Maulwi Saelan, Kisah Heroik Kiper Legendaris dan Penjaga Terakhir Bung Karno

Maulwi Saelan, Kisah Heroik Kiper Legendaris dan Penjaga Terakhir Bung Karno
info gambar utama

Jesse Owens, seorang pelari Amerika tampil sangat memukau dengan menggondol empat medali emas sekaligus dalam Olimpiade Berlin pada tahun 1936. Kisah ini kelak masuk dalam layar lebar.

Film ini kemudian ditonton oleh seorang pemuda Sulawesi. Namanya Maulwi Saelan yang begitu terpikat dan berniat melakukan hal yang sama untuk negerinya, melalui cabang olahraga yang dirinya gemari, sepak bola.

Pada 17 November 1956, mimpinya benar-benar terwujud. Dirinya menjadi penjaga gawang tim nasional (Timnas) Indonesia pada Olimpiade di Melbourne, Australia. Ketika itu Timnas yang mewakili zona Asia harus melawan tim raksasa Uni Soviet.

Perjalanan Indonesia untuk masuk ke ajang tersebut juga diwarnai drama keberuntungan. Pasalnya, Taiwan yang menjadi lawan Indonesia di ajang kualifikasi, justru mengundurkan diri dengan sejumlah alasan.

Indonesia yang tidak punya sejarah dalam olahraga sepak bola tentunya dipandang remeh oleh Negara Eropa yang begitu kuat hingga saat ini. Tetapi tiada sangka, Tim Merah Putih berhasil menahan imbang tim Beruang Merah hingga 90 menit.

Ketika itu sosok Maulwi yang berjuang keras menahan gempuran Uni Soviet. Saat tim Uni Soviet berhasil menembus palang pintu Indonesia, dengan sigap dirinya menghadangnya di depan mistar gawang.

Anatoli Polosin, Tangan Besi yang Bawa Indonesia Rebut Emas Sea Games 1991

"Saya jatuh bangun menahan serbuan Beruang Merah (Sebutan Uni Soviet/Rusia). Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti." ucap Maulwi yang dinukil dari National Geographic, Kamis (30/12/2021).

Indonesia juga tidak diam saja, mereka terus melancarkan serangan ke gawang Uni Soviet yang dijaga oleh Lev Yashin. Tetapi Lev Yashin juga menunjukkan kelasnya sebagai kiper terbaik di dunia.

Akhirnya pertandingan perempat final itu berakhir dengan skor 0-0, meskipun sudah ada perpanjangan waktu 2 kali 15 menit. Kemudian setelah 36 jam pertandingan tersebut diulang untuk menentukan pemenangnya.

Namun sayang, perjalanan tim Indonesia harus berakhir setelah dua pemainnya cedera. Indonesia harus takluk dengan skor 0-4. Namun Maulwi memastikan Indonesia kalah dengan cara terhormat.

Maulwi Saelan dan perjalanan menjadi penjaga gawang

Maulwi lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 8 Agustus 1928. Ayahnya, Amin Saelan, adalah seorang tokoh pendiri Taman Siswa di Makassar dan seorang tokoh pejuang nasionalis.

Selain sebagai olahragawan, Maulwi merupakan seorang pejuang nasional. Ketika itu dirinya yang masih berusia 20 tahun memilih untuk ikut berjuang bersama dengan semangat revolusi Agustus 1945 yang sampai ke Makassar.

Sejak masih Sekolah Menengah Pertama (SMP) Maulwi sudah ikut dengan para pelajar untuk mengorganisir penyerbuan Empress Hotel, yang saat itu berfungsi sebagai markas NICA. Dia ditahan karena kejadian itu.

Di tengah-tengah perjuangan, dirinya juga tetap tidak melupakan olahraga kesukaannya sepak bola. Sejak kecil Maulwi memang menyukai permainan kulit bundar yang dirinya mainkan di sekolah.

Ketika bersekolah dasar di Frater School, Maulwi setiap hari bermain sepak bola. Dirinya tidak pernah absen dalam pertandingan-pertandingan yang dimainkan timnya.

Menakar Peluang Timnas Indonesia Melaju ke Final Piala AFF 2020

Ketika itu Maulwi mengikuti kesebelasan, banyak posisi yang ditempatinya, mulai dari pemain belakang hingga pemain depan. Ketika itu, Maulwi bahkan pernah dilatih oleh Andi Mattalata yang menjadi guru olahraga di Makassar.

"Dari Andi Mattalata lah, Maulwi banyak belajar, termasuk belajar tinju. Dalam urusan sepak bola Frater School termasuk yang bagus di Makassar," tulis Asvi Marwan Adam dan kawan-kawan dalam buku Maulwi Saelan: Penjaga Terakhir Soekarno.

Dikabarkan dari Liputan6, karier sepak bola Maulwi dimulai dari klub bernama MOS di Makassar yang didirikan ayahnya. Ketika itu dirinya diminta menjadi seorang kiper dan ternyata bakatnya ada di sana.

Dirinya lalu pindah ke Jakarta dan mendapat kesempatan mengawal gawang tim Jakarta Raya di PON I-1948 Solo. Aksi-aksi Maulwi di bawah mistar membuatnya dipanggil membela Timnas Indonesia di Asian Games 1951 New Delhi, India.

Pencapaian terbaik Maulwi yaitu membawa Tim Garuda finis di urutan ketiga Asian Games 1954 dan sabet perunggu Asian Games 1958. Dia juga turut tampil di Olimpiade Melbourne 1956 bersama Timnas Indonesia yang dilatih Tony Pogacnik, dan lolos ke babak delapan besar.

Selain dikenal sebagai kiper legendaris timnas Indonesia, Maulwi juga pernah menjadi ajudan Soekarno yang paling setia. Dia bahkan orang yang menemani Bung Karno hingga akhir jabatannya.

Mimpi dari penjaga gawang yang malang

Setelah menjaga gawang tim nasional Indonesia, Maulwi lalu diminta oleh Bung Karno untuk menjadi pengawalnya Resimen Cakrabirawa. Pasukan pengawal ini dibentuk karena adanya upaya pembunuhan kepada Bung Karno.

Ketika itu Maulwi menjabat sebagai staff dan kemudian menjadi wakil Komandan menjelang peristiwa Gerakan 30 September (G30S) meletus. Saat peristiwa nahas ini meletus, Maulwi sedang mengawal Soekarno di Senayan.

Dirinya tidak tahu bahwa pemimpin serangan dari peristiwa ini yaitu Letkol Untung membawa 60 anggota Cakrabirawa. Pasca serangan itu, masa gelap melingkupi Bung Karno dan tentu saja resimen Cakrabirawa itu.

Pelan-pelan Soekarno lengser dan Cakrabirawa dibubarkan, Maulwi pun sempat ditahan. Maulwi dipenjara karena tak mau memberi pengakuan palsu bahwa Bung Karno terlibat G30S.

Jabatannya sebagai Ketua PSSI pun tak bisa diembannya. Setelah kira-kira 5 tahun dipenjara tanpa pengadilan, Maulwi dibebaskan. Setelah dirinya bebas, Bung Karno sudah wafat.

Dikabarkan dari Tirto, menjalani masa tuanya, Maulwi memilih mengabdi kepada dunia pendidikan dengan mendirikan Yayasan Sifa Budi dan Sekolah AL Azhar di Jakarta. Dirinya juga berkesempatan untuk menjadi komentator sepak bola, olahraga yang dirinya gemari.

Asha Wadia Saelan, putra bungsu Maulwi menyatakan ayahnya memang berkeinginan untuk mempunyai sekolah sepak bola (SSB). Keluarganya pun berkeinginan untuk mendirikan SSB, tetapi urung dilakukan karena Maulwi lebih fokus mengelola pendidikan di Al Azhar.

PSSI Primavera, Hubungan Baik Indonesia dengan Italia dalam Sepak Bola

Tetapi Asha masih mengingat kata-kata ayahnya bahwa sepak bola adalah alat untuk berjuang dan pemersatu bangsa. Apalagi sepak bola ini merupakan olahraga rakyat dan disenangi semua orang.

"Bapak selalu menekankan, motivasi pemain bola di zamannya adalah nasionalisme. Tanpa dibayar dan dengan fasilitas seadanya, mereka tampil dengan semangat pantang menyerah," ucapnya yang dinukil dari CNN Indonesia.

Penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia ini menghembuskan napas terakhirnya pada 10 Oktober 2016. Kondisi fisik Maulwi yang termakan usia mulai menurun drastis sejak Agustus 2016.

Tubuh renta Maulwi pun sudah tak mau kompromi lagi. Ajudan terakhir yang menemani Soekarno di masa-masa kritis ini pun berpulang dan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini