasa juga menceritakan tentang kearifan tradisional yang menjadi panduan hidup masyarakat Bali, salah satunya disebut tri hita karana. Intinya adalah mengajarkan tentang keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungan yang akan menjadi sumber kebahagiaan.

Orang Bali hidup secara tradisional dan percaya bahwa alam memiliki jiwa sehingga memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Memang di sisi lain pencemaran plastik pun menjadi masalah karena kurangnya pendidikan.

Dengan program ini, Yasa mencoba mengubah perilaku melalui edukasi tentang bahaya plastik dan memberi contoh lewat tindakan.

Menghalau Rintangan Demi Menerangi Desa Indonesia, Tri Mumpuni: Saya Mendapat Kebahagiaan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini