Carlos Ferrandiz, Penjamin Kehidupan Masyarakat Desa Hu’u di Pulau Sumbawa

Carlos Ferrandiz, Penjamin Kehidupan Masyarakat Desa Hu’u di Pulau Sumbawa
info gambar utama

Hampir sebagian besar orang sejatinya memiliki impian untuk mendapatkan kehidupan yang layak, masa depan cerah, dan keberlangsungan hidup yang terjamin setidaknya sampai generasi penerus yang dimiliki dalam beberapa waktu yang akan datang.

Awalnya mungkin terdengar naif dan terlalu mengada-ada, ketika mengetahui bahwa di antara sekian banyak jutaan orang yang bertaruh dan bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak, nyatanya di saat yang bersamaan juga ada pihak yang sudah mendapatkan apa yang selama ini banyak orang cari, namun secara sukarela melepas semuanya dengan cuma-cuma.

Hal tersebut dilakukan hanya untuk satu tujuan, mengabdi dan memberikan kehidupan yang lebih layak bagi sekelompok orang yang tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kerja keras yang sama, demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Terdengar mustahil, tapi memang begitu adanya.

Carlos Ferrandiz, satu dari segelintir orang yang nyatanya rela melakukan pengorbanan tersebut. Memiliki kehidupan dengan karier yang gemilang, diikuti dengan masa depan yang cerah dan terjamin, siapa sangka kalau semua hal tersebut dia tinggalkan hanya demi satu tujuan mulia, kemanusiaan.

Para Kesatria Indonesia dari Negeri Seberang

Cinta berlabuh di Desa Hu’u

Carlos Ferrandiz saat memberikan pendidikan kepada anak-anak di desa Hu'u
info gambar

Bukan kali pertama, jauh sebelumnya GNFI sempat berbincang dengan Carlos dalam sebuah wawancara yang dilakukan beberapa waktu lalu, tepat setelah kurang lebih 10 tahun Carlos mengabdikan dirinya untuk mengangkat taraf kehidupan masyarakat Indonesia di Desa Hu’u.

Sedikit kilas balik, Carlos merupakan pria asal Barcelona yang awalnya sudah memiliki karier gemilang sebagai seorang pengacara selama tujuh tahun di salah satu firma hukum terbesar di Spanyol.

Titik balik kehidupan yang menjadi pendorong Carlos mengambil langkah besar meninggalkan semua yang dia miliki, berawal dari salah satu momen di mana Carlos berkesempatan berlibur di Sumbawa, tepatnya Kompleks Hotel Lakey Peak yang berjarak 30 kilo meter dari Desa Hu’u.

Pada satu hari Carlos memutuskan untuk berselancar, tanpa diduga dia bertemu dengan seorang anak yang ingin berkomunikasi dengan dirinya, namun terhalang dengan kemampuan komunikasi bahasa yang tidak saling memahami satu sama lain.

Hal tersebut nyatanya mengetuk pintu hati Carlos karena menurutnya, hanya dengan berbicara Bahasa Inggris dengan wisatawan di wilayah tersebut, akan sangat banyak keuntungan yang dapat diambil sebagai sumber daya ekonomi dari pariwisata bagi masyarakat setempat.

Carlos lalu memutuskan bahwa dirinya akan mengajar Bahasa Inggris, dan mengatakan kepada anak kecil tersebut untuk memberitahu teman-temannya agar datang lagi di waktu yang Carlos janjikan.

Keesokan harinya, bermodalkan papan tulis yang Carlos pinjam dari hotel, kamus yang ia gunakan untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, beserta niat sederhana untuk sekilas mengajar tentang bahasa Inggris, Carlos pergi ke lokasi pertemuan yang dijanjikan.

Di luar ekspektasi, betapa terkejutnya Carlos melihat banyak penduduk desa terdekat yang ikut hadir, ada sekitar 150 orang terdiri dari anak-anak, orang tua, bahkan kakek-nenek yang ternyata ingin ikut belajar berkomunikasi yang saat itu mungkin dianggap sebagai peluang bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan kesempatan mengembangkan wilayahnya.

Carlos Ferrandiz bersama anak di desa Hu'u
info gambar

Berangkat dari kejadian tersebut, itulah saat di mana titik balik kehidupan Carlos terjadi dan menjadi cikal bakal dari lahirnya tekad Carlos menghadirkan Harapan Project, untuk membawa kehidupan yang lebih baik dari segi pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi masyarakat Hu’u.

Tentu, pada tulisan kali ini GNFI tidak akan menceritakan ulang bagaimana perjalanan awal Carlos memupuk dan menumbuhkan Harapan Project, yang sudah berjalan selama 10 tahun dan berhasil membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat Desa Hu’u sampai detik ini.

Kisah lengkap bahkan detail manfaat yang sudah diberikan dari kontribusi Carlos melalui Harapan Project untuk masyarakat Hu’u dapat ditelusuri lebih lengkap di sini.

Kali ini, GNFI akan membahas mengenai kisah detail nan haru dari salah satu anak yang berhasil mengalami perubahan besar dalam hidupnya lewat aksi kemanusiaan yang diupayakan Carlos.

Upaya Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan Papua saat Pandemi

Soalihin, melewati masa krisis kehidupan setelah ‘terlahir kembali’

Soalihin, salah satu anak yang mendapatkan kehidupan layak berkat Carlos
info gambar

Pada tahun 2019, ada kisah dari seorang anak lelaki berusia 9 tahun bernama Soalihin. Awalnya, Soalihin divonis mengalami imobilisasi pada tubuh, yang menyebabkan dirinya hanya bisa berbaring sepanjang hari. Dirinya tidak bisa melakukan kegiatan normal seperti anak seusianya yang banyak bermain dan sekolah.

Selain itu, kondisi fisik Soalihin juga terlihat kurus bagaikan tulang berbalut kulit dengan kondisi yang tidak sepenuhnya sadar, dirinya bahkan sama sekali tidak bisa menggerakkan seluruh anggota badannya secara normal. Dalam keadaan yang hanya bisa berbaring tersebut, Soalihin akhirnya dibawa ke rumah sakit terbesar yang ada di Sumbawa dengan menggunakan ambulans.

Soalihin divonis mengalami patah tulang leher, namun fasilitas yang ada di rumah sakit tersebut tidak memadai dan tidak memungkinkan untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Melalui proses panjang, Carlos akhirnya membawa Soalihin terbang ke rumah sakit terbaik yang ada di Jakarta, lebih tepatnya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan memadai.

Tentu tak terbayang, berapa dana yang harus dikeluarkan dalam memenuhi biaya transportasi yang diperlukan untuk membawa Soalihin dalam kondisi fisik yang serba terbatas.

Sesampainya di Jakarta, pihak rumah sakit menyampaikan bahwa diagnosa yang diberikan oleh rumah sakit sebelumnya ternyata salah. Kondisi fisik yang Soalihin alami nyatanya merupakan efek dari penyakit tetanus tingkat tinggi yang diderita.

Akhirnya setelah mendapatkan perawatan intensif, perkembangan pesat terjadi pada Soalihin, dirinya mulai bisa melakukan berbagai gerakan pada seluruh anggota tubuhnya secara bertahap, sampai saat di mana Soalihin mampu bangun dari posisi berbaring dan beraktivitas ringan di kursi roda.

Pemulihan terus berlanjut, Carlos menjadi salah satu sosok yang selalu ada di sisi Soalihin selama masa pemulihan, dirinya setia menemani Soalihin sebagai tumpuan untuk belajar berjalan kembali.

Sampai tiba di saat yang paling mengharukan, Soalihin mampu bangkit dari kursi roda secara mandiri dan berjalan tanpa Carlos sebagai tumpuan, kembali pulang ke Hu’u menaiki pesawat dengan cara yang jauh berbeda saat dirinya pertama kali dibawa untuk mendapatkan pengobatan, hingga dapat kembali beraktivitas normal dan bersekolah layaknya anak normal seusianya.

Soalihin tentu hanya satu dari sekian banyak anak yang sudah mendapatkan kehidupan lebih baik berkat aksi kemanusiaan yang dilakukan Carlos, mungkin jauh dari kata mewah dan apa yang selama ini banyak orang cari, namun setidaknya hak dasar yang selama ini layak didapatkan oleh anak-anak seusia Solihin, yaitu tertawa, bermain, dan belajar.

Luthfi Kurnia, Motor Relawan yang Sediakan Makanan untuk Nakes dan Warga

Peran Carlos dalam penanganan Covid-19 di wilayah Hu'u

Bantuan yang diberikan Carlos melalui Harapan Project untuk penanganan Covid-19 di Kabupaten Dompu
info gambar

Pandemi tentu menjadi salah satu hal yang tak terelakkan bahkan bagi masyarakat di wilayah Hu’u. Nyatanya, jika Carlos mampu memberikan pengobatan dan kehidupan yang layak bagi sejumlah masyarakat terutama anak-anak di wilayah tersebut jauh sebelum pandemi melanda, upaya serupa sudah pasti menjadi bagian tak terlepaskan dari upaya Carlos dalam menjaga kehidupan masyarakat di wilayah yang saat ini sudah menjadi tempat tinggalnya.

Melalui laman media sosial Harapan Project, Carlos diketahui kerap memberikan edukasi sekaligus pendistribusian perlengkapan alat kesehatan, berupa masker dan sabun cuci tangan, serta imbauan pola hidup sehat kepada masyarakat desa Hu'u.

Keberhasilan Carlos dalam menjaga wilayah Hu'u dari terpaan pandemi terbukti berhasil. Berdasarkan data yang dihimpun dari Corona.ntbprov.go.id, sejak awal pandemi melanda hingga per tanggal 10 Agustus 2021, diketahui hanya ada 2 kasus positif di Kecamatan Hu’u dan 1 kasus meninggal dunia.

Melansir laman resmi pemerintah Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu, Bupati wilayah setempat yaitu Drs. H. Bambang M. Yasin, bahkan menyampaikan peran besar yang sudah diberikan Carlos dalam penanganan Covid-19 di Kabupaten Dompu.

Menurut Bambang, Carlos sudah beberapa kali memberikan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap secara gratis kepada Pemda Dompu.

“Terakhir kali, Carlos memberikan bantuan APD lengkap yang diberikan langsung oleh dirinya kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Dompu, bantuan ini diberikan Carlos sebagai wujud kepeduliannya kepada masyarakat dan Pemda Dompu di tengah terpaan pandemi yang terjadi” jelas Bambang, pada keterangan resminya di akhir bulan Juni lalu.

Secara lebih detail, dijelaskan bahwa ada bantuan yang diberikan Carlos kepada Pemda Dompu meliputi 300 Disposable Hazmat, 400 plastic apron, 200 TorchMed–Guard reusable Hazmat, 400 buah masker N95, 200 boks surgical masks (10.000 buath), 100 boks Exam Glover (5.000 pairs), 2.500 pairs surgical glovers, 400 safety goggles, 400 faceshields, 100 boots, 2.000 nurse caps, dan 2.000 shoe covers.

Seluruh perlengkapan tersebut nyatanya memiliki makna yang sangat berarti bagi para tenaga kesehatan di wilayah Kabupaten Dompu.

Kontribusi dan rencana hidup Carlos di masa depan

Carlos dan anak-anak yang diangkut menggunakan Bus Harapan
info gambar

Terbaru, keseriusan Carlos dalam memastikan pendidikan anak-anak di Desa Hu'u tetap berjalan dengan baik terbukti lewat komitmen yang masih dia jalankan hingga saat ini. Diketahui, bahwa kurang dari dua bulan lalu Carlos melakukan pengadaan sebuah kendaraan yang diberi nama Harapan Bus.

Ternyata, bus tersebut merupakan transportasi yang digunakan oleh Carlos setiap harinya guna menjemput beberapa anak untuk mengikuti pembelajaran di sekolah yang ia bangun.

"...anak-anak (para siswa dan siswi) setiap hari di jemput secara langsung oleh Carlos di masing masing rumah menggunakan bus untuk belajar di sekolahnya. Carlos Ferrandiz selain menjadi guru, juga ibarat menjadi orang tua bagi anak anak di Kecamatan Hu’u,” tutur Bambang.

Bambang juga menyatakan, bahwa fokus pendidikan yang Carlos lakukan untuk anak-anak di wilayah setempat merupakan bentuk nyata dari upaya meminimalisir bahkan menghentikan angka putus sekolah yang ada di Kecamatan Hu’u.

Walau berdasarkan pantauan situasi terakhir, kegiatan pendidikan yang Carlos jalankan nyatanya terpaksa harus terhenti sementara, demi mencegah penyebaran kasus Covid-19 yang terjadi atas imbauan pemerintah setempat. Namun, kondisi tersebut tentunya diharapkan tidak berlangsung terlalu lama, dan dapat segera berjalan kembali seperti sedia kala.

Di lain sisi, setelah melalui berbagai jalan panjang selama mengabdi di wilayah Hu’u, tentu tak jarang muncul pertanyaan sampai kapan Carlos akan melakukan aksi kemanusiaan ini? Terlebih, jika melihat sosoknya yang bukan berasal dari Indonesia, akankah ada kemungkinan bahwa dirinya akan kembali ke tempat dia berasal dan meninggalkan apa yang sudah dibangun saat kondisi masyarakat sekitar sudah lebih baik?

Dalam salah satu kesempatan wawancara yang dilakukan dengan salah satu stasiun televisi nasional, Carlos rupanya menjawab pertanyaan tersebut.

“Saya cinta Indonesia, saya merasa masyarakat Indonesia, khususnya di Hu’u sudah menerima saya sebagai keluarga mereka sendiri, begitupun saya yang sudah mengganggap mereka sebagai keluarga…” terang Carlos

“…saya bahkan merasa bahwa hati saya sudah menjadi merah putih, saya di Indonesia sampai mati, dan sudah tidak mau pindah ke Spanyol lagi, saya senang di sini dan tetap mau mewujudkan tujuan saya untuk ikut bantu masyarakat di sini sampai saya meninggal, sudah pasti…” tekad Carlos, yang diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada Indonesia karena menerima kehadirannya.

Abah Asep Nugraha, Penjaga Tradisi dan Daulat Pangan Kampung Adat di Tengah Pandemi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini