Hari Pendidikan Internasional, Bagaimana Tingkat Pendidikan di Indonesia Saat ini?

Hari Pendidikan Internasional, Bagaimana Tingkat Pendidikan di Indonesia Saat ini?
info gambar utama

Peringatan mengenai Hari Pendidikan jika menilik dalam skala nasional nyatanya memang bukan jatuh di bulan Januari, melainkan Hari Pendidikan Nasional yang biasanya diperingati setiap tanggal 2 Mei, bertepatan dengan momen kelahiran Bapak Pendidikan Indonesia yakni, Ki Hajar Dewantara.

Telah diperingati sejak tahun 1959 sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa besar yang telah dihadirkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam membangun generasi muda di tanah air dari segi pendidikan, peringatan tersebut tak pernah terlewat diperingati selama 62 tahun ke belakang.

Terlepas dari peringatan tersebut, mulai tahun 2019 momen Hari Pendidikan rupanya bertambah satu lagi dengan cakupan dalam skala global, melalui peringatan Hari Pendidikan Internasional (World Education Day) yang telah ditetapkan oleh PBB pada tanggal 1 Desember 2018, untuk diperingati setiap tanggal 24 Januari.

Difasilitasi peringatannya oleh UNESCO sebagai badan yang berwenang di bawah naungan PBB, Hari Pendidikan Internasional diwujudkan sebagai upaya untuk menegakkan pengakuan hak asasi manusia atas pendidikan, serta menggaungkan manfaat pendidikan bagi individu serta masyarakat.

Selain itu, fokus dari perayaan Hari Pendidikan Internasional adalah memastikan adanya wujud dari model pembelajaran yang beragam dan sesuai kebutuhan, agar pendidikan yang berjalan di berbagai negara dapat meningkatkan mutu manusia.

Berangkat dari hal tersebut, tak heran jika setiap orang yang memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan yang baik, biasanya memiliki rasa keingintahuan seperti apa sebenarnya sistem pendidikan yang berlaku di berbagai negara, dan bagaimana keberhasilan negara yang bersangkutan dalam mengimplementasikan sistem pendidikan yang berjalan.

Tanggapan Generasi Muda Terhadap Masa Depan Pendidikan Indonesia

Peringkat tingkat pendidikan dunia, di mana posisi Indonesia?

Meski kurang memuaskan, harus diakui bahwa posisi Indonesia di tingkat dunia dari segi sistem dan kualitas pendidikan masih jauh dari peringkat terbaik, dan membutuhkan banyak pembenahan.

Beradasarkan data yang dipublikasi oleh World Population Review, pada tahun 2021 lalu Indonesia masih berada di peringkat ke-54 dari total 78 negara yang masuk dalam pemeringkatan tingkat pendidikan dunia.

Tapi setidaknya posisi tersebut naik satu peringkat dari tahun sebelumnya yakni di tahun 2020 yang ada di peringkat ke-55.

Dari acuan tersebut pula, Indonesia masih kalah unggul dengan berada di posisi ke-4 jika dibandingkan dengan sesama negara yang berada di kawasan Asia Tenggara seperti Singapura di peringkat 21, Malaysia di peringkat 38, dan Thailand di peringkat 46.

Beberapa negara Asia Tenggara dengan sistem dan kualitas pendidikan yang masih ada di bawah Indonesia di antaranya Filipina di peringkat 55, Vietnam di peringkat 66, dan Myanmar di peringkat 77.

Sementara itu untuk jajaran 10 negara dengan urutan sistem dan kualitas pendidikan tertinggi diisi oleh Amerika Serikat, Britania Raya, Jerman, Kanada, Prancis, Swiss, Jepang, Australia, Swedia, dan Belanda.

Melihat Catatan Rasio Murid-Guru dalam Jenjang Pendidikan di Indonesia

Hal-hal yang perlu dibenahi dari pendidikan Indonesia

Ilustrasi guru, bagian terpenting dari pendidikan di Indonesia
info gambar

Kenyataan mengenai posisi di atas tentu memunculkan tugas besar yang menjadi tanggung jawab berbagai pihak untuk memperbaiki sistem serta kualitas pendidikan yang berlaku di Indonesia.

Bukan perkara baru, permasalahan ini sebenarnya sudah menjadi salah satu hal yang paling disorot sejak lama agar mendapat pembenahan. Lantas apa saja yang sebenarnya masih menjadi PR dan perlu dibenahi dari pendidikan di Indonesia?

Pengamat Pendidikan Budi Trikorayanto, dalam keterangan yang dipublikasi oleh DW, mengungkapkan jika sebenarnya ada beberapa hal utama yang perlu mendapat perubahan besar dari pendidikan di tanah air, yaitu dari segi kualitas pengajar serta sistem pendidikan itu sendiri yang dirasa masih terlalu membelenggu dengan paham lama.

Budi menilai jika kompetensi guru di Indonesia masih berada di tingkat yang sangat rendah. Dirinya mengungkap, jika dilihat dari hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) nilai yang diperoleh rata-rata masih di bawah 5.

Padahal, kualitas murid atau siswa yang belajar dari pendidikan di Indonesia nyatanya dipengaruhi oleh tenaga pengajar yang kompeten. Belum lagi, permasalahan tak kalah penting dari tenaga pengajar di Indonesia adalah isu mengenai guru honorer yang terkadang mendapat perhatian dan apresiasi kurang layak.

Bukan hanya dari segi materi, melainkan juga apresiasi moral yang belakangan ini tak dimungkiri kerap menimbulkan permasalahan serius.

Kedua, hal lain yang juga menjadi permasalahan adalah mengenai sistem pembelajaran atau yang di Indonesia sendiri lebih dikenal sebagai kurikulum, di mana keberadaannya masih bersifat baku dan membelenggu.

Lebih detail, beberapa hal yang dimaksud bersifat baku dan membelenggu adalah masih diterapkannya paham-paham lama dalam dunia pendidikan yang membatasi kreativitas dan perluasan wawasan murid, di antaranya tradisi dan pandangan bahwa angka pada nilai menjadi satu-satunya indikator dan patokan kecerdasan, serta pengkotak-kotakan minat.

Menurut Budi, karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda, mereka diyakini akan menjadi lebih cerdas bila mempelajari suatu hal yang sesuai dengan minat dan bakat serta kompetensi yang dimiliki oleh diri masing-masing.

Punya Kurikulum Berbeda, Bagaimana Sistem Pendidikan Sekolah Internasional di Indonesia?

Proses menuju perubahan

Beruntungnya, meski masih berada di tahap awal dan baru permulaan, baru-baru ini pihak yang berwenang dan memiliki pengaruh besar dalam sistem pendidikan di Indonesia yakni Kementerian Pendidikan mulai melakukan berbagai macam penyesuaian, dan melihat perlunya diberlakukan sistem pendidikan yang fleksibel dengan kompetensi masing-masing pelajar di tanah air.

Perubahan tersebut ditandai dengan mulai diberlakukannya kurikulum prototipe yang beberapa waktu lalu sempat rampai diperbincangkan.

Sedikit kembali mengulas mengenai konsepnya, kurikulum prototipe hadir dengan kesempatan memberi ruang lebih luas bagi pengembangan karakter dan kompetensi dasar para pelajar dalam hal ini pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di tanah air.

Nantinya, para siswa diperkenankan untuk memilih sendiri materi pelajaran atau bidang apa yang ingin mereka dapatkan selama bersekolah, sebagai modal untuk mencapai rancangan karier yang telah dimiliki atau bahkan dirancang.

Meski masih dalam tahap uji coba dan bersifat pilihan bagi lembaga pengajar atau dalam hal ini sekolah tertentu, nyatanya banyak pihak yang berharap agar perubahan yang dihadirkan dapat diterapkan oleh sebagian besar pengajar dan memberikan perubahan lebih baik bagi sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia.

Memahami Sistem Kurikulum Prototipe, Lebih Unggul Dibanding Kurikulum Sebelumnya?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini