Keabadian Jalan Raya Darmo, Denyut Nadi Kehidupan Warga Surabaya

Keabadian Jalan Raya Darmo, Denyut Nadi Kehidupan Warga Surabaya
info gambar utama

Surabaya tidak hanya memiliki ikon yang tersemat dalam gedung-gedung dan kisah kepahlawanan. Tempat ini juga memiliki sebuah jalan yang menjadi bagian dari sejarah perkembangan kota.

Jalan Raya Darmo merupakan jalan utama yang menghubungkan wilayah selatan dan utara Surabaya. Dikeliling oleh beraneka rupa bangunan baik yang lama maupun baru. Jalan ini merupakan titik wajib bila sedang berkunjung ke Kota Pahlawan.

Jalan ini memang melintasi beberapa tempat penting semisal Taman Bungkul, kompleks sekolah dan Gereja Santa Maria, Monumen Perjuangan Polri, dan tempat penting lain. Bisa dikatakan, Jalan Raya Darmo merupakan denyut nadi kehidupan warga Surabaya.

Jalan ini menjadi landmark Kota Surabaya karena secara historis jalan ini telah ada sejak zaman Belanda dan kekhasannya hingga saat ini masih tetap terjaga. Walau begitu, hingga kini asal mula nama Darmo belum ada sejarawan yang sepakat.

Bukan Jawa Bukan Madura, Budaya Pendalungan Identitas Masyarakat Tapal Kuda Jawa Timur

Merujuk dari tulisan Yusak Anshori dalam buku Jalan-jalan Surabaya: enaknya ke mana? menyatakan nama Darmo telah tertulis dalam Serat Pararaton karya Empu Tantular. Ini berarti kawasan ini tersebut telah lama disebut sebagai Darmo.

Sedangkan dalam versi lain disebutkan nama ini berasal dari seorang tuan tanah pribumi yang menjadi penguasa kawasan tersebut. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa Darmo adalah nama seorang jongos (pesuruh pria) seorang Belanda.

Cerita lain menyebutkan bahwa Darmo bermakna darma atau dalam bahasa Jawa berarti kewajiban, undang-undang, candi, kuburan, atau tempat suci. Bisa dikatakan, bahwa Darmo merupakan bentuk ketaatan seorang manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Apa pun kita tidak mempermasalahkan karena nama Darmo telah menjadi trand mark Surabaya," tulisnya.

Jalan Raya Darmo dan kawasan elite Surabaya

Masyarakat Surabaya menyebut sejak zaman Kolonial hingga saat ini, Jalan Raya Darmo merupakan kawasan yang sangat penting dan strategis. Bahkan saking strategisnya, Belanda tidak pernah mengubah jalan ini.

Padahal ketika Belanda menjajah Surabaya, nama jalan di sekitar Jalan Raya Darmo telah diganti menjadi nama Belanda. Sedangkan Jalan Raya Darmo malah dinamakan Darmo Boulevard.

Nama ini sendiri diambil dari Bahasa Prancis untuk menyebut jalan besar yang ditengahnya terdapat pemisah yang ditumbuhi tanaman peneduh. Sejak zaman kolonial, Jalan Raya Darmo juga telah menjadi jalur perdagangan dan lalu lintas utama bagi warga kota dan pemerintah kolonial.

Aneka perumahan elite yang dikenal sebagai Darmo Boulevard juga terdapat di sekitar jalan itu. Artinya, kedekatan warga Surabaya dan jalan ini sudah terjalin erat sejak dahulu kala.

Prita Ayu Kusumawardhani dalam Kereta Api di Surabaya 1910-1930 menyatakan bahwa perkembangan Kota Surabaya tidak lepas dari pembangunan jalur kereta api. Terutama ditambah dengan meningkatnya daerah industri di dalam kota.

Alun-alun Tugu Kota Malang, Saksi Perjuangan Bangsa Indonesia di Bumi Arema

Memang sejak tahun 1906-1916, kepadatan penduduk di Surabaya terus meningkat menyebabkan kebutuhan lahan pemukiman ikut mengalami peningkatan. Perluasan daerah perumahan pertama yang dieksploitasi oleh pemerintah kota adalah daerah Gubeng yang dilakukan pada tahun 1908.

Selanjutnya daerah perumahan untuk orang-orang Eropa diperluas lagi diantaranya daerah Sawahan di Juliana Boulevard dan sekitarnya. Bersamaan dengan perluasan daerah perumahan orang Eropa, maka jalan-jalan di Surabaya mulai di aspal pada tahun 1920.

Kemudian pada tahun 1916 kawasan Darmo dan Kupang di Surabaya seluas 22,8 hektare dieksploitasi oleh pihak swasta. Jalan Raya Darmo merupakan daerah terdepan dari Kota Surabaya dari arah selatan.

Prita menyatakan daerah Darmo dan Kupang terletak di antara jaringan trem uap dan Sungai Surabaya yang terbelah oleh jaringan trem listrik. Sehingga memudahkan masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut untuk menjangkau transportasi baik darat maupun perairan.

"Sampai beberapa tahun berikutnya daerah Darmo terkenal sebagai daerah perumahan yang paling bergengsi di Surabaya," paparnya.

Perubahan nama yang ditolak oleh warga

Menukil Asumsi, upaya untuk mengganti Jalan Raya Darmo dengan nama pahlawan pernah ditentang keras oleh masyarakat Surabaya. Bertepatan dengan ulang tahun Surabaya ke-708 tepat pada 31 Mei 2001, ada wacana ingin mengganti Jalan Raya Darmo menjadi Jalan Soekarno-Hatta.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang saat itu dijabat Sunarto Sumoprawiro beralasan, bahwa rencana perubahan nama jalan itu untuk menghargai jasa Soekarno-Hatta sebagai Proklamator Indonesia.

Mungkin Surabaya menjadi satu-satunya kota besar yang belum menjadikan nama Soekarno-Hatta sebagai nama salah satu fasilitas publik. Di Jakarta namanya diabadikan sebagai bandara, sedangkan di Makassar menjadi nama pelabuhan laut.

Ketika itu masyarakat Surabaya lebih memilih nama mantan wali kota Surabaya yang memiliki jasa penting, semisal Doel Arnowo yang menggagas pembangunan Tugu Pahlawan Surabaya. Mengingat sebelumnya telah ada mantan wali kota Surabaya yang sudah dijadikan nama jalan.

Mengorek Mayang Rontek, Tarian Khas Mojokerto Jawa Timur

"Sang pemimpin tersebut bernama Mustajab. Jalan Wali Kota Mustajab kini juga menjadi jalan penting di sekitar pusat pemerintahan Kota Surabaya dan Provinsi Jawa Timur," tulis Ikrom Zain dalam artikel berjudul Kisah Tarik Ulur Pergantian Nama Jalan Raya Darmo Surabaya.

Dicatat oleh Ikrom, tarik ulur pergantian nama Jalan Raya Darmo tidak hanya terjadi pertama kali. Pada tahun 1961, jalan ini telah berganti nama menjadi Jalan Patrice Lumumba, ketika itu Surabaya dipimpin oleh wali kota Raden Satrio Sastrodiredjo.

Hal yang menarik adalah sosok ini merupakan tokoh politik Kongo dan pendiri Movement National Congolais (MNC). Pada tahun 1960 setelah berhasil memenangkan pemilu, Lumumba berhasil membentuk pemerintahan Kongo.

Tetapi pada masa pemerintahannya ini, Kongo dalam posisi darurat militer. Sehingga dia terbunuh pada tahun 1961. Kejadian ini mendapat simpati dari seluruh dunia, tidak terkecuali dari Presiden Soekarno.

Bung Karno kala itu memang sedang gigih menentang kolonialisme di Asia-Afrika. Indonesia juga sedang menjalankan Demokrasi Terpimpin, maka loyalitas kepada Bung Karno sangat kuat.

"Para elite saat itu tak segan melakukan kegiatan yang ditujukan sebagai simbol loyalitas kepada Bung Karno. Salah satunya dengan mengganti nama Jalan Raya Darmo ini," beber Ikrom.

Karena itulah pada tanggal 13 Maret 1961, sesuai SK Wali Kota praja Surabaya nomor 187-k (pembetulan), Jalan Raya Darmo berubah nama menjadi Jalan Patrice Lumumba. Tetapi usia nama jalan baru ini hanya bertahan selama lima bulan.

Pada Agustus 1961, SK itu dicabut dan nama Jalan Raya Darmo dikembalikan sesuai asalnya hingga kini. Penolakan dari warga dengan alasan tertentu yang membuat nama Darmo tetap ada di jantung Kota Surabaya.

Menurut Ikrom, penolakan akan pergantian nama jalan juga kerap terjadi di berbagai kota. Hal ini memang menunjukkan nama jalan tidak hanya simbol mobilitas, tetapi juga perebutan kepentingan politis.

"Nama jalan juga wujud dari perebutan kontrol atas produksi makna simbolik dalam pembangunan lingkungan kota," tuturnya.

Hingga kini Jalan Raya Darmo namanya tetap abadi tidak seperti jalan lain. Sebut saja Jalan Simpangplein yang menjadi Jalan Pemuda dan Kaliasin yang menjadi Jalan Basuki Rahmad.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini