PSSI Primavera, Hubungan Baik Indonesia dengan Italia dalam Sepak Bola

PSSI Primavera, Hubungan Baik Indonesia dengan Italia dalam Sepak Bola
info gambar utama

Tim Nasional (Timnas) sepak bola Italia menampilkan permainan yang mengejutkan dalam pagelaran Euro 2020. Timnas besutan Roberto Mancini ini berhasil menembus babak semi final, setelah mengalahkan salah satu favorit turnamen, Belgia.

Penampilan ini pun membayar lunas kegagalan tim berjuluk Gli Azzurri itu saat melaju dalam putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia. Hal ini juga memberi kebahagian bukan hanya kepada publik negeri pizza, namun juga dunia termasuk fans Italia di Indonesia.

Timnas Italia memang memiliki basis pendukung yang cukup besar di tanah air, sama seperti pendukung Belanda, Jerman, ataupun Inggris. Selain itu, keterkaitan antara Indonesia dengan Italia tidak hanya terjadi dalam urusan dukungan semata, tapi juga inspirasi.

Diketahui pada periode 1980-1990 an, kompetisi Serie A--liga utama sepak bola Italia--menjadi turnamen yang paling populer di dunia. Terlihat dari berkumpulnya semua bintang sepak bola dunia, seperti Diego Maradona, Marco Van Basten, Ruud Gullit, hingga Zinedine Zidane.

Ruud Gullit yang Berdarah Indonesia dan Fanatisme Masyarakat Ambon atas Timnas Belanda

Melihat hal itu, pada era 1990-an Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) sebagai otoritas tertinggi sepak bola tanah air mengadakan program untuk mengirim anak-anak muda berbakat Indonesia berlatih dan berkompetisi di Italia. Di negeri pizza, tim muda ini akan bertanding di kompetisi Primavera.

Kemudian, tim ini pun lebih dikenal dengan nama PSSI Primavera. Materi tim ini mayoritas berasal dari Diklat Ragunan Jakarta, kawah Chandradimuka pemain terbaik Indonesia yang masih sekolah. Timi ini juga disiapkan untuk tampil di Piala Asia U-19 1994 dan Kualifikasi Olimpiade Atlanta 1996.

Proyek yang didanai oleh pengusaha Nirwan Bakrie ini bekerja sama dengan Sampdoria, klub elit Italia saat itu. Melalui Sampdoria, tim muda Indonesia ini bisa bertanding di kompetisi Primavera musim 1993-1994.

Pada angkatan pertama, terdapat nama-nama seperti Kurnia Sandi dan Ari Supriarso (kiper), Gusnedi Adang, Anang Maruf, Eko Purjianto, Yeyen Tumena, Dwi Prio Utomo, Fauzi Irfan, Supriono (pemain belakang), Bima Sakti, Nurul Huda, Frido Yuwanto, Trimur Vedayanto, Deddy Umarella, Ismayana, Ilham Romadhona, Arisandi (gelandang tengah), Dian Irsandi, Ferry Taufik, Kurniawan Dwi Yulianto, Indriyanto Nugroho, Asep Dayat, dan Ilham Fahrezie, untuk mengisi lini depan.

Pada tahun berikutnya, pelatih PSSI Primavera, Romano Mette, yang didampingi Danurwindo mendatangkan pemain tambahan seperti Aples Tecuari, Alex Pulalo (belakang), Chris Yanggara (tengah) dan Andri Iswantoro (kiper).

Mengutip biografi Azwar Anas--Ketua Umum PSSI kala itu--''Teladan dari Ranah Minang'', proyek Primavera memakan dana sekitar Rp8 miliar yang digulirkan PSSI bersamaan dengan pendidikan calon pelatih ke Eropa. Bersama 22 pemain dari kelompok umur 17-21, tiga pelatih juga diberangkatkan.

Proyek tersebut dicetuskan bedasarkan rangkuman rekomendasi Franz Beckenbaur, tokoh sepak bola Jerman--pelatih Bayern Munich, yang diundang Azwar Anas ke tanah air.

"Sesuai rekomendasi Beckenbauer, beberapa langkah diambil PSSI untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia pertama mendatangkan instuktur untuk para pelatih, pelatihan wasit-wasit, mendidik calon timnas di Eropa, serta membentuk kesebelasan Primavera dan Baretti (kelompok umur 15-17 tahun) mereka dilatih di (akademi) klub Sampdoria," ungkap Abrar Yusra, penulis biografi Azwar Anas, mengutip Historia.

Pengalaman manis pahit anak muda Indonesia di sepak bola Italia

Timnas PSSI Primavera yang terdiri dari Yeyen dan kawan-kawan, lalu dikirim ke Genoa yang merupakan basis akademi sepak bola Sampdoria. Mereka diikutkan ke kompetisi Campionato Nazionale Primavera musim 1993-1994 guna memperebutkan Trofi Giancinto Facchetti. Kompetisi itu diselenggarakan oleh Lega Calcio dan berbasis tim-tim asal akademi klub Serie-A.

"Kita hadir di sana istilahnya dengan tim-tim pelapis Serie-A, sehingga pemain-pemain yang ada di Serie-A adalah pemain-pemain yang lahir di kompetisi Primavera. Semua pemain Serie-A pasti melewati fase bermain di Primavera. Alessandro Del Piero, misalnya. Setelah kita kalah lawan Juventus 3-0 di mana semua gol diciptakan dari dia, minggu depannya itu pertandingan terakhir dia untuk kemudian main di Serie-A," beber Yeyen.

Kompetisi Primavera, tambah Yeyen, juga merupakan kompetisi untuk pemain yang baru pulih dari cedera agar menjalani laga-laga percobaan sebelum comeback ke tim utama. Maka dari itu, dirinya sempat bermain dengan pemain kawakan macam Pietro Vierchowood hingga Ruud Gullit.

"Jadi kalau bicara masa itu, waktu kita lawan Sampdoria, di skuad Primavera-nya mereka ada (Pietro) Vierchowod, (Ruud) Gullit, (Roberto) Mancini. Kurniawan (Dwi Yulianto) saat itu memang bisa bikin gol. Tetapi yang masuk koran bukan Kurniawan. Justru saya, karena saya jaga Ruud Gullit saat itu," kenang Yeyen.

5 Tokoh Bangsa dengan Sepak Bola, dari Hobi Masa Kecil hingga Alat Perjuangan

Hal senada diungkapkan oleh bomber timnas PSSI Primavera, Kurniawan Dwi Yulianto, yang tidak pernah melupakan kenangan di Sampdoria. Apalagi bisa bermain satu lapangan dengan bintang-bintang dunia seperti Roberto Mancini dan Ruud Gullit.

"Saya bisa berlatih bersama Mancini, David Platt, Ruud Gullit, Attilio Lombardo, dan lain-lain. Ikut latihan saja saya sudah bersyukur. Dari situ saya mulai memantapkan diri untuk ini kesempatan yang jarang terjadi. Saya tak mau menyia-nyiakan," tutur bomber berjuluk 'si kurus' ini.

Meski mengaku minder, beberapa punggawa timnas muda ini mencoba untuk berbaur dengan bintang-bintang tersebut. Ternyata para pemain Sampdoria itu cukup menyambut baik para anak muda itu. Rupanya karakter orang Italia atau Eropa pada umumnya mudah akrab bila bertemu dengan kawan baru yang "bawel" alias senang bicara.

"Roberto Mancini dan pemain Sampdoria lain sangat ramah asalkan kita sendiri aktif mengajak mereka ngobol. Mereka bahkan banyak bertanya tentang Indonesia kepada saya karena penasaran," ungkap Kurnia Sandi, mantan kiper andalan Timnas Indonesia.

Tidak hanya manis, para punggawa timnas ini juga sering mengalami homesick dan kangen dengan masakan Indonesia. Karena itu mereka harus melakukan kegiatan untuk mengatasi hal tersebut dengan berkeliling kota sehabis latihan.

"Sampai kita dikejar-kejar polisi hutan. Di sana yang boleh mancing itu yang punya kartu izin. Kita sempat mancing ketahuan sama polisi hutan dikejar kita. Kabur semua," cerita Alexander Pulalo.

"Sukanya saat rame-rame menikmati masakan Indonesia. Dukanya kalau tiba-tiba ingat keluarga di tanah air. Rasanya ingin pulang," tambahnya.

Sementara itu, Danurwindo yang berperan sebagai asisten pelatih timnas Indonesia Primavera juga menyatakan sulitnya beradaptasi di kompetisi luar negeri.

"Dulu sulit sekali beradaptasi dengan sepak bola Italia, tetapi lama kelamaan Italia seperti rumah kedua bagi tim Indonesia," ungkapnya.

Selama berbulan-bulan menimba ilmu di Italia, timnas U-19 dianggap matang dan siap tampil di ajang yang sebenarnya. Mette, pelatih PSSI Primavera pun mengapresiasi para pemain muda Indonesia yang saat itu berkompetisi di Italia.

"Orang-orang yang datang ke sini (para pemain muda Indonesia) luar biasa. Kami tampil luar biasa di (kompetisi) Primavera. Lalu, saya dipanggil ke Indonesia untuk menangani timnas U-18, lalu U-21, dan kualifikasi Olimpiade," sambung pelatih yang pernah menangani klub Livorno tersebut.

Kiprah punggawa Primavera pasca latihan di Italia

Putaran final Piala Asia U-19 1994 merupakan ajang perdana tim ini dengan kostum merah putih. Bima Sakti dan kawan-kawan tergabung di Grup A bersama Qatar, Suriah Kazakhstan, dan Irak. Meski berlaga di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, PSSI Primavera gagal melangkah ke semifinal.

Mengawali pertarungan melawan Qatar, Indonesia hanya bisa bermain imbang 1-1. Selanjutnya, pada laga kedua, garuda muda dibantai Suriah 0-4.

Sempat menang 3-0 atas Kazakhstan, Indonesia justru bermain imbang tanpa gol melawan Irak di partai terakhir. Mimpi ke Piala Dunia U-20 akhirnya pupus karena Suriah dan Jepang yang akhirnya menjadi wakil AFC, sementara Qatar menjadi tuan rumah dadakan.

Tersingkir menyakitkan dari Piala Asia U-19 tidak membuat PSSI berniat membubarkan tim Primavera. Justru, mereka diminta terjun ke Kualifikasi Olimpiade 1996. Pada ajang ini, Indonesia gagal penuhi ekspektasi setelah tersingkir di putaran awal.

Garuda muda dikalahkan Korea Selatan (Korsel) 1-2 dan 0-1 dalam dua laga kandang dan tandang. Meski kemudian dua kali mengalahkan Hongkong, Indonesia tetap tidak lolos ke putaran kedua. Meski gagal, penampilan PSSI Primavera yang mayoritas masih berusia 19 tahun tetap mendapat apresiasi.

Saat itu, Korsel memang lebih matang dengan materi pemain berusia 21-22 tahun. Usai laga itu, enam pemain mereka--termasuk kiper Lee Won-Jae--masuk skuat tim senior Korsel yang berhasil menembus semifinal Piala Dunia 2002.

Setelah Pra-Olimpiade, PSSI Primavera diganti dengan juniornya dengan nama baru, PSSI Baretti. Akan tetapi, program tersebut dibubarkan dan tidak sesukses Primavera serta hanya segelintir pesepak bola Indonesia yang menjadi bintang lapangan hijau tanah air.

Sementara itu, ditempa selama dua tahun dalam program Primavera, membuat para punggawa muda ini kuat secara mental dan fisik. Bergantian beberapa dari mereka masuk dalam panggilan timnas Indonesia senior.

Sejarah Hari Ini (14 Juni 1987) - Ruud Gullit Kesal PSV Ditahan Imbang Timnas Indonesia

Kurniawan dianggap paling terdepan dalam pencapaian secara personal. Striker asal Magelang ini bahkan pernah ikut dalam tur pra musim Sampdoria di wilayah Asia. Hal ini didapatkan karena si kurus masuk dalam jajaran top scorer kompetisi Primavera musim 1993-1994.

Atas rekomendasi Sampdoria, Kurniawan bisa berkompetisi tertinggi di Swiss, bersama Lucern FC. Di timnas, Kurniawan tercatat 60 kali berkostum Merah Putih pada berbagai ajang. Dirinya bahkan pernah menjadi pencetak gol terbanyak untuk timnas dengan koleksi 31 gol, sebelum kemudian dipecahkan oleh Bambang Pamungkas.

Sementara Kurnia Sandy, hampir masuk dalam line-up Sampdoria saat kiper utama mereka, Fabrizio Ferron, tak bisa tampil karena sanksi kartu merah. Sayang impian Sandy tidak terwujud karena terkendala administrasi.

Di timnas, Sandy tetap menjadi andalan sebelum cedera pada Piala Asia 1996. Saat itu dirinya tampil gemilang melawan Kuwait. Namun harus ditarik keluar setelah hidungnya patah berbenturan dengan pemain Kuwait. Setelah itu, posisinya diganti oleh Hendro Kartiko yang kemudian menjadi kiper utama timnas.

Pengalaman lain didapat oleh Bima Sakti yang mendapat kesempatan bergabung di Helsinbrog, klub Asal Swedia. Bima terpilih setelah menjalani trial bersama rekannya di PSSI Primavera, Supriono, Anang Maruf, Indriyanto Nugroho, dan Eko Purjianto.

Tapi dirinya tidak pernah mendapat kesempatan pada kompetisi resmi. Di timnas, Bima yang berposisi gelandang menjadi kapten timnas Indonesia, tercatat 58 kali tampil dengan lesakan 12 gol. Tapi cedera pada laga bersama PSM Makassar di Piala Ho Chi Minh pada 2002, kemudian menghambat karirinya. Setelah pensiun baik Kurniawan, Sandy, dan Bima, telah menjadi pelatih bagi timnya masing-masing.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini