Hamzah Fansuri, Simbol Bahari dalam Syair Ketuhanan Sufi Melayu

Hamzah Fansuri, Simbol Bahari dalam Syair Ketuhanan Sufi Melayu
info gambar utama

Nusantara sebagai negeri maritim yang memiliki luas lautan lebih besar daripada daratan, menjadikan sebagian dari isi Kepulauan Indonesia adalah desa-desa maritim.

Hal ini sesuai dengan esai Misbahus Surur, berjudul Nalar Laut Orang Nusantara yang menegaskan: sebagian dari isi Nusantara adalah desa-desa maritim (pesisir): desa-desa yang bertebaran di pinggir-pinggir pantai dan di pulau-pulau kecil.

Koloni-koloni maritim ini makin tegas jika kita menyelam ke dalam arus sejarah, karena nenek moyang kita memang masyarakat “pelaut”. Boleh dikatakan, Nusantara merupakan wilayah yang terindentifikasi sebagai wilayah kelautan.

Mochammad Royyan Habibi dalam esai berjudul Laut dalam Literatur Islam melihat laut di Nusantara menjadi sebuah jaringan perdagangan global maritim yang menghubungkan antara bekas-bekas kerajaan.

Misalnya pada awal abad 17, sebuah Kerajaan Lamuri di Sumatra dengan kekayaannya yang melimpah ruah; penghasil cengkih, kapur barus, dan rempah-rempah menjadikan laut sebagai lintas budaya, lintas sektoral, dan lintas batas.

Menengok Pembuatan Jukung, Perahu Tradisional Kalimantan

Tetapi yang menarik bagi Royyan, laut tidak hanya menjadi sebuah lintas jalur perdagangan dan tempat terbawanya kebudayaan asing. Tetapi juga "pertempuran" dalam merebutkan pengaruh yang disebutnya sebagai jihad laut.

Dari sinilah bisa dilihat dalam sebuah novel karya Azhari Ayyubi yang berjudul Kura-Kura Berjanggut. Lautan Nusantara menjadi ajang perebutan kekuasaan, jalur perdagangan, jalur peradaban dan bercampur baurnya budaya pada masa lalu.

Salah seorang sastrawan yang menjadikan bentangan laut Nusantara sebagai inspirasi adalah Hamzah Fansuri. Sastrawan asal Barus, Sumatra Utara (Sumut) ini hidup pada abad 16 dan banyak puisi-puisinya bertema laut.

"Syair-syair dengan menggunakan lambang laut kemudian seolah menjadi ciri khas tersendiri dari Hamzah Fansuri pada khususnya dan bagi kesusastraan sufistik Melayu pada umumnya," tulis Royyan.

Royyan menyatakan para sastrawan tasawuf Melayu lebih banyak terinspirasi dengan simbol pelayaran laut dengan perahu atau kapal. Hal ini berbeda dengan sastrawan tasawuf Persia yang lebih terinspirasi dari simbol cinta, anggur dan kebun.

Karena itu, bentangan laut Nusantara menciptakan inspirasi bagi banyak orang. Laut Nusantara seperti memiliki pesona tersendiri bagi siapa saja yang mencoba menyelaminya, terutama para tasawuf Melayu.

Hamzah Fansuri, simbol bahari dalam perjalanan Ketuhanan

Prof. Abdul Hadi W.M dalam buku Hermeneutika Sastra Barat dan Timur mengungkap dominannya simbol tentang laut, kapal atau perahu, dan segala hal yang terkait dengan laut dan perahu, digunakan dalam puisi sufi Melayu untuk menggambarkan perjalanan ruhani atau pengalaman mistik.

Walau begitu penggunaan simbol laut dan pelayaran ini tidak serta merta muncul tanpa proses. Sebelum datangnya Agama Islam, penggunaan simbol telah dijumpai dalam banyak cerita rakyat, misalnya untuk menggambarkan perjalanan roh orang mati menuju alam lain.

"Setelah munculnya peradaban Islam di dunia Melayu, simbol-simbol tentang laut dan pelayaran menjadi begitu kompleks dan dominan," tulis Abdul Hadi.

Abdul Hadi mencatat dominasi tentang penggunaan simbol laut, kapal dan perahu tampak pada syair-syair Hamzah Fansuri dan para pengikut tarikatnya di Sumatra pada abad 17 dan 18 Masehi.

Judul-judul syair Hamzah Fansuri berkenaan dengan simbol laut dan pelayaran, di antaranya, Syair bahr al-'Ulya (Lautan Yang Mahatinggi), Syair Ikan Tongkol, Syair Bahr al-Butun (Lautan Batin), Syair al-Haqq, Syair Ikan Gajahmina, dan lain-lain.

Dua penyair Sumatra pada abad 17, 'abd al-Jamal dan Hasan Fansuri juga mengikuti gurunya yaitu memakai simbol laut dan perahu untuk menggambarkan kekuasaan Tuhan. Seperti badan perahu diumpamakan sebagai syari'at, peralatan perahu sebagai tariqat, muatannya sebagai haqiqat, dan laba yang diperoleh sebagai ma'rifat.

Menurut Abdul Hadi, tamsil laut dalam syair-syair Melayu ini digali dalam tiga sumber utama, yaitu Alquran, tradisi sufi Arab dan Persia, dan sejarah datang dan berkembangnya Agama Islam di Kepulauan Nusantara.

Kora-Kora, Kapal Perang Kebanggaan Ternate yang Usir Portugis dari Maluku

Di sini juga ada peran para sufi yang aktif berdakwah mengikuti kegiatan perdagangan dan pelayaran kapal-kapal dagang Islam. Para sufi ini menamakan dirinya sebagai 'anak dagang' yaitu orang-orang yang mengembara dari negeri satu ke negeri lain.

Melalui tamsil-tamsil laut dan pelayaran, para penyair Melayu mengungkapkan aspek kerohanian, termasuk pandangan dunia, sistem nilai, wawasan estetik, dan pandangan hidup mereka yang diresapi oleh ajaran Islam atau ajaran Islam sebagaimana ditafsirkan oleh ahli-ahli tasawuf.

Misalnya dalam tamsil laut Hamzah Fansuri yang biasa menggunakan dunia pelayaran atau alam di atas permukaan laut antara lain, seperti perahu, geladak kapal, makrab, ombak garang, batu karang dan lain-lain.

Tamsil laut dan perahu juga digunakan untuk memberikan kias terhadap 'diri jasmani' manusia yang oleh jiwanya dibawa berlayar menuju 'diri ruhaniyah', contoh yang paling indah adalah syair berikut:

Jika hendak engkau menjeling sawang
Ingat-ingat akan ujung karang
Jabat kemudi jangan kau mamang
Supaya betul ke bandar datang

Anak mu'allim tahu akan jalan

Da'im berlayar di laut nyaman
Markabmu tiada berpapan
Olehnya itu tiada berlawan

(ik. XVIII MS,Jak. Mal 83)

Penggunaan simbol kebaharian sejak zaman kuno

Fadly Bahari dalam artikel berjudul Tamsil Kebaharian dalam Dimensi Keagamaan melihat simbol kebaharian telah digunakan sejak zaman kuno. Hal yang memang sudah disinggung dalam buku Abdul Hadi.

Hal ini dibuktikannya dengan sebutan cella (ruangan kecil dalam sebuah kuil yang merupakan tempat paling disakralkan) yang dalam bahasa Yunani disebut naos atau secara harfiah berarti "kapal".

Hal yang menarik baginya adalah bisa diduga kata naos merupakan derivasi dari bahasa Yunani yaitu nesos yang berarti pulau. Dan terkait juga dengan kata nusa yang dalam bahasa Indonesia juga berarti pulau.

Hal ini juga terkait dengan ungkapan "tanah terbawa angin" yang pada dasarnya bermakna bahwa pada masa lalu ada kemungkinan sebuah kapal dilihat sebagai tanah atau pulau yang terbawa angin.

Fadly melihat interpetasi filosofis yang bisa dibangun dari fenomena penggunaan kata cella yang berakar dari makna pulau atau pun kapal pada masa lampau, menandakan orang pada masa itu menganalogikan kehidupan di dunia ini seperti berada dalam sebuah lautan samudra yang luas.

Kehidupan yang berada di luar kuil, merupakan kehidupan yang liar layaknya gelombang laut ganas. Sedangkan kehidupan di dalam kuil terutama di dalam cella adalah simbolisasi inti kesadaran yang merupakan sumber ketenangan hidup.

"Sebuah bangsa berjiwa bahari yang dalam sejarah tercatat memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan terbukti memberi sumbangsih ilmu pengetahuan dan ajaran kehidupan keagamaan yang signifikan dalam perkembangan peradaban manusia," tulisnya.

Eksistensi Kapal Rakyat Wujudkan Indonesia Poros Maritim Dunia

Karena itulah menurut Fadly hanya bangsa yang berjiwa bahari yang mampu membenamkan filosofi kehidupan maritimnya hingga ke aspek keagamaan. Hal inilah yang bisa dilihat dalam karya sastra sufi Melayu saat mengekspresikan perjalanan ruhani atau pun pengalaman mistikalnya.

Daoed Joesoef misalnya, melihat nilai kehidupan maritim itu telah dihayati leluhur kita sedemikian rupa hingga rumah pun disamakan dengan kapal, serta wadah mayat yang dikubur serta sarkofagus juga berbentuk perahu. Misalnya hal ini dibuktikan dari bentuk atap rumah adat Toraja, Minangkabau serta Nias yang sama bentuknya dengan kapal/perahu.

Adrian Vickres melihat kontur budaya pesisir memang adalah simbol kapal. Bentuk ini dipergunakan di berbagai daerah di Indonesia untuk merepesentasikan perjalanan jiwa. Dengan membandingkan kain tampan dan ritual Lampung misalnya.

"Ada pendapat yang menyatakan bahwa kapal menyimbolkan gerak menempuh babak-babak kehidupan," tulis Vickers.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini