Kota Tua Ampenan, Destinasi Wisata Bersejarah di Lombok

Kota Tua Ampenan, Destinasi Wisata Bersejarah di Lombok
info gambar utama

Lombok, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu pulau yang memiliki beragam destinasi wisata. Anda bisa punya banyak pilihan kegiatan mulai dari berwisata alam, mempelajari budaya di kampung adat, menikmati kulinernya yang nikmat, hingga menyusuri jejak sejarah pulau tersebut.

Salah satu tujuan wisata yang wajib dikunjungi di Lombok, tepatnya di Kota Mataram, adalah Kota Tua Ampenan. Kawasan Ampenan telah menjadi wilayah yang sibuk sejak zaman Belanda dengan aktivitas perdagangan dan pelabuhan. Bahkan, namanya lebih tersohor dibanding Kota Mataram sendiri.

Tak sulit untuk mengakses Kota Tua Ampenan. Jika Anda sudah berada di pusat kota Mataram, waktu tempuhnya hanya sekitar 15 menit saja. Tak perlu khawatir jika tidak membawa kendaraan pribadi karena di sana sudah banyak transportasi daring.

Menikmati Keindahan Pulau Tidore dari Benteng Tahula

Sejarah Kota Tua Ampenan

Kota Tua Ampenan | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Nama ampenan diambil dari kata amben. Dalam Bahasa Sasak, artinya tempat persinggahan. Memang wilayah Ampenan yang merupakan kota pelabuhan menjadi tempat singgah bagi berbagai suku bangsa.

Ampenan awalnya memang merupakan pelabuhan dan telah dibangun pada tahun 1924. Saat itu bangsa Belanda punya tujuan untuk mengimbangi kerajaan-kerajaan yang ada di Bali. Bisa dibilang pembangunan pelabuhan Ampenan merupakan ambisi kolonial Belanda yang ingin membangun sebuah kota pelabuhan.

Setelah menjadi pelabuhan, Ampenan adalah wilayah yang sangat sibuk dan penuh hiruk-pikuk. Di sanalah perekonomian terus berputar dan menjadi pusat bisnis. Pelabuhan Ampenan juga menjadi gerbang utama keluar-masuknya bahan-bahan keperluan perdagangan di Lombok dan Bali. Namun, pada tahun 1973 aktivitas pelabuhan di Ampenan terhenti karena kondisi gelombang dinilai kurang bersahabat. Akhirnya, segala aktivitas dipindahkan ke pelabuhan Lembar.

Setelah tidak menjadi pelabuhan, namanya kini dikenal sebagai kawasan kota tua karena kental dengan unsur historinya. Kota Tua Ampenan juga merupakan salah satu kota yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Napabale, Danau Air Asin yang Memiliki Terowongan Alami Menuju Laut

Daya tarik dan potensi wisata

Kota Tua Ampenan | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Ketika mengunjungi Kota Tua Ampenan, Anda akan langsung melihat bangunan-bangunan tua dengan ciri khas arstitektur bergaya art deco yang memberikan kesan jadul khas peninggalan kolonial Belanda.

Meski bangunan tampak usang, tetapi malah menjadi salah satu daya tarik kawasan wisata ini. Kebanyakan bangunan sudah ada sejak tahun 1800-an sehingga tak heran bila tampak kuno. Memang bangunan yang ada di Ampenan tetap dijaga keasliannya hingga saat ini. Pun jika dilakukan renovasi hanya kecil-kecilan seperti mengecat ulang dan tidak mengubah bentuk bangunan asli.

Sampai saat ini, bangunan tua di Ampenan masih berfungsi dan digunakan oleh masyarakat, misalnya untuk berdagang atau dijadikan perkantoran. Anda bisa menikmati pemandangan di Ampenan dengan berjalan-jalan dan berkeliling sampai ke simpang lima kota tua. Untuk mengelilingi kota tua, wisatawan juga bisa naik cidomo, kereta kuda yang merupakan kendaraan tradisional Lombok.

Keunikan lain yang ada di Kota Tua Ampenan adalah dihuni oleh berbagai etnis. Bahkan, ada beberapa perkampungan yang menggunakan nama tempat asal mereka, contohnya Kampung Arab, Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Banjar, dan Kampung Jawa.

Anda juga bisa menyaksikan aktivitas warga sehari-hari. Misalnya kebanyakan Suku Bugis berprofesi sebagai nelayan, warga Arab dan Tionghoa kebanyakan berdagang, sedangkan Suku Sasak kebanyakan membuka warung makan di bekas pelabuhan. Cobalah mengunjungi Wihara Bodhi Darma. Rumah ibadah yang didirikan tahun 1804 ini lokasinya berada di depan Kampung Melayu yang justru didominasi umat Muslim.

Tentunya tak lupa untuk mengunjungi Pantai Ampenan. Banyak wisatawan berbondong-bondong ke pantai pada sore hari untuk menikmati pemandangan senja sambil mencoba makanan boga bahari atau jajanan yang dijual di dekat pantai.

Setelah puas berjalan-jalan menyusuri Ampenan, jangan lupa untuk menyempatkan mencicipi kuliner nikmat khas Lombok. Di daerah bekas pelabuhan, banyak penjual makanan tradisional seperti plecing kangkung, sate bulayak, ayam taliwang, sate tanjung, dan aneka jajanan. Ada pula Rumah Makan Ramayana yang telah terkenal sejak tahun 1976. Di sana ada es campur yang populer dan menu lain seperti es buah, es kacang hijau, dan es teler durian.

Pantai dan Terumbu Karang Jadi Daya Tarik Unggulan Desa Pemuteran di Bali

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini