Mengenal Pencemaran Suara di Lautan Kita

Mengenal Pencemaran Suara di Lautan Kita
info gambar utama

Indonesia adalah negara kepualauan terbesar di dunia yang dikelilingi lautan luas dengan garis pantai yang panjang. Laut punya peran penting dan memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari sumber bahan makanan, jalur transportasi, sumber energi, dan wilayah pertahanan keamanan.

Selain itu, laut juga menjadi habitat bagi ribuan jenis biota laut, mulai dari terumbu karang, bintang laut, ribuan spesies ikan, dan mamalia laut. Keberadaan hewan laut terbilang sangat penting karena dapat menyerab karbon secara alami, mengeluarkan kotoran kaya karbon ke laut dalam, menyuburkan dan melindungi fauna laut, juga menjaga keseimbangan rantai makanan.

Hewan laut yang sehat adalah cerminan dari lautan yang sehat pula. Sayangnya keberadaan mereka terusik oleh tingginya aktivitas di lautan dan berdampak pada timbulnya berbagai ancaman. Selain persoalan sampah, rupanya kebisingan laut dari aktivitas manusia ini juga menganggu dan mengancam kehidupan hewan laut.

Hal ini bisa terlihat dari tingginya kasus mamalia terdampar yang menjadi tanda kehidupan hewan laut dalam bahaya. Salah satu penyebabnya adalah kebisingan laut diidentifikasi sebagai pencemaran laut atau sering disebut sebagai polusi suara.

Staf Ahli Menteri Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pamuji Lestari, mengatakan bahwa selain faktor alam berupa fenomena oseanografi sebagai penyebab mamalia laut terdampar, ada ancaman global lain yang merupakan dampak dari aktivitas manusia, yaitu kegiatan seismik bawah laut dan pencemaran perairan. Hal ini diketahui merupakan salah satu penyebab yang membuat banyak mamalia terdampar dan mengalami kematian di beberapa negara.

Menurut keterangan Pamuji, Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan WWF Indonesia untuk memperdalam pemahaman atas persoalan dan ancaman mamalia laut, khususnya sampah laut dan kebisingan laut.

Potensi Besar Kekayaan Laut Natuna

Fungsi suara bagi hewan laut dan penyebab kebisingan

Tahukah Anda bila di bawah laut banyak hewan yang mengandalkan pendengaran mereka untuk kelangsungan hidupnya? Ya, di bawah laut suara merupakan sarana komunikasi yang sangat efisien dan memang menjadi cara bagi banyak spesies laut untuk memahami informasi tentang lingkungan hidup mereka.

Suara digunakan banyak hal dalam hidup hewan laut, mulai dari menavigasi dan menemukan habitat, mendengarkan dan berkomunikasi dengan hewan lain, menghindari pemangsa, hingga untuk mencari pasangan.

Mengingat begitu banyak kegiatan hewan laut yang butuh mendengarkan suara alami laut, menambahkan kebisingan secara intens dari aktivitas manusia tentu akan mengganggu aktivitas hewan laut dan memberikan dampak yang fatal pada ekosistem laut.

Adapun kebisingan laut disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya lalu lintas kapal besar yang beroperasi mengangkut minyak, kegiatan eksplorasi dan ekspolitasi gas dan minyak, termasuk pembangunan anjungan minyak atau rig, serta pengeboran minyak.

Kebisingan laut juga bisa berasal penggunaan sonar dalam latihan militer. Sonar adalah alat yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menemukan benda dan menentukan letaknya di bawah permukaan air.

Penyebab kebisingan laut lainnya adalah karena keasaman laut dan berbagai sumber alami seperti aktivitas tektonik, gunung api dan gempa bumi, angin, dan gelombang.

Blue Economy: Konsep untuk Pengelolaan Sumber Daya Laut Indonesia Lebih Baik

Pengaruh kebisingan laut pada mamalia laut

Kehidupan bawah laut | @Lewis Burnett Shutterstock
info gambar

Di Indonesia pernah ada kejadian-kejadian yang merupakan pengaruh dari kebisingan laut terhadap mamalia laut. Misalnya kasus paus sperma yang terdampar di Kabupaten Aceh Timur pada 17 Juni 2018, kemudian ada paus pilot ekor sirip pendek (short finned pilot whale) yang juga terdampar pada 25 Mei 2018 di Pantai Tandaiyo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Menurut catatan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Denpasar tahun 2015-2018, ada 107 ekor hewan laut dilindungi yang terdampar. Hewan tersebut terdiri dari 78 paus, 13 hiu paus, 12 lumba-luma, dan 4 dugong. Penyebab terdamparnya hewan-hewan tersebut adalah polusi udara, penggunaan sonar di bawah laut, perburuan, dan luka-luka.

Pada laporan WWF yang dirilis tahun 2014, disebutkan bahwa banyak paus dan mamalia laut terdampar dan penyebabnya masih misteri. Namun, dugaan terkuat adalah polusi suara. Dari hasil atutopsi terhadap tujuh paus yang terdampar di Kepulauan Bahama, Florida, Amerika Serikat, hasilnya paus-paus tersebut mengalami gangguan indera pendengaran dengan adanya perdarahan di dekat telinga dan di dalam cairan otak.

Menurut penjelasan Aimee Leslie, Global Cetacean and Marine Turtle Manager WWF, memang telah ditemukan bukti peningkatan kebisingan di seluruh perairan di dunia. Adapun penyebab dari kebisingan ini diakibatkan oleh lalu lintas kapal berukuran besar dan gelombang sonar untuk eksplorasi minyak lepas pantai, serta pelatihan militer.

Kebisingan yang terjadi di laut dapat tumpang tindih dengan suara mamalia laut dan membuat mereka jadi kebingungan, bahkan bisa mengakibatkan stres. Kata Aimee, paus, lumba-lumba, hiu paus, sering ditemukan terdampar di pantai-pantai Indonesia.

Kebisingan yang terus meningkat di laut pada akhirnya akan memberikan dampak negatif pada hewan laut dan ekosistem. Kebisingan yang lebih tinggi dapat mengurangi kemampuan hewan untuk berkomunikasi dengan calon pasangan, keturunan, dam anggota kelompok lain.

Hewan juga akan mengalami penurunan kemampuan untuk mendengar isyarat lingkungan yang penting untuk kelangsungan hidup mereka. Ini termasuk menghindari pemangsa, mencari makanan, dan menavigasi ke habitat yang merka sukai.

Sebagai contoh, lumba-lumba dan paus tinggal di lingkungan yang tidak terdapat cahaya, yaitu di kedalaman yang jauh dari permukaan laut. Ketika cahaya tidak lagi menembus laut, maka mamalia laut akan mengandalkan suara sebagai indera dan alat berkomunikasi.

Sementara itu tingkat kebisingan di laut terus meningkat dan merambat lebih cepat dibanding di udara. Kondisi ini tentu sangat mengganggu kehidupan mamalia laut yang peka terhadap suara.

Polusi suara ini dapat menyebabkan ikan-ikan menjauh dari habitatnya dan rentan mengalami kematian yang disebabkan oleh perdarahan di sekitar otak, rongga udara, paru-paru dan organ lain. Hewan juga bisa mengalami kehilangan pendengaran, baik sementara maupun permanen.

Taman Laut Olele Tawarkan Keindahan Koral Salvador Dali

Mengatasi kebisingan laut

Ada sebuah penelitian mengenai bagaimana suara buatan manusia dapat memengaruhi satwa liar, yang dipimpin oleh Profesor Carlos M. Duarte dari Universitas Sains dan Teknologi King Abdullah (KAUST). Dinyatakan bahwa sejak Revolusi Industri, manusia telah membuat lautan lebih berisik melalui penangkapan ikan, perkapalan, dan pembangunan infrastruktur.

Dari penelitian tersebut mendapatkan kesimpulan sementara untuk mengurangi dampak kebisingan dari aktivitas manusia pada kehidupan laut menjadi kunci untuk membuat laut lebih sehat. Salah satunya dengan inovasi teknologi sederhana akan mengurangi kebisingan dari baling-baling kapal dan kebijakan dalam industri perkapalan melahirkan inovasi baru.

Sementara itu dari laporan WWF merekomendasikan beberapa metode untuk menurunkan dampak kebisingan terhadap mamalia laut. Caranya dengan mengurangi sumber kebisingan di laut, seperti kapal. Kemudian, diadakan penelitian lebih lanjut mengenai teknologi yang bisa mengurangi kebisingan dari eksplorasi, pengeboran industri minyak di laut lepas, dan aktivitas pelayaran komersial.

Selain itu, penting untuk membatasi perairan yang merupakan habitat paus dari kegiatan yang berpotensi menimbulkan polusi suara, juga implementasi dan pengaturan yang cepat serta efektif berdasarkan panduan dari International Maritime Organization (IMO) dalam menurunkan kebisingan di laut dari pelayaran kapal.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini