Lestarikan Lingkungan dan Pariwisata di Toba, Annette Horschmann: Impian Saya Jadi Nyata

Lestarikan Lingkungan dan Pariwisata di Toba, Annette Horschmann: Impian Saya Jadi Nyata
info gambar utama

"Saya selalu menanamkan agar anak-anak mengambil hal-hal baik dari kedua budaya yang kita miliki. Kalau dari Jerman ada loyalitas, kejujuran, dan sebagainya yang bisa kami terapkan di sini, tetapi untuk persoalan hati dan nilai sosial kita banyak belajar dari Indonesia"

---

Kurang dari sehari lagi menyambut peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap tanggal 22 Desember, selain menjadi momentum untuk memberikan penghargaan atas segala bentuk perjuangan yang dilakukan oleh sosok ibu bagi keluarga sekaligus lingkungannya, peringatan satu ini sejatinya menjadi momen pengingat bagi setiap orang untuk ikut meresapi makna dari keberadaan sosok ibu yang sebenarnya.

Tak dimungkiri, bahwa dewasa ini setiap orang sangat perlu untuk menyadari bahwa pengorbanan menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tuntutan, ada banyak tekanan, dan ada banyak pula perjuangan yang harus dilakukan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang ibu.

Namun dari berbagai kondisi dan tuntutan tersebut, nyatanya mereka yang menyandang status sebagai ibu justru tetap tegar dan membuktikan bahwa kesulitan dan tantangan yang dihadapi tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya, bermanfaat, serta menginspirasi bagi lingkungan di sekitarnya.

Dari sekiranya jutaan ibu tangguh yang ada di Indonesia, salah satu yang juga tak kalah menginspirasi ialah Annette Horschmann.

Nama tersebut mungkin terdengar kurang akrab di telinga masyarakat Indonesia, karena pada dasarnya sosok satu ini merupakan orang asli Jerman yang pada satu titik garis hidupnya mengalami perubahan drastis saat jatuh cinta dengan keindahan alam Toba, Sumatra Utara pada tahun 1993 silam.

Tak ada yang menyangka, berawal dari perubahan tak terencana di antara rangkaian eksplorasinya ke berbagai negara kala itu, Annette ternyata ditakdirkan untuk menghentikan pertualangannya di Toba, dan hingga saat ini menjadi salah satu sosok penting di balik kelangsungan pariwisata bagi danau terluas di Indonesia tersebut.

Sebenarnya nama Annette sendiri sudah tidak asing di tengah kalangan para pegiat lingkungan, hal tersebut berangkat dari upaya yang ia lakukan saat pertama kali menetap di Toba yaitu dengan melakukan gerakan memungut sampah, melakukan pemberdayaan masyarakat untuk merawat lingkungan sekitar, hingga membangun potensi pariwisata yang ada di wilayah tersebut.

Hampir 30 tahun mengabdikan diri di lingkungan Toba, dalam kurun waktu tersebut pula Annette menemukan pasangan hidupnya yang merupakan warga lokal Tuktuk bernama Antonius Silalahi. Pertemuan dan pernikahan keduanya membuat Annette kini mendapatkan identitas baru sebagai orang Batak dengan marga pemberian dari keluarga sang suami, yakni Siallagan, yang juga membuat dirinya kini memiliki nama lain Annette boru Siallagan.

Menceritakan bagaimana berbagai upaya yang ia lalui demi menjaga kelestarian dan terus mengembangkan potensi pariwisata di sekitar Danau Toba, kepada GNFI pada hari Jumat (17/12/2021), Annette mengungkap bagaimana dirinya selama ini melakukan berbagai upaya mulia tersebut sekaligus menjalani peran sebagai seorang Ibu, terutama dalam membesarkan tiga orang anak di tengah kultur yang berbeda dari negara asalnya.

Berikut rangkuman bincang-bincang Annette bersama GNFI:

Menghalau Rintangan Demi Menerangi Desa Indonesia, Tri Mumpuni: Saya Mendapat Kebahagiaan

Bisa diceritakan bagaimana awal mula menetap di Toba?

Annette
info gambar

Saya pertama kali datang ke Toba pada tahun 1993, saat masih senang melakukan perjalanan traveling ke berbagai negara, waktu itu sebenarnya saya habis melakukan perjalanan dari Bali, tapi kemudian mendengar banyak orang bicara tentang Danau Toba sampai akhirnya saya memutuskan untuk datang ke tempat ini.

Ternyata saya tersihir dengan keindahan Danau Toba, saya awalnya tinggal di sini sebentar pada tahun 1993 sampai akhirnya bertemu dengan pria yang saat ini menjadi suami saya, baru menikah pada tahun 1994 dan sejak saat itu baru menetap di sini.

Awalnya saya dan pasangan membuka usaha kecil mulai dari restoran dan bakery, baru pada akhirnya membuka penginapan Tabo Cottages yang berjalan hingga saat ini. Di samping itu saya juga melakukan gerakan kepedulian lingkungan, mulai dari memungut sampah dan gerakan kesadaran akan lingkungan.

Perubahan apa yang paling terasa saat menginjakkan kaki pertama kali tiba di sini dengan kondisi yang sekarang?

Keberadaan saya di sini ibarat membuat semua impian saya jadi nyata bahkan terlampau lebih, dulu saya bisa katakan hanya sebatas ingin memiliki restoran untuk berbisnis di bidang pariwisata. Tapi nyatanya saya bisa memiliki peran jauh lebih bermakna daripada itu terutama di Toba.

Maksudnya saat di mana saya bisa membuat suatu perubahan besar di Toba dari segi lingkungan dan pariwisata, tentu saya tidak mau bilang kalau hal ini sudah sangat bagus dan memuaskan, karena memang tidak semua wilayah Toba saya jangkau untuk mendapat perubahan dan pelestarian dari segi lingkungan.

Pasti tetap ada wilayah atau saat-saat di mana barangkali masih ditemukan banyak sampah di wilayah sekitar Toba, sehingga jangan sampai terkesan besar sekali omongan saya. Tetapi setidaknya secara umum upaya untuk menciptakan kesadaran masyarakat Toba sendiri terhadap sampah dapat dikatakan sudah cukup berhasil.

Meski saya enggan berbesar hati, namun beberapa kali dalam sejumlah kesempatan kerap ada masyarakat lokal yang mengatakan layaknya “tanpa kamu Danau Toba ini bisa jadi masih sama seperti dulu”.

Itu yang tidak saya sangka dan saya sangat bahagia akan hal itu.

Bagaimana reaksi keluarga saat pertama kali mendengar rencana menetap di Indonesia?

Dulu sudah pasti orang tua sempat menyayangkan, karena dulu saya sempat mengambil pendidikan hukum tapi kenyataannya tidak membangun karier di bidang tersebut.

Tapi karena di Jerman masyarakat kita sangat individual, jadi akhirnya mereka menyerahkan kembali kepada saya, ibaratnya ya sudah ini kehidupan saya, diri saya sendiri yang bertanggung jawab dan mereka percaya serta dukung apapun yang dilakukan.

Sampai pada akhirnya ketika keluarga dari Jerman berkunjung ke sini dan melihat sendiri secara langsung, meraka pada akhirnya bangga dan ikut bahagia dengan apa yang sudah saya lakukan di sini.

Apa kesibukan saat ini baik sebagai penggerak pariwisata di Toba sekaligus pegiat lingkungan?

Annette
info gambar

Kesibukan pertama pasti saya mengelola resort milik keluarga yang dibarengi dengan upaya untuk mengembangkan prinsip sustainable tourism, di mana saya berperan untuk selalu mengingatkan semua pihak di sini agar selalu menghemat sumber daya yang ada baik itu air, listrik, dan segala macamnya.

Semua itu dilakukan dalam rangka mendukung program untuk menekan pengurangan produksi karbon di dunia ini, kami juga memastikan keberlangsungan program polisi sampah, yang menjalankan pengelolaan sampah sendiri untuk membuat kompos, dan recycle-able material yang dijalankan sendiri.

Kami juga sangat menghindari penggunaan berbagai barang yang menggunakan bahan plastik, terutama botol air minum. Di beberapa penginapan untuk turis termasuk di tempat saya sendiri, kami sangat menghindari hal tersebut sehingga hanya mengandalkan peralatan tradisional berupa ceret untuk air minum, tidak lagi pakai air botol kemasan.

Intinya saat ini kita terus mempertahankan upaya untuk menciptakan industri pariwisata yang lebih sustainable, program itu jadi salah satu yang saya banggakan karena saat ini keberadaan sampah plastik dari botol minum sangat berkurang drastis setelah kami terapkan kebijakan tersebut.

Saya juga sangat bangga sekali melihat Pulau Samosir dan berbagai daerah di wilayah pariwisata ini super berubah sejak 10 tahun yang lalu, karena kita sering membuat aksi-aksi lingkungan bersama para turis dan aktivis di sini, sehingga meningkatkan kesadaran dari pemerintah sendiri yang akhirnya mulai membangun trotoar untuk akses jalan, mempekerjakan tukang sapu yang secara rutin melakukan pembersihan setiap harinya.

Berbagai kampanye juga kita terus lakukan mengenai imbauan agar semua pihak baik itu turis maupun masyarakat lokal memiliki kesadaran yang tinggi akan keberadaan sampah.

Akhir-akhir ini kebetulan Menteri Pariwisata (Sandiaga Uno) sudah cukup mengenal saya, bersyukur saya dipercaya sebagai konsultan dari pihak Toba yang memberikan pandangan kepada pihak Kementerian Pariwisata setiap ingin melakukan pengembangan pariwisata di wilayah ini. Mungkin ibarat konsultan specialis of Toba, something like that.

Carlos Ferrandiz, Penjamin Kehidupan Masyarakat Desa Hu’u di Pulau Sumbawa

Bagaimana situasi yang terjadi terkait pandemi?

Kalau saya sendiri Puji Tuhan justru tidak memandang pandemi sebagai suatu permasalahan baik dari segi kegiatan untuk lingkungan Toba atau bagi keberlangsungan usaha pariwisata sendiri.

Kami di sini dari dulu belajar untuk selalu memiliki simpanan dalam menghadapi waktu yang sulit seperti saat pandemi, justru saat pandemi kemarin saya bisa menggunakan waktu untuk memperbaiki berbagai hal yang memang perlu diperbaiki di sini.

Jadi pandemi bagi saya justru telah menjadi waktu istirahat yang baik, sebelumnya saya sempat sedikit over-work karena volume pekerjaan baik sebagai pegiat pariwisata maupun dalam menjalankan program pelestarian lingkungan terlalu padat.

Kalau dari segi perubahan situasi yang paling terlihat terjadi, saya bersyukur bahkan kalau untuk lingkungan terlihat jelas air di Danau Toba semakin jernih karena tidak banyak kendaraan kapal yang beroperasi.

Apa tantangan atau persoalan yang sampai saat ini belum terselesaikan dari pariwisata di Danau Toba?

Kalau melihat dari segi pengembangan pariwisata yang lebih ramah lingkungan, sebenarnya kita butuh sarana dan fasilitas untuk pengadaan walking track, atau jalur pejalan kaki.

Karena kita kedepannya tidak lagi hanya mengandalkan kendaraan untuk bisa mengeksplor Toba, melainkan juga minat turis untuk berjalan kaki mengeksplor bukit di sekitar sini dan sebagainya.

Sebenarnya permintaan untuk pengembangan ini sudah sampai juga ke Kementerian langsung dalam hal ini Kementerian Pariwisata, tapi mungkin karena memang realisasinya butuh proses, waktu, dan sebagainya jadi masih belum bisa terwujud hingga saat ini.

Tapi bukan berarti kami hanya duduk diam saja, saya bersama beberapa masyarakat setempat juga sudah langsung bergerak sendiri membuka jalan atau setidaknya membuat jalan sederhana, agar jalur bagi mereka yang ingin menjelajah wilayah perbukitan di sini bisa mendapatkan akses dengan mudah.

Pesona Danau Ranau, Danau Kedua Terbesar di Sumatra Setelah Danau Toba

Bagaimana peran keluarga dalam mendukung kegiatan yang dilakukan dalam mengembangkan potensi lingkungan dan pariwisata di Toba?

Annette
info gambar

Kebetulan saya sangat bangga dengan keluarga di sini karena anak-anak saya semua ikut berpartisipasi dalam peran pengembangan kami di sini, dua anak saya mengambil sekolah perhotelan dan juru masak untuk pengembangan pariwisata, sedangkan satu lagi mengambil sekolah dengan fokus mengenai lingkungan hidup.

Kami sekeluarga melihat itu sebagai potensi dari mereka untuk melanjutkan apa yang telah kami bangun dan kerjakan di sini, karena memang pada dasarnya saat saya datang ke Toba dan menikah dengan suami saya, keluarga kami sudah memiliki kecintaan terhadap lingkungan dan potensi pengembangannya.

Anak pertama saya yang kebetulan saat ini sedang mencari pengalaman bekerja dalam industri pariwisata di Bali, sudah sangat siap untuk kembali ke sini dan ikut mengembangkan wilayah Toba.

Bahagianya karena kebetulan usianya sudah 26 tahun dan sudah punya jodoh, mungkin tahun depan sudah akan punya menantu kami ini, tapi sebelum itu sedikit atau banyak ingin kami didik dulu mengenai bagaimana nilai yang kami tanamkan dalam keluarga dan apa saja yang telah keluarga kami lakukan di sini.

Apakah sudah memiliki bayangan mengenai siapa yang akan meneruskan gerakan di Toba kedepannya?

Tentu itu saya akan kembalikan ke anak-anak untuk meneruskan apa yang sudah kami bangun dan lakukan, dengan berbagai latar belakang yang diambil oleh mereka, saya yakin dan percaya mereka memiliki keinginan dan visi untuk kembali ke sini dan ikut melakukan pengembangan di wilayah Toba.

Sebagai seorang ibu dan orang tua, nilai apa yang ditanamkan dalam membesarkan anak dengan dua latar belakang budaya yang berbeda?

Yang saya suka dari memiliki kesempatan hidup seperti yang sedang dijalani saat ini, saya bisa mengambil semua hal terbaik yang ada dari dunia berbeda dan bisa saya tiru untuk mendidik anak-anak. Saya akui dari kedua budaya ini punya masing-masing kelebihan dan kekurangan.

Di Batak banyak sekali filosofi dan peraturan di berbagai aspek mulai dari adat hingga lingkungan sosial dan bermasyarakat yang sangat penting, saya sangat menghargai itu di sini. Sedangkan dari Jerman kita juga punya banyak nilai yang di sini mungkin kurang, seperti contohnya dari kualitas produk atau sumber daya manusia di mana kita sangat menghindari yang namanya korupsi.

Dalam artian kita bicara contoh dalam pembuatan barang tertentu dengan bahan baku atau kebutuhan yang mahal, mohon maaf di sini mungkin bisa menjadi objek korupsi atau bisa dikorupsikan supaya dapat income pribadi, tapi kalau di sana it’s a big no lah.

Jadi saya selalu menanamkan agar anak-anak mengambil hal-hal baik dari kedua budaya yang kita miliki, kalau dari Jerman ada loyalitas, kejujuran, dan sebagainya yang bisa kami terapkan di sini. Tetapi untuk persoalan hati dan nilai sosial kita banyak belajar dari Indonesia khususnya Batak, seperti halnya keakraban bersama masyarakat, bersama orang sekampung itu sangat luar biasa di sini dan tidak ada di Jerman.

Menengok Lapo Tuak, Tempat Orang Batak Bercakap dan Menghibur Diri

Catatan:

Artikel di atas merupakan persembahan GNFI untuk memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2021.

Mereka adalah segelintir dari para ibu yang tak hanya sebagai pengayom rumah tangga, tapi juga menerjang badai, pembangkit asa, pendobrak pesimistis, hingga dapat bermanfaat lingkungannya.

Selamat Hari Ibu, tetaplah tegar wahai Bunda Penerjang Badai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini