Mengenal Ir. Sutami, Menteri PU “Termiskin” Kebanggaan 2 Presiden

Mengenal Ir. Sutami, Menteri PU “Termiskin” Kebanggaan 2 Presiden
info gambar utama

Gambaran umum yang dimiliki banyak orang jika memandang suatu kesempatan menduduki jabatan tinggi dan strategis di pemerintahan, adalah kehidupan yang mewah dan terjamin atau setidaknya berkecukupan hingga hari tua.

Bukan tanpa alasan, karena lazimnya setiap orang yang menduduki posisi tersebut akan mendapat berbagai fasilitas yang diberikan untuk menunjang kinerja dalam menjalankan tugas sebagai pekerja negara, mulai dari tingkat pegawai negeri, dewan rakyat, hingga kursi menteri.

Walau di era sekarang dapat dikatakan jarang bahkan hampir tidak ada, namun kala pemerintahan di masa lampau diketahui terdapat sejumlah pejabat negara yang jauh dari kata kemewahan bahkan menolak keistimewaan tersebut, beberapa di antaranya sebut saja Prof. Dr. Emil Salim, Ma’rie Muhammad, dan Satrio Budiharjo Joedono.

Selain deretan nama di atas, nyatanya ada satu menteri yang hingga kini masih dikenang sebagai sosok terlampau sederhana di mana sepanjang tanggung jawabnya dalam mengemban tugas sebagai pejabat negara, hanya fokus melakukan pembangunan dan mengesampingkan semua kemewahan yang bisa saja dimiliki, yaitu Ir. Sutami.

Peringkat Negara Bebas Korupsi dan Tokoh Antikorupsi yang Dimiliki Indonesia

Sosok di balik Jembatan Semanggi dan Gedung DPR RI

Semanggi tempo dulu
info gambar

Mengutip bibliografi yang dimuat oleh Kementerian PUPR, Sutami dikenal sebagai insinyur sipil asal Surakarta yang lahir pada tahun 1928. Sebenarnya, disebutkan bahwa latar belakang Sutami berasal dari keluarga seni, namun dirinya memiliki ketertarikan semenjak bertemu dengan dunia perhitungan termasuk menghitung konstruksi bangunan, hingga akhirnya mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Teknil Sipil ITB dan lulus pada tahun 1956.

Kecerdasan dalam bidang sipil dan konstruksi bangunan ternyata membawa Sutami kepada jenjang karier yang gemilang. Setelah lulus kuliah dirinya diketahui sempat magang menjadi asisten pengajar mata kuliah Beton Bertulang di Akademi Teknik Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga di Bandung.

Berkat keuletannya, tidak sampai lima tahun ia lalu dipercaya menjabat sebagai Direktur Utama Perusahaan Negara Hutama Karya pada tahun 1961. Sejak saat itu, dirinya sudah dipercaya dalam menggarap berbagai konsep dan prinsip pembangunan nasional serta perkembangan infrastruktur beton di Indonesia.

Sutami bahkan menjadi sosok yang mencetuskan teori perhitungan beton bernama Ultimate Strength Design mulai tahun 1964, di mana teori tersebut berperan besar dalam memperkuat bangunan Stadion Utama Senayan dan pembangunan Gedung DPR RI.

Dirinya juga merupakan sosok yang mempelopori penggunaan konstruksi beton prategang (prestressed concrete) atau beton tanpa menggunakan tiang pertama kalinya di Indonesia, untuk pembangunan Jembatan Semanggi pada tahun 1961, di mana progresnya hanya memakan waktu satu tahun dan diresmikan pada tahun 1962 bersamaan dengan kesempatan Indonesia menjadi tuan rumah dalam gelaran Asian Games IV.

Sutami pertama kali diangkat menjadi Menteri Pekerjaan Umum (PU) pada tahun 1966 di Kabinet Dwikora yang disempurnakan, pada saat dirinya masih berusia 38 tahun dan menjadi menteri termuda kala itu.

Dikenal sebagai menteri yang tidak berpihak kepada partai politik manapun, pada saat pergantian pimpinan negara dirinya kembali dipercaya menjadi Menteri PU. Hal tersebut membuat Sutami menjadi menteri PU dengan jabatan paling lama yakni 12 tahun.

Menjabat di dua masa pemerintahan berbeda, Sutami sudah dikenal sebagai menteri kesayangan dua presiden yakni Soekarno dan Soeharto, yang merasa puas akan kinerja dan hasil pembangunan yang ia lakukan.

Ketika Benyamin Sueb Tolak Jabatan Menteri Penerangan pada Masa Soeharto

Asal muasal julukan menteri ‘termiskin’

Sutami
info gambar

Di balik semua pengabdian dan kinerja gemilang yang diberikan Sutami dalam membangun negara, sejatinya sudah menjadi hal yang wajar apabila ia memiliki kehidupan terjamin dengan segala fasilitas yang diberikan oleh negara.

Namun seperti yang telah disebutkan, Sutami ternyata lebih memilih menjadi sosok yang tidak memanfaatkan situasi secara berlebih dan hidup sederhana dengan apa adanya. Sudah bukan lagi menjadi rahasia jika prinsip kelewat sederhana yang dimiliki Sutami justru membuat dirinya terkadang berada di kondisi sulit hingga mendapat julukan menteri termiskin.

Mengutip Merdeka.com, diceritakan bahwa Sutami sangat jauh dari kesan hidup bermewah-mewahan. Bahkan untuk tempat tinggal pribadi, dirinya diketahui membeli rumah di kawasan Jalan Imam Bonjol, Jakarta dengan cara mencicil, dan rumah tersebut diketahui baru lunas saat dirinya sudah mendekati masa pensiun sebagai menteri.

Bukan hanya itu, rumah yang dimaksud dalam beberapa waktu bahkan kerap mengalami kerusakan seperti atap dan langit-langit yang bocor, namun ia lebih memilih untuk memperbaikinya sendiri. Padahal, waktu itu dirinya sudah menjabat sebagai Menteri PU selama enam periode serta sedang kembali mengemban jabatan sebagai Menteri PU dan Tenaga Listrik.

Hal tak terduga lainnya yang diriwayatkan oleh Kompas, Sutami rupanya juga pernah mengalami pemutusan listrik dari PLN di rumah pribadinya karena telat membayar listrik. Dari kejadian tersebut terungkap meski menjadi menteri, dirinya kerap mengalami kekurangan uang dan tidak pernah menggunakan uang yang bukan haknya.

Lain itu saat melakukan pembangunan ke beberapa daerah terpencil dalam program transmigrasi, Sutami dikenal kuat berjalan puluhan kilometer jika tidak ada transportasi layaknya ojek.

Jika bukan karena diurus langsung oleh pemerintah dan Presiden Soeharto, saat sedang sakit Sutami bahkan diketahui tidak akan mau berobat ke rumah sakit karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan.

Mengenal Maria Ulfah, Advokat Bagi Kaum Perempuan yang Juga Menteri Sosial Pertama RI

Akhir masa bakti dan nama yang abadi

Bendungan untuk mengenang jasa Ir. Sutami
info gambar

Berhentinya Sutami menjabat sebagai menteri pada tahun 1978 dilatarbelakangi dengan kondisi kesehatan yang kian memburuk. Menurut sejumlah pemberitaan, dirinya menderita penyakit lever kronis yang timbul karena kekurangan gizi dan kelelahan bekerja tanpa memikirkan kesehatannya sendiri.

Ia meminta kepada Presiden untuk berhenti menjabat sebagai Menteri PU, dan mulai dirawat di rumah sakit pada tahun yang sama untuk melakukan serangkaian perawatan intensif termasuk operasi. Masa-masa tersebut dijalani Sutami selama dua tahun sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 13 November 1980 di usia 52 tahun.

Untuk mengenang jasanya, pemerintah kemudian membangun sebuah waduk dan bendungan yang diberi nama Bendungan Sutami yang terletak di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Diresmikan pada tanggal 16 Desember 1981, waduk sekaligus bendungan tersebut saat ini berperan besar sebagai pembangkit listrik dengan daya 3 x 35.000 kWh (488 juta kWh/tahun), dan menyediakan air irigasi 24 meter kubik/dt tiap musim kemarau.

Sebelum Sri Mulyani, Indonesia Pernah Punya Dua Menteri Terbaik di Dunia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini