Bangunan-Bangunan Karya Soekarno di Bandung yang Berakhir Tragis

Bangunan-Bangunan Karya Soekarno di Bandung yang Berakhir Tragis
info gambar utama

Sebagai seorang insinyur muda, Soekarno sebenarnya bisa menjalani hidup yang tenang. Begitu menyelesaikan pendidikan di Technische Hoogeschool --kini Institut Teknologi Bandung (ITB)-- dia pernah ditawari bekerja di Bugerlijk Openbare Werken/BOW atau Departemen Pekerjaan Umum sekarang.

Tawaran itu sebenarnya bisa membuka karier dirinya sebagai perancang bangunan. Setidaknya akan membuat ekonomi keluarganya lebih terjamin. Tetapi saat itu Bung Karno menolak.

"Dirinya tetap tidak mau mengkhianati prinsip dan perjuangannya. Sebuah sikap yang sangat jarang dimiliki oleh para elite politik sekarang," tulis Her Suganda dalam buku Jejak Soekarno di Bandung (1921-1934).

Pada 26 Juli 1926, Bung Karno bersama dengan teman seangkatannya di TH Bandung Ir Anwari lalu mendirikan biro arsiteknya sendiri. Kantornya terletak di sebelah barat alun-alun, tidak jauh dari Masjid Agung.

Walau nama Bung Karno telah tersohor di Kota Bandung, tetap saja tidak menjamin biro arsiteknya menjadi ramai pemesan. Selain kantornya tidak menyakinkan, keduanya juga belum memiliki pengalaman dalam membangun gedung-gedung modern.

Apalagi jika harus berhadapan dengan para perancang bangunan lulusan Universitas Delf, Negeri Belanda. Bahkan sebelum Bung Karno menjadi mahasiswa TH Bandung, para arsitek dari Belanda ini telah terlibat dalam proyek di Kota Bandung.

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Kota Bandung, sejak tahun 1920 memang telah direncanakan untuk menjadi pusat pemerintah Hindia Belanda. Pembangunan kawasan pusat pemerintah sipil ini dikerjakan oleh sebuah tim yang dipimpin oleh Kolonel V.L Slor.

Seperti pepatah "ada gula ada semut", rencana ini mengundang banyak arsitek ke Kota Bandung. Bandung pun menjadi kancah pertarungan para arsitek.

Misalnya saja Maclaine Pont yang merancang kampus TH Bandung, lalu Richard Leonard Arnold (RLH) Schoemaker yang merancang pembangunan gedung militer Archipelburt. Menyusul kemudian saudaranya, Ir Charles Prosper (CP) Wolff Schoemaker seorang Guru Besar Arsitektur di TH Bandung.

Suganda mencatat, hingga jatuhnya pemerintah Hindia Belanda kepada Jepang, di Kota Bandung ada 20 arsitek kondang tamatan Universitas Delf yang memberi warna dan mengubah kota ini.

Maka bisa dibayangkan bagaimana nasib biro arsitek yang digawangi dua pemuda, Soekarno dan Anwari, apalagi keduanya tidak fokus pada kegiatan usahanya.

Minat dan perhatian Bung Karno dan Anwari sama-sama lebih tertarik pada politik. Sehingga rumah yang dijadikan kantor, lebih banyak dijadikan tempat pertemuan atau berdiskusi, dibanding menjadi tempat kegiatan usaha.

"Akibatnya, nasib kegiatan biro arsitek yang didirikan bersama itu tidak berumur panjang," catat Suganda.

Pertarungan semut melawan gajah

Selepas menjalani hukuman dari Penjara Sukamiskin, Soekarno kembali mendirikan biro arsitek bersama dengan Ir. Rooseno. Dengan teman yang satu ini, Bung Karno terlihat optimis walau terentang jarak usia dan pengalaman.

Bung Karno lulus 1926, sedangkan Rooseno lulus 1932. Akan tetapi Rooseno lebih terlihat professional dalam bekerja sehingga sering mendapat proyek di sekitar Stasiun Bandung, Papandayanweg--kini Jalan Jenderal Gatot Subroto--dan Jalan Suniarja.

"Setiap bulan Bung Karno datang menagih bagiannya. Dan tanpa banyak bicara, Rooseno segera menjawab: Bagian Bung 15 rupiah."

Tetapi dalam beberapa waktu usahanya tidak mendapatkan uang. Padahal untuk sewa kantor dan biaya telepon setiap bulan sebesar 27,5 rupiah.

Beberapa kali Rooseno perlu menambal dengan uangnya, memang dirinya juga bekerja sebagai guru sehingga kantongnya lebih tebal dibandingkan dengan Bung Karno.

Biro Arsitek yang dikelola keduanya memang sedari awal sudah sadar dengan ketatnya persaingan dan tantangan. Nasib Bung Karno dan Rooseno sebagai arsitek pribumi layaknya pertarungan semut melawan gajah.

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

Wolff Schoemaker yang merupakan guru dari Soekarno sebenarnya bisa saja menolong, apalagi banyaknya pekerjaan yang dirinya tangani. Tetapi sejak lama antara guru dan murid ini telah memiliki perbedaan akan pandangan.

Bung Karno adalah seorang nasionalis, sedangkan Schoemaker seorang Belanda. Sebagaimana orang Belanda, tentunya hatinya akan terpaut dengan negeri asal mula para leluhurnya.

Schoemaker juga beberapa kali mengkritik Soekarno. Padahal Bung Karno sering membantu merancang beberapa bangunan. Misal pada tahun 1929, Bung Karno merancang paviliun Hotel Preanger yang terletak di sudut Jalan Naripan dan Jalan Tamblong. Satu lagi adalah bangunan penjara Sukamiskin.

Dalam catatan Cindy Adams, satu-satunya proyek yang dikerjakan Soekarno bersama pemerintah kolonial Belanda adalah bangunan tambahan pendopo Kabupaten Bandung yang terletak di selatan alun-alun.

Alhasil karena menghadapi kesulitan politis, Biro Arsitek yang dikelola keduanya tidak bisa berkembang. Para pengusaha Belanda dan Tionghoa lebih memilih perancang bangunan dari sebangsa mereka.

"Sangat boleh jadi mereka takut menghadapi kesulitan jika berhubungan dengan Bung Karno. Mereka takut bahwa hubungan pekerjaan itu memiliki kaitan dengan kegiatan politik Bung Karno yang non-koperatif dengan pemerintah Kolonial Belanda," papar Suganda.

Bangunan karya Bung Karno yang tidak tersisa

Bung Karno tercatat dua kali terjun dalam kegiatan perencanaan bangunan, tetapi karyanya sulit ditemukan bahkan tidak ada catatan memadai mengenai hal ini.

Karya bangunan dari Bung Karno memang bisa dihitung dari jari sepasang tangan. Dari sedikit karyanya ada bangunan paviliun Hotel Preanger dan bangunan tambahan pendopo Kabupaten Bandung, dan sembilan lainnya.

Bangunan karya Bung Karno lainnya adalah:

  1. Deretan rumah tinggal di Jalan Kasim nomor 6,8,10
  2. Bangunan rumah tinggal di Jalan Kaca-kaca wetan nomor 8
  3. Bangunan rumah tinggal di Jalan Dewi Sartika nomor 107
  4. Bangunan rumah tinggal di Jalan pungkur (kini jalan A Muis) nomor 196
  5. Bangunan rumah tinggal di Jalan Palasari nomor 5
  6. Bangunan rumah tinggal di Jalan Pasir Koja nomor 25
  7. Bangunan rumah tinggal di Jalan Gatot Subroto nomor 17
  8. Bangunan masjid di deket viaduk
  9. Sepasang bangunan di Jalan Gatot Subroto nomor 54 dan 56

Bung Karno mengaku juga pernah dipercaya menjadi arsitek untuk membangun Bank Sudara di Jalan Daem Kaum nomor 5. Bangunan ini kini telah diganti dengan bangunan yang lebih modern.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

Dicatat oleh dosen arsitektur ITB, Indah Widiastuti di antara bangunan karya Soekarno yang masih utuh ada di Jalan Gatot Subroto nomor 54 dan 56. Sepasang bangunan ini dianggap unik karena mengapit Jalan Malabar.

"Kedua bangunan tersebut merupakan gerbang kawasan, sekaligus menunjukan integrasi desain bangunan dengan lanskap ruang kota," beber Suganda.

Namun, Suganda menyayangkan banyak bangunan karya Bung Karno yang telah berubah, bahkan rata dengan tanah. Selain bangunan Bank Sudara, bangunan rumah tinggal di Jalan Pungkur nomor 196, sejak tahun 2012 sudah menjadi ruang pamer mobil.

Memang bangunan karya Bung Karno tergolong kecil dibandingkan karya-karya para perancang bangunan berkebangsaan Belanda. Tetapi hal itu sepatutnya tidak boleh diabaikan.

Karena dari sisi perjuangan Kemerdekaan Indonesia, bangunan ini merupakan saksi perjalanan perjuangan Bung Karno di Kota Bandung. Sebuah napak tilas dari eksistensi perjuangannya untuk mencapai kemerdekaan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini