Tak Terpengaruh Sawit, Sosok Ini Konsisten Produksi Minyak Klentik Selama 50 Tahun

Tak Terpengaruh Sawit, Sosok Ini Konsisten Produksi Minyak Klentik Selama 50 Tahun
info gambar utama

Kelangkaan minyak goreng yang terjadi saat ini memang menimbulkan permasalahan yang cukup besar bagi masyarakat Indonesia. Namun bagi beberapa kalangan tertentu, kondisi yang terjadi rupanya tidak memberikan pengaruh yang begitu berarti karena sudah lama atau terbiasa beralih menggunakan jenis minyak yang berbeda, bahkan cenderung memiliki lebih banyak khasiat, yakni minyak klentik.

Lebih banyak dikenal juga sebagai minyak kelapa, meski mulai banyak digaungkan sebagai bahan pangan alternatif dan dihadirkan dengan sejumlah inovasi baru, sebenarnya keberadaan dan pengolahan minyak klentik sendiri sudah ada sejak lama.

Sejak dulu, pengolahannya banyak dilakukan secara tradisional oleh sejumlah kalangan di beberapa desa dan selalu memiliki peminatnya sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu pembuat minyak klentik tradisional mulai berkurang, bersamaan dengan populernya pengolahan minyak kelapa dengan cara lebih modern yang kaya akan khasiat dan hanya digunakan oleh sejumlah kalangan tertentu.

Meski begitu, hingga saat ini setidaknya masih ada segelintir pembuat minyak klentik tradisional yang mempertahankan kearifan lokal tersebut, salah satunya adalah Mbah Tumi, seorang warga Padukuhan Gedangsari, Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Inovasi Terbaru Minyak Goreng dari Kelapa dan Ragi Tempe

Membuat minyak klentik selama 50 tahun

Mbah Tumi saat membuat minyak klentik
info gambar

Mbah Tumi adalah seorang nenek berusia 70 tahun dan menjadi sosok yang masih konsisten melakukan produksi minyak klentik secara tradisional, bahkan bisa dibilang sebagai satu-satunya orang yang bertahan membuat minyak tersebut di kampungnya.

Sudah mengolah minyak yang berasal dari kelapa murni tersebut selama 50 tahun sejak 1970, dulunya dia biasa membuat minyak klentik dengan mendiang suami yang kini sudah meninggal dunia sejak keduanya masih berusia muda.

Jelas, kapasitas pembuatan yang dia lakukan saat ini sudah tidak bisa lagi sama seperti dulu, apalagi sekarang dia melakukannya seorang diri.

"Kalau sekarang kadang sehari, kadang dua hari sekali baru membuat minyak klentik. Saat masih muda dan suami masih hidup dalam sehari bisa menghabiskan 1.000 butir kelapa untuk membuat minyak klentik hanya dalam waktu dua minggu," ujar Mbah Tumi, mengutip IDN Times.

Sedangkan saat ini, dirinya diketahui hanya bisa mengolah sebanyak 50 butir atau paling banyak 100 butir kelapa yang dibelinya seharga Rp5.000-Rp6.000 per butir dalam sekali produksi, di mana jumlah tersebut hanya menghasilkan sekitar tiga liter minyak klentik.

Mengenai harga, minyak klentik berukuran 600 mililiter ia jual dengan harga Rp50 ribu, sedangkan untuk ukuran 1,5 liter dijual dengan harga Rp125 ribu. Mbah Tumi biasa menjajakan minyak klentik buatannya di Pasar Argosari Wonosari, di mana ia biasa berangkat berjualan sekitar pukul 03.00 WIB dini hari dan akan habis terjual pada kisaran pukul 07.00 WIB.

Mbah Tumi juga menjual minyak klentik dengan ukuran plastik kecil yang dibanderol dengan harga lebih murah yakni sekitar Rp8.000 per bungkus. Untuk kemasan tersebut, dia lebih banyak menitipkan penjualan ke pedagang sayur kecil.

Lain itu bukan hanya untuk dijual ke pasar atau ke tukang sayur, dirinya juga mengungkap jika biasanya selalu ada beberapa orang tertentu yang memesan secara khusus atau tiba-tiba datang langsung ke rumahnya untuk membeli minyak klentik, sehingga kadang sudah habis lebih dulu sebelum dijual ke pasar.

Potensi Minyak Kelapa Murni sebagai Olahan Pangan hingga Antivirus

Proses pembuatan yang lama dan melelahkan

Minyak klentik selama ini memang dikenal memiliki harga yang lebih tinggi atau mahal jika dibandingkan dengan minyak sawit biasa. Selain karena lebih banyak khasiat yang diperoleh, proses pembuatannya sendiri memang tidak mudah, bahkan terbilang melelahkan terutama jika dilakukan secara tradisional.

Diceritakan jika proses pembuatan dimulai pukul 07.00 WIB, Mbah Tumi baru selesai mengolah pukul 15.00 WIB, bahkan bisa sampai pukul 18.00 WIB jika jumlah kelapa yang diolah mencapai 100 butir.

Untuk membuat minyak klentik, kelapa yang sudah dibersihkan batoknya kemudian diparut dan diambil santannya. Kemudian, santan dimasak dengan api yang secukupnya dan diaduk terus menerus hingga menjadi blondo.

Blondo kemudian dimasukkan ke dalam saringan dan diperas menggunakan kain, dari proses itu baru diperoleh minyak klentik dan olahan sampingan berupa blondo kering.

Lebih lanjut diceritakan jika akan lebih baik apabila air yang digunakan untuk memasak kelapa yang sudah diparut adalah air kelapa itu sendiri. Menurutnya, hal tersebut akan membuat kualitas minyak klentik yang dihasilkan menjadi lebih bagus dan blondo menjadi lebih gurih.

Health Fryer, Inovasi Alat Goreng Kerupuk Rendah Minyak Ciptaan Mahasiswa UNY

Olahan sampingan blondo untuk makanan tradisional

Blondo kelapa
info gambar

Selain minyak klentik, hasil olahan sampingan berupa blondo ternyata juga banyak diminati terutama oleh para penjual makanan tradisional di wilayah Yogyakarta. Apabila sudah diolah secara kering, blondo akan menjadi santapan pelengkap yang bentuknya menyerupai abon dan banyak dinikmati bersama nasi, ketan hangat, atau lauk pelengkap gudeg.

Memiliki cita rasa yang gurih, Mbah Tumi biasa menjual blondo dengan harga di kisaran Rp50 ribu sampai Rp90 ribu.

“Pedagang bakmi dan rumah makan masakan tradisional yang langganan. Kalau Blondo bisa dijadikan campuran Gudeg,” ujar Mbah Tumi.

Meski masih dibuat dengan cara tradisional, Mbah Tumi mengaku tidak takut barang dagangannya tidak terjual, karena memang sudah memiliki pelanggan tetap di pasar. Bahkan dirinya mengungkap ada beberapa orang yang datang dari Klaten untuk membeli minyak klentik buatannya.

"Langganan saya terus bertambah, tak hanya warga Gunungkidul bahkan dari daerah Klaten, katanya minyak klentik ini ada khasiat untuk kesehatan tubuh, dan saat ini mencari yang membuatnya sudah sangat jarang," imbuh mbah Tumi, mengutip SuaraJogja.id

Dengan proses pembuatan yang memakan waktu cukup lama, Mbah Tumi mengungkap jika penghasilan yang diperoleh juga tidak menentu, yakni rata-rata berada di kisaran Rp35 ribu sampai Rp70 ribu untuk sekali pembuatan, tapi terkadang dirinya juga memperoleh penghasilan di atas rata-rata.

Meski begitu uang tersebut menurutnya masih bisa ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti belanja sayur, atau diputar kembali untuk menjadi modal pengolahan minyak klentik berikutnya.

Uniknya Gudeg Manggar Khas Bantul yang Tidak Berbahan Nangka Muda

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini