Camilan Enting-Enting Gepuk, Tanda Eksistensi Etnis Tionghoa di Salatiga

Camilan Enting-Enting Gepuk, Tanda Eksistensi Etnis Tionghoa di Salatiga
info gambar utama

Ketika ke Salatiga terdapat salah satu jajanan khas daerah yaitu enting-enting gepuk yang merupakan makanan ringan terbuat dari kacang tanah, gula pasir, air dan vanili. Makanan ini berbentuk prisma segitiga sama kaki dan dibungkus dengan kertas.

Makanan ini memiliki rasa manis gurih renyah dan rasa khas kacang tanah yang sangat terasa. Disebut sebagai gepuk karena proses pembuatannya digepuk sampai halus hingga semua bahan tercampur jadi satu.

Enting-enting gepuk merupakan makanan khas yang berasal dari Tionghoa yang sampai saat ini masih dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, baik untuk cemilan maupun panganan menjamu tamu. Makanan ini pun selalu diburu masyarakat yang sedang pergi ke Salatiga.

Enting-enting gepuk yang banyak dicari dan diburu oleh masyarakat adalah enting-enting gepuk cap klenteng dan 2 hoolo. Produk ini merupakan enting-enting yang berasal dari Salatiga, sehingga sering dijadikan sebagai buah tangan khas kota yang memiliki julukan De Schoonste Stad van Midden-Java (Kota Terindah di Jawa Tengah).

Enting-enting dibuat pertama kali oleh seorang juru kunci klenteng Hok Tek Bio di Salatiga, Bernama Khoe Tjong Hook. Dirinya berasal dari Fukkian, China. Dari China, dia melakukan imigrasi ke wilayah Indonesia lebih tepatnya ke wilayah Parakan.

Di parakan dia menikah dengan warga setempat bernama Suminah. Setelahnya dirinya lama menetap di Parakan. Khoe lalu melakukan perjalanan dari Semarang menuju Klenteng Hok Tek Bio yang terletak di Jalan Letnan Jenderal Sukowati no. 13, Salatiga.

Awal mula dirinya pergi ke Salatiga bukan untuk berdagang ataupun mencari pekerjaan. Namun menjadi penjaga kelenteng. Setibanya Khoe di Salatiga, dia lalu menjaga Klenteng Hok Tek Bio. Pada tahun 1929, enting-enting mulai diproduksi.

Tak Hanya Menjadi Kota Toleran, Salatiga Menuju Kota Gastronomi

Awal mula pembuatannya, enting-enting yang diproduksi bukan sebagai makanan yang dijual, namun hanya dijadikan sebagai suguhan para tamu yang mengunjungi klenteng. Barulah pada tahun 1930, enting-enting diproduksi untuk dijual.

Dalam proses pembuatannya, enting-enting tidak boleh dibuat di dalam klenteng sehingga proses pembuatannya berada di luar klenteng. Pada mulanya enting-enting berbentuk bulat dan dibungkus dengan daun bambu yang dikeringkan dan belum memiliki cap khusus.

Tetapi seiring berjalannya waktu, makanan ini menjadi kudapan yang digemari oleh banyak orang. Sehingga produksinya dilakukan dengan skala besar. Ketika diperjualbelikan, peminat enting-enting gepuk berasal dari bangsa asing, yaitu orang-orang Belanda.

Pada masa itu tidak semua orang dapat mengonsumsi olahan enting-enting ini, karena merupakan panganan dengan harga yang relatif mahal, bagi masyarakat pribumi maupun masyarakat China sendiri.

Enting-enting gepuk asal Salatiga

Enting-enting gepuk mulai mendapatkan merek dan mengalami perubahan dari segi kemasan di mana yang mulanya dikemas dengan daun bambu yang dikeringkan, lalu pada tahun 1965 makanan ini mulai dikemas dengan kertas.

Selain terjadi perubahan dalam kemasan, makanan ini juga mengalami perubahan dalam segi bentuk. Enting-enting yang awalnya berbentuk bulat, kemudian berubah menjadi segitiga. Perubahan dari bulat menjadi segitiga karena lebih mudah dalam hal pembuatan.

Pada tahun itu putri dari Khoe yang bernama Khoe Tang Nio memberi nama pada enting-enting buatannya dengan merek enting-enting gepuk cap Klenteng. Sedangkan cap 2 Hoolo merupakan cap enting-enting yang diberi nama oleh anak lain dari Khoe.

Pada tahun 1965, kedua anak Khoe menggabungkan kedua merek dari enting-enting tersebut menjadi enting-enting gepuk cap Klenteng dan 2 Hoolo. Pasalnya Khoe Tang Nio merupakan warga negara asing, sehingga sulit mendapatkan perizinan hak paten.

Pada tahun 1967, Enting-enting gepuk cap Klenteng dan 2 Hoolo mendapatkan izin sebagai produk yang dipantenkan. Sehingga pada tahun 1967, enting-enting ini resmi diberi nama enting-enting gepuk cap Klenteng dan 2 Hoolo.

Pohon Pengantin Salatiga, Pohon Kesepian Penyatu Dua Insan

Merk ini memiliki latar gambar klenteng dan dua hoolo pada kertas pembungkus makanan tersebut. Gamber klenteng pada kertas pembungkus memiliki makna bahwa enting-enting gepuk pertama kali dibuat di lingkungan Klenteng Hok Tek Bio.

Sedangkan adanya dua holoo pada sisi kanan dan kiri yang berlambang kendi berbentuk labu dalam bahasa China memiliki nama Wu Lou. Wu Lou atau labu botol merupakan simbol tradisional kuat dari umur panjang, kesehatan yang baik, kemakmuran dan berlimpahnya berkat

Sementara itu dari segi pemasaran, enting-enting ini dipasarkan di perkampungan dan pasar-pasar tradisional di sekitar wilayah Salatiga. Selain itu, Khoe juga memiliki kios khusus yang menjual enting-ening gepuk yang bernama toko Klenteng. Pada tahun 1971, kepemilikan toko Klenteng diteruskan oleh Khoe Tan Nio.

Jejak keluarga Khoe Tjong Hok

Dipaparkan National Geographic, Khoe selama di Salatiga memiliki lima orang anak yaitu Khoe Poo Liong, Koe Djioe Nio, Khoe Tan Nio, Khoe Poo Soen, dan Khoe Poo Hauw. Pada saat kematiannya, produksi enting-enting gepuk ini diteruskan oleh anak-anaknya.

Khoe memang telah melibatkan anak-anaknya dalam proses produksi enting-enting. Pasalnya saat itu, dirinya kewalahan untuk memproduksi makanan ini sendirian. Apalagi banyak saingan yang telah menjual produk serupa.

Ketika itu Khoe masih mengemas enting-enting gepuk dengan menggunakan daun bambu yang dibentuk segitiga, lalu dijual dalam sebuah keranjang. Karena memang waktu itu harga pembungkus makanan manis tergolong malah.

Maka dari itu dirinya meminta bantuan kepada anak-anaknya untuk terlibat dalam produksi dan menjualkan enting-enting gepuk. Khoe juga menambahkan kualitas dari isi sehingga lebih padat pada makanannya tersebut.

Sejarah Hari Ini (24 Juli 750) - Prasasti Plumpungan, Penanda Hari Jadi Kota Salatiga

Hingga masa kini produksi, enting-enting gepuk masih diteruskan oleh Hartono anak ketiga dari keturunan Khoe, putri ketiga Khoe Tjong Hok dan Khoe Lio Lien dari keturunan Khoe Poo Hauw. Putra kelima dari Khoe Tjong Hok.

Seiring berjalannya waktu, enting-enting gepuk kini telah diproduksi oleh banyak pihak. Tidak hanya dari keturunan Khoe Tjong Hok saja. Namun itu tak menjadi masalah, enting-enting gepuk sudah menjadi ikon kota Salatiga.

“Makanan ini telah memiliki banyak peminat, karena selain rasanya yang unik, enting-enting gepuk juga menjadi solusi mudah oleh-oleh untuk keluarga di luar kota,” jelas Ratu Halu Dianee dalam artikel berjudul Enting-Enting Gepuk: Camilan Khas Tanda Eksistensi Orang Tionghoa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini