Luthfi Kurnia, Motor Relawan yang Sediakan Makanan untuk Nakes dan Warga

Luthfi Kurnia, Motor Relawan yang Sediakan Makanan untuk Nakes dan Warga
info gambar utama

Pada awal 2020 saat virus Corona masih menyerang Wuhan dan beberapa wilayah di sekitarnya. Disaat pemerintah Indonesia juga masih yakin masyarakatnya tidak akan terpapar virus ini. Lutfhi Kurnia bersama rekan-rekannya di Salam Aid telah berjibaku untuk menangkal virus Covid-19.

"Sejak awal 2020, Salam Aid telah melakukan pencegahan di jejaring sekolah alam kita. Kita lakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk anak sekolah," ungkap Direktur Salam Aid, Luthfi Kurnia, saat dihubungi GNFI, Senin (9/8/2020).

Lalu setelah pengumuman pertama kasus pasien Corona yang terjadi di Indonesia, Salam Aid kemudian meningkatkan status ketingkat yang lebih tinggi, sehingga bisa menjangkau banyak masyarakat yang terimbas virus tersebut.

Memang, di tengah lonjakan Covid-19 yang semakin mengganas, Salam Aid yang merupakan lembaga kemanusiaan terus mengulurkan bantuannya. Puluhan permintaan tolong warga selalu datang setiap hari.

Indra Darmawan, Sejahterakan Masyarakat di Masa Pandemi Melalui Sampah dan Eceng Gondok

Kang Uut--sapaan akrab Luthfi Kurnia--menuturkan situasi saat itu memaksa timnya harus mengerahkan lebih banyak waktu dan tenaga. Pasalnya mereka membuat beberapa variasi program untuk memenuhi permintaan warga.

"Kalau kesehatan ada penyemprotan, penyiapan ambulans gratis, pembagian APD, produksi hazmat, produksi masker, sampai berjalan buka layanan swab antigen gratis. Selain itu ada pemberian paket pangan, hadiah suplemen multivitamin," jelasnya.

Photo relawan Salam Aid (Dok: Salam Aid)

Jika dihitung-hitung, mereka bisa menerima sampai lima permintaan dalam sehari. Mulai dari permintaan antar-jemput pasien Covid-19, hingga pemulasaran atau pemakaman dengan standar protokol kesehatan (prokes) yang ditetapkan pemerintah.

"Kami punya tiga armada di bidang kesehatan, tapi kedepannya akan berupaya tambah satu lagi. Kebetulan jaringan kita di Sekolah Alam punya satu mobil untuk antar jemput anak sekolah. Karena sedang off, jadi kita alihkan untuk ke bidang kesehatan," bebernya lagi.

Walau baru beroperasi di Bogor, melalui jejaring Sekolah Alam yang mereka miliki, Salam Aid mampu mengerahkan bantuan kemanusiaan ke beberapa daerah di Indonesia. Apalagi mereka juga memiliki pengalaman dalam bidang penanggulangan bencana.

"Kalau Salam Aid pusatnya di Bogor. Kantor baru ada di Bogor. Tapi kita memiliki jejaring Sekolah Alam Nusantara. Lebih dari 200 sekolah alam itu bagian jaringan kita," paparnya.

Perhatian bagi nakes dan masyarakat dhuafa

Lembaga sosial Salam Aid pada bulan puasa lalu memprioritaskan bantuan makan sahur dan berbuka bagi para tenaga medis yang bertugas di berbagai rumah sakit di wilayah Bogor. Hal ini menjadi salah satu upaya mereka untuk mendukung tenaga kesehatan (nakes).

"Kami memasak dan mengemas sekitar 200 paket nasi lengkap lauk pauk, untuk diserahkan kepada para tenaga medis,” kenang Luthfi.

Menurutnya, kegiatan ini melengkapi berbagai kegiatan sosial lain di masa pandemi, termasuk menyumbang APD ke berbagai rumah sakit. Luthfi menuturkan, kepedulian, kesediaan, dan semangat yang hidup di tengah warga untuk saling membantu, adalah bahan bakar yang dapat menyalakan gerakan gotong royong.

Salah satunya adalah program Warung Seribu Cinta di Pasar Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, pada Selasa (30/3/2021). Program ini memberikan makan siang dengan harga Rp1.000. Program ini merupakan kerja sama antara Salam Aid dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor.

Sebanyak 100-an lebih warga ikut menikmati sajian istimewa tersebut. Paket lengkap nasi, lauk pauk, sayuran, kerupuk, dan buah, menjadi menu sehat untuk mereka para pejuang kehidupan. Tak heran, program ini menjadi pelepas dahaga para ojol, sopir angkot, tukang parkir, pedagang asongan, pengamen, pemulung, serta tuna wisma.

Kisah Gereja Katolik di Jakarta yang Berubah Menjadi Tempat Isoman Pasien Covid-19

Warung Seribu Cinta (Dok: Salam Aid)

Selain itu, Salam Aid juga menggagas program Temanco. Program ini merupakan wadah bagi para penyintas untuk membagikan pengalaman mereka kepada pasien Covid-19. Sehingga para pasien tidak hanya diobati secara fisik, tapi juga mental.

"Seperti Kita ketahui Covid ini begitu ada yang terpapar. Itu yang diserang bukan hanya gejala klinis tapi juga psikis," katanya.

"Itu menjadi tugas Temanco untuk pemulihan psikis agar pemulihan klinis nya bisa lebih cepat."

Menurut Luthfi, Temanco berbasis pada tiga aksi utama yang intinya bertujuan menemani pasien Covid-19 dan keluarganya. Inisiatif itu boleh jadi berdasarkan pengalamannya sendiri.

“Aksi utama pertama Temanco adalah pendampingan psikis yang dilakukan para relawan yang terdiri dari para survivor Covid-19 dengan para pasien. Para survivor akan menjadi teman cerita, teman curhat, dan teman berbagi bagi para pasien Covid-19. Tugasnya bukan mengganti peran dokter atau perawat, tapi bagaimana mereka berbagi pengalaman ketika berjuang mengatasi virus ini.”

Selama 22 hari menjalani isolasi di rumah sakit ditambah hampir tiga bulan isolasi mandiri di rumah, ia merasakan betul pentingnya teman-teman yang bisa mendampinginya melewati hari-hari yang sepi, menjemukan, dan penuh kecemasan.

“Setelah sembuh, alhamdulilah saya berkesempatan jadi teman ngobrol beberapa orang yang tengah berjuang dengan Covid-19. Kemudian terpikirkan konsep teman ngobrol dengan pasien dan mengajak lebih banyak para survivor seiring terus naiknya angka positif Covid-19 di Bogor,” ceritanya.

Aksi utama kedua Temanco, adalah pendampingan ekonomi bagi keluarga pasien dari keluarga tidak mampu. Menurut Lutfi, pandemi ini tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga aspek ekonomi pasien.

“Kami ingin membantu warga yang terdampak dengan memastikan kebutuhan pokok mereka tercukupi ketika ada anggota keluarganya harus menjalani isolasi mandiri atau perawatan di rumah sakit,” tandasnya lagi.

Lutfhi mengaku kegiatan mereka selama ini sangat didukung oleh pemerintah, khususnya Satgas Covid 19. Beberapa kali mereka meminta bantuan kepada Satgas, ataupun sebaliknya saat menangani pasien Covid-19.

"Satgas juga mengapresiasi Salam Aid. Kita juga kerja sama dengan Dinas terkait orang yang sakit. Kami terus komunikasi apa yang bisa kita support atau yang mereka bisa bantu," jelasnya.

Teruji sejak bencana tsunami

Kang Uut menuturkan, keterlibatan Salam Aid dalam penanganan Covid-19 memang semata urusan kemanusiaan. Hal ini memang menjadi landasan pendirian Salam Aid pada tahun 2018.

"Memang Salam Aid kan didirikan untuk aktivitas kemanusiaan, jadi otomatis saat ada bencana alam atau wabah, Salam Aid harus terlibat," jelasnya.

Mengingat gerakan ini berbasis relawan, menurut Luthfi, pihaknya membuka pendaftaran bagi para survivor yang ingin tergabung sebagai relawan.

“Caranya mudah, siapapun tinggal mengakses tautan yang ada di instagram @salamaid dan langsung mendaftar.”

Kisah Malaikat Jalanan, Tembus Kemacetan untuk Membuka Jalan bagi Ambulans

Photo relawan Salam Aid (Dok: Salam Aid)

Luthfi memang sudah terjun dalam penanganan bencana alam sejak lama. Dirinya memulai pada tahun 2002 hingga saat ini. Penanggulangan bencana tsunami Aceh, menjadi pengalaman yang mengawali keinginanya terjun ke dunia kemanusian.

"Memang mulainya di 2004 saat Aceh terkena tsunami. Saya dengan lembaga 1001 buku ikut ke Aceh, kemudian melakukan aktivitas kemanusiaan," ceritanya.

Akhirnya setelah itu, dirinya terus terjun sebagai relawan kemanusian, terutama saat bencana alam. Beberapa kasus seperti banjir, lonsor hingga gempa. Tidak menyurutkan niatnya untuk membantu saudara sebangsa yang sedang ditimpa kesulitan.

"Gempa Lombok, banjir di Bogor, Jakarta. Gempa di palu. Hingga pandemi," urainya.

Bagi Luthfi, hal ini merupakan panggilan jiwanya sebagai manusia. Selain itu sebagai seorang Muslim, wajib untuknya membantu dan membangun hubungan baik antar sesama manusia.

"Kami ingin mengajak warga untuk merasakan empati lebih ketika ada tetangganya terkena Covid-19. Khawatir dan hati-hati boleh, tetapi jangan sampai memberikan reaksi yang berlebihan. Nanti kami akan bergandengan dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan edukasi ini,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini