Mengintip Inovasi Alat Memilah Limbah Pakaian Garapan Mahasiswa ITS

Mengintip Inovasi Alat Memilah Limbah Pakaian Garapan Mahasiswa ITS
info gambar utama

Bukan hanya plastik, tantangan sampah yang harus selalu siap dihadapi dan terus diupayakan dengan serius penindakannya juga terdiri dari berbagai jenis, sesuai dengan ragam barang yang digunakan dalam kehidupan manusia, misalnya sampah medis dan elektronik.

Namun selain tiga jenis sampah di atas, masih ada satu jenis sampah lain yang tak boleh luput dari perhatian dan mendapat penanganan serius, karena produksinya yang terus berjalan terkait kebutuhan pokok, yaitu sampah tekstil atau pakaian.

Menurut salah satu sumber, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya, yang berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menunjukkan jika pada Agustus 2021 terdapat sekitar 1,7 juta ton sampah tekstil per tahun yang dihasilkan dari 292 kabupaten di seluruh Indonesia.

Meski begitu, pihak KLHK menjelaskan jika keberadaan sampah tekstil atau pakaian sebenarnya merupakan masalah yang di saat bersamaan memiliki potensi untuk dimanfaatkan dengan lebih mudah dibanding jenis sampah lain, asalkan pengelolaannya dilakukan dengan baik.

Hal tersebut yang melatarbelakangi sebuah kelompok mahasiwa dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), untuk menggarap alat prototipe yang dapat menjalankan proses pemilahan sampah pakaian, yakni Bhusana.

Mengenal Konsep Fast Fashion dan Dampaknya Pada Lingkungan Hidup

Pemilahan sampah pakaian melalui tiga proses

Prototipe Bhusana
info gambar

Mengutip publikasi dari laman resmi ITS, dijelaskan bahwa dalam penggunaan prototipe Bhusana akan ada tiga proses yang harus dilakukan dalam menangani sampah pakaian, yakni proses pengumpulan, pengambilan, dan pemilahan.

Lebih lanjut, proses pengumpulan adalah saat di mana para donatur yang memiliki pakaian sudah tak terpakai memfoto pakaian yang akan mereka donasikan. Kemudian, Bhusana akan mengenali pakaian tersebut dengan tiga macam klasifikasi, yaitu pakaian layak pakai, pakaian tidak layak pakai kerusakan minor, dan pakaian tidak layak pakai kerusakan mayor.

Setelah itu, Bhusana akan mencetak kode quick response (QR) untuk identitas pakaian dan membuka tutup kotak secara otomatis. Saat kotak terbuka, donatur diharapkan meletakkan pakaian tersebut ke dalamnya dan akan memperoleh kupon yang dapat ditukarkan dengan sembako.

Selanjutnya, data pakaian yang sudah terkumpul pada kotak Bhusana akan dikirimkan ke database cloud service yang telah dibuat tim pengembang. Untuk proses pengambilan, sistem ini nantinya akan mengandalkan pengiriman truk yang bertugas mengambil setiap pakaian dalam kotak Bhusana yang tersebar di sejumlah kelurahan.

Kemudian, truk tersebut akan berangkat menuju bank daur ulang pakaian untuk selanjutnya dipilah dengan bantuan QR code yang sebelumnya sudah terbuat. Terakhir, petugas yang terlibat baru akan membuat keputusan penindakan sampah pakaian berdasarkan klarifikasi yang telah ditentukan oleh Bhusana.

Secara umum, ada tiga pilihan destinasi yang akan ditetapkan untuk sampah-sampah pakaian tersebut. Pertama, pakaian tidak layak pakai dengan kerusakan minor akan disalurkan ke Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai bahan produksi. Kedua, pakaian tidak layak pakai dengan kerusakan mayor akan dikirim ke pabrik daur ulang sampah tekstil, dan terakhir pakaian yang masih layak pakai akan melalui tahapan outfit matching terlebih dahulu.

SUH dan Ragam Produk Bernilai Tinggi dari Limbah Pakaian

Inisiasi mahasiswa dari berbagai jurusan

Tidak spesifik dibuat oleh kelompok mahasiswa yang berasal dari satu fakultas saja, inovasi ini dihadirkan oleh sebuah tim bernama Go Go Haf yang didalamnya terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi lintas departemen, yakni Fitria Urbach dan Aprilia Susanti yang berasal dari Departemen Matematika, serta Fairuz Hasna Rofifah yang berasal dari Departemen Teknik Informatika.

Lain itu, mereka juga dibantu oleh Riko dari Departemen Teknik Elektro dan Zahra dari Teknik Informatika. Dalam penggarapannya, kelompok mahasiswa tersebut berada di bawah bimbingan Hadziq Fabroyir S. Kom., Ph.D. selaku dosen di Departemen Teknik Informatika.

Fitria yang berperan sebagia ketua tim mengungkap, jika penggarapan prototipe Bhusana bertujuan untuk mempermudah dan meningkatkan baik efisiensi maupun transparansi dalam distribusi daur ulang pakaian.

Inovasinya telah berhasil meraih medali perak dalam kategori Kota Cerdas pada kompetisi Gemastik XIV yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada tahun lalu, Fitria mengatakan jika kedepannya mereka akan mengembangkan fitur yang ada pada Bhusana.

“Gerakan fesyen berkelanjutan melalui proses daur ulang pakaian akan bisa diterapkan dengan baik jika turut melibatkan pemerintah di dalamnya,” pungkas Fitria.

Memahami Sustainable Fashion, Gerakan Menyelamatkan Bumi dari Sampah Industri Mode

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini