Menghalau Rintangan Demi Menerangi Desa Indonesia, Tri Mumpuni: Saya Mendapat Kebahagiaan

Menghalau Rintangan Demi Menerangi Desa Indonesia, Tri Mumpuni: Saya Mendapat Kebahagiaan
info gambar utama

"Pesan untuk para ibu di luar sana adalah kita harus mampu untuk menyeimbangkan urusan domestik dan urusan di luar rumah. Selama itu seimbang dan semua anggota keluarga dikomunikasikan dengan baik, saya pikir sebesar apapun kesulitan itu bisa kita atasi."

---

Di Indonesia, setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Penetapan tersebut diresmikan oleh Presiden Soekarno dan bermula dari diselenggarakannya Kongres Perempuan Indonesia III pada 22-27 Juli 1938 di Bandung, Jawa Barat.

Peringatan Hari Ibu bertujuan untuk merayakan semangat para perempuan Indonesia dan perjuangannya dalam meningkatkan kualitas bangsa. Selain itu, Hari Ibu juga menjadi momen untuk merayakan peran seorang ibu dalam keluarga dan lingkungan sosialnya.

Menjadi seorang ibu bukan sesuatu yang mudah. Ia dibebankan tanggung jawab yang besar tetapi masih saja dihujani dengan berbagai komentar negatif dari sekitar terkait pola asuh, kids shaming, body shaming, ibu bekerja, ibu tidak bekerja, ibu harus bisa segalanya, perbandingan ASI dan susu formula, serta persoalan melahirkan normal atau caesar.

Meski banyak mendapat kritikan dan melewati berbagai tantangan, buktinya tetap ada banyak ibu di Indonesia yang bisa mendobrak stigma negatif dan tetap fokus dalam berkarya, tanpa meninggalkan perannya sebagai sosok ibu bagi anak-anak dan keluarganya.

Salah satu sosok ibu Indonesia yang inspiratif adalah Tri Mumpuni. Ia adalah seorang ilmuwan dengan julukan “Perempuan Listrik” karena menghadirkan listrik di puluhan daerah terpencil di Indonesia. Ia membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di desa-desa untuk mengembangkan kemandirian masyarakat di kawasan terpencil.

Atas kerja kerasnya menerangi desa dari gelap gulita, ia mendapatkan berbagai penghargaan internasional seperti Climate Hero 2005 dari World Wildlife for Nature, Ashden Awards 2012, Magsaysay Awards 2012, dan namanya juga masuk dalam daftar The World's 500 Most Influential Muslim 2021 untuk kategori Sains dan Teknologi menjadikannya sebagai salah satu ilmuwan muslim paling berpengaruh di dunia

Untuk mengetahui bagaimana perjuangan sosok ibu yang dianggap sebagai pahlawan listrik Indonesia tersebut, Dian Afrillia dari GNFI telah berbincang-bincang dengan Tri Mumpuni pada Kamis, (16/12/2021).

Tentang pembangunan mikrohidro, sang suami, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, turut memberikan keterangannya. Pria yang akrab disapa Pak Is menjelaskan bahwa mikrohidro memang hanya untuk melistriki desa dan untuk membuat pemerataan kelistrikan di desa.

Dikatakan Pak Is, bahwa hal yang perlu dipertimbangkan adalah mikrohidro adalah energi terbarukan di mana kita harus menyesuaikan dengan fluktuasi alam. Maka, saat musim kemarau tidak ada air, kita harus menerima bahwa kita tidak punya listrik karena suasana alam tidak mendukung. Jika ingin air selalu ada, manusia harus berdamai dengan alam, misalnya dengan menanam pohon yang banyak agar air tetap banyak.

“Nah, inilah yang masih banyak tidak dipahami oleh masyarakat sekarang yang maunya tetap ada listrik mau musim apapun, akhirnya menggunakan batubara, minyak bumi yang jelas merusak lingkungan, seharusnya sebagai konsumen yang sadar kita harus hidup berdampingan dengan alam,” tegasnya.

Pak Is juga menambahkan bahwa jika manusia selalu menuntut listrik selalu harus ada, artinya kita sudah berbuat dosa sosial yang harus kita pertanggungjawabkan nanti di akhirat.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pembangunan mikrohidro, pemberdayaan masyarakat desa, dan perjuangan seorang ibu dalam menerjang badai, berikut rangkuman bincang-bincang GNFI dengan Tri Mumpuni:

Birute Marija Galdikas, Sosok Kawan Sekaligus Pahlawan Bagi Orang Utan di Indonesia
Tri Mumpuni bersama Pangeran Charles © Dokumentasi pribadi Tri Mumpuni
info gambar

Apa yang menjadi ide awal dalam membangun PLTMH di desa-desa?

Kegiatan ini sebenarnya diawali dari kegiatan suami. Dulu tahun 77-78 itu ada tentara masuk kampus ITB dan dewan mahasiswa dibubarkan. Pokoknya anak-anak mahasiswa itu tidak boleh aktif karena dianggap menentang Soeharto. Karena tidak bisa berkarya di kampus dan enggak ada ruang untuk bergerak, suami dan teman-temannya di ITB saat itu memutuskan untuk berkarya di desa.

Saya sendiri baru mulai join untuk benar-benar terlibat itu tahun ‘96 manakala melihat suami saya ini dari desa ke desa. Pada saat itu saya ingat di era SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) masih menjadi Menteri Pertambangan dan Energi, ada peresmian pembangkit kecil 13 kilo watt yaitu pembangkit mikrohidro skala kecil yang kebetulan itu dulunya pernah dibangun pada awal ‘90-an.

Kemudian PLN masuk dan bersaing sehingga pembangkit itu menjadi tidak berfungsi. Nah, di situlah saya betul-betul menggunakan segala kekuatan untuk datang ke Direktur PLN dan menteri bagaimana agar pembangkit yang idle yang punya rakyat ini bisa diaktifkan kembali dan listrikya bisa di interkoneksikan ke PLN.

Sehingga kalau listrik ini dijual ke PLN atau dipararelkan dengan PLN ini rakyat bisa dapat income, dan itu kan lebih bagus, satu sisi ada energi terbarukan di daerah terpencil.

PLN itu kalau di daerah terpencil kualitas voltasenya itu biasanya broke karena jaringannya sudah tidak memenuhi standar teknis. Harusnya kan paling jauh itu 75 kilometer dari gardu terakhir, tapi karena ambisi pemerintah dan juga memang keinginan masyarakat untuk mendapatkan listrik PLN ini ditarik sampai kadang-kadang 100 kilometer.

Jadi kalau di rumah ada microwave di desa terpencil itu ya enggak akan tahan, begitu juga dengan komputer atau laptop, kinerja juga jadi kurang bagus.

Dari pengalaman itu, saya merasa mikrohidro ini akan menjadi alat yang powerful untuk dipakai di desa-desa di Indonesia. Itu contoh kasus daerah yang sudah ada jaringan PLN, tapi bagaimana di daerah yang belum dialiri listrik oleh PLN?

Nah, itu lah kita di sini sebagai manusia punya kewajiban kalau kita punya teknologi dan pengetahuan yang cukup, lalu jaringan yang membiayai ya why not? Kita berbuat sesuatu untuk memberikan listrik itu kepada masyarakat yang memerlukan di daerah-daerah terpencil di seluruh Indonesia yang belum teraliri oleh PLN.

Apakah saat itu PLTMH di Indonesia sudah banyak?

Sebenarnya sudah ada dari zaman Belanda, tetapi dengan teknologi yang sudah tua dan tidak seperti mikrohidro ini. Jadi ini sebenarnya teknologi dari abad ke-14 yang disebut dengan water wheel atau kincir air. Kalau di Indonesia itu di Sumatra Barat ada banyak kincir air untuk menumbuk padi dan akhirnya berkembang menjadi sarana untuk mengaliri listrik dengan kualitas yang sangat sederhana. Ini banyak mengalami masalah karena jumlah air yang tidak dapat diatur.

Lalu mikrohidro seperti apa yang Ibu bangun?

Sebenarnya tim kita itu hanya memperbaiki teknologi yang sangat sederhana untuk ditingkatkan menjadi teknologi yang lebih modern. Pada waktu itu di tahun ‘90-an kan Pemerintah Jerman mengundang insinyur-insinyur Indonesia untuk membuat mikrohidro dengan teknologi yang agak kekinian.

Jadi sebenarnya yang kita lakukan itu mempopulerkan kembali energi terbarukan dari pembangkit listrik skala kecil mikrohidro yang sangat banyak potensinya di Indonesia, yaitu memanfaatkan air yang banyak mengalir di sungai.

Apa saja yang dibutuhkan untuk instalasi mikrohidro?

Pertama harus ada bangunan yang punya kemampuan yang benar untuk dibangun, pengaliran air yang bagus di sungai yang nanti harus kita tampung, jadi nanti aliran sungai itu harus dialirkan, yang kita namakan open channel.

Kemudian harus ada yang namanya electrical mechanical, dimana ada generator, kontrol, dan kemudian sambungan ke rumah-rumah, seperti itu konsepnya.

Opung Putra Rusmedia, Perempuan Pelindung Hutan Adat dari Kerakusan Korporasi
Tri Mumpuni dalam acara World Economic Forum© Dokumentasi pribadi Tri Mumpuni
info gambar

Bagaimana untuk maintenance mikrohidro di desa?

Kita serahkan ke masyarakatnya, tapi sebelumnya kita bentuk organisasinya dulu. Organisasi itu nanti kita latih secara teknis dalam maintenance-nya.

Nantinya kita juga menyuruh masyarakatnya untuk rapat mandiri untuk menentukan berapa yang harus mereka bayar dan biasanya biayanya lebih mahal dari harga PLN. Karena kita ingin uang yang mereka bayarkan itu mampu untuk membuat fasilitasi ini berkelanjutan.

Selama ini sudah berapa banyak mikrohidro yang berhasil dibangun di desa-desa?

Kita sudah ada 82 desa dan harapannya kita pasti ingin ini terus bertambah selama ada diberi kesehatan dan ada yang mendukung karena ini pendanaannya tidak kecil.

Biasanya berapa banyak dana yang dibutuhkan?

Tergantung kapasitas yang dipasang. Sekarang rata-rata kita perlunya bisa Rp5-10 miliar. Jadi sebenarnya untuk 1 juta kilowatt itu kita perlu uang sekitar 100 juta dolar AS. Tapi kalau kita membangunnya kecil ya tinggal dihitung. Kalau sekitar Rp15 miliar itu ya kita bisa membangun untuk 1.000 kilowatt.

Bagaimana soal pendanaan selama ini?

Kalau untuk pendanaan itu kita selalu bersyukur bertemu dengan orang-orang baik yang memang ingin mendukung pembangunan pedesaan di Indonesia. Jadi kadang dengan donor dan support internasional dan tenaga dari masyarakat setempat.

Apa saja kesulitan yang dihadapi dalam pembangunan PLTMH di desa-desa?

Kadang keinginan kita untuk memberikan ruang atau space ke rakyat agar memiliki pembangkit sendiri ini enggak berjalan mulus, karena berlomba-lomba dengan keinginan mereka untuk membakar minyak atau membakar batubara yang akan disuplai ke PLN sehingga mereka dapat uang banyak, padahal air tidak perlu seperti itu. Jadi seperti itu lah rintangannya kira-kira.

Apakah ada kesulitan dalam proses pendekatan dengan masyarakat desa?

Kalau desa itu secara teknis memungkinkan kita untuk memanfaatkan airnya untuk dibangun pembangkit ya Insyaallah enggak ada masalah.

Tantangan berikutnya kita biasanya adalah melatih masyarakat desa agar mampu untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan dan juga pengoperasian. Tantangannya adalah bagaimana membawa teknologi itu sedekat mungkin dengan kemampuan masyarakatnya.

Kabarnya Ibu Puni pernah mengalami penculikan, bagaimana ceritanya?

Itu sebetulnya sebelum tsunami, tim kami sudah masuk ke Aceh karena kan sumber air di Aceh sangat banyak. Di sana kita sudah membangun satu pembangkit hanya dalam waktu kurang lebih tiga bulan. Kemudian kita diundang bisa tidak kalau orang-orang mantan GAM ikut berpartisipasi. Kemudian kita latih beberapa bulan sembari kita membangun lagi pembangkit di sana.

Di saat proses pelatihan tersebut dan saat pemulangan beberapa orang tersebut kita malah dianggap ancaman dan disergap di sana dengan menggunakan golok dan AK47. Di situ mata dan mulut kita ditutup, tangan dan kaki diikat, sempat juga dirantai dan hampir selama 35 jam kita disekap.

Akhirnya bagaimana Ibu bisa bebas?

Aku dibebaskan terlebih dahulu karena disuruh cari uang untuk menebus suamiku sebesar Rp2 miliar, kalau enggak nanti akan dikirim hanya kepala suamiku katanya. Akhirnya saya cari uang hanya bisa dapat Rp500 juta dan terjadilah proses tawar-tawaran yang akhirnya berujung dengan mereka mau.

Itu untung sekali, karena enggak kebayang saya kalo seandainya saat itu mereka menolak.

Setelah itu apakah ada rasa trauma?

Ya, trauma pasti ada. Saya bahkan dan suami bahkan sering ketakutan kalau ada orang yang tiba-tiba menawarkan bantuan untuk dibonceng atau ditumpangi. Karena dulu saat peristiwa itu terjadi saya dan suami berawal ditawari menaiki kendaraan yang berujung pada penyekapan itu.

Tapi itu dulu, sekarang sih sudah pasrah aja, karena kan mati dan rejeki sudah Tuhan atur dan hanya Tuhan yang tahu.

Tolak Pertambangan Bijih Besi, Maria Taramen: Selamatkan Pulau Bangka!
Tri Mumpuni © Dokumentasi pribadi Tri Mumpuni
info gambar

Sebenarnya dampak apa yang Ibu harapkan dari pembangunan mikrohidro ini? Kabarnya listrik juga bukan tujuan utama dari perjuangan ibu?

Iya betul. Jadi begini, sebetulnya listrik itu hanyalah alat untuk pembangunan di desa. Jadi yang kita harapkan itu dengan adanya listrik ada kegiatan ekonomi di desa karena kan listrik itu tulang punggung pembangunan ekonomi.

Sehingga kemakmuran itu bisa didapatkan karena kan mereka mampu memanfaatkan listrik untuk mendapatkan nilai tambah untuk kegiatan-kegiatan yang saya pikir itu ujung-ujungnya untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi di desa tersebut.

Lantas, apa yang ibu dapatkan dari menjalankan semua pembangunan ini?

Ya kebahagiaan. Karena saya bisa bermanfaat buat orang lain, itu kan sangat penting dalam kehidupan kita. Karena sebenarnya kan memang kewajiban kita untuk bisa bermanfaat untuk kehidupan orang lain.

Jadi kalo ditanya apa yang saya dapatkan, ya jawabannya saya mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa karena bermanfaat untuk orang lain, membantu kehidupan orang lain dari gelap gulita menjadi terang benderang. Kebahagiaan itu tidak bisa dirupiahkan dalam bentuk apapun.

Selain kelistrikan, ada rencana apa lagi untuk pemberdayaan desa-desa?

Untuk kelistrikan itu sudah dikerjakan oleh tim kita anak-anak muda. Aku dan suamiku sekarang sudah jarang terjun langsung. Saya dan suami sekarang lebih kepada menularkan kegiatan-kegiatan yang kita alami 30 tahun ke belakang itu kepada anak-anak muda.

Makanya sejak 2015 itu kita punya program namanya patriot energi, di mana patriot energi itu adalah melatih anak-anak muda agar nanti dikirim selama 45 hari untuk punya kompetensi keteknisan, perjuangan kerakyatan, dan keikhlasan.

Sekarang ini kita ada 98 anak sudah berangkat ke Papua, Maluku Utara, NTT, Sulawesi, Kalimantan, perbatasan Indonesia dengan Malaysia gitu ya. Tapi itu program khusus untuk pembangunan kelistrikan dari energi terbarukan.

Kita juga melatih pendidik anak-anak muda untuk menjadi patriot desa yang nanti tinggal setahun untuk kita latih. Program ini juga sudah menelurkan 440 patriot desa yang disebar di seluruh desa di Jawa Barat. Tugas mereka bukan cuma untuk listrik, tapi juga untuk membangun ekonomi desa. Kebetulan yang membiayai Pemerintah Jawa Barat, ya kita sebarkan di sekitar desa terpencil di Jawa Barat.

Apa saja kesibukan Ibu Puni saat ini?

Saya melakukan pemberdayaan ke desa-desa sehingga desa itu bisa mandiri secara ekonomi. Hidup itu kan rahmat, ya, jadi bukan dianggap sebagai beban dan kita harus berbagi rahmat yang diberikan oleh yang maha kuasa kepada sesama.

Saya juga membantu semua program tersebut dan bikin kebun mawar di daerah Subang. Ada juga aku bikin kebun anggur gitu. Saya juga sejak oktober 12 di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Komitmen Dwi Sulistia, Dedikasikan Hidup untuk Bangun Pemberdayaan Masyarakat
Tri Mumpuni © Dokumentasi pribadi Tri Mumpuni
info gambar

Boleh diceritakan tentang kegiatan IBEKA?

IBEKA itu lembaga non-profit. Kita bentuknya yayasan, isinya anak-anak muda yang ingin mengabdikan hidupnya untuk pembangunan pedesaan yang ada di Indonesia melalui teknologi, kegiatan sosial, kegiatan pertanian, pokoknya pemberdayaan masyarakat kita.

Kalau kegiatan IBEKA banyak ya, sekarang lagi survei air. IBEKA itu masih membahas infrastruktur terus ya pelatihan anak-anak muda sampai sekarang.

Apa tujuan Ibu membuat IBEKA?

Tujuannya adalah membuat masyarakat di desa itu memiliki kemandirian dan kedaulatan, seperti kedaulatan tanah, kedaulatan energi, mandiri secara finansial. Jadi kenapa kita milih desa, itu sama seperti batu bata, jadi kalo kita ingin mandiri dan berdaulat itu kan terdiri dari batu bata yang kokoh dan kuat, itulah kenapa harus desa.

Apa harapan Ibu untuk kelistrikan dan desa-desa di Indonesia?

Yang kita inginkan itu sebetulnya adalah berkontribusi secara signifikan untuk membuat Indonesia itu berdaulat energi dan berdaulat tanah itu fokusnya. Tapi ini kan nanti di breakdown jadi kegiatan-kegiatan yang kecil lagi, tapi visi kita kedepannya ingin seperti itu.

Jadi IBEKA menjadi bagian dari kebaikan-kebaikan yang akan dibuat oleh Indonesia. Indonesia ini kan akan menuju ke arah yang lebih baik. Untuk Indonesia IBEKA menawarkan solusi agar bisa jadi bagian dari kebaikan-kebaikan itu.

Dengan segala kegiatan Ibu Puni, bagaimana caranya agar tetap menjalankan peran sebagai ibu bagi anak-anak?

Kalau saya kebetulan bersyukur ya hidup itu kan harus mendapatkan pasangan dalam terminologi teknis itu ada namanya super posisi positif dengan pasangan kita. Jadi ya kita bisa mendapatkan pasangan yang setara, artinya pekerjaan domestik pun suami mau mengerjakan dan memang kita bekerja bersama seperti itu.

Jadi enggak ada kesulitan ya. Anak-anak juga bisa dibawa dan kita selalu kalau bisa dikerjakan bersama-sama ya akan kita kerjakan bersama. Intinya, anak itu harus diberikan pengertian apa yang kita kerjakan itu membawa kebermanfaatan untuk masyarakat pada umumnya. Nah, dengan keyakinan kalo kita mengurusi banyak orang ya Insyaallah, Allah juga akan mengurusi anak-anak kita.

Apa pesan-pesan Ibu Puni untuk para ibu lain di Hari Ibu?

Kalau ngomongin keluarga itu sekarang bagaimana kita bisa berdamai dengan pasangan kita dan kebetulan saya mengerjakan hal-hal itu selalu bersama dengan suami. Jadi saya katakan bahwa harus mendapatkan pasangan yang super posisi positif. Tapi yang paling penting saling mendukung dan bisa menerima posisi kita masing-masing dengan segala kesibukan yang kita punya.

Pesan untuk para ibu di luar sana adalah kita harus mampu untuk menyeimbangkan urusan domestik dan urusan di luar rumah. Selama itu seimbang dan semua anggota keluarga dikomunikasikan dengan baik, saya pikir sebesar apapun kesulitan itu bisa kita atasi.

Jadi kita harus saling jujur, dengan pasangan masing-masing, saling terbuka dan menceritakan apapun yang kita kerjakan. Itu saya pikir kunci untuk membuat kita menjadi keluarga yang rahmatan lil alamin, bermanfaat buat sekitar kita.

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2021.

Mereka adalah segelintir dari para ibu yang tak hanya sebagai pengayom rumah tangga, tapi juga menerjang badai, pembangkit asa, pendobrak pesimistis, hingga dapat bermanfaat lingkungannya.

Selamat Hari Ibu, tetaplah tegar wahai Bunda Penerjang Badai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini