Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi
info gambar utama

Masa-masa kecil Soekarno dilalui dengan keprihatinan, dirinya dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan. Dia pernah menceritakan kesedihannya tidak bisa bermain petasan pada malam takbiran.

Di malam Lebaran itu, Soekarno berbaring seorang diri dalam kamar tidur yang kecil, hanya cukup satu orang. Dengan hati yang gundah, Putra Sang Fajar, julukannya mengintip keluar melalui lubang kecil pada dinding bambu.

Pada momen itu, Bung Karno merasa dirinya sangat malang dan hatinya serasa akan pecah. Pasalnya di sekelilingnya terdapat bunyi petasan berletusan di sela sorai-sorai kawan-kawannya yang kegirangan.

"Betapa hancur, luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawan dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu, dan aku tidak!" Keluh Bung Karno yang terekam dalam otobiografinya karya Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

Karena tidak memiliki uang, Soekarno kecil mencari segala permainan yang tentunya tidak harus mengeluarkan biaya. Salah satu permainan yang dirinya temukan adalah memanjat pohon.

Dalam buku itu, dirinya mengaku pernah memanjat pohon jambu di perkarangan rumahnya. Saat sedang memanjat, dia pun menjatuhkan sarang burung milik ayahnya, walhasil dipukulah pantatnya dengan rotan.

Soekarno memang memiliki hubungan baik dengan alam selain sungai yang dirinya sebut "kawanku". Dirinya dan kawan-kawannya sangat senang melihat pohon tumbuh.

Dekat rumahnya pernah tumbuh sebatang pohon dengan daun yang lebar. Daun itu ujungnya kecil, lalu mengembang lebar di pangkalnya dan tangkainya panjang seperti dayung.

Terkadang saat daun itu gugur, itulah momen yang paling menggembirakan bagi Soekarno dan kawan-kawannya. Karena dari daun itu mereka bisa bermain sado-sadoan.

Pada bagian tengah mereka jadikan kereta sado yang mengangkat penumpang, pada ujungnya ditarik oleh seseorang yang memerankan sebagai kuda. Sementara itu, tidak seperti kawan yang lain, Soekarno lebih sering menjadi kuda ataupun kusir.

Soekarno, Pancasila dan pohon sukun

Sejak 9 Desember 1930, Bung Karno menghabiskan hari-harinya di Lapas Sukamiskin. Setelah bebas pada 31 Desember 1931, dirinya langsung menjalani pembuangan di Ende, Flores.

Di sini, Soekarno merasa terasing, selain tidak memiliki pekerjaan, diirinya pun jauh dari teman-teman seperjuangan. Tetapi di Endeh, di tempat yang begitu membosankan baginya itu, Bung Karno punya banyak waktu untuk berpikir.

Sebuah pohon kluwih yang tumbuh di depan rumahnya, menjadi saksi Bung Karno merenung berjam-jam tentang kondisi negerinya. Selain kluwih, pohon sukun juga menjadi pelarian bagi dirinya.

Bung Karno sering memandang pohon itu dan sekilas membayangkan pekerjaan Trimurti dalam agama Hindu. Dirinya melihat Dewa Brahma dalam tunas yang berkecambah di kulit kayu yang keabu-abuan.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

Lalu melihat Dewa Syiwa dalam dahan-dahan mati yang gugur. Sementara Dewa Wisnu dalam buah yang lonjong berwarna hijau.

Saat bersandar pada pohon sukun yang bercabang lima, sembari memandang indah pemandangan teluk. Konon Soekarno mendapat inspirasi untuk mensintesiskan nilai-nilai leluhur ke dalam lima sila (Pancasila).

"...Di sana (di bawah pohon sukun), dengan pemandangan ke laut lepas tiada yang menghalangi, dengan laut biru yang tidak ada batasnya dan mega putih yang menggelembung dan di mana sesekali seekor kambing yang sedang berpetualang lewat sendirian, di sana itulah aku duduk melamun jam demi jam," cerita Soekarno.

Soekarno dan diplomasi pohon

Pada tahun 1960, Raja Bhumibol didampingi Ratu Sirikit atas undangan Presiden Soekarno pernah berkunjung ke Indonesia, salah satu kota yang pernah dikunjunginya adalah Bali dan Magelang, Jawa Tengah.

Melansir dari Komunitas Historia Indonesia, Senin (22/11/2021) ada kejadian unik saat iring-iringan mobil pengawal kepresidenan memasuki kawasan Desa Menoreh menuju Candi Borobudur. Saat itu Raja Bhumibol sangat terpesona dengan pohon besar bejejer di sepanjang jalan utama.

Diceritakan, pohon itu begitu rindang, besar namun tertata dengan rapi berjarak 10 meter antar pohon. Sementara itu, suasana pun sangat sejuk apalagi hembusan udara menerpa wajah ketika raja yang dijuluki Rama IX ini membuka jendela mobil.

Dari dalam mobil Cadillac 48, mobil kenegaraan presiden Soekarno, Rama IX kemudian bertanya tentang pohon tersebut. Dirinya pun meminta izin agar rombongan bisa berhenti agar dirinya bisa menikmati rindangnya pohon-pohon itu.

Melihat Sisi Soekarno yang Mencintai Dunia Lukisan

Soekarno yang tadinya mengantuk langsung terperanjat, lantas meminta sopir agar berhenti di bawah pohon besar yang ternyata adalah pohon asam jawa. Setelah berhenti selama 15 menit, Raja Rama IX lalu memetik buah pohon asam tersebut dan mencoba untuk memakannya.

Dirinya malah ketagihan, maklum karena di tempatnya tidak ada pohon seperti itu. Soekarno pun memiliki ide, dirinya memintahkan ajudannya untuk mengumpulkan bibit pohon asam jawa yang ada di sekitar Magelang dan Purworejo.

Dalam hitungan jam terkumpulah 1.000 bibit pohon asam jawa asli dari Purworejo dan Magelang. Soekarno lalu menghadiahkan bibit itu kepada Raja Rama IX lalu memintanya menanam di negaranya sendiri, sebagai wujud dan tanda persahabatan dua negara.

Soekarno dan pohon keabadian

Dikabarkan oleh Historia, Bung Karno memang sangat menyukai tanaman, hal ini diakui oleh mantan wakil komandan Resimen Tjakrabirawa Maulwi Saelan. Menurut Maulwi, untuk mengisi waktu senggang selain membaca dan bercengkrama, Bung Karno suka berkebun.

Di berbagai tempat, Soekarno biasa menyempatkan menanam sebuah pohon. Di Berastagi, saat dirinya dibuang ketika agresi militer kedua, Bung Karno pernah menaman pohon beringin di perkarangan rumah yang menjadi tempat penahanannya.

Pada 1960, dirinya juga menanam pohon beringin di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pohon ini sekarang dikenal dengan nama Beringin Soekarno.

Pada 3 April 1961, di kampus Institute Pertanian Bogor (IPB), Soekarno menaman pohon tusam pinus merkusii. Hingga kini pohon anggota famili Pinaceae berumur setengah abad ini masih berdiri tegak.

Tentunya yang paling fenomenal adalah saat Soekarno melalukan ibadah haji pada 1955. Dirinya membawa banyak bibit pohon mimba dan juga beberapa ahli untuk mengurusnya.

Bibit-bibit itu lalu ditanam di Padang Arafah, dan pada gilirannya menghijaukan padang gersang. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa baik ini, Kerajaan Saudi pun menyebutnya dengan nama Syajarah Soekarno atau Pohon Soekarno.

Mengenang 3 Sosok Orator Ulung Pejuang Kemerdekaan

Maulwi menyatakan Bung Karno juga sering menanam pohon di Istana Negara, beberapa pohon beringin yang ditanamnya masih ada. Bung Karno pun sering berkeliling taman-taman Istana untuk memperhatikan pohon.

Bila ada pohon yang telantar dan rusak, Bung Karno akan sangat marah. Biasanya Soekarno akan segera memanggil tukang kebun untuk merawat pohon tersebut, selain itu bertanya alasan mengapa pohon ini bisa rusak.

Kecintaan Soekarno kepada pohon membuatnya bercita-cita di makamkan di tempat yang teduh oleh pepohonan. Dirinya hanya ingin di makamkan secara sederhana, terlihat tenang, dekat dengan alam dan masyarakat.

“Aku mendambakan bernaung di bawah pohon yang rindang, dikelilingi oleh alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus…Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen.” ujar Soekarno berwasiat.

Tetapi rezim Orde Baru dengan alasan politik tidak memakamkan Soekarno sesuai dengan tempat yang diinginkannya itu, tetapi di Blitar.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini