Menilik Potensi Budidaya Sidat di Indonesia

Menilik Potensi Budidaya Sidat di Indonesia
info gambar utama

Pernah mendengar atau bahkan mencicipi langsung olahan salah satu jenis ikan bernama unagi? Identik dengan makanan khas Jepang, unagi sendiri merupakan istilah di negara tersebut yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti sidat air tawar.

Belakangan, popularitas sidat sedang naik daun nan berkembang pesat di beberapa negara termasuk Indonesia, seiring dengan semakin banyak dan populer pula keberadaan restoran Jepang di tanah air.

Ikan yang memiliki cita rasa gurih dan bertekstur agak kenyal ini disinyalir memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi ketimbang salmon.

Dibarengi dengan cita rasa yang nikmat, tak heran jika di tengah kepopulerannya ikan sidat saat ini menjadi komoditas olahan bahari bernilai tinggi yang baru bisa dinikmati oleh kalangan konsumen tertentu, namun di saat bersamaan ternyata juga harus menghadapi masalah pemenuhan permintaan pasar.

Bukan tanpa alasan, masalah pemenuhan permintaan pasar ternyata muncul karena keberadaan serta budidaya sidat itu sendiri yang cukup sulit secara keseluruhan, hal tersebut dikarenakan survival rate atau kelangsungan hidup sidat dari fase benih ke anakan ternyata rendah.

Memiliki kesempatan untuk menjawab dan menghadirkan solusi bagi permasalahan tersebut, Indonesia ternyata menjadi pihak yang dipercaya oleh Food and Agriculture Organization (FAO) untuk bekerja sama menjalankan IFish, yaitu proyek demonstrasi pembesaran anakan sidat yang didanai langsung oleh Global Environment Fund (GEF).

Seperti apa potensi, target, dan hasil yang sudah diraih?

Silvofishery, Alternatif Melestarikan Hutan Bakau dengan Budidaya Ikan

Keberhasilan survival rate sidat di Sukabumi capai 60 persen

Sekadar informasi, hingga saat ini sebagian besar sidat yang diolah hingga menjadi makanan di sejumlah restoran Jepang ternama kenyataannya masih berasal dari tangkapan alam. Kalaupun ada yang berasal dari budidaya, benihnya juga diambil dari benih yang berasal dari alam.

Terbilang unik, sebagai ikan yang berada di spesies katadromus sidat sendiri dikenal biasa melakukan pemijahan di laut dalam, ketika telur menetas menjadi larva, maka larva tersebut akan mengalami metamorfosis menjadi elver atau glass eel (benih sidat yang memiliki wujud transparan) dan akan berupaya ke muara sungai yang memiliki salinitas lebih rendah.

Saat berada di masa itulah benih sidat yang dimaksud pada akhirnya diambil untuk dibudidaya oleh nelayan sidat di darat. Jika melihat siklusnya, sidat memang dapat hidup di tiga jenis perairan yakni di laut, sungai, dan air payau.

Kondisi tersebut nyatanya yang memunculkan ancaman serius terhadap populasi sidat di sejumlah negara. Di Jepang, situasi ini membuat beberapa spesies sidat sudah berada di status terancam punah akibat pemanfaatan yang tidak terkendali. Bahkan di Eropa, beberapa jenis sidat telah masuk ke daftar Appendix II.

IFish, sebagai program yang sudah hadir sejak tahun 2018 dan menjalankan demonstrasi pembenihan sekaligus budidaya ikan bernilai tinggi di sebanyak lima wilayah Indonesia, menyertakan sidat sebagai salah satu komoditas yang dikembangkan pada dua wilayah yakni di Cilacap dan Sukabumi.

Pada tanggal 16 Desember 2021 lalu, demonstrasi yang sudah berjalan di Balai Benih Ikan (BBI) Tonjong, Sukabumi akhirnya melaporkan hasil yang memuaskan dan memunculkan potensi bahwa wilayah tersebut akan menjadi penghasil benih sidat, dengan keberhasilan meningkatkan survival rate benih ke fase anakan mencapai 60 persen.

Yayan Hikmayani selaku Kepala Pusat Riset Perikanan (Pusriskan) menjelaskan, bahwa keberhasilan ini dinilai dapat menekan ancaman terhadap populasi sidat di alam.

“Diharapkan hasil dari kegiatan demonstrasi di BBI Tonjong memberikan informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan survival rate sidat dari fase benih ke anakan. Semakin tinggi survival rate, semakin sedikit benih yang perlu diambil dari alam, sehingga dapat mengurangi tekanan pada populasi sidat,” ujar Yayan, dalam keterangan resmi yang dirilis KKP.

Mengenal Milenial Shrimp Farming, Program Budidaya Udang Beromzet Menggiurkan

Potensi dan pengaturan ekspor

Selain Sukabumi, sebenarnya sudah ada sejumlah wilayah di Indonesia yang sebelunya dikenal sebagai kawasan budidaya sidat berkualitas terbaik untuk pasar domestik maupun ekspor, salah satunya Banyuwangi.

Hal tersebut didasar kondisi bahwa kualitas air di Banyuwangi ternyata jauh lebih baik ketimbang perairan di wilayah lainnya. Menurut riset KKP, per 25 miligram sampel air di Banyuwangi diketahui hanya mengandung 10 ribu koloni bakteri, angka tersebut jauh lebih kecil dibanding daerah lain yang mencapai ratusan ribu koloni bakteri.

Berangkat dari kondisi tersebut pula, dilaporkan bahwa pada tahun 2020 lalu Indonesia masuk ke dalam daftar 10 negara pengekspor sidat dengan kualitas terbaik, yang didorong dengan semakin minim serta rendahnya komoditas sidat yang dimiliki Jepang dan negara-negara di kawasan Eropa.

Pada tahun tersebut pula, nilai ekspor sidat asal Banyuwangi yang dikirim ke sejumlah negara termasuk Jepang bahkan mencapai angka Rp13 miliar. Sekadar informasi, saat ini secara umum harga sidat di pasar domestik berada di kisaran Rp160 ribu hingga Rp245 ribu per kilogram yang rata-rata terdiri dari tiga hingga empat ekor.

Namun seperti yang telah disebutkan di awal, tingginya permintaan sidat juga memunculkan kemungkinan penekanan populasi sidat dan bukan tidak mungkin keberadaan sidat di Indonesia akan mengalami kelangkaan seperti halnya di Jepang dan beberapa negara Eropa.

Perlindungan terbatas sidat melalui RRP
info gambar

Pemanfaatan sidat di Indonesia sebelumnya terbagi atas penangkapan benih untuk kebutuhan budidaya dan penangkapan dewasa untuk konsumsi. Berangkat dari kondisi tersebut, KKP akhirnya menetapkan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) sidat, yang akan menjadi pedoman bagi seluruh pihak yang terkait dalam pengelolaan perikanan sidat di Indonesia.

Muhammad Zaini, selaku Plt. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap bahkan menyampaikan bahwa sejumlah nelayan sidat di Pantai Baron, Kabupaten Gunung Kidul bersedia mematuhi peraturan RPP.

“Nelayan sidat di Pantai Baron, Kabupaten Gunung Kidul mereka bersedia mematuhi peraturan untuk tidak menangkap sidat pada tanggal 27 dan 28 hijriah. Selain itu nelayan juga bersedia untuk tidak menangkap sidat jenis sidat kembang (Anguilla marmorata) di atas ukuran 5 kilogram, dan sidat sirip pendek (Anguilla bicolor) di atas 2 kg.” pungkasnya.

Begini Usaha Kementerian Kelautan dan Perikanan Selamatkan Ikan Belida

Sidat berbeda dengan belut

Sidat memiliki sirip di bagian samping kepala
info gambar

Bagi orang awam, jika melihat secara sekilas memang banyak yang mengira bahwa sidat adalah belut. Bukan tanpa alasan, hal tersebut kerap terjadi karena bentuk fisik dari kedua jenis ikan ini memang nyaris serupa yaitu berupa tubuh bulat memanjang dengan mata kecil.

Padahal, jika dilihat secara lebih dekat dan diteliti karakteristik tubuhnya, belut memiliki lapisan lendir di sekujur tubuhnya, sedangkan sidat memiliki tubuh yang bersisik dan memiliki sirip di bagian samping kepala yang bentuknya menyerupai telinga.

Lain itu dari segi habitat, seperti yang selama ini kita tahu belut biasa hidup pada wilayah berlumpur salah satunya di area persawahan atau rawa.

Sementara itu sidat hidup di air yang terbilang lebih jernih, dan disebut mampu hidup di tiga jenis perairan sepanjang hidupnya, pada saat sampai di tahap hidup di muara sungai sidat biasanya senang membuat lubang dan hidup di dalam lubang tersebut. Karena hanya bisa hidup di air yang jernih, sidat kerap kali dijadikan indikator atau penanda akan masih bagusnya sumber air di suatu daerah.

Seperti yang telah disebutkan, sebelum terdapat keberhasilan budidaya benih sidat di Sukabumi, benih ikan satu ini masih ditangkap dari alam tepatnya muara sungai untuk kemudian dibesarkan di kolam pembesaran sampai menjadi sidat yang siap konsumsi, yaitu berukuran 200 gram sampai 400 gram.

Jika tidak ditangkap, sidat yang sudah tumbuh dewasa di sungai akan kembali bermigrasi ke lautan untuk melakukan siklus memijah. Kenyataannya, sidat hanya akan memijah atau bertelur sekali seumur hidup dan akan mati setelahnya, karena sidat menggunakan seluruh energi mereka untuk bereproduksi atau termasuk hewan smelparous.

Lain halnya dengan belut yang masuk ke dalam hewan hemaprodit (berkelamin ganda). Belut mengalami pergantian kelamin dari betina menjadi jantan ketika dewasa. Atau lebih jelas, pada saat mencapai usia diatas 10 bulan, semua belut akan berubah menjadi jantan.

Dengan demikian, perkembangbiakan biasanya terjadi antara belut betina yang berusia di bawah 10 bulan dengan belut jantan yang telah berusia diatas 10 bulan. Di samping itu, selama pergantian kelamin belut biasanya akan menjadi sangat agresif sehingga memungkinkan mereka untuk memangsa sesama.

Burger Belut, Burger yang tak Biasa dari Kota Jogja

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini