Perjuangan Noay M. Ikhsan dalam Melestarikan Hutan Bakau di Wilayah Pesisir

Perjuangan Noay M. Ikhsan dalam Melestarikan Hutan Bakau di Wilayah Pesisir
info gambar utama

Hari Gerakan Sejuta Pohon Sedunia yang diperingati setiap 10 Januari merupakan momen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pohon bagi berbagai aspek keberlangsungan kehidupan. Kesadaran dari diri sendiri menjadi hal krusial untuk menanam, menjaga, dan melestarikan pohon.

Keberadaan pohon tak hanya membuat lingkungan sejuk dan asri, tapi juga dapat menyelamatkan kita dari bencana. Ditambah lagi kemampuan pohon menghasilkan oksigen dapat bermanfaat bagi mahluk hidup.

Dengan melestarikan pohon, kita dapat membantu menjaga kestabilan iklim, mencegah erosi dan banjir, memberikan makanan dan tempat tinggal bagi hewan, dan merupakan salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan yang nyata saat ini yaitu pemanasan global.

Inisiatif dalam menanam dan melestarikan pepohonan sebenarnya adalah tugas kita sebagai mahluk penghuni bumi. Di Indonesia sendiri ada begitu banyak jenis pohon yang bisa ditanam dan gerakan menanam pohon ini bisa dimulai dari tingkat yang paling kecil, yaitu dari lingkungan tempat tinggal.

Namun, bila memiliki ketertarikan pada jenis pohon tertentu, tak ada salahnya pula untuk mempelajarinya lebih dalam dan menanam di tempat yang memang cocok untuk tanaman tersebut.

Seperti yang dilakukan Noay M. Ikhsan, ia begitu tertarik pada keunikan pohon bakau (mangrove) dan mempelajari berbagai informasi tentang pohon tersebut. Meski berasal dari Kuningan, Jawa Barat, yang tidak punya pesisir, ia pertama kali mengenal pohon bakau dalam kunjungannya ke Cirebon.

Bukti keseriusannya pada pohon bakau, ia pun membuat komunitas Sahabat Mangrove Indonesia untuk berkumpul bersama orang-orang yang punya ketertarikan pada bakau. Sampai akhirnya komunitas ini berbadan hukum resmi dan pada tahun 2017 berubah menjadi sebuah Non-Governmental Organization bernama Wahana Mangrove Indonesia (WAHMI).

“Dari jutaan jenis pohon, kami memilih untuk hanya fokus pada mangrove,” ujar Noay saat dihubungi GNFI pada Selasa, (11/1/2022).

Lestarikan Lingkungan dengan Cara Illegal Planting, Hery Heriyanto: Tanam Saja Dulu

Program WAHMI dalam pelestarian bakau

Noay saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif WAHMI. Meski latar belakang pendidikannya ekonomi dan kebijakan publik, minatnya pada isu lingkungan membuatnya terus belajar di luar pendidikan formal. Di WAHMI, Noay juga mengaplikasikan ilmunya untuk mendalami kebijakan, misalnya politik bakau.

Menurut penjelasan Noay, pohon bakau memiliki pengaruh pada ekosistem laut lainnya. Untuk melestarikan bakau, hutan bakau perlu diperkuat dengan program penanaman, program rehabilitasi, dan program untuk mensosialisasikan pada masyarakat pesisir mengenai betapa pentingnya keberadaan hutan bakau. Hutan bakau juga memiliki pengaruh pada ekosistem padang lamun, ikan karang, dan terumbu karang.

“Jadi kami mengkampanyekan bukan hanya bagaimana menanam mangrove harus masif fi seluruh garis pantai di Indonesia. Tapi di lapangan itu banyak wilayah pesisir yang padang lamunnya menurun. Penyebabnya disebabkan oleh banyak faktor, misalnya abrasi secara alami dan paling sering adalah terjadinya alih fungsi lahan seperti jadi tambak udang atau tambak ikan,” ujar Noay.

WAHMI juga mendukung program pemerintah terkait bakau. Namun, Noay dan tim memberikan catatan pada program-program yang belum berbasis data. Misalnya bisa dilihat dari belum menetapkan wilayah yang memang sudah darurat bakau. Sebab ada beberapa wilayah yang sudah ditanami bakau itu ditanam ulang, padahal harusnya cukup diperkuat pemeliharaannya.

Selama ini, Noay juga berfokus untuk mendoorng pemerintah desa menerbitkan peraturan desa (perdes) karena melihat beberapa daerah yang hutan bakaunya tergerus karena warga desa butuh perluasan lahan guna membangun tempat tinggal.

“WAHMI mendorong pemerintah desa menerbitkan perdes mengenai perlindungan dan pemanfaatan hutan bakau. Karena kalau Cuma menanam bakau tapi tidak dilindungi oleh aspek hukum itu akan percuma.”

Noay juga mengkritik pihak-pihak yang kurang meriset dalam menanam bakau. Sebab, setiap daerah pesisir itu memiliki bakau alami yang berbeda, pun men yesuaikan dengan jenis tanahnya. Jika ditanam tidak sesuai jenis alaminya, akibatnya tidak sampai sebulan pun pohon-pohon itu akan mati dan penanamannya menjadi sia-sia.

“Misalnya di Kabupaten Lebak itu mangrove alaminya itu sonneratia, tapi yang ditanam malah rhizophora, di mana itu laut selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dengan karakter ombak yang besar. Akhirnya pagi ditanam (rhizopora) dan sorenya hilang tersapu ombak.”

Dalam perjalanannya melestarikan bakau, Noay juga mendirikan JAPMI (Jaringan Pegiat Mangrove Indonesia), yaitu perkumpulan orang-orang yang memang tinggal di sekitar pesisir dan tahu betul bagaimana kondisi daerahnya.

Noay juga terus mendorong untuk mengkampanyekan pemanfaatan bakau, misalnya pembuatan arang kayu hutan bakau yang merupakan arang kualitas terbaik.

Selain penanaman, pemeliharaan pohon bakau tentu merupakan hal penting untuk memastikan bibit tumbuh subur dan memberi manfaat. Selama 12 bulan setelah ditanam, bakau harus dirawat secara intens. Dikatakan Noay, program penanaman jutaan pohon bakau akan menjadi sia-sia bila tidak ada rencana pemeliharaannya.

Sugiarto, Dedikasikan Hidup Lebih dari 20 Tahun untuk Gaungkan Aksi Menanam Pohon

Tantangan pelestarian dan edukasi masyarakat pesisir

Melestarikan bakau tentu bukan hal mudah dan penuh tantangan. Noay pun menceritakan tantangan yang ia hadapi, salah satunya perihal advokasi. "Kami berhadapan dengan para pengusaha, tapi kamu juga tidak bekerja sendiri. Kami berkoalisi dengan WALHI, KIARA, dan Greenpeace," jelasnya.

Tantangan berikutnya adalah memberikan pemahaman pada masyarakat mengenai fungsi dari hutan bakau. Menyoal pelestarian bakau, tentunya dibutuhkan pemahaman dari masyarakat pesisir soal seluk-beluk tanaman ini. Menurut penjelasan Noay, masih banyak masyarakat pesisir, tempat di mana tanaman bakau tumbuh, belum memiliki pengetahuan soal bakau. Padahal dari fungsi fisiknya, bisa dijadikan benteng alami untuk abrasi dan menjadi mitigasi bencana.

“Misalnya di daerah rawan tsunami itu kalau ada kerapatan mangrove bisa melindungi daerah daratannya. Mangrove bisa memecah ombak saat tsunami terjadi,” jelas Noay.

Edukasi merupakan hal penting yang harus dilakukan pada masyarakat, khususnya yang tinggal di pesisir. Bagaimana bakau bisa menjadi rumah bagi biota laut juga di atas pohonnya juga bisa jadi habitat beberapa hewan.

Memberikan pemahaman soal bakau kepada masyarakat juga tentu tidak bisa dalam sekali sosialisasi. Selain pelestarian bakau, WAHMI juga membuat program untuk pemberdayaan masyarakat pesisir. Berbagai lokakarya pun dilakukan untuk memberikan informasi pada masyarakat bagaimana memanfaatkan bakau.

Noay sendiri juga memiliki program Donasi Pohon yang diadakan secara rutin. Tujuannya untuk mengajak masyarakat merasakan pengalaman menanam pohon bakau.

Dari berbagai program yang dijalankan, tetap yang paling utama adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peran hutan bakau. “Program tidak akan berjalan lancar kalau masyarakatnya tidak aware. Program kami juga berjalan sesuai basis data yang akhirnya bisa berkelanjutan dan masyarakat wilayah pesisir mampu untuk menjaga, memperkuat, dan melawan jika ada pihak yang ingin alih fungsi lahan.”

Saat ini, ia juga sedang mengembangkan geotag, di mana tumbuh kembang hutan bakau bisa dilihat dari satelit. Bahkan, jika ada orang yang menyumbang bibit pohon bakau tapi tidak bisa ikut menanam, dengan teknologi tersebut bibitnya bisa dipantau secara langsung.

Menutup perbincangan, Noay menyatakan harapannya bahwa komitmen mengenai hutan bakau ini bisa diperkuat dan jadi rencana strategi nasional. "Hal yang paling penting bagaimana program penanaman bibit pohon bisa jadi habit dan lifestyle generasi mudam bukan hanya sebatas seremonial saja."

Upaya Jaga Kelestarian, Asep Zaelani: Ada Keterkaitan Antara Pandemi dengan Kondisi Alam

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini