GoTo Resmi IPO di BEI, Restu Listing di Bursa Asing Juga Sudah Dikantongi

GoTo Resmi IPO di BEI, Restu Listing di Bursa Asing Juga Sudah Dikantongi
info gambar utama

Langkah IPO yang dilakukan baik oleh Gojek maupun Tokopedia bukanlah hal baru, rencana tersebut sejatinya sudah sering kali sampai ke telinga publik jauh sebelum keduanya bergabung dan membentuk entitas bisnis baru dengan nama GoTo.

Bisa jadi karena mempersiapkan segalanya dengan matang, langkah IPO akhirnya lebih dulu diambil oleh perusahaan startup berstatus unicorn lain yakni Bukalapak pada pertengahan tahun 2021 lalu. Kini hampir satu tahun berselang, jejak tersebut akhirnya diikuti GoTo yang sudah membulatkan tekad untuk melakukan penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tidak hanya bagi kalangan investor, langkah IPO GoTo sendiri banyak mencuri perhatian karena kontribusi nyata mereka untuk perekonomian tanah air.

Berdasarkan klaim yang diperoleh dari data Euromonitor 2020, keberadaan dan jangkauan ekosistem GoTo tercatat mampu berkontribusi lebih dari 2 persen dari PDB, dan melayani hampir dua per tiga konsumsi rumah tangga di Indonesia.

Lantas fakta apa saja yang menarik dan bisa disimak dari babak baru startup terbesar di Indonesia ini?

Ambil Langkah IPO, Bukalapak Lepas Harga Mulai Rp750 per Lembar Saham

Estimasi dana terhimpun Rp17,99 triliun

Public expose IPO GoTo
info gambar

Berdasarkan prospektus atau keterangan terperinci yang dirilis secara resmi pada hari Selasa (15/3/2022), diketahui jika GoTo akan melepas sebanyak-banyaknya 52 miliar lembar saham seri A yang seluruhnya merupakan saham baru dan dikeluarkan dari portofolio. Adapun Jumlah tersebut setara dengan 4,35 persen dari keseluruhan saham perusahaan.

Bicara soal harga, untuk IPO ini diputuskan jika harga yang ditetapkan berada di angka Rp316-Rp346 per lembaranya. Sehingga estimasi jumlah seluruh dana maksimal yang dapat dihimpun dari publik diperkirakan mencapai angka Rp17,99 triliun.

Menariknya, jika membandingkan dengan IPO startup pendahulu yakni Bukalapak, yang pada saat public expose mengungkap ingin lebih dulu fokus menjajaki listing di tanah air. Hal berbeda justru diungkapkan oleh jajaran petinggi GoTo saat menggelar public expose pada saat pengumuman di hari Selasa kemarin.

Sejalan dengan keterangan yang ditulis dalam prospektus, terungkap jika GoTo sudah memiliki rancangan mengenai listing atau penawaran saham secara internasional di beberapa bursa saham negara lain. Disebutkan bahwa restu untuk melakukan langkah tersebut bahkan sudah diberikan oleh para pemegang saham sejak 15 Desember 2021 lalu, bersamaan dengan matangnya skema penawaran IPO di tanah air.

Jika tidak ada kendala, langkan penawaran saham internasional akan dilakukan sekitar dua tahun setelah listing di BEI tercatat secara resmi. Bedanya jika jumlah saham yang ditawarkan ke publik tanah air berada di angka 4,35 persen, jumlah yang akan dilepas untuk pasar saham internasional akan lebih besar yakni dengan porsi sebanyak-banyaknya 10 persen.

Lebih detail menurut rencana, penawaran internasional saham GoTo akan dilakukan pada akhir 2023, dan menyasar beberapa bursa seperti New York Stock Exchange, Nasdaq, Hong Kong Stock Exchange, Bursa Saham Singapura, atau Bursa Saham London.

Menilik Potensi Startup Indonesia yang IPO Setelah Bukalapak

Jadwal penawaran dan skema alokasi dana

Sebelum secara resmi tercatat sebagai emiten di BEI, proses IPO GoTo juga akan lebih dulu melalui proses panjang mulai dari penawaran awal hingga tahap distribusi saham. Masih merujuk prospektus yang dipublikasi, berikut jadwal dari proses penawaran yang akan berlangsung selama kurang lebih satu bulan ke depan:

  • Masa penawaran awal (book building): 15-21 Maret 2022
  • Perkiraan tanggal efektif: 25 Maret 2022
  • Perkiraan masa penawaran umum perdana saham: 29-31 Maret 2022
  • Perkiraan tanggal penjatahan: 31 Maret 2022
  • Perkiraan tanggal distribusi saham secara elektronik: 1 April 2022
  • Perkiraan tanggal pencatatan pada PT Bursa Efek Indonesia: 4 April 2022

Selanjutnya yang jadi pertanyaan adalah mengenai akan digunakan untuk apa saja aliran dana dari publik mengalir. Setelah dikurangi biaya emisi, dana yang diperoleh akan digunakan untuk modal kerja dalam mendukung strategi pertumbuhan perusahaan, seperti pengembangan produk layaknya penambahan fitur, pembaruan teknologi dan inovasi produk atau teknologi baru.

Adapun jika dijabarkan, dari sekitar Rp17,99 triliun dana yang diperoleh kabarnya akan dialokasikan dengan pembagian sekitar 30 persen akan digunakan GoTo, 30 persen dialokasikan untuk Tokopedia, 25 persen dialokasikan untuk PT. DAB (Gopay), 5 persen untuk PT. MAB (bagian dari GoFinance), 5 persen untuk VDIGI SG Ltd (Gojek Singapura), dan sekitar 5 persen sisanya untuk Go Viet Ltd (Gojek Vietnam).

Meyakini jika apa yang dilakukan oleh pihaknya akan memberikan pengaruh yang besar, Andre Soelistyo selaku CEO GoTo Group mengungkap jika babak baru ini akan menjadi momen yang membanggakan bagi semua orang yang percaya pada cita-cita Indonesia.

“Indonesia adalah salah satu pasar dengan pertumbuhan terbesar dan paling menarik di dunia, sebagaimana tercermin dari ketahanan pasar modal kita, di tengah volatilitas pasar global tahun ini. Kami berharap IPO GoTo akan menunjukkan kepada dunia peluang luar biasa yang ada di Indonesia dan di seluruh kawasan Asia Tenggara.” pungkasnya.

Jumlah Perusahaan IPO Indonesia Jadi yang Terbanyak di Asia Tenggara 2021

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini