Potret Kelam Penjarahan dari Hilangnya 400 Candi Kuno Dieng

Potret Kelam Penjarahan dari Hilangnya 400 Candi Kuno Dieng
info gambar utama

Kompleks Candi Dieng adalah kelompok kompleks candi Hindu abad ke 7 yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia. Kompleks yang terdiri dari beberapa bangunan ini berasal dari Kerajaan Kalingga.

Kawasan dataran tinggi ini merupakan tempat berdirinya sembilan candi Hindu kecil yang merupakan salah satu bangunan keagamaan tertua di Jawa. Penduduk Jawa lokal menamakan setiap candi sesuai dengan tokoh wayang Jawa.

Hal yang menarik adalah diperkirakan semula terdapat sebanyak 400 candi di kompleks Dataran Tinggi Dieng, namun kini tersisa sembilan. Hal ini bedasarkan catatan awal pada masa kolonial Hindia Belanda.

Thomas Stamford Raffles dalam buku The History of Java menyebut ada ratusan candi kuno di Dieng. Raffles ketika itu mengunjungi Dieng pada tahun 1815 Masehi. Pada laporannya, dia menyebut candi dan situs kuno di tempat ini berjumlah sekitar 400.

Situs ini diyakini dibangun oleh peradaban yang begitu tinggi, menilik desain dan arsitekturnya. Raffles lantas menugaskan Kapten Baker untuk melukiskan kondisi Dieng selama tiga pekan.

Dalam beberapa menit mempelajari tanah ini, telah ditemukan bekas-bekas situs yang jumlahnya mendekati 400 candi, mempunyai jalan yang lebar dan luas, mengelilingi di antara candi-candi tersebut pada sisi kanan,” tulis Raffles dalam bukunya yang disadur dari Liputan6.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

Bila catatan Raffles benar, jumlah candi di kompleks percandian Dieng hampir dua kali lipatnya kompleks Candi Sewu maupun Prambanan. Itu belum termasuk ribuan arca batu maupun logam mulia, artefak, hingga berbagai harta benda.

Setelah Raffles hengkang, datang pemerintah Kolonial Belanda. Penelitian dilanjutkan oleh pemerintah Belanda. Tetapi pada tahun-tahun selanjutnya kondisi Dieng benar-benar telah berubah.

Dari dokumentasi sketsa, lukisan dan laporan, jumlah candi kuno yang tersisa tinggal segelintir. Lainnya raib. Kompleks Candi Arjuna menjadi salah satu yang masih tersisa sesuai dengan lukisan buku Raffles.

Robohnya ratusan candi Dieng

Pembina Komunitas Cagar Budaya (KCB) Banjarnegara, Heni Purwono menyebut dalam proses restorasi sejumlah candi kuno yang bisa disaksikan hari ini, pemerintah Kolonial Belanda menggunakan material candi untuk menguruk tanah dan membuat jalan.

Beberapa material batuan lainnya digunakan untuk membuat semacam gudang, yang disebut pesanggrahan, untuk menyimpan arca, atau temuan-temuan penting dari proses eskavasi. Tetapi menurut Heni ada motif politik kolonial dalam program restorasi ini.

“Mungkin juga, karena tipikal (kolonialisme) Belanda dan Inggris kan beda,” ucapnya saat ditanya kemungkinan upaya penghancuran sejarah Nusantara oleh kolonial.

Candi-candi Tertinggi di Bumi Pertiwi

Tetapi, Heni tidak lantas sepenuhnya menyalahkan pemerintah kolonial Belanda. Pasalnya beberapa tahun sebelum Belanda datang ke Dieng. Raffles telah menyaksikan bahwa penduduk setempat menggunakan material candi untuk membangun rumah atau jalan.

Di wilayah pedesaan di sekitar Dieng, antara Gunung Dieng menuju Prambanan, dirinya menyaksikan beberapa reruntuhan candi, patung-patung yang telah rusak dan bekas-bekas ritual Hindu.

Beberapa penduduk antara Blederan dan Jetis, pada jalan dari Banyumas melewati Kedu, menggunakan rerentuhan terbesar ini untuk membangun dinding rumah-rumah mereka,” tulis Raffles.

Menurut Raffles, dibanding Candi Prambanan, batu-batu Candi Dieng relatif kecil dan berukuran sama sehingga lebih mudah diangkut. Alhasil penjarahan besar-besaran oleh bumiputra juga terekam dalam beberapa catatan lain pada era sama.

J.F Scheltema dalam Monumental Java (1912) menceritakan pengalamannya ketika berada di Dieng. Di sebuah penginapan, seorang bumiputra mendekati Scheltema dan menawarkan artefak dari Dieng yakni sebuah patung emas seukuran telapak tangan orang dewasa.

“Penjual itu mengaku mendapatkannya dengan harga 7 gulden,” tulisnya.

Potret penjarahan yang memilukan

Disadur dari Youtube Asisi Channel, pasca pengeringan danau oleh Isodore van Kinsbergen, jumlah tinggalan yang spektakuler di Dieng menjadikannya ladang perburuan artefak dan bahkan rebutan dari tiga kadipaten.

Bedasarkan notulensi pemerintah Hindia Belanda, pada awal pembersihan Dieng, seorang adipati dari Purworejo menutup jalan dan meminta para pekerja mogok jika tempat ini tidak dimasukkan ke wilayahnya.

“Di tataran masyarakat, batu-batu candi ini dijarah untuk bahan membangun rumah, sedangkan arca dan artefaknya diperjualbelikan. Prasasti bisa muncul di halaman rumah rakyat dan raib keesokan harinya,” ungkap Sasakala Asisi Suharianto.

Menurut Asisi, pemerintah Hindia Belanda sebenarnya telah menghimbau rakyat agar artefak yang ditemukan di reruntuhan candi Dieng diserahkan kepada pemerintah. Namun karena kompensasinya rendah, rakyat pun menjualnya kepada penadah.

“Dari jalur ini, bedasarkan catatan Scheltema, arca dan artefak Dieng mengalir ke berbagai museum dunia maupun koleksi pribadi,” ucapnya miris.

Sejarah Hari Ini (26 Mei 824) - Candi Borobudur Selesai Dibangun

Ada beberapa faktor yang menyebabkan “pesta” penjarahan Candi Dieng makin tidak terkendali. Menurut Ancah Yosi Cahyono, seorang penggiat sejarah, faktor pertama adalah kurangnya pengawasan dari pemerintah Hindia Belanda akibat lokasi Dataran Tinggi Dieng yang terpencil.

Lalu faktor ekonomi yang mendorong sebagian rakyat kala itu untuk menjarah demi memenuhi kebutuah sehari-hari. Hal yang paling utama, kata Ancah, ada hukum supply dan demand yang berlaku.

“Rakyat menjarah ketika ada permintaan dari luar,” sindir Ancah.

Faktor ketiga adalah mentalitas korupsi. Pada saat pemerintah Hindia Belanda berupaya melakukan penyelamatan dengan mendirikan pesanggrahan untuk menampung sisa-sisa peninggalan.

Ternyata penjaga yang ditugaskan di sana diam-diam malah menjadikannya galeri penjualan artefak. Semua insiden ini tercatat dalam laporan para saksi mata, yakni JFG Brummund (1855), NW Hoepermans (1867), dan N.J Krom (1923).

Selain ketiga hal ini, menurut Asisi, faktor yang tidak bisa diabaikan adalah keturputusan budaya yang menyebabkan sebagian warga kala itu menjadi tidak peduli dan mudah menjarah candi.

Hal ini bisa terlihat dari penamaan candi-candi Dieng yang sejak zaman pemerintah Hindia Belanda pun telah menggunakan nama-nama wayang kulit, terutama dari Mahabharata bukan wayang zaman Jawa Kuno.

Sehingga bisa dibilang, rakyat ketika itu sudah tidak familiar lagi dengan budaya yang melatar belakangi berdirinya candi-candi di Dieng. Walau begitu, beragam alasan ini tidak sepantaskan membuat Percandian Dieng layak diperlakukan demikian.

Tentunya bila 400 candi yang disaksikan Raffles itu masih ada, ditambah panorama alam Dieng yang begitu memukau. Asisi menyakini bahwa kompleks Candi Dieng akan menjadi jauh lebih terkenal dari Borobudur, Prambanan, bahkan Angkor Wat di Kamboja.

“Namun apa yang telah hilang, tak perlu lagi kita ratapi. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga yang masih tersisa, dengan sebaik-baiknya. Agar keluhuran budaya ini dapat terus disaksikan anak-cucu kita, serta melahirkan berkah bagi kehidupan warga sekitar,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini