Gelombang Tritura, Rundungan Menteri 'Goblok' dan Titik Jatuhnya Bung Karno

Gelombang Tritura, Rundungan Menteri 'Goblok' dan Titik Jatuhnya Bung Karno
info gambar utama

Seperti arus balik yang dahsyat memukul kembali siapa saja yang menunggangi. Begitulah yang terjadi pasca peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang memakan begitu banyak korban jiwa.

Mungkin tidak terbayangkan sebelumnya, terutama para aktivis Komunis beserta simpatisannya bahwa mereka yang akan menjadi korban. Mereka dicari, ditangkapi, bahkan dikejar hingga ke pelosok-pelosok oleh massa yang marah.

Kondisi ini terjadi juga dalam kampus, sebelum terjadi G30S, sudah ada dua kubu, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMNI) bersama Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di satu pihak sedangkan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dipihak lain.

Tetapi setelah peristiwa G30S, para aktivis CGMNI masih tetap bertahan dan menyatakan permainan belum usai. Namun dalam perjalanan waktu, karena kondisi tidak menguntungkan mereka, diam-diam mahasiswa ini mulai menghilang dari kampus.

Di luar kampus, kondisinya tidak jauh berbeda, gejolak-gejolak semakin kuat. Mulai terbentuk beberapa front mahasiswa, seperti Front Pancasila dan dari kalangan mahasiswa terbentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

"Jelaslah ini memang penggalangan kekuatan dalam suatu kesatuan aksi. Kesatuan aksi mahasiswa terbentuk yang kekuatannya terutama ditopang oleh HMI dan organisasi mahasiswa lain," tulis Achmad Sujudi dalam buku Dari Pulau Buru ke Cipinang: Sebuah Sejarah Kecil.

Sosok Ida Ayu Nyoman Rai, Peran Ibu dalam Kehidupan Bung Karno

Ketika itu gelombang demonstrasi menuntut pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) makin keras, sementara pemerintah Soekarno tidak segera mengambil tindakan.

Keadaan negara Indonesia sudah sangat parah, baik dari segi ekonomi maupun politik. Harga barang naik sangat tinggi terutama bahan bakar minyak (BBM).

Puncaknya pada 10 Januari 1966, terjadi gelombang demonstrasi di Jakarta. Di sini juga diluncurkan suatu tuntutan yang disebut sebagai Tri Tuntutan Rakyat (Tritura), isinya:

  1. Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan kabinet Dwikora
  3. Turunkan harga pangan

Usai penyampaian aksi Tritura, Presiden Soekarno merespon dengan melakukan reshuffle kabinet pada 21 Februari 1966. Tetapi orang-orang yang duduk di kabinet tidak dikehendaki masyarakat, karena masih ada orang-orang beraroma kiri.

Tiga hari kemudian, pada 24 Februari 1966 para mahasiswa memboikot menteri baru. Gelombang demonstrasi terus terjadi hingga menyebabkan seorang mahasiswa bernama Arief Rahman Hakim menjadi korban.

Balada menteri 'goblok'

Gelombang protes atas kondisi ini menyasar salah satunya kepada para menteri kabinet Soekarno. Bahkan Bung Karno sempat prihatin ketika unjuk rasa mahasiswa menghujat menterinya dengan sebutan 'goblok'.

Sujudi masih mengingat betul bagaimana para mahasiswa KAMI yang bermarkas di Kampus Salemba 4 dan 6 mulai bergerak ke berbagai tempat aksi. Antara lain ke Departemen Luar Negeri yang ditunjukan kepada Menteri Luar Negeri Soebandrio dan Menteri Seketariat Negara Chairul Shaleh.

"Saya bersama teman-teman ikut dalam demonstrasi-demonstrasi tersebut dan kami ikut meneriakkan, turunkan harga, bubarkan PKI, dan ganti menteri-menteri!, selain itu kami juga meneriakkan juga, turunkan menteri goblok!" cetusnya.

Cosmas Batubara, yang saat itu menjadi ketua KAMI dalam bukunya Cosmas Batubara: Sebuah Biografi Politik yang dimuat Historia juga menceritakan pengalamannya melihat mahasiswa yang memaki para menteri.

Cosmas menyebut ketika itu mobil para menteri yang akan menghadiri sidang kabinet lewat di depan mahasiswa, anak-anak muda itu meneriaki menteri yang lewat dengan kata-kata menteri goblok. Bukan saja meneriaki tetapi mahasiswa juga mendorong mobil yang ditumpangi menteri dan menggoyang-goyangnya.

Sontak menteri yang berada dalam mobil ketakutan menghadapi perlakuan mahasiswa itu. Kekesalan mahasiswa kepada para pejabat di Kabinet Dwikora memang telah mencapai puncak.

Soekarno dan Kecintaannya kepada Pohon yang Terekam Abadi

Pengalaman serupa dicatat oleh mahasiswa Universitas Indonesia, Soe Hok Gie dalam catatan hariannya berjudul Catatan Seorang Demonstran. Ketika itu para mahasiswa memberhentikan mobil yang melintasi kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Selama demonstrasi kata Gie, mahasiswa menempelkan plakat di jalanan. Isinya bermacam-macam, tentunya seputar Tritura. Antara lain TURUNKAN HARGA BENSIN, STOP IMPORT BINI MUDA, RITUL MENTERI GOBLOK.

Plakat-plakat ini jelasnya ditempel di mobil yang lewat, di tembok-tembok kota, di kereta api dan lain-lain. Selama demonstrasi diteriaki yel-yel yang tadi, tetapi ada juga yang lebih panjang, seperti:

Siapa yang tidak pernah naik bus? (ramai-ramai menjawab: menteri)

Siapakah yang tukang bikin janji? (menteri)

Siapa yang suruh kita makan jagung? (menteri)

Siapa yang tukang kawin? (menteri).

Gie juga mencatat, nyanyian-nyanian perjuangan yang lahir dari situasi politik penuh gejolak itu. Lagu ini merupakan pelesetan yang berasal dari pencipta lagu anak AT. Mahmud berjudul Anak Ayam tetapi menjadi top hits di kalangan mahasiswa demonstran.

Tek, kotek-kotek-kotek

Ada menteri tukang ngobyek

Blok, goblok-goblok-goblok

Kita ganyang menteri goblok

Soekarno berang walau tetap tergilas

Mahasiswa ketika itu memang marah karena terjadi kenaikan drastis harga bahan bakar. Kebijakan ini juga berpengaruh terhadap harga kebutuhan pokok lainnya.

“Harga bensin dinaikkan dari harga Rp4 menjadi Rp250 dan ini mengakibatkan kenaikan harga-harga. Yang paling terkena tindakan ini adalah Angkatan Darat kerena Angkatan Darat-lah yang paling banyak pakai bensin,” tulis Gie.

Mahasiswa sebagai rakyat kecil yang paling terkena imbasnya. Mereka memilih mogok kuliah dan melakukan unjuk rasa. Beberapa delegasi mahasiswa ditunjuk untuk bertemu dengan para mendatangi menteri-menteri tertentu.

Salah satunya adalah Chaerul Saleh, Wakil Perdana Menteri III yang merangkap Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan yang disebut-sebut biang keladi kenaikan harga.

Selain itu juga beberapa menteri lain yang jadi sasaran tembak, antara lain Soebandrio (Wakil Perdana Menteri I merangkap Menteri Luar Negeri) dan Jusuf Muda Dalam (Gubernur BI).

“Mendengar tuntutan mahasiswa tersebut Chaerul Saleh mengatakan, dia bukan presiden, dia hanya pembantu presiden. Karena itu, dia menegaskan pula bahwa dia akan menyampaikan tuntuntan itu kepada presiden,” tutur Cosmas.

Jalan Casablanca-Rue Soukarno, Kisah Kasih Indonesia dengan Maroko yang Abadi

Pada 15 Januari 1966, Bung Karno angkat suara dan mengecam aksi demonstrasi mahasiswa. Dirinya tidak terima menterinya dikatakan goblok. Apalagi cacian itu dilontarkan kepada orang yang lebih tua.

“Ini yang membikin sedih kepada saya itu, ya maksudnya, sedih kepada saya, sampai ada ucapan-ucapan dari kalangan mahasiswa, ‘menteri goblok’. Lebih kasar daripada perkataan bodoh,” ujar Bung Karno dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Sukarno 30 September 1965–Pelengkap Nawaksara, suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana.

Bung Karno kemudian meminta para pemuda untuk sabar, dan tidak lagi mengungkit masalah kehidupan pribadinya dan para menterinya disangkut-pautkan dengan tuduhan yang bukan-bukan. Bahkan dirinya sempat mengajak mahasiswa terlibat dalam mengatasi persoalan harga.

"Siapa saja yang berani dan sanggup menurunkan harga dalam waktu tiga bulan akan diangkat menjadi Menteri Penurunan Harga. Tetapi jika gagal, dia akan ditembak mati,” demikian tantang Bung Karno.

Ketika itu, tentu saja tidak ada yang berani menerima tantangan Bung Karno. Namun waktulah yang menantang 'Bung Besar' hingga mendorongnya sampai ke tepi jurang pemerintahan.

11 Maret 1966, lahirlah surat perintah yang kontroversial itu. Dalam perintahnya, Soekarno memberikan wewenang pada Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Inilah titik awal kejatuhan Orde Lama.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini