Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno
info gambar utama

Soekarno sangat menyanjung peran sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai (1881-1958). Baginya peran ibunya begitu lengkap, dari seorang pendidik yang tegas dan disegani, bisa juga menjadi pribadi yang lembut dan hangat.

Selain itu sejak kecil, Bung Karno telah mendapat pendidikan tentang keberagaman. Hal ini karena keberanian ibunya untuk mendobrak tradisi dengan menikahi ayah Soekarno yang berasal dari Jawa. Pada masa itu, masih jarang seorang wanita Bali menikahi orang dari luar daerahnya.

Melihat Sisi Soekarno yang Mencintai Dunia Lukisan

"Semboyan negeri kami Bhineka Tunggal Ika: Berbeda-beda tetapi satu jua. Kembali kepada kisah bapakku, betapa sukarnya situasi ketika dia hendak mengawini ibu. Terutama karena dia resminya seorang Islam, sekalipun dia menjalankan Theosofi. Untuk kawin secara Islam, maka ibu harus menganut agama Islam terlebih dulu. Satu satunya jalan bagi mereka ialah kawin lari. Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus mengikuti tata cara tertentu," ucap Bung Karno dikutip oleh Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).

Ida Ayu Nyoman Rai, pendidik awal Bung Karno

Ida Ayu Nyoman Rai lahir sekitar tahun 1881 sebagai anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran. Sewaktu kecil orang tuanya memberi nama panggilan Srimben, yang mengandung arti limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.

Semasa remaja di Banjar Bale Agung, Nyoman Rai Srimben bersahabat dengan Made Lastri yang kemudian mengenalkannya dengan seorang guru Jawa pendatang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo.

"R. Soekemi akhirnya berhasil membawa lari Nyoman Rai Srimben untuk bersatu menempuh hidup baru dengan perjuangan yang hampir melewati pertumpahan darah," catat Nurinwa Ki S. Hendrowinoto dalam Ibu Indonesia dalam Kenangan.

Pengadilan adat kemudian memutuskan, gelar kebangsawanan Nyoman Rai dicabut. Dia juga tidak diperkenankan membawa barang dari rumahnya. Bahkan baju yang dibeli oleh kedua orangtuanya. Kedua pasangan ini kemudian resmi menikah pada tanggal 15 Juni 1887.

Putri pertamanya, Raden Soekarmini (kelak dikenal sebagai Bu Wardoyo) lahir pada tanggal 29 Maret 1898 dan kemudian berpindah ke Surabaya. Di Surabaya inilah--pada tanggal 6 Juni 1901--Nyoman Rai Srimben melahirkan Putra Sang Fajar atau Soekarno di sebuah rumah sederhana di sekitar Makam Belanda kampong Pandean III Surabaya.

Tidak Banyak yang Tahu, Ini Kota Kelahiran Bung Karno

Saat itu ayah Soekarno bahkan tidak mampu memanggil dukun beranak. Persalinan kemudian dibantu oleh seorang kawan keluarga, seorang kakek tua. Tetapi saat itu, Nyoman Rai punya firasat baik kepada si bayi. Di depan rumah mereka sambil mendekap bayinya, dia mengucapkan gerak hatinya.

"Engkau akan menjadi pemimpin rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing. Jangan lupakan itu, Nak, bahwa Engkau ini Putra Sang Fajar," ditulis dalam buku Seri Bapak Bangsa: Sukarno terbitan Tempo Publishing.

Menukil dari VOI, Nyoman Rai Srimben mendidik kedua anaknya dengan bekal spiritual Hindu seperti yang pernah dipelajarinya. Sejak kecil Soekarno sering mendengar cerita dongeng.

Soekarno kala itu mendapatkan asupan cerita-cerita bermutu seperti di televisi atau cerita dari dunia barat (wild west) yang dibumbui. Tentunya ini begitu membekas apalagi keluarga mereka tergolong tidak mampu.

Melarang pergi ke Belanda

Soekarno begitu mematuhi pesan dari Nyoman Rai Srimben. Salah satunya adalah saat dirinya tidak direstui untuk pergi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan.

Saat itu Soekarno telah lulus HBS (Hogere Burgerschool) di Surabaya pada 10 Juni 1921. Bung Karno pun sampai memohon, tetapi tetap saja ibundanya tidak mengizinkan.

"Kalau itu yang kau ingini, kau bisa masuk perguruan tinggi di sini, Pertama kita harus ingat pada kenyataan dasar yang menentukan segala sesuatu dalam hidup kita. Uang! Pergi ke luar negeri memerlukan biaya yang sangat besar." kata ibunya yang dinukil dari buku autobiografi Soekarno karangan Cindy Adams.

Adu Jangkrik, Permainan Rakyat yang Dimainkan dan Disesali Sukarno

Soekarno kemudian menjadi mahasiswa Technische Hoogeschool te Bandoeng sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB). Pilihan inilah yang kelak menentukan arah politiknya sekaligus bangsa. Selama kuliah, biaya pendidikan dan hidup Soekarno masih ditanggung oleh keluarganya. Hal ini terungkap dalam percakapannya dengan rektor Prof. Ir. G. Klopper M.E (1920-1925), saat ingin mengajukan cuti.

"Sebagai seorang mantri guru, Bapak membanting tulang seperti pekerja lainnya. Ibu duduk selama berjam-jam sampai tengah malam ketika lilin penerangan telah redup untuk membatik. Untuk mengumpulkan uang 300 rupiah sebagai pembayaran uang kuliah setahun. Kakakku dan suaminya juga memberikan bantuan sejumlah tertentu setiap bulan," kata Soekarno yang dilansir dari Historia, Minggu (24/10/2021).

Menanamkan kebencian terhadap penjajahan

Kedua orang tua Soekarno tinggal di Blitar, mereka tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar. Salah satu peristiwa yang mengharukan yang terjadi adalah saat Soekarno meminta restu menikahi Utari, putri dari HOS Cokroaminoto.

Namun kemudian Soekarno mohon untuk menceraikan Utari. Perasaan hancur dan sekaligus terharu menyelimuti hati Nyoman Rai Srimben.

"...Dirinya hanya bisa berkata pilihlah jalan yang terbaik, dan kalau itu niatmu, silakan jalani dengan baik," ucap Nyoman Rai yang dicatat Nurinwa dalam bukunya.

"Rasa terharu kembali terulang ketika di Bandung, putranya Soekarno menulis surat bahwa dirinya akan menikah dengan seorang janda bernama Inggit Ganarsih," tambahnya.

Ada hal menarik saat putranya harus mendekam di Penjara Sukamiskin, Bandung. Ketika itu Nyoman Rai Srimben langsung menuju Bandung dan mendatangi Penjara Sukamiskin.

Dirinya kemudian bertanya kepada petugas rumah tahanan. Bukan jawaban yang diperolehnya melainkan bentakan dan diusir untuk pergi dari rumah tahanan tersebut.

"Sejak saat itu dendam Nyoman Rai Srimben tidak terbendung, di manapun berada jika melihat orang Belanda dia memperlihatkan ketidaksukaannya," bebernya.

Makna Weton hingga Kisah Mistik Soekarno Pilih Proklamasi pada 17 Agustus

Memang sejak awal, keluarga Bung Karno menyimpan ketidaksukaan terhadap pihak penjajah. Soekarno sering menceritakan bahwa Kakek dan moyangnya dari pihak ibu adalah pejuang kemerdekaan yang gugur dalam pertempuran melawan penjajah.

Pertempuran ini dikenal dengan nama Perang Puputan, di pantai utara Bali tempat mana terletak Kerajaan Singaraja. Belanda lalu merampas kekayaan dan menduduki istana, tanah serta semua milik keluarga kerajaan.

"Setelah Belanda menduduki istananya dan merampas miliknya, keluarga ibu jatuh melarat. Karena itu kebencian ibu terhadap Belanda tak habis-habisnya dan ini disampaikannya kepadaku," ujar Bung Karno dalam autobiografi yang ditulis Cindy Adams.

Memasuki masa pensiun Nyoman Rai Srimben terus mendampingi suaminya di Blitar sambil tetap menunggu surat. Berita koran atau berita burung yang dibawa saudara atau kenalannya tentang putranya, Soekarno baik di dalam maupun di luar tahanan.

Tidak mau menginjakan kaki ke Istana Negara

Soekarno sering mengakui bahwa ibunya merupakan salah satu sumber motivasinya dalam hidup. Salah satunya adalah tentang ramalannya menjadi seorang pemimpin bagi rakyat.

Pada akhirnya, sugesti ibunya membawa Soekarno dan Mohammad Hatta menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelahnya, Bung Karno menjadi Presiden Indonesia Pertama, didampingi oleh Mohammad Hatta sebagai wakilnya.

Tetapi selama perjalanan Soekarno memimpin negeri, Nyoman Rai Srimben tidak pernah sekalipun menginjakan kakinya di Istana Negara. Tidak pernah ada keterangan lebih lanjut soal alasan tersebut.

Melalui paparan Detikcom, Roso Daras yang merupakan ahli sejarah Bung Karno pernah bertanya kepada penjaga Istana Gebang Blitar, kediaman keluarga Bung Karno di Blitar, namanya adalah Pak Gudhel. Saat itu Pak Gudhel menyebut Nyoman Rai Srimben tidak ingin ke Istana Negara karena alasan usia.

"Alasan kedua, memang permintaan Bung Karno agar ibundanya tidak perlu ke Istana jika tidak sangat urgen. Kata Bung Karno, 'Ibu panggil saya saja, maka saya akan pulang ke Blitar'," demikian kata Roso Daras yang juga penulis buku Total Bung Karno: Serpihan Sejarah yang Tercecer.

Sepeda yang Setia Mengantar Soekarno Menuju Indonesia Merdeka

Walau begitu dirinya tidak berani mengambil kesimpulan pasti soal sebab Nyoman Rai Srimben tidak mau menginjakkan kaki di Istana Negara. Namun, dia menduga, Bung Karno mencoba menjaga agar tidak ada unsur korupsi kolusi nepotisme (KKN) dalam menjalankan pemerintahan.

Pada tanggal 12 September 1958, Nyoman Rai Srimben meninggal dunia dan dimakamkan bersebelahan dengan suaminya. Kantor Berita Nasional Antara menyiarkan berita kematian Idayu pada Sabtu, 13 September 1958.

Kemudian, hampir seluruh surat kabar yang ada di Indonesia langsung memberitakan sebagai berita utama kabar duka cita ini di halaman muka. Surat Kabar Bintang Timur menulis dengan kepala berita 'Jakarta Raya Berdukacita; Seluruh Hati Rakyat Indonesia Tertumpah ke Blitar.'

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini