Mengenal 3 Unit Kapal Bantu Rumah Sakit yang Beroperasi di Indonesia

Mengenal 3 Unit Kapal Bantu Rumah Sakit yang Beroperasi di Indonesia
info gambar utama

Jika menilik pada sistem dan jenis armada yang ditujukan untuk memperkuat militer tanah air, terutama bagi TNI Angkatan Laut (AL), kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) sejatinya memang bukan fasilitas pokok atau bagian dari alat utama sistem senjata (alutsista).

Namun bukan berarti keberadaannya tidak penting, sederet kondisi yang dimiliki Indonesia seperti wujud negara kepulauan dan karakteristik geografi yang membuat negeri ini rawan akan berbagai macam bencana, tak dimungkiri membuat perangkat kekuatan layaknya TNI dirasa perlu memiliki fasilitas yang dapat menjalankan misi kemanusiaan dalam beberapa situasi darurat.

Pada dasarnya, kapal BRS hanyalah kapal pendukung dalam pelaksanaan Operasi Militer Perang (OMP). Berdasarkan UU TNI No. 34 tahun 2004, pada masa damai kapal jenis tersebut dapat difungsikan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP) untuk membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue).

Memang, jika menilik riwayatnya kapal BRS yang ada di Indonesia baru dimiliki dalam bentuk pengalihan fungsi kapal dari yang sebelumnya diperuntukkan sebagai kapal bantu angkut personel (BAP) atau bahkan kapal alutsista.

Namun belum lama ini, TNI AL untuk pertama kalinya memiliki kapal yang sejak awal memang dibuat dengan fungsi utama sebagai kapal BRS, dan lebih istimewanya lagi merupakan hasil buatan dalam negeri, yakni kapal BRS dr. Wahidin Sudirohusodo.

Sambut Hari Armada, Indonesia Miliki Kapal Cepat Rudal ke-5 Buatan PAL

Buatan PAL dengan fasilitas setara rumah sakit tipe C

PAL
info gambar

Diambil dari nama Pahlawan Nasional yang berprofesi sebagai dokter dan dikenal sebagai pelopor berdirinya organisasi Budi Utomo, kapal BRS dr. Wahidin Sudirohusodo sebenarnya sudah diperkenalkan ke publik pertama kali pada bulan Januari 2021 lalu, dengan kondisi fisik yang masih harus melalui beberapa tahap uji coba mulai dari familiarisasi awak dan rangkaian kegiatan latihan pengoperasian.

Belum lama ini, PT PAL selaku pihak yang menggarap pembuatan kapal tersebut mengumumkan bahwa BRS dr. Wahidin Sudirohusodo sudah siap berlayar dan memenuhi perannya dalam menjalankan misi kemanusiaan.

Pada saat diperkenalkan, Direktur Utama PT PAL yang kala itu masih dijabat oleh Etty Soewardani menjelaskan bahwa kapal ini memiliki fungsi setara rumah sakit tipe C, atau sama dengan sarana pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten/kota yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medis minimal empat spesialistik dasar dan empat spesialistik penunjang.

Lebih detail, pelayanan medis empat spesialistik dasar yang dimaksud yaitu fasilitas poliklinik rawat jalan umum, mata, gigi, dan UGD. Sementara itu untuk fasilitas spesialistik penunjang terdiri dari sejumlah peralatan medis seperti CT Scan, X-Ray, unit radiologi, ruang operasi, ruang rawat inap, bahkan hingga ruang isolasi yang dapat digunakan dalam penanggulangan kondisi Covid-19.

“Kapal ini juga mampu menggerakkan mobilitas untuk pelaksanaan misi evakuasi medis yang ditunjang dengan kemampuan mengangkut helikopter medis, ambulance boat, dan LCVP (landing craft vehicle personel),” jelas Etty, dalam Antara.

Membahas mengenai detail wujudnya, kapal dengan nomor 991 ini diketahui memiliki panjang sekitar 124 meter, lebar 21,8 meter, dan displacement 7.290 ton. Kapal ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal 18 knot, kecepatan jelajah 14 knot, dan kecepatan ekonomis 12 knot atau setara 22 kilometer per jam.

Selain itu, kapal BRS yang memiliki kapasitas angkut total sebanyak 643 orang, termasuk di antaranya 159 pasien ini juga dapat berlayar hingga 30 hari penuh dengan jangkauan 10 ribu mil laut.

Kisah Dr Lie Dharmawan, Dokter yang Jual Rumah untuk Bangun Rumah Sakit Apung

KRI dr. Soeharso, armada kapal BRS pertama Indonesia

Kapal BRS KRI dr. Soeharso 990
info gambar

Sementara itu sebelum adanya BRS dr. Wahidin Sudirohusodo, armada pertama yang dialihfungsikan sebagai kapal BRS adalah KRI dr. Soeharso 990, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai KRI Tanjung Dalpele 972.

Bukan garapan PAL, kapal produksi tahun 2003 tersebut dibuat oleh perusahaan pembuat kapal asal Korea Selatan yakni Daesun Shipbuildings & Engineering. Pengalihfungsian armada satu ini untuk sepenuhnya menjadi kapal BRS dimulai pada kisaran bulan September 2008 yang dikukuhkan oleh Kepala Staf TNI AL kala itu, Laksamana TNI Slamet Soebijanto.

Karena fungsi awalnya digunakan untuk membantu mengangkut personel militer, jika dilihat dari segi kapasitas kapal ini memang memiliki daya tampung lebih besar jika dibandingkan dengan kapal BRS dr. Wahidin.

Dengan bobot sekitar 11.394 ton jika dalam keadaan kosong dan 16.000 ton jika terisi penuh, kapal yang memiliki dimensi panjang 122 meter, lebar 22 meter, dan draft 6,7 meter ini memiliki 75 anak buah kapal (ABK), 65 staf medis, dan mampu menampung sebanyak 40 pasien rawat inap. Namun jika dalam keadaan darurat, kapal BRS dr. Soeharso dapat menampung hingga sebanyak 400 pasukan dan 3.000 penumpang.

Mengenai fungsi sebagai kapal bantu rumah sakit, fasilitas yang terdapat di dalamnya meliputi ruang UGD, ICU, ruang post operasi, tiga ruang bedah yang terdiri dari dua ruang steril dan satu non steril, enam ruang poliklinik, 14 ruang penunjang klinik dan dua ruang rawat inap dengan kapasitas masing-masing 20 tempat tidur.

Selama masa baktinya, kapal ini telah digunakan untuk melaksanakan berbagai operasi kemanusiaan di antaranya keikutsertaan ke Timor Leste pada awal tahun 2016, dan penjemputan sejumlah WNI yang bekerja di Malaysia pada saat kebijakan lockdown terkait pandemi di awal tahun 2020.

Inilah Penampakan Kapal Siluman Baru TNI AL, KRI Golok 688
KRI Semarang
info gambar

Terakhir, armada yang turut digunakan sebagai kapal bantu rumah sakit adalah KRI Semarang 594 yang pada dasarnya merupakan kapal perang berjenis Landing Platform Dock (LPD) untuk memperkuat alutsista Indonesia.

Masih terbilang baru, kapal garapan PAL yang diserahterimakan kepada TNI AL pada tahun 2019 ini sebenarnya memiliki fungsi utama untuk membantu distribusi baik dari segi logistik, peralatan, dan perlengkapan militer.

Memiliki dimensi dan bobot yang sama dengan kapal BRS dr. Wahidin Sudirohusodo, KRI Semarang 594 pada saat berada dalam mode OMP mampu mengangkut delapan kendaraan tempur jenis Anoa, 28 truk, dan tiga helikopter. Diperkuat 121 awak, kapal ini mampu mengangkut sebanyak 650 prajurit bersenjata lengkap.

Jika sedang difungsikan dalam mode OMSP, kapasitas angkutnya mampu menampung sebanyak 120 awak, 16 orang kru helikopter, 89 orang kru kesehatan, serta dapat merawat sebanyak 169 pasien. Sementara itu jika dalam misi evakuasi, penumpang yang diangkut dapat mencapai 280 orang.

Selama menjalani masa baktinya sebagai kapal BRS, salah satu misi KRI Semarang 594 yakni melakukan penjemputan sebanyak 188 WNI yang merupakan awak dari Kapal Pesiar World Dream yang selesai menjalani observasi di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu, menuju Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, pada saat kebijakan pandemi di awal tahun 2020 lalu.

PT PAL Indonesia Bangun Rumah Sakit Terapung Milik TNI-AL

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini