Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi
info gambar utama

Jalan Casablanca sudah sangat populer bagi masyarakat Jakarta. Jalan ini sekarang bisa menyambungkan para pengendara menuju perempatan Roxy pada bagian barat sedangkan Pondok Kelapa pada bagian timur.

Jalan ini mulai diresmikan penggunaannya pada tahun pertengahan 1996/1997. Hal yang menarik adalah nama jalan ini mengambil nama salah satu kota besar di Maroko, Kota Casablanca.

Memang sejak tahun 90 an, pemerintah DKI Jakarta bekerjasama dengan Maroko dalam hal sister city. Sedangkan di Maroko sekarang juga terdapat jalan Jakarta.

Sebenarnya budaya berbalas nama antara Indonesia-Maroko bukanlah hal yang baru. Di Ibu Kota Rabat, Maroko terdapat satu nama jalan bernama Soekarno.

Nama yang tertera di papan petunjuk jalan adalah Rue Soukarno. Jalan ini merupakan penghubung ibu kota yang diresmikan oleh Sang Proklamator RI sendiri pada tahun 1960.

Ini Dia Bapak Bangsa yang Dikenal di Somalia!

Memang hubungan antara Indonesia-Maroko telah merentang jauh. Bahkan kisahnya sudah dimulai sebelum nama Indonesia tercatat dalam peta dunia.

Pada tahun 1345 Masehi, seorang ulama dan penjelajah Maroko Ibnu Batutta mendarat di Aceh. Tersohornya nama Ibnu Batutta menjadikan masyarakat Maroko sudah mengenal Indonesia, khususnya Sumatra saat itu.

Apalagi saat itu Ibnu Batutta menceritakan bagaimana keindahan pulau yang didatanginya. Menurut Batutta, terdapat beragam tanaman yang tumbuh di tanah subur ini.

"....Sebenarnya kami sudah melihat pulau tersebut ketika perjalanan ke sana masih setengah hari lagi. Pulau ini hijau dan subur; jenis-jenis pohon yang paling sering ditemui di sini adalah kelapa, pinang, cengkeh, gaharu India, nangka, mangga, jambu, sitrus, dan kapur barus," catat Ibnu Batutta yang diambil dari buku Sumatera Tempo Doeloe karya Anthony Reid.

Indonesia dalam kemerdekaan Maroko.

Hubungan antara Indonesia-Maroko kembali menguat setelah Indonesia menjadi negara yang mendukung kemerdekaan bangsa Afrika. Hal ini setelah pemimpin perjuangan kemerdekaan Tunisia, Habib Bourguiba, datang ke Jakarta pada 1951 untuk meminta dukungan Pemerintah Indonesia.

Seperti ditulis Historia, setelahnya Indonesia melakukan kunjungan ke Mesir untuk membahas kemerdekaan tiga bangsa Afrika yaitu Tunisia, Aljazair, dan Maroko. Saat itu delegasinya dipimpin oleh Perdana Menteri Muhammad Natsir.

Tim ini kemudian membentuk Panitia Pembantu Perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara. Diketuai oleh Natsir, sekretaris jenderal Hamid Algadri, bendahara IJ Kasimo, anggota A.M. Tambunan dan Arudji Kartawinata.

Pada 1956, Indonesia kemudian menjadi negara pertama yang memberikan pengakuan atas kemerdekaan negara yang beribukota Rabat itu. Setelah Prancis resmi meninggalkan wilayah negara yang menganut sistem monarki konstitusional itu.

Melihat Sisi Soekarno yang Mencintai Dunia Lukisan

Namun tahun sebelumnya pada Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955, Indonesia juga telah mendorong negara yang memiliki dua pegunungan terkenal, yaitu Pegunungan Atlas dan Pegunungan Rif, itu untuk mencapai kemerdekaannya.

Saat itu memang Presiden Soekarno nekat untuk mengundang para pejuang kemerdekaan Maroko. Sebuah tindakan yang dianggap tidak populer dalam tatanan diplomasi politik pada era 1950 an.

Saat itu perwakilan pejuang kemerdekaan ini nekat mengibarkan bendera Maroko dalam forum resmi internasional tersebut. Tidak salah jika Ruslan Abdulgani pernah menulis bahwa Bandung sudah menjadi pusat koneksi antara rakyat Asia dan Afrika dalam menyusun kesetiakawanan.

"...Utusan dari pejuang-pejuang Asia Afrika hadir di kota ini, yaitu utusan-utusan yang dapat meloloskan diri dari kepungan dan belenggu penjajahan di Afrika Selatan dan Afrika Tengah, pelarian-pelarian politik dari Aljazair, Maroko, Tunisia, pejuang-pejuang dari Palestina serta kaum intelek dari Malaya yang pada waktu itu belum merdeka," catatnya dalam buku Bandung Connection.

Banyak negara barat yang mengkritik tindakan Soekarno yang menyalahi aturan. Tetapi sebaliknya gerakan ini malah menginspirasi masyarakat Maroko untuk mendeklarasikan secara resmi kemerdekaannya.

Kunjungan Soekarno ke Maroko

Setelah Maroko merdeka, Indonesia kembali melanjutkan dukungan diplomatiknya dengan mengutus Mohammad Natsir Datoek Pamoentjak yang menjabat sebagai Duta Besar RI di Manila pada masa itu untuk menyerahkan surat kredensial kepada Mohammed V selaku raja Maroko.

Dua minggu setelah penyerahan surat itu, pada hari senin 2 Mei 1960 Soekarno mengunjungi Maroko atas undangan Mohammed V. Presiden Soekarno tercatat sebagai kepala negara pertama dari negeri asing yang mengunjungi Maroko.

Masih dijelaskan Historia, saat itu Soekarno dan rombongan tiba di Bandara Sale, Maroko, pukul 2.40 siang tanggal 2 Mei 1960. Mereka langsung disambut oleh Raja Maroko Mohammed V dan beberapa anggota kerajaan serta pejabat pemerintahan.

Saat itu pasukan berkuda dari suku Berber dikerahkan di dekat bandara. Ada serimonial penembakan bedil sebagai tanda bahagia. Sementara rakyat menyambut para rombongan sepanjang jalan jalan dari bandara sampai kota Rabat.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

“Membuka iringan ialah sedan dengan kap terbuka dengan Presiden Soekarno dan Raja Mohammed V berdiri dan melambaikan tangan membalas sambutan rakyat,” kata H. Imrad Idris dalam Liku-Liku Kehidupan Seorang Diplomat.

Soekarno juga sempat menyicipi buah korma dan susu. Banyak rakyat Maroko yang mengelu-elukan nama Soekarno dan Mohammed V. Selain itu kedatangan Bung Karno kali ini juga untuk meresmikan nama jalan atas namanya.

Sebelum kedatangan Bung Karno, telah ada sebuah jalan di Kota Rabat yang diganti dengan nama zankat Jakarta. Selain itu di Kota Casablanca sudah ada sebuah bunderan yang diberi nama rondpoint de Bandung.

Raja Mohammed V menganugerahkan Bintang Mahkota (Orde du Trone) kepada Soekarno. Sebaliknya Soekarno menganugerahkan Bintang Sakti kepada Raja Mohammed V.

Saat itu Raja Mohammed V juga memberikan hadiah kepada Presiden Soekarno berupa pembebasan visa bagi warga Indonesia yang ingin berkunjung ke Maroko.

“Sampai sekarang warga Indonesia yang berkunjung ke Maroko dibebaskan dari visa selama tiga bulan. Ini merupakan bukti kedekatan hubungan antara Maroko dengan Indonesia yang telah terjalin sejak lama,” kata Tanti Widyastuti, Minister Consuler Pelaksana Fungsi Ekonomi KBRI Rabat, mengutip Kabar24.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini