Anatoli Polosin, Tangan Besi yang Bawa Indonesia Rebut Emas Sea Games 1991

Anatoli Polosin, Tangan Besi yang Bawa Indonesia Rebut Emas Sea Games 1991
info gambar utama

Indonesia merupakan negara dengan budaya sepak bola yang cukup besar. Tetapi kecintaan masyarakat Indonesia akan permainan lapangan hijau tidak pernah diimbangi dengan prestasi Tim Nasional (Timnas).

Tidak hanya pada level Asia, pada perhelatan kejuaraan regional Asia Tenggara Indonesia minim gelar. Pada perhelatan Piala AFF-- dahulu disebut Piala Tiger-- Indonesia tercatat hanya menjadi runner up sebanyak 5 kali.

Sedangkan pada ajang olahraga multievent Sea Games, Skuad Garuda baru mencicipi dua kali medali emas, tepatnya pada tahun 1987 dan 1991. Bahkan Sea Games 1991 ini menjadi kali terakhir Indonesia berdiri di podium juara dalam kejuaraan Internasional.

Keberhasilan Skuad Garuda merebut juara Sea Games tidak bisa lepas dari sosok pelatih Anatoli Fyodorich Polosin asal Uni Sovyet -- sekarang Rusia --. Tangan besinya membuat Indonesia berhasil menekuk Thailand yang ketika itu lebih diunggulkan.

Polosin lahir di Moskow, Rusia pada 30 Agustus 1935. Dirinya banyak menghabiskan masa kepelatihannya dengan membesut tim dari tanah kelahirannya atau hanya sebatas klub dari Eropa Timur.

Sejarah Hari Ini (23 Desember 2002) - Pesta Gol Timnas Indonesia ke Gawang Filipina

Sebagai orang Eropa Timur, Polosin lebih mengedepankan kekuatan fisik ketimbang sepak bola indah yang pernah diturunkan pelatih asal Belanda, Wiel Coerver, untuk Tim Garuda pada era 1970-an. Apalagi menurutnya timnas hanyalah sekumpulan pemain yang bisa bermain satu babak saja.

"Polosin sempat melihat pertandingan Galatama sebelum memanggil pemain untuk pemusatan latihan. Dia pun bilang bahwa kami hanya kuat main di babak pertama saja kemudian menurun di babak kedua,” kata Sudirman salah satu pemain Timnas ketika merebut medali emas Sea Games 1991 yang dikutip dari Bola, Rabu (29/12/2021).

Polosin kemudian menyiapkan Timnas Indonesia dalam jangka waktu tiga bulan. Beberapa pemain top pun dirinya panggil untuk memperkuat Skuad Garuda, seperti Ansyari Lubis, Fakhri Husaini, Jaya Hartono, hingga Eryono Kasiba.

Walau begitu dirinya sudah terkenal sebagai seorang memiliki karakter yang tegas, disiplin, serta kerja keras. Siapa pun, walau memiliki nama bintang tidak akan ragu-ragu dirinya coret bila menolak gaya kepelatihannya.

Belum sempat dicoret, beberapa nama bintang memilih mengundurkan diri karena gaya latihan keras seorang Polosin. Ansyari Lubis, Fachri Husaini, Jaya Hartono, dan Eryono Kasiba adalah nama-nama yang pergi dari pusat kepelatihan Timnas.

Nama-nama yang pergi ini digantikan oleh pemain muda seperti Rochi Putiray, dan Widodo C Putro. Menurut Polosin, saat itu, pemain muda Indonesia memiliki kemauan untuk berjuang bagi tim nasional.

“Yang dia butuhkan hanya pemain yang mau bekerja keras dan mengikuti program yang sudah dia buat. Dia tidak butuh pemain yang punya nama besar,” kata Sudirman.

Naik gunung hingga shadow football

Aji Santoso, mantan bek kiri yang memperkuat Skuad Garuda pada perhelatan Sea Games 1991 masih mengingat betul bagaimana kerasnya gaya melatih Polosin. Aji menyebutnya pelatihnya itu menerapkan gaya kepelatihan seperti layaknya Kopassus.

Pelatih Persebaya Surabaya ini bercerita bahwa gaya kepelatihan Polosin memang sangat keras. Apalagi saat itu, sepak bola memang mengandalkan fisik tidak seperti sekarang yang ada kombinasi dengan strategi.

Beberapa yang dirinya ingat adalah Polosin, kala itu menyuruh pemainnya lari di gunung untuk mempersiapkan fisik pemainnya. Intensitas latihannya juga meningkat tiap harinya.

“Hari pertama satu kali, hari kedua dua kali, lalu tiga kali. Jadi setelah itu lari di gunung tiga kali,” sambung Aji yang dikabarkan dari Youtube Mps Orts.

Memang bila umumnya latihan digelar pagi dan sore hari, maka Polosin menambah porsi menjadi tiga kali latihan setiap harinya. Ada pula kejadian konyol kala latihan dengan menaiki gunung, ketika itu pemain Timnsas, Kas Hartadi sampai menangis.

Bal-balan opo iki kok pakai naik gunung segala," kata Sudirman menirukan ucapan Kas Hartadi.

Naik gunung ternyata hanya menjadi segelintir cara Polosin menggembleng fisik anak-anak Garuda. Dirinya bahkan sempat menyuruh pemain Timnas untuk lari di jalan tol. Di lapangan, mereka diminta lari keliling hingga belasan kali.

Sejarah Hari Ini (29 November 1956) - Imbangi Uni Soviet, Timnas Indonesia Banjir Pujian

Ketika berlari mereka pun diperintahkan untuk menggendong rekan sesama timnya. Setelah selesai pemain tidak bisa langsung istirahat, masih ada sesi tambahan lari 15 menit. Hal ini demi mengubah mentalitas pemain timnas menjadi pemain yang berkarakter dan punya mental baja.

Polosin juga punya teknik latihan bernama Shadow Football. Menu latihan ini adalah meminta para pemain untuk bermain bola tanpa menggunakan bola. Walau sempat menuai pro dan kontra, metode pelatihan ini tetap dilakukan.

Ketika itu asistennya yaitu Vadimir Urin meminta para pemain setidaknya menyentuh bola sebanyak 150 kali selama 90 menit. Hal ini semata-mata agar semua pemain bisa lebih banyak terlibat dalam permainan di atas lapangan.

Tetapi tekanan tetap mengarah kepada Polosin setelah pada pertandingan uji coba, genjotan fisik yang dilakukannya tidak begitu terlihat. Bergantian timnas ketika itu kalah dari klub Austria, Cina U-23, Mesir, Korea Selatan, dan Malta.

Tetapi hasil uji coba ini tidak begitu penting karena yang utama adalah kiprah mereka di Sea Games nanti. Hasilnya perlahan-lahan, Hasil genjotan keras Polosin mulai terlihat.

Ketahanan fisik pemain meningkat dengan pesat. VO2Max mereka langsung setara dengan orang-orang Eropa. Bahkan beberapa dari pemain ini bisa berlari 4 kilometer hanya dalam waktu 15 menit.

Puncaknya tentunya pada ajang Sea Games 1991 di Manila. Skuad Garuda membabat habis semua lawan di babak grup dengan kemenangan. Dua lawan di semifinal dan final yaitu Singapura dan Thailand kalah melalui adu penalti.

Ketangguhan Garuda muda dalam pertandingan Sea Games

Timnas Indonesia tampil di SEA Games 1991 Filipina dengan memboyong 18 pemain. 18 nama pemain yang dibawa, ada 10 pemain muda yang memiliki masa depan cerah, mulai Sudirman, Rochy Putiray, Widodo Cahyono Putro, hingga Peri Sandria.

Sementara itu Polosin memadukan mereka dengan para pemain berpengalaman macam Robby Darwis, Hanafing, Eddy Harto, dan juga sang kapten, Ferril Raymond Hattu. Kombinasi pemain junior dan senior itu terbukti berjalan baik.

Dikabarkan dari Bola Skor, Timnas Indonesia tergabung di Grup B bersama Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Dari group ini Indonesia berhasil menyapu bersih dengan mengalahkan semua lawan.

Timnas Indonesia menang 2-0 atas Malaysia di laga perdana. Lalu menang 1-0 atas Vietnam. Kemudian, menang 2-1 atas tuan rumah Filipina.

Dengan kepercayaan diri tinggi, Indonesia lalu melangkah ke Semifinal melawan Singapura. Skuad Garuda kala itu menang melalui adu tendangan penalti atas Singapura dengan skor 4-2. Sebelumnya, kedua tim main imbang 0-0.

Walau berhasil menampilkan permainan menyakinkan, pesimis publik Indonesia tetap mengemuka bahwa Tim Merah Putih bisa mengulangi kegemilangan pada Sea Games 1987. Apalagi ketika itu tim Polosin lebih mengutamakan permainan fisik daripada cantik.

Sejarah Hari Ini (16 November 1956) - Timnas Indonesia Gilas Kesebelasan Olimpiade AS

Apalagi pada babak final, Indonesia harus bersua dengan Thailand yang berambisi merebut gelar keempat mereka. Tetapi mental yang telah ditempa dalam latihan sangat membantu para pemain menepis keraguan.

Di partai puncak yang mendebarkan tim nasional mampu mengimbangi permainan negeri gajah putih Thailand dalam interval waktu 2x45 plus 2x15 skor tidak berubah 0-0. Pertandingan pun akhirnya harus melalui babak adu pinalti.

Mental yang kuat terbukti memberikan perbedaan karena sebenarnya dalam drama adu penalti Timnas Indonesia nyaris menangis. Eksekutor pertama kedua tim, Raymond Hattu dan Attapon Busbakom menjalankan tugas dengan baik dan membuat skor menjadi 1-1.

Thailand lalu unggul 2-1 setelah tendangan Maman Suryaman mampu ditepis. Kedudukan berubah menjadi 3-2 untuk Thailand setelah eksekutor ketiga kedua tim sama-sama berhasil mengeksekusi penalti.

Yusuf Ekodono memberi napas kepada Tim Garuda setelah mengelabui kiper Thailand, Chaiyong. Kiper Eddy Harto menjadi penentu kebangkitan setelah menahan tembakan Suksok.

Kegagalan Widodo Cahyono Putro dan Ranachai Busbakom membobol gawang lawan memberi tambahan tekanan. Namun, Skuad Garuda berhasil membalikkan keadaan setelah sepakan Sudirman tak mampu dihalau kiper lawan.

Setelah itu, Eddy Harto yang waktu itu berusia 29 tahun memastikan skor 4-3 usai memblok eksekusi Pairot. Timnas Indonesia menang dan berpesta setelah memastikan medali emas kedua sepanjang sejarah partisipasi di pesta olahraga se-Asia Tenggara itu.

"Masih bisa saya rasakan bagaimana tegangnya kami waktu itu. Terpenting, Indonesia tak hanya bisa menang di Jakarta,” ujar Eddy Harto paparnya yang dinukil dari Bola.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini